Menghargai Pilihan

Lagi. Entah mengapa bursa kepemimpinan daerah selalu memiliki kemampuan magis yang unik dalam memenuhi lini masa akun media sosial. Dan tentu saja selaku warga Tangerang ber-KTP jakarta akibat dari kemalasan orangtua dalam mengurus perpindahan domisili, kelihatannya media sosial memerlukan filter untuk topik-topik pilkada ibukota. Kelihatannya opsi itu akan disambut oleh para pengguna media sosial. Kata “para” disini seminimal-minimalnya merujuk ke beberapa akun media sosialku, termasuk satu akun cadangan di salah satu media sosial yang dulu kubuat untuk meminimalisir bahaya yang mungkin terjadi dari cyber crime, yang tak kunjung kesampaian.
Tentu saja selaku pengguna akun media sosial yang (terpaksa) mengikuti isu-isu yang muncul dalam pemilihan ini, terlepas dari kepastian mengikuti pemilihan yang sangat bergantung pada selesainya thesis perkuliahan, terlihat bahwa ketiga calon memiliki isunya tersendiri. Sang petahana yang terkena isu SARA selaku minoritas ganda dan sering terlihat naik pitak tanpa menyaring kata-katanya, sang (mantan) menteri pendidikan “santun”(?) yang bergabung dengan (mantan) lawannya saat pemilu dahulu terlepas dari prejudice negatif yang dahulu mereka miliki terhadap satu sama lain, dan juga anak mantan petinggi negara yang keluar dari karir militernya yang dapat dikatakan sangat gemilang sehingga mengemukakan spekulasi adanya eksploitasi, eh, pengaruh dari keluarga. Perlu diperhatikan bahwa banyaknya kata mantan di paragraf ini tidak mengindikasikan apapun selain kenyataan bahwa penulis merupakan sosok yang tidak terlalu (berminat) mengikuti isu-isu perpolitikan sejak didera sibuknya perkuliahan dan pertugasan. Mohon jangan disamakan dengan pembaca yang sulit untuk move on dari masa lalunya.
Di era yang sekarang ini, mereka yang mengisi lini masa dikelompokkan entah oleh siapa menjadi dua kubu secara garis besar: lovers dan haters. Katanya sih yang satu adalah pecinta segala sesuatu yang dilakukan salah satu calon, sementara yang satunya adalah yang membenci segala sesuatu yang dilakukan salah satu calon. Katanya. Tentu dalam praktiknya ada beda dengan teori, karena yang muncul di lini masaku adalah lovers merujuk ke segala postingan yang mendukung satu calon sementara haters merujuk ke segala postingan yang mengritisi atau menjatuhkan satu calon, terlepas dari sikap sang pencipta postingan tersebut.
Begitu pun dengan postingan positif dari sang mantan menteri, dimana terlihat foto ketiga pasangan calon pemimpin daerah tersenyum pada kamera saat melakukan swa-foto bersama saat akan melakukan pemeriksaan kesehatan. Di media sosial yang kuikuti terlihat bahwa komentar-komentar yang muncul merupakan komentar kekecewaan akibat mundurnya beliau dari kementerian dan terjun ke dunia politik yang katanya bukan tempatnya orang “baik”. Bukan berarti para calon yang lain tidak memiliki komentar miringnya tersendiri, sebagaimana komentar menyayangkan karir bagi si mantan tentara, seolah mereka yang menjalankan tidak memberikan pemikiran yang mendalam terhadap hidup dan impiannya. Pun, sang petahana kelihatannya sudah kebal terhadap julukan kafir dan tuduhan antek asing yang sering disematkan padanya.
Sayangnya, sikap para calon tidaknya mencerminkan sikap para pengikutnya. Yang dijuluki haters dengan lantangnya meneriakkan kejelekan satu calon, yang sumbernya belum tentu kredibel juga dalam melaporkan, bisa jadi malah situs satir atau cerita fiktif yang dijadikan rujukan. Yang dijuluki lovers pun tidak mau kalah, melantangkan komentarnya dengan caps lock meyakinkan pilihannya pasti lah yang benar. Dunia maya adalah arena bagi mereka mengadu komentar, yang tak jarang meremehkan mereka yang berbeda dan memaksakan untuk mengikuti kehendak sang pengomentar. Jelas hal-hal seperti ini merusak semangat orang-orang yang membuatku akun media sosial untuk melihat postingan populer di akun 9gag sepertiku.
Mungkin aku bukan orang yang terlalu peduli pada isu ini. Toh belum tentu aku bisa mengikuti pemilihan mengingat tanggungjawab studiku masih belum selesai. Terlebih, tanpa berniat mendiskreditkan pentingnya peranan pemimpin, aku masih menganggap pentingnya sinergi dengan beragama golongan masyarakat adalah apa yang bisa memajukan sebuah daerah. Dan menggolong-golongkan yang sudah tergolong-golong ini malah menambah remit permasalahan.
Melihat kembali foto bersama ketiga pasang bakal calon, mungkin ini saat yang tepat untuk merefleksikan suatu hal.

Mengingat persatuan adalah salah satu dasar negara, perlukah kita memecah belah masyarakat dengan meremehkan perspektif orang lain dan memaksakan opini diri? Juga, mulai menghargai apa yang para tokoh pilih dalam menjalani kehidupanku, mungkin. Toh, dia yang akan menjalani hidupnya. Bukan kita. Dan pencalonan diri bukanlah sebuah keburukan yang harus dihindari, kan?

