A good book to read !!! “Demi Masa! Beginilah Waktu Mengajari Kita”

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku berjudul “Demi Masa! Beginilah Waktu Mengajari Kita”. Saya meminjam buku yang dikarang oleh Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qarny dengan tebal kurang lebih 384 halaman ini dari perpustakaan SMA N 47 Jakarta Selatan. Buku ini banyak menyajikan kisah-kisah menarik yang disajikan dari sudut pandang sang penulis. Ada beberapa cerita dan ilmu yang menarik dan pantas untuk diberitahukan kepada orang lain dari buku ini dalam pandangan saya. Berikut beberapa diantaranya :

Mereka Tidak Sama

Seorang salafush shâlih dipuji, tapi raut wajahnya langsung memerah dan menghindar dengan kedua telapak tangan menutupi wajah orang yang bertanya. Dengan perasaan marah ia berkata,
“Apakah ada Tuhan selain Allah?”!
Maksudnya tidak ada yang pantas mendapatkan penghormatan kecuali Allah swt. Sementara kita sangat gembira bila dipuji dan sangat marah bila kita dikritik.

Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang zuhud dan taat beribadah, jika berbicara dan merasa kagum terhadap perkataannya sendiri, dia langsung berhenti berbicara karena takut sifat ujub dan membanggakan diri timbul dalam dirinya. Sementara kita, bila semakin banyak jama’ah yang hadir di depan kita, pembicaraan kita akan bertambah, suara semakin lantang, dan kita semakin gencar melontarkan kata-kata dari mulut kita karena dorongan nafsu untuk berbicara.

Abdullah bin Mubarak, seorang yang alim dan jauh dari perkara subhat tidak menulis pendapatnya dan berkata,
“Siapa saya, hingga menulis pendapat saya sendiri?”.
Sementara kita adalah orang-orang yang paling sibuk dengan pujian orang lain terhadap diri kita, lantas salah seorang diantara kita berkata,
“Aku telah menyusun buku, aku telah menulis, aku telah mengoreksi, aku telah merangkum, aku telah menghafal dan aku telah mengkaji.”
Penyebab dari semua itu adalah bahwa para ulama yang shalih itu mengetahui, sementara kita masih mengingkari. Mereka memberi nasihat tetapi kita masih berbuat curang, mereka ikhlas tetapi kita masih kurang ikhlas, mereka menghendaki Allah swt tetapi kita masih menghendaki Allah swt dan selain-Nya. Kita berlindung kepada Allah swt dari menyekutukan-Nya dengan sesuatu sementara kita mengetahui. Kita juga harus memohon ampunan kepada Allah atas dosa syirik yang tidak kita ketahui.

Di buku tersebut, ada juga cerita seperti ini,

Derajat Tertinggi Saat Hidup dan Mati

Puisi ini termasuk syair warisan yang sangat indah jika tidak yang terindah. Pernyataan ini disampaikan oleh sastrawan alim , penyair Abu Hasan Al-Anbari mengenai seorang menteri Abbasi, Ibnu Baqiyah yang dibunuh oleh penguasa, Adhduddaulah dan menyalibnya di Baghdad yang didasari oleh kezaliman, permusuhan, kesewenang-wenangan dan kedengkian. Kota Baghdad pun berduka dan ratap tangis membuncah karena kepergian seorang menteri yang dermawan, berhati mulia, dan dermawan untuk selamanya. Bangkitnya Abu Hasan Al-Anbari karena inisiatif murni dari dirinya dan mewakili seluruh penduduk Baghdad, kaum lelaki, kaum wanita, anak-anak dan janda-janda. Dia menyampaikan bela sungkawa ini bagi menteri yang terbunuh, disalib, dan yang difitnah. Hidupnya dirampas, nyawanya direbut secara paksa dan hari-harinya yang abadi dicuri.
Abu Hasan Al-Anbari berbicar dengannya tepat di hadapan jasad Ibnu Baqiyah yang tergolek di atas keranda kematian dengan kondisi anggota badan terpotong-potong, pakaian tercabik-cabik, dan wajah yang berdebu, kepala yang memutih dan darah yang bercucuran membasahi bumi di alam yang gelap gulita. Abu Hasan Al-Anbari menghadap kea rah penduduk Baghdad dengan penampilannya yang penuh wibawa, lantas meraih tangan Ibnu Baqiyah yang sudah kecoklat-coklatan di atas keranda dan mengarahkan kepada mereka semua, seakan-akan dia memberi penghormatan terakhir, berterima kasih dan memberi pelukan hangat kepada orang-orang yang mencintainya. Puisi ini tidak perlu penjelasan, tidak pula komentar, tetapi butuh pada penghayatan, konsentrasi untuk mencermati dan kejelian dalam memahami. Bahkan, Adhduddaulah di saat mendengarnya langsung menangis, air matanya bercucuran dan berkata,
“Aku berharap agar aku yang dibunuh, disalib, dan disampaikan kepadaku puisi ini.”
Berikut puisi yang indah dan mengagumkan ini.

