Kesepian vs Obesitas

Kesepian vs Obesitas

Sumber: http://dailyinfographic.com/loneliness-is-more-deadly-than-obesity-infographic

Info terkait mana yang lebih berbahaya bagi kesehatan seseorang, kesepian ataukah obesitas, mengacu pada statistik di amerika. Iya, keduanya sama-sama buruk, tapi setidaknya ini dapat menjadi semacam sindiran. Kita sering mendengar orang mengatakan “Jangan makan terlalu banyak, entar gendut loh” atau semacamnya, tapi kelihatannya jarang ada yang mengatakan. “jangan main internet terlalu lama, entar gak punya teman loh”. Entah, atau itu hanya terjadi di keluargaku ya?

Yah, pengalaman kalau pulang ke rumah dan ketemu dengan nenek, selalu saja dibuatkan makanan dalam jumlah berlebih meskipun dia juga sering memarahiku kalau terlalu banyak makan jajanan atau di luar rumah. Haha, salah satu fenomena doublethink, berpikir bahwa aku tidak boleh makan terlalu banyak tapi tetap saja memberiku makanan dalam porsi yang berlebih. Ah, doublethink, berpendapat bahwa skenario A harus berjalan sambil berpendapat bahwa skenario B yang bertentangan dengan A juga sama pentingnya. Yah, setidaknya itu contoh doublethink pertama yang kukenal, meskipun katanya jauh lebih banyak doublethink terkait, “Kalau kerja jangan mikirin dapat uangnya berapa, tapi kalau gak dapat uang buat apa kerja?” Yah, memang saat ideologi dihadapkan dengan realita kita belum tentu dapat pilihan yang mudah kan?

Yang harus diingat adalah, segala sesuatu yang berlebihan, baik itu dalam bentuk perasaan seperti kesepian, kegalauan, sedih, senang, benci atau perasaan lainnya, maupun dalam bentuk lainnya seperti persentase lemak tubuh, lama waktu bermain internet, lama waktu tidur, dan lainnya, itu tidak lah baik bagi kita. Karena segala sesuatu ada kadarnya, dan yang sesuai dengan kadar tersebut lah yang baik bagi diri kita :)

Jadi ingat sebuah hadits sebagai berikut:

Anas r.a. menceritakan bahwa ada tiga orang datang ke rumah istri-istri Nabi Saw. Mereka bertanya mengenai ibadah Nabi Saw. Ketika mereka diberitahu tentang bagaimana ibadah beliau, mereka terlihat sedih dengan kualitas dan kuantitas ibadah mereka. Mereka mengatakan, “Ibadah kita sama sekali tak sebanding dengan ibadah Rasulullah Saw., padahal beliau telah diampuni semua dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.” Lalu, ada salah seorang diantara mereka yang berkata, “Mulai sekarang aku akan shalat malam terus-menerus.” Yang lain berkata, “Mulai sekarang aku akan berpuasa (sunah) terus-menerus.” Yang lain lagi berkata, “Mulai sekarang aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.” Tak selang berapa lama, Rasulullah Saw. datang. “Saya tadi mendengar pembicaraan kalian. Demi Allah, aku ini orang yang paling takut dan paling bertakwa pada Allah. Namun, aku sendiri kadang berpuasa dan kadang tidak. Aku juga shalat malam, tapi aku juga tidur. Aku juga menikahi wanita. Orang yang tidak menyukai sunahku, berarti bukan termasuk golonganku,” (HR Al-Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)

Hadits di atas mengingatkan kita bahwa segala sesuatu itu harus berimbang, dan segala sesuatu ada aturan dan tata caranya, termasuk dalam beribadah kepada-Nya. Dan memang, ini berarti berlebih-lebihan dalam hal apapun bukanlah perkara yang baik bukan?

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s