Merasa Benar

Mari kita berhenti sejenak dan bertanya akan kebenaran bagi diri kita, apakah benar-benar benar? Benar secara keseluruhan, bukan hanya benar substansi, benar menyikapi, benar perilaku, ataupun benar dalam aturan yang berlaku. Bukan ataupun, melainkan dan. Sudahkah kita benar-benar benar?

Kelihatannya sekarang sedang ramai pemberitaan tentang dusun di Jawa Tengah yang “dibinasakan”, begitu pun tentang kaum yang dibicarakan disana, setidaknya itu kesimpulan sementara dari observasi media sosial melalui metode skimming di lini masa. Sayangnya aku tidak bisa mengonfirmasi kebenaran cerita tersebut, bukan terkait bencananya melainkan terkait kemaksiatan di desa tersebut, benarkah demikian?

Kata-kata guru SD, yang tidak kuingat tapi sekarang sangat kusyukuri karena pernah menjadi muridnya, selalu terngiang, “Bencana alam itu adalah fenomena yang dapat dijelaskan. Allah yang ibu percaya adalah Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Kata-kata tersebut diucap saat membahas tsunami aceh, saat aku sering mendengar bahwa tsunami itu adalah azab Allah di khutbah Jumat. Kalau guru itu tidak memberi penjelasan serupa, bisa jadi aku akan lebih heran lagi akan alasan rusaknya reaktor nuklir di Fukushima dan tsunami Tohoku yang adem ayem dari sebutan azab. Standar ganda, padahal sih fenomena alam yang terjadi ya terjadilah, kun fayakun. Soal ujian dan azab bukan urusan makhluk.

Teringat perbincangan lama, tentang ormas islam garis keras. Ada kawan yang pernah berkata, bahwa mereka mungkin benar dalam mencontoh orang arab, tapi bisa jadi orang arab yang dicontoh itu salah, dan pengaruh distorsi informasi dari abad ke abad bisa jadi besar disini. Rasulullah saw berwelasasih kepada semua makhluk ciptaan Allah. Meskipun kisah beliau saat memberi makan pengemis Yahudi buta itu tidak berdasar (karena topik diskusi-tanpa-topik saat itu adalah tentang kebenaran kisah Rasulullah), tidak ada juga dasar akan beliau memaksakan Islamnya dengan kekerasan seperti yang mereka lakukan pada rumah makan di bulan Ramadhan. Gegabah dalam kafir-mengkafirkan apalagi, mengingat Rasulullah bertugas untuk meng”islam”kan, menyelamatkan. Marah-marah sih, kerjaannya Abu Lahab.

Dulu aku tertawa saat mendengarkannya. Berbeda dengan sekarang.

Belum lama saat grup tugas di universitas bertemu untuk ngopi-ngopi dan kongkow-kongkow melepas penat setelah ujian, well, hanya aku sih yang ngopi. Sisanya ngebir. Agak takjub dengan para rambut pirang (2 Dutch, 1 Finlandish) yang bisa menghabiskan  sampai 80EUR dalam semalam minum-minum sementara aku yang baru menghabiskan sekitar 10EUR untuk kopi sudah enggan untuk menambah, bahkan sudah mulai berharap uang dalam dompet mampu berkembangbiak secara mandiri. Setidaknya keinginan memesan lagi sedikit teralihkan oleh hangatnya diskusi, dari teori evolusi dan masa kini, dimana “survival of the fittest” tidak lagi berlaku kini karena “even the unfittest survive” dengan bantuan teknologi, sampai pada pertanyaan kenapa aku selalu terlambat di kelas Jumat siang. Yaaa, sebenarnya masuk kelas itu pilihan sih, gak perlu titip absen segala, cuma absen dari kelas karena alasan apapun terasa sangat rugi disini. Dan kalau kelas mulai jam 13.45 sementara shalat Jumat masih jam 14.00, apa mau dikata?

Ketika aku menjelaskan tentang agamaku dan ritual shalat Jumat, salah satu Dutch merespon dengan mengonfirmasi agamaku sebagai agama Gandhi. Yang kukonfirmasi bukan, dan menjelaskan beda India dan Indonesia, negeri yang pernah pendahulu mereka jajah selama 3.5 abad pada masa keemasannya tapi rakyat jelata tidak ketahui dengan jelas dimana keberadaannya dan bagaimana keadaannya. Oh, banyak dari mereka yang tahu Bali, tapi sedikit yang tahu kalau Bali itu bagian dari Indonesia. Dutch satu lagi kemudian mengonfirmasi, “Oh, the ISIS one.” Jleb. Si Dutch satu lagi ini langsung mengonfirmasi dengan mengatakan aku baik dan bukan bagian dari mereka, oke, setidaknya aku tidak pernah menyebarkan teror disini. Diskusi pun berlanjut tentang perbuatan ISIS dan pembenarannya dengan nama Islam, yang berujung pada si Ducth satu lagi berkata yang kira-kira begini, meskipun kita sangat membenci tindakan ISIS, kalian pasti lebih membencinya, ya?

Sekarang cerita serupa pun menjadi miris untuk didengar.