Tinggi di kala hidup dan setelah tiada
engkau telah mendapatkan salah satu mukjizat.
Saat orang-orang bangkit mendatangimu
laksana utusan-utusan kedermawananmu di saat masih menikmati kebersamaan denganmu
Seakan-akan engkau berdiri di tengah-tengah mereka untuk menyampaikan ceramah
padahal mereka berdiri untuk mengerjakan shalat jenazah
Aku julurkan tanganmu kea rah mereka tuk memberi penghormatan
seperti dulu kau mengulurkan kedua tanganmu dengan pemberian
Tapi begitu perut bumi menjadi terlalu sempit
untuk menampung keluhuranmu setelah mati
Mereka menjadikan alam terbuka sebagai kuburmu
dan meminta pengganti kain kafanmu dengan pakaian debu
Karena kemuliaanmu di dalam jiwa mereka, mereka akan senantiasa mengawalmu
dengan para penjaga dan pengawal terpercayamu
Di malam hari api-api selalu dinyalakan di sekitarmu
demikian pula yang dilakukan pada saat-saat engkau masih hidup
Dulu engkau menaiki kendaraan keluhuran
yang ketinggiannya berada pada masa-masa silam
Itulah permasalahan yang di dalamnya ada pelipur lara
yang menjauhkan musuh dari penghinaan
Sama sekali aku belum pernah melihat seorang pemuda sebelummu
yang dapat menanggapi amal-amal yang mulia
Engkau mengusik para penguasa lantas mereka mengobarkan permusuhan
lantas engkau terbunuh dalam dendam malapetaka
Masamu telah menyudahi kebaikanmu pada kami
lantaran besarnya perbuatan-perbuatan jahat
Dulu lantaran jasamu seluruh penduduk menjadi bahagia
begitu engkau pergi untuk selamanya mereka bercerai-berai dengan duka mendalam
Dendam bersemayam di hatiku untuk membalas kezaliman atas dirimu
yang dapat mengurangi derasnya air mata yang mengucur
Seandainya aku mampu melaksanakan kewajiban terhadapmu
dan hak-hakmu yang harus aku tunaikan
Niscaya aku penuhi bumi ini dengan bait-bait syairku
berbeda dengan wanita-wanita yang hanya bisa meratap
Tetapi aku menahan diri dan bersabar terhadap dirimu
lantaran khawatir dinyatakan termasuk orang-orang yang berbuat kejahatan
Hartamu berupa tanah tapi aku katakana engkau tetap mengucurkan kemurahan
karena engkau adalah tonggak kucuran kemurahan dan kedermawanan
Bagimu salam penghormatan Tuhan Yang Maha Pemurah
yang mencurahkan aroma kasih sayang yang harum semerbak

Syair ini sangat indah. Saya dapat membayangkan bagaimana sedihnya masyarakat Baghdad ketika Ibnu Baqiyah meninggal. Saya berharap saya dapat menemukan syair yang seindah atau bahkan lebih indah dari syair di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s