Kegelapan

Disana hitam, pekat … Nyaris tak terlihat apa-apa saking gelapnya tempat itu. Lelaki itu pun hanya bisa terpaku dalam kesunyian dan kegelapan yang semakin pekat.

Dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa melihat diri mereka yang sudah mulai hilang ditelan kegelapan dan suaranya yang serak hampir tak terdengar sehingga ia berteriak dalam hati kecilnya.
“Tunggu … Apa Salahku?” teriak hati kecilnya.

Bayang-bayang mereka semakin jauh. Melihat itu pun hati kecilnya kembali berteriak “Tolong maafkan aku jika aku berbuat khilaf. Tapi tolong, jangan tinggalkan aku sendiri disini. Kumohon.” Buliran-buliran bening jatuh dari pelupuk matanya.

Benar-benar malang nasibnya. Tidak ada lagi yang sudi menerima dirinya. Dia tidak tahu, apakah kekhilafan yang dia perbuat sampai-sampai lingkungannya mengisolasikan dia. Otaknya berusaha mereka ulang alasan lingkungannya mengisolasikan dia, tapi tak juga dia ketahui alasan tersebut.

Sekarang pun dia hanya bisa menangis tersedu-sedu dan terdiam di tempatnya. Dia bertanya kepada gelapnya malam sambil menyeka air matanya, “Sebenarnya apakah kesalahanku?”

Langit pun menitikkan air mata. Buliran-buliran air yang bening turun dari langit seakan langit ikut merasakan derita yang ia tanggung. Celana abu-abu yang dia gunakan sejak siang hari itu pun basah oleh air mata langit. Sadar akan hal itu dia pun bangkit dan berlari ke bawah pohon yang rimbun di dekatnya.

Tapi segala usaha yang dia lakukan telah sia-sia. Bayang-bayang orang-orang yang dikejarnya telah hilang dalam pekat malam. Di malam tersebut dia harus bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh keluarganya, teman-temannya dan seluruh cahaya kehidupannya yang lain hanya dikarenakan suatu alasan yang dia tidak ketahui pula.

Setelah cukup lama dia larut dalam kesedihan dia pun bangkit. Dia mulai menggerakkan kakinya yang kedinginan karena hujan yang semakin deras. Dia menoleh ke sekelilingnya, mencari sesuatu. Dia pun menemukan yang dicarinya. Akhirnya dia berlari menuju sebuah rel kereta api. Bertepatan dengan itu, sebuah kereta melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Dia pun menelan ludah, lalu berdiri di tengah rel kereta. Sang kondektur pun berteriak padanya agar dia segera menjauh dari lintasan kereta tersebut, tapi dia tak mempedulikannya. Dia pun berlari menuju kereta tersebut. Kereta yang sedang dalam kecepatan tinggi itu pun taj bisa menahan lajunya.

Beberapa saat kemudian, pemuda itu sudah tergeletak berlumuran darah di lintasan kereta tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s