Diskusi makin menarik sih setelahnya, saat aku ditanya tentang puasa di negara yang mataharinya tidak pernah terbenam seperti di skandinavia, juga tentang persepsi bangsa Indonesia kepada orang-orang Belanda yang pernah menjajah. Tapi bagian tersebut merupakan hal yang menarik, yang teringat kembali setelah diskusi dengan beberapa kawan saat menjenguk istri mahasiswa indo S3 yang baru melahirkan disini. Tentang Syria’s refugee, yang sedang didemo keberadaannya disini. Awalnya yang kudengar masalahnya terkait pembangunan tempat tinggal untuk para refugee, padahal para Dutch sendiri ada yang masih belum punya rumah. Dan memang, negara di semenanjung arab macam Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain yang notabene “saudara seagama” juga tidak terlalu terdengar penerimaannya terhadap para refugee. Masalahnya bertambah ketika dikatakan beberapa refugee yang tidak baik turut berbuat onar disini. Sayangnya persepsi yang ada pun menjadikan stereotype sebagai sebuah kesimpulan instan. Semuanya buruk. Padahal banyak dari mereka yang mungkin juga tidak punya gambaran luas akan hal ini, sehingga penilaian dilakukan atas ketakutan terhadap yang tidak diketahui. Dan mereka merasa benar dengan penilaian yang tidak menyeluruh itu.

Begitupun lini masa media sosialku, terkait kaum itu tadi. Aku sama sekali tidak mendukung perilaku demikian, namun ada beda yang nyata antara membenci pelakunya dan membenci perilakunya. Tugas muslim hanyalah mengingatkan, dan hidayah hak mutlak milik Allah. Jadi kenapa perlu bersikukuh akan menjadikan si target mendapat hidayah, bahkan sampai menekan melalui berbagai postingan tentang dosa dan kafir, bahkan sampai tingkatan ancaman fisik kepada pelakunya, untuk demikian? Teringat juga cerita seorang (yang katanya) pendakwah, ketika dia mengajak “diskusi” orang-orang dari kaum itu. Katanya susah deh kalau ngomong sama mereka, bebal dan berbagai alasan lainnya. Seolah saat Rasulullah berdakwah semua yang mendengar langsung dapat hidayah. Mungkin masalah dirinya ada pada pola pikir instan dan keinginan yang harus terwujud, tanpa diiringi kesabaran.

Jadi ingat cerita seorang Ustad disini, ada muslimah Turki yang minta diislamkan lagi oleh muslimah Indonesia, katanya karena shalatnya muslim Indonesia lebih sedikit, yang setelah diselidiki merupakan produk dari perbedaan mazhab. Jadi ternyata penyebabnya terkait hukum shalat sunnah di mazhab Hanafi yang dianut Turki dan mazhab Syafii yang dianut Indonesia, dimana orang Turki selalu mengerjakan shalat wajib beserta shalat sunnah sebelum dan sesudahnya (dan shalat sunnahnya empat rakaat, bukan hanya dua), sementara orang Indonesia hanya shalat sunnah dua rakaat dan itupun sunnah muakkad yang (kelihatannya) bisa ditinggalkan.

Yaaa, ini bukan tulisan siapa-siapa sih, cuma pengamat biasa yang minim ilmu, yang tidak setuju terhadap perilaku namun juga gagal paham atas tindakan berlebihan terhadap si pelaku. Padahal bisa jadi ada hikmah yang dapat diambil dari mereka, mengingat orang beriman harusnya bisa mengambil hikmah dari mana saja, termasuk dari ketidakmampuan pikiran dalam menghadapi perkuliahan. Dan meskipun memang ada baiknya kita berhitung sebelum hari perhitungan, tetap saja perhitungan yang benar milik Yang Maha Menghitung, karena memberi minum seekor anjing yang haus pun dapat menjadi ampunan bagi dosa besar. Jadi kenapa tidak sibukkan diri dengan berbuat kebaikan dan memberi pemahaman agar orang-orang yang dicinta tidak terkena? Toh jika dasar argumen kita benar dan kuat, meyakinkan orang lain, terutama kerabat sendiri, harusnya dapat dilakukan, kan?

Setidaknya Einstein berhasil melakukannya, terutama setelah penemuan “gravitational wave” baru-baru ini

What’s Next?

Lega! Akhirnya perjuangan dua bulan terakhir ini berakhir sudah, dengan catatan yang sangat positif. Setelah kesibukan seleksi beasiswa, persiapan keberangkatan, adaptasi dengan dunia perkuliahan, hingga dijebak jadi penanggungjawab acara kebudayaan indonesia di kota Enschede tempatku berdomisili, Indonesian Evening 2015 yang berlangsung 27 November kemarin, oleh ketua PPIE yang kamarnya kutempati saat ini, akhirnya ada waktu dan kemauan juga untuk membersihkan sarang laba-laba dari website yang tertinggalkan ini.

Senang mengetahui bahwa acara ini dinilai positif dari berbagai elemen pengunjung, entah dari komentar hasil wawancara PPI Belanda yang dapat dilihat di http://ppibelanda.org/indonesian-evening-2015-3/ ataupun dari komentar di page event facebook yang telah dibuat, seperti dalam screenshot berikut.

Bahkan KBRI datang dengan penari papua dari Politeknik Negeri Semarang dalam rangka meramaikan suasana.

