Hukum Puasa Tarwiyah dan Arafah

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Saya tahu, memang terlambat untuk menuliskan post ini sekarang. Tapi saya hanya ingin berbagi data yang saya dapat di internet dengan kalian tentang hukum dan keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah. Bukan apa-apa, soalnya kemarin (9 Dzulhijah) saya dan keluarga sempat ribut karena kami sekeluarga melakukan puasa tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijah, tapi pada tanggal 9 Dzulhijah (saat kami sedang berpuasa Arafah) ayah saya berkata bahwa puasa Tarwiyah itu hukumnya Bid’ah. Karena itu saya nge-browse di internet dan menemukan beberapa data yang kebenarannya memang subhat tapi InsyaAllah orang-orang yang berijtihad ini diterima amal pahalanya oleh Allah swt.

Berikut data-datanya :

1. DERAJAT HADITS PUASA HARI TARWIYAH

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Sudah terlalu sering saya ditanya tentang puasa pada hari tarwiyah (tanggal
delapan Dzulhijjah) yang biasa diamalkan oleh umumnya kaum muslimin. Mereka
berpuasa selama dua hari yaitu pada tanggal delapan dan sembilan Dzulhijjah
(hari Arafah). Dan selalu pertanyaan itu saya jawab : Saya tidak tahu !
Karena memang saya belum mendapatkan haditsnya yang mereka jadikan sandaran
untuk berpuasa pada hari tarwiyah tersebut.

Alhamdulillah, pada hari ini (3 Agustus 1987) saya telah temukan haditsnya
yang lafadznya sebagai berikut.

“Artinya : Puasa pada hari tarwiyah menghapuskan (dosa) satu tahun, dan
puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun”.

Diriwayatkan oleh Imam Dailami di kitabnya Musnad Firdaus (2/248) dari
jalan.

1. Abu Syaikh dari :
2. Ali bin Ali Al-Himyari dari :
3. Kalby dari :
4. Abi Shaalih dari :
5. Ibnu Abbas marfu’ (yaitu sanadnya sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam).

Saya berkata : Hadits ini derajatnya maudhu’.

Sanad hadits ini mempunyai dua penyakit.

Pertama : Kalby (no. 3) yang namanya : Muhammad bin Saaib Al-Kalby. Dia ini
seorang rawi pendusta. Dia pernah mengatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri,
“Apa-apa hadits yang engkau dengar dariku dari jalan Abi Shaalih dari Ibnu
Abbas, maka hadits itu dusta” (Sedangkan hadits di atas Kalby riwayatkan
dari jalan Abu Shaalih dari Ibnu Abbas).

Imam Hakim berkata, “Ia meriwayatkan dari Abi Shaalih hadits-hadits yang
maudhu’ (palsu)”. Tentang Kalby ini dapatlah dibaca lebih lanjut di
kitab-kitab Jarh wat Ta’dil :

1. At-Taqrib 2/163 oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar.
2. Adl-Dlua’faa 2/253, 254, 255, 256 oleh Imam Ibnu Hibban
3. Adl-Dlua’afaa wal Matruukkin no. 467 oleh Imam Daruquthni.
4. Al-Jarh wat Ta’dil 7/721 oleh Imam Ibnu Abi Hatim.
5. Tahdzibut Tahdzib 9/5178 oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar

Kedua : Ali bin Ali Al-Himyari (no. 2) adalah seorang rawi yang majhul
(tidak dikenal).

Kesimpulan.
1. Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) adalah hukumnya bid’ah. Karena
hadits yang mereka jadikan sandaran adalah hadits palsu/maudhu’ yang sama
sekali tidak boleh dibuat sebagai dalil. Jangankan dijadikan dalil, bahkan
membawakan hadits maudlu’ bukan dengan maksud menerangkan kepalsuannya
kepada umat, adalah hukumnya haram dengan kesepakatan para ulama.

2. Puasa pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) adalah hukumnya sunat
sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawah ini.

“Artinya : …dan puasa pada hari Arafah -aku mengharap dari Allah-
menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan
datang. Dan puasa pada hari Aasyura’ (tanggal 10 Muharram) -aku mengharap
dari Allah- menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah lalu” [Shahih Riwayat
Imam Muslim 3/168, Abu Daud no. 2425, Ahmad 5/297, 308, 311, Baihaqi 4/286
dan lain-lain].

Kata ulama : Dosa-dosa yang dihapuskan di sini adalah dosa-dosa yang kecil.
Wallahu a’lam !

[Disalin dari buku Al-Masail jilid 2, Penulis Abdul Hakim bin Amir
Abdat hal 177-179, Penerbit Darul Qalam]

Tapi di data yang kedua agak berbeda, berikut datanya :

2. PUASA ARAFAH DAN TARWIYAH

PUASA ARAFAH adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni pada
saat diberlangsungkannya wukuf di tanah Arafah tanggal 9 Dzulhijah oleh para
jamaah haji. Wukuf di Arafah bisa dikatakan sebagai inti dari pada pelaksanaan
ibadah haji. Karena itu puasa Arafah ini sangat dianjurkan bagi orang-orang
yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan
puasa-puasa lainnya.

Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah.
Rasulullah SAW bersabda:

صوم يوم عرفة يكفر سنتين ماضية ومستقبلة وصوم يوم عاشوراء يكفر سنة ماضية

Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan
datang, dan puasa Assyura (tanggal 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang
lepas. (HR. Muslim)

Sedangkan puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8
Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa
pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah
menghapuskan (dosa) dua tahun. Walaupun sebahagian golongan mengatakan bahwa
hadits ini dloif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan
mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam
kerangka fadla’ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang
dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.

Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang
istimewa. Abnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا:
يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج
بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik
yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat
bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah:
Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya
dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR
Bukhari)

Jadi, bagi mereka yang melakukan puasa Tarwiyah sebelum berpuasa hari Arafah,
hendaknya jangan ragu-ragu melaksanakannya, karena tidaklah disangsikan lagi
bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk
diri-Nya.

Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan
membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya
semata-mata karena Aku.

Hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu,
Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah
melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka
selama tujuh puluh tahun. (HR Bukhari Muslim).

Wallohu a’lam bish-shawab,-

Dan di data yang terakhir disebutkan sebagai berikut :

3. Bagaimana status hukum puasa Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah)
Kalau puasa hari Arafah (tanggal 9 Dzul Hijjah), para ulama memfatwakan bahwa puasa pada hari itu hukumnya sunat, bahkan termasuk sunat muakkadah. Dasar hukumnya sebagaimana hadis Rasulullah Saw:

Dari Abi Qatadah r.a., ia berkata Rasulullah Saw. telah bersabda: “Puasa hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa dua tahun, satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang.” (Riwayat Jama’ah kecuali Bukhari dan Tarmidzi)

Kecuali bagi orang yang sedang mengerjakan ibadah haji, maka tidak disunatkan berpuasa, sesuai dengan sabda Nabi Saw. dibawah ini:

“Dari Abi Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah Saw. telah melarang puasa pada hari Arafah di Padang Arafah.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Nasa-i, dan Ibnu Majah)

Kedua hadis tersebut antara lain terdapat dalam kitab-kitab:
– Fiqhus Sunnah, karya Sayid Sabiq, juz I, halaman 380
– At-Targhib Wat-Tarhib, karya Al-Hafizh Al-Mundziri, juz II, halaman 111-112

Begitu pula para ulama, mereka memfatwakan bahwa puasa sepuluh hari (kecuali hari Id) dari awal bulan Dzulhijjah hukumnya sunat, berdasarkan hadis berikut:

“Dari Siti Hafshah r.a. ia berkata, ada empat macam yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Saw.: Puasa Asyura (tanggal 10 Muharram), puasa sepuluh hari (di bulan Dzulhijjah), puasa tiga hari pada setiap bulan dan melakukan salat dua rakaat sebelum salat subuh.” (Riwayat Ahmad dan Nasa-i dalam kitab Fiqhus Sunnah, juz I, halaman 380; dan Sunan Nasa-i, juz IV, halaman 220)

Tidak ada satu hadis pun yang jelas dan tegas menyatakan sunat berpuasa pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah). Namun perlu kita ketahui, banyak fuqaha yang memfatwakan bahwa puasa pada hari Tarwiyah itu hukumnya sunat berdasarkan dua alasan berikut:

* Atas dasar ihtiyath (berhati-hati) dan cermat dalam mengupayakan mendapat fadilah puasa Arafah yang begitu besar. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya Fathul Mu’in berkata:
Termasuk sunat muakad

Jadi, kira-kira menurut kalian yang sedang nge-blog, pendapat nomor berapa yang benar tentang puasa Tarwiyah ???

Jawaban ditunggu selambat-lambatnya pada tanggal 10 Muharram 1430 H via comment (lho?)

7 thoughts on “Hukum Puasa Tarwiyah dan Arafah

  1. Jika menilik dari 3 point yang anda sebutkan saja, sudah terlihat ada 2 point yg membuat amalan itu tidak cukup kuat dasarnya.
    Dalam 10 hari pertama disunnahkan memperbanyak amalan tidak hanya puasa. Jika mau berpuasa lebih baik yg jelas dasarnya saja, sebagai bentuk I’tiba pada Rasul, mengikuti sunnah Rasul. Agar kita tidak termasuk golongan yg suka menambah-nambah ajaran Rasul. Buat hati-hati, toh masih banyak sunnah rasul lain yg lebih afdol yg bisa kita lakukan spt sedekah, perbanyak sholat malam dll. Wallahu a’lam

  2. syukron katsironsyamsunahar

  3. ikhtilaf dalam furu’iyah tidaklah maslah selama hal furuiyah itu tidak bersinggungan dengan hal-hal furuiyah. alhaqqu min robbika fala takunanna minal khosirien

  4. yang mau puasa tarwiyah silahkan tidak ada dalil kuat tentang larangannya. dan yang tidak mau puasa juga tidak apa2.

  5. apakah puasa-puasa yang mengatasnamakan menghapus dosa setahun atau setahun sebelumnya atau mungkin sekian tahun, itu dapat diverifikasi? sepertinya terdengar absurd.

    • Berikut landasan haditsnya:
      “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

      Agak tidak menyangka postingan ini selalu ramai beberapa hari sebelum lebaran haji, dan untuk informasi lebih lanjut saya menganjurkan membuka web berikut: http://rumaysho.com/puasa/puasa-arafah-menghapuskan-dosa-2-tahun-2909
      Direkomendasikan karena setidaknya memberikan nomor hadits serta kitab yang dijadikan landasan pemikiran :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s