12314155_10208278761790994_6351772872034728933_o

Dan, seperti biasa, semakin besar acaranya semakin lama durasi mengendap di kamar setelahnya. Tepar. Sulit untuk mengatakan procrastinating kali ini sebab meskipun dua minggu kedepan akan diisi dengan dua ujian oral dan satu presentasi grup, kegiatan pembelajaran tidak efektif untuk dilakukan saat ini. Mungkin juga sekedar pembenaran untuk sekedar beristirahat dari proses memahami yang masih berlangsung, tapi semoga uang rakyat yang saat ini ada di saku masih mencapai tujuannya.

Jadi, sebagaimana manusia yang selalu berproses dari satu hal ke hal lainnya, apa berikutnya? Entah lah, masa depan itu tidak pasti, biarkan saja menjadi misteri Ilahi. Selamat untuk Jamie Vardy dari Leicester City yang baru saja memecahkan rekor saat artikel ini ditulis. Mari beraktivitas kembali, semoga makin banyak pelajaran di hari esok untuk mengembangkan pribadi dan mampu memberi lebih, dan bermanfaat lebih.

3 ujian dalam 10 hari kedepan ditambah kegiatan lain dari PPI kota. Well, life can get worse any time, so just enjoy the show for now~

Update

Lama tidak update. Sejak migrasi dari bandung ke tangerang, rasanya. Bukan karena tidak ada yang bisa dibagi, hanya terlalu sibuk beristirahat dan menyiapkan masa depan.

Aku penasaran apa gunanya update, hingga sebuah akun media sosial dapat mengupdate status facebook atau tweet hingga mencapai puluhan bahkan ratusan kali tiap harinya. Mungkin dapat membantu seorang stalker dalam mengetahui informasi orang yang sedang dia perhatikan, terlepas dari relevansi informasi yang diupdate. Mungkin dapat membantu mendapatkan perhatian orang lain, atau orang yang diinginkan, meski entah standar apa yang digunakan untuk tahu bahwa sang pemilik akun diperhatikan. Mungkin untuk sekedar berbagi hal-hal yang dianggap menarik, bercerita tentang suatu hal dari sudut pandangnya, butuh tempat untuk meracau, ikut-ikutan hal yang sedang nge-trend, atau bahkan untuk menggiring opini publik atau mencuci otak seluruh umat manusia dengan berbagai update dan informasi yang entah bagaimana memeriksa validasinya. Entah lah, tapi untuk apa juga dipedulikan?

Beruntunglah manusia bukan mesin. Jika mesin perlu di-update setiap hari, selain boros akibat biaya update yang tinggi, dan kecenderungan untuk berlaku lain tiap kali update sebab emosi yang dapat berubah drastis akibat satu hal yang tidak makan waktu lama, ada juga tendensi untuk berpikir bahwa mesin tersebut cacat dan sulit diurus sebab banyaknya jumlah update yang diperlukan itu untuk jadi berfungsi dengan baik, dan mungkin perlu diperlakukan berbeda setelah tiap update. Orang-orang marketing yang bisa melihat peluang bisa saja mengatakan bahwa pengembangan berkelanjutan merupakan fitur utama mesin tersebut, dan mungkin berhasil memanipulasi masyarakat untuk menjual beberapa produk lebih banyak.

Apakah manusia sulit diuris, atau terus berkembang menjadi lebih baik? Bisa saja keduanya, bisa saja bukan keduanya. Manusia makhluk irrasional, mungkin saja penjelasan tidak terlalu dibutuhkan. Mengikuti keinginan saja. Kalau begitu, berikut updateku:

Sibuk beristirahat dan mempersiapkan masa depan. Tidak sepenuhnya menganggur, sempat mengisi pelatihan dan ikut seminar internasional, ditambah urusan dokumen persyaratan mendaftar universitas dan beasiswa, seleksi pekerjaan di bidang yang memang diminati, dan saat ini mengikuti kuliah online di http://www.coursera.org.

Saat sedang luang, menganggur dan mati gaya itu pilihan, mengingat banyaknya kegiatan yang dapat dilakukan berlandaskan perkembangan zaman. Terlebih saat deadline kuliah online, dan tugas-tugas yang belum selesai. Tidak masalah untuk abai sih, toh kuliah gratis dan tanpa konsekuensi, selama abai tidak menjadi kebiasaan setidaknya. Mengerjakan tugas sesuai batasan waktu dapat meminimalisir kemungkinan itu.

Masa depan akan jadi seperti apa sih masalah nanti saja. Toh, tugas manusia itu berusaha dan berdoa, tugas Allah itu sisanya. Dan, tidak etis bukan untuk menuntut pihak lain melaksanakan tugasnya saat kita belum melaksanakan tugas kita?

Vulnerabilities

Human Science talks regarding to human’s vulnerabilities, discomfort…, and embracement.

Quite an interesting perspective on how we make uncertain things certain, as an unprovable myths that get shared in social media before checked. Might also right on the topic she mentioned: politics, one that I ignored since I lost my interest in gathering related facts, as the news could mislead while the shared and retweeted were difficult to be confirmed.

Seimbang?

Pagi yang menyenangkan, salah satunya karena kabar dari kawanku yang baru saja mengabarkan aku dan kawan-kawanku tentang kabar kawanku yang lain, yang baru saja diumumkan lolos seleksi Indonesia Mengajar. Selamat bagi yang lolos seleksi juga.

Dan teringat pada kejadian beberapa waktu lalu, saat salah seorang kawan dari universitas pendidikan bercerita tentang sulitnya mendapat pekerjaan sebagai guru karena meningkatnya standar minimal pendidikan guru. Menjadi guru di lembaga bimbingan belajar juga sulit diharapkan, karena lembaga tersebut lebih suka menggunakan mahasiswa dari universitas atau institusi ternama, yang belum tentu berkecimpung di dunia pendidikan juga, sebagai bahan pemasarannya.

Dan teringat pada sektor lain dari Indonesia: Riset dan Teknologi. Sektor yang mungkin saat ini kekurangan sumber daya, jika kita lihat dari berapa jumlah profesor per 1000 penduduk di negeri ini, jika kita lihat berapa banyak sumber daya potensial yang memilih untuk langsung berkarir demi kesejahteraan hidup mereka. Bukan pilihan yang salah dalam konteks individu, namun jika terlalu banyak individu yang melakukan hal sama tentu ada potensi untuk menimbulkan masalah. Menurutmu, perlukah ada gerakan Indonesia Meriset?

Dan teringat pada pelajaran fisika dan kimia di tingkat satu dulu, bahwa sebuah sistem yang bereaksi akan mencapai kesetimbangan di suatu hari. Namun bagaimana jika keseimbangan yang selama ini ditunggu-tunggu ternyata timpang, condong pada beberapa sektor dan abai pada sisanya? Entah lah, mari berharap bahwa 69 tahun belum cukup untuk menyeimbangkan sistem ini.

Jadi sedikit berharap saat kuliah nanti insentif para periset ditingkatkan. Anyway, for now, the best possible option in this equilibrium might be to do the best in every way we have chosen.

Selamat Memperbaharui Tahun!

Selamat memperbaharui tahun!

Karena faktanya, bumi selalu mengorbit pada matahari, dan tidak terlihat peduli sedikit pun. Kita saja yang berusaha memperbaharui angka tahunnya, berusaha agar kita tidak kehilangan data dan mampu memprediksi segalanya. Kita saja yang berusaha memperbaharui tahunnya, dengan tidak mengulang kesalahan-kesalahan di tahun sebelumnya tahun ini. Kita saja yang berusaha memperbaharui tahunnya, dengan berbagai resolusi dan janji bagi diri yang kita terapkan pada diri kita di awal tahun ini. Kita saja yang berusaha memperbaharui tahunnya, dengan terus berusaha untuk memperbaiki diri.

Karena terlepas dari tahun berapapun ini, tidak banyak yang berubah dari manusia selain usianya, setidaknya selama manusia tersebut berusaha memperbaiki dirinya sendiri.

Selamat memperbaharui tahun!

Menemukan Keseimbangan

Menemukan keseimbangan yang tepat adalah hal terpenting dalam perkembangan, apapun kasusnya, baik dalam diri sendiri, anak kecil, masyarakat, ataupun makhluk hidup secara keseluruhan.

Seperti analogi kupu-kupu yang berusaha keluar dari kepompong untuk menguatkan sayapnya, terlalu banyak bantuan dapat mematikan individu dengan menghalanginya untuk berkembang dan mempelajari keahlian-keahlian tertentu, menjadikannya sangat tidak siap untuk menghadapi dunia nyata saat bantuan yang selalu diberikan menghilang. Di sisi lain, tiadanya bantuan dan dukungan dapat mematahkan semangat dan menghilangkan harapan, terlebih jika pada akhirnya sang makhluk berpikir bahwa kelihatannya apa yang dia lakukan mustahil memang, toh pilihan untuk berpindah jalan selalu terbuka.

Terlalu mementingkan orang lain akan menyebabkan terlalu banyak hal yang harus dikorbankan dan emosi yang perlu ditahan dalam diri, namun terlalu mementingkan diri sendiri pun akan menyebabkan orang lain menjauh, yang dapat menutup beberapa pintu rezeki.

Terlalu bebas dapat menjadikan seseorang tidak punya tujuan, atau tidak tahu aturan. Seperti blog ini, misalnya. Topik yang dibahas asal, mengikuti apa yang ada di pikiran saja, dan entah jika ada aturan dunia maya yang dilanggar. Tapi terlalu terkekang juga mematikan inisiatif dan kreativitas. Seperti aku, yang lebih memilih untuk berhenti menulis kalau tidak bisa bebas, entah dengan penyetiran topik bahasan atau berbagai hal lainnya, dengan berbagai alasan ataupun bualan. Oke, mungkin memang topik bahasan perlu ditambah agar lebih banyak manfaat yang dapat dihasilkan, tapi persetan dengan keinginan pasar ataupun bahan jualan, apa untungnya menjual kepalsuan, membunuh karakter demi keuntungan?

Bukankah kita diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan? Hal yang berlebihan dapat menimbulkan kemuakan. Setidaknya bagiku. Muak saja dengan berbagai standar yang terlalu diskriminatif dan memberikan cap, topik ini layak tulis, topik itu sampah, yang ini mahasiswa berprestasi, yang itu mahasiswa tidak berguna. Muak saja dengan dunia yang terlalu penuh dengan bualan dan kebohongan, lakukan ini untuk menambah nilai jual, sembunyikan borok itu agar memperbesar keuntungan, orang-orang tidak peduli dengan kemunafikan, nilai moral sudah tidak relevan. Muak saja dengan strata sosial, temui si ini agar urusan itu dipermudah, jangan kontak dengan si itu agar nama baik terjaga. Muak saja dengan masyarakat, yang kaya punya privasi untuk menikmati berbagai fasilitas, yang berkecukupan harus menerima kenyataan bahwa terjebak dalam rutinitas, yang miskin harus menerima nasib dan mempersiapkan diri untuk tergilas. Yang mengaku beragama sibuk berdoa di tempat ibadahnya, yang mengaku cendekia asyik sendiri dengan data dan teorinya, yang mengaku wakil rakyat lupa akan janji-janjinya, yang mengaku mahasiswa sibuk dengan teman-teman dan tugas-tugasnya, kebanyakan orang sibuk sendiri dengan urusannya. Ada, tapi tidak banyak yang peduli dan beraksi memperbaiki nasib sesamanya, seolah dengan bayar pajak kewajiban sudah lepas, fakir miskin dan anak terlantar sudah ditanggung negara. Oh, bahkan bayar pajak pun tidak semua taat. Hebat. Muak saja dengan segala aturan, alasan, dan mungkin bualan yang meminimalisir manfaat yang dapat diberikan, kalau begini resiko yang berupa skenario perandaian yang entah berapa besar kemungkinan terjadinya begitu lah, berargumen suatu hal tidak feasible tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan lah, ah, sudah lah. Toh kemuakan tidak akan mengubah pola pikir, meski mungkin juga yang membaca berminat untuk mengoreksi diri.

Uniknya, banyak orang tahu tapi tetap saja melakukan hal secara berlebihan. Kritik terhadap oknum tertentu yang berlebih, misalnya, terlebih jika tidak disertai solusi atau aksi untuk memperbaiki kondisi, hanya menghasilkan kontroversi dan debat kusir tanpa arti. Ketergantungan berlebih terhadap subsidi, misalnya, seolah rezeki hanya dapat diperoleh melalui subsidi, seolah kerja keras sudah kehilangan arti. Kebencian atau diskriminasi terhadap kaum atau pendapat lain, misalnya, seolah semua harus sama dan perbedaan adalah nista.

Memang, dapat tidak sama dengan pasti. Berapa besar kadar yang tepat agar semuanya seimbang, entah, tugas kita untuk mencaritahu, atau setidaknya mencoba menjaga kadarnya. Seperti tulisan-tulisan di blog ini misalnya. Mencoba bercerita dan memberi makna, memberitahu apa yang dirasa sembari menunjukkan yang perlu dibenahi yang mana. Bagi orang-orang yang tidak peduli, memang tulisan-tulisan hanya celotehan yang gagal dalam tujuannya. Tapi jika mereka tidak peduli, untuk apa juga kupedulikan? Jelas kepedulian yang kuberikan akan menjadi tidak seimbang dengan kepedulian mereka.

Berbuat salah lah, cobalah hal baru, tak usahlah berpikir terlalu jauh tentang masa depan, bertingkahlah semaunya, ikutilah beberapa masukan dan abaikanlah sisanya, hadapilah konsekuensinya dan belajarlah dari segalanya. Temukan keseimbangan, itu intinya.

Privasi

Kelihatannya dewasa ini privasi sudah menjadi kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir insan. Belum lama ini ada beberapa kawan yang memperbaharui status di halaman facebooknya untuk menolak facebook dari menyimpan data pribadi, foto, video dan beberapa hal lain dari dirinya. Bukankah manusia itu unik? Jika tidak ingin facebook menyimpan data tersebut, mengapa data tersebut diunggah ke facebook?

Facebook, dan media sosial lainnya baik itu twitter, tumblr, instagram, path dan berbagai media sosial yang tak pernah kupedulikan lainnya, hanyalah salah satu wajah dari minimnya privasi dewasa ini. Jarak semakin singkat, informasi semakin membludak. Semua orang dapat mengakses semua file yang ada. Meskipun gambar, video atau data apapun dapat diatur agar hanya bisa dilihat oleh beberapa orang tertentu, orang-orang di luar kelompok tertentu itu pun bisa saja mencari jalan belakang dengan mempelajari cara hacking yang benar, dan tujuannya belum tentu baik. Entah siapa yang patut disalahkan atas hal ini, manusia yang mengunggah data atau manusia yang penasaran untuk melihat data tersebut? Secara logika, harusnya sih keduanya. Entah apakah ini disebabkan kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang ingin berbagi, kebanyakan manusia belum mengerti, atau memang saat ini sudah tidak banyak yang peduli dengan privasi.

Mungkin dapat dikatakan bahwa saat ini semua orang telah terdeteksi. Perkembangan zaman mengharuskan tidak ada lagi insan yang dapat bersembunyi. Semua orang tau apa yang kita suka, kemana kita semalam, dengan siapa kita berteman, keahlian apa yang kita punya dan kita tidak punya, dan lain sebagainya. Ya sudah, biarkan saja begitu. Kita bisa melawan, tentu, namun untuk apa? Toh keberadaan kita bukanlah hal yang nista.

Aku tidak bisa melakukan apa-apa terhadap hal yang telah diunggah dan terlanjur tersimpan, tapi jika ada data yang penting dan terlanjur terunggah dan dapat membahayakan seperti alamat rumah atau kontak pribadi–meski aku belum pernah mendengar keberadaan kelompok rampok yang mengidentifikasi calon korban melalui media sosial, apa salahnya waspada?–aku menyarankan untuk meng-update informasi tersebut dengan informasi yang salah. Update lah secara berkala, semoga pihak media sosial di masa depan kebingungan mana update yang paling benar dari sekian banyak informasi yang kalian masukan. Toh pada dasarnya yang kita gunakan adalah media sosial, bukan pendeteksi kebohongan. Tidak dapat bersembunyi tidak sama dengan tidak dapat memanipulasi informasi, kan?

Selain itu untuk insan yang menggunakan master password: 1 password untuk semua akun, mungkin ada baiknya sedikit menambah tingkat kesulitan passwordnya, dengan menambah satu kata yang berbeda di tiap akun misalnya. Seperti dari masterpassword menjadi kerjamasterpassword, masterpasswordfacebook, dan lain sebagainya. Hanya untuk meminimalisir kemungkinan semua akun disalahgunakan hanya karena satu password terbongkar.

Dan tentu saja, jangan lupa berdoa agar keberadaanmu yang terdeteksi itu tidak disalahgunakan orang lain. Katanya sih itu senjata terampuh orang muslim, tidak perlu disia-siakan, bukan?

Hanya mencoba memberikan saran bagi mereka yang ingin memiliki privasi di dunia yang sedang tidak membutuhkannya saat ini. Semoga bermanfaat 🙂

Kurikulum 2013

Kelihatannya kurikulum 2013, kurikulum terbaru saat ini sudah terlalu banyak dikritisi sekarang. Dan kemarin baru sempat mendapat pengalaman terkait kurikulum kontroversial itu. Setidaknya aku mulai mengerti kenapa kurikulum ini dihentikan, atau akan diterapkan secara bertahap.

Sudah sekitar dua tahun aku tidak mengamati perkembangan sistem pendidikan di Indonesia, termasuk kurikulumnya. Memang itu disebabkan beberapa faktor, seperti meningkatnya kesibukan yang perlu diurus dan minimnya hal yang mengharuskan untuk terlibat dengan itu. Memang, dulu aku sempat didaulat–secara sepihak–untuk memimpin sebuah organisasi di bidang pendidikan. Awalnya pun aku menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (kbk) 2006 sebagai pembanding untuk bahan ajar di salah satu rumah belajar organisasi tersebut. Atau setidaknya niat awalnya begitu. Karena pada akhirnya, pendidikan informal lah yang digunakan di rumah belajar itu, hahaha. Toh, pesan yang ingin kubawa sebenarnya sederhana: belajar dapat dilakukan dengan siapapun sebagai gurunya. Termasuk kita, dan bahkan anak-anak itu sendiri. Kita bukan guru mereka, kita bukan juga keluarga mereka, tapi kita dapat belajar bersama serta menceritakan dan berdiskusi akan hal-hal yang menarik dengan mereka. Memang pentingnya peran keluarga tidak dapat diabaikan, namun mengambil ilmu dari semua sumber yang ada tidak salah, kan? Entah pesannya sampai atau tidak, sudah lah, sudah kadaluarsa juga masanya, hahaha.

Dan dua tahun ini kegiatanku di bidang pendidikan berpusat untuk membantu atau membimbing penerusku di organisasi tersebut yang, kinerjanya jauh melebihi ekspektasiku sehingga aku pun kadang bingung apa yang dapat kubantu, dan aktif di sektor pendidikan yang tidak dipengaruhi kurikulum baru: pendidikan anak usia dini dan pendidikan kesiapsiagaan bencana anak-anak, dimana kurikulum (jika ada) pun diciptakan oleh organisasi yang terlibat itu sendiri.

Dan kemarin, aku pun terpaksa melihat kurikulum baru disebabkan adik-adik kelas 7 di salah satu rumah belajar pagi ini ujian. Kesan pertama: speechless.

Oke, sedikit pembuka tentang pendidikan. Butet Manurung dalam Sokola Rimba (versi film) mengatakan bahwa pendidikan adalah persiapan anak-anak untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Ada juga sebuah kamus yang mendefinisikan pendidikan sebagai pengembangan kemampuan dan bakat anak-anak. Dua definisi itu kutulis karena cakupannya lumayan luas. Memang banyak definisi yang belum ditulis, tapi untuk apa sibuk membahas definisi jika pada akhirnya tidak ada kesimpulan yang dapat diambil sebagai kesimpulan?

Terlepas dari apapun definisi pendidikan di dalam kosakata pribadi anda, seharusnya bisa dimirip-miripkan ke satu dari dua definisi tersebut meski mungkin perlu agak dipaksakan. Pertanyaannya adalah, sudahkah pendidikan saat ini berjalan sesuai dengan rencana?

Jadi, ceritanya pagi ini mereka punya tiga ujian: Baca-Tulis Quran (BTQ), Al-Quran dan Hadits, serta Bahasa Indonesia. Karena kemarin terlambat, jadilah aku didaulat mengajar Quran dan Hadits. Hebat bukan? Menyerahkan amanah kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.

Oke, merepotkan. Latar belakang pengajar adalah institut teknologi, bukan madrasah da’i. Pengajar tidak banyak dan “ustad” yang tadi mengajar hukum bacaan Quran pun mau istirahat, setelah disajikan taksonomi baru dalam hukum bacaan ikhfa. Entah sejak kapan ikhfa aqrab, ikhfa ausath dan ikhfa ab’ad difungsikan. Sebelum kbk 2006 ikhfa yang diajarkan cuma satu jenis, ikhfa hakiki, yang mencakup ketiga golongan tersebut. Entah apa yang menyebabkan mereka membagi diri, ikut-ikutan membentuk golongan tandingan karena tidak puas akan suatu keputusan layaknya politisi Indonesia saat ini mungkin?

Ya sudah lah, ikuti saja. Baca bismillah agar dapat pelajaran dan berkah, sembari do’a agar kalau pun ada penjelasan yang salah tidak sampai pada tingkatan yang menyesatkan.

Dan saat membuka buku, melihat apa yang harus dijelaskan, terpana dengan tiap halaman dari buku yang terbuka. Materinya tidak banyak memang, cenderung singkat, tapi sangat mendalam. Terlebih menghubungkan materi dengan judul bab dan indikator pemahaman yang, menurutku, kurang dapat diukur. Sembari bertanya-tanya apakah indikator pemahaman agama apapun di sekolah manapun tidak memiliki standar yang umum berlaku, aku pun agak penasaran apakah dalamnya materi ini dapat dicerna remaja yang baru masuk smp.

Salah satu judul babnya adalah kebesaran Allah, dengan materi berisikan tafsir dari surat pertama dan tiga surat terakhir dalam Al-Qur’an. Wah, meskipun kadang mendapatkan materi tentang tafsir ayat atau membaca rangkuman atau pesan satu surat dalam Quran, tafsir satu surat pendek secara mendalam baru kupelajari saat kuliah. Hebat, aku sudah yakin terhadap ketidakmampuanku mengajarkan pelajaran ini tahun depan. Pengingat akan minimnya wawasan, pentingnya mengritisi kebijakan, dan manfaat dari empati pada sesama.

Dan pengajaran pun dilakukan. Anak-anak sangat membantu dalam mengucapkan ayat Qur’an beserta artinya, kelihatannya mereka hafal semua. Namun saat aku mengulang artinya, untuk menghubungkan materi dengan indikator yang entah apakah aku sudah memenuhinya atau belum, mencerna materi masih membutuhkan waktu yang lama. Seusai kegiatan mengajar pun aku berbincang dengan kawan tentang hal ini. Kawanku berargumen bahwa anak-anak masih fokus pada menghafal meskipun materinya sejauh ini dan khawatir hal tersebut dapat berpengaruh terhadap pemahamannya di masa depan. Aku pun juga berpendapat itu buruk berdasarkan kedalaman materi yang diperlukan dalam pengajaran.

Memang, pada kenyataannya kita tidak mengetahui apakah itu baik atau buruk, jangankan metode mengembangkan kemampuan, kami pun tidak tahu kemampuan macam apa yang harusnya dimiliki oleh remaja kelas 7 smp. Entah bagaimana pendidikan saat ini, tapi jika persepsi kami tepat, kelihatannya memang kurang baik.

Aku sudah membaca tujuan dari kurikulum 2013 dari http://samparona.blogspot.com/2013/10/karakteristik-dan-tujuan-kurikulum-2013.html?m=1, dan aku juga pernah mendengar banyak hal dari tujuan kurikulum tersebut, seperti menjadikan anak-anak aktif, inisiatif, senang belajar dan lain sebagainya. Mohon dikoreksi jika ada yang salah. Dan mari berikan apresiasi terhadap orang-orang yang mengharapkan kebaikan bagi kita seperti demikian. Tapi kita tetap perlu kembali kepada pertanyaan tadi, sudahkah pendidikan saat ini berjalan sesuai dengan rencana? Karena saya khawatir tidak 🙂

Saat ini masih banyak faktor yang perlu dibenahi jika persepsiku terhadap kurikulum 2013 itu benar, dari anak-anak yang masih terlalu pasif dalam mencari materi sehingga masih mengandalkan kakak-kakak meski latar belakangnya tidak sesuai dengan materi kurikulum, kegiatan belajar masih dilihat sebagai kegiatan kurang menyenangkan yang hanya dilakukan di sekolah, penjelasan dari guru yang berusaha menafsirkan kurikulum dianggap beberapa murid kurang jelas, peran keluarga yang masih minim dalam mendidik anak atau mengajarkan anaknya aktif mencari informasi, indikator ketercapaian materi yang agak sulit diukur, dan mungkin masih ada–dan mungkin masih banyak–faktor yang belum terpikirkan dan ditulis saat ini. Dengan kondisi seperti itu, apakah kurikulum ini memang tepat untuk dijalankan?

Kuakui, sulit untuk kurikulum 2013 ini dengan kbk 2006 tanpa bias, karena dahulu aku merupakan sasaran didik dan sekarang aku bukan. Dan memang, semua kebenaran dalam tulisan ini relatif, bergantung pada sebenar apa pandanganku terhadap kurikulum baru ini. Hm, jika ada yang mengetahui atas dasar apa kurikulum 2013 diterapkan, bisakah tolong bantu jelaskan apa dasar tersebut? Mohon maklumi insan yang minim wawasan ini, karena meskipun aku tahu peraturan yang berlaku, sulit untuk memahami latar belakang keputusan pemerintah dibuat jika keputusan tersebut merupakan hal yang tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan insan terkait 🙂