Pelatihan ROHIS

Kemarin, 31 Desember 2008 aku dan 4 orang temanku yang berasal dari ekskul ROHIS pergi ke LPMP (Lembaga P…(lupa) Mutu Pendidikan) untuk mengikuti pelatihan ROHIS di sana. Di undangan tertulis bahwa acaranya akan dimulai jam 7.30 WIB. Karena itu, kami merencanakan berkumpul di sekolah pada pukul 6 pagi. Pada hari itu, aku terlambat bangun. Aku bangun pada pukul 5 pagi. Ketika melihat jam pun aku tenang-tenang saja, dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku pun pergi dari rumahku pada pukul 5.20 WIB. Tapi, Subhanallah, hanya Allah swt yang mengatur hidup ini. Jalanan yang kulewati lumayan sepi, mempercepat perjalananku ke sekolahku tercinta, SMA N 47 Jakarta, yang biasanya butuh sekitar satu jam menjadi setengah jam lebih sedikit.

Ketika aku sampai di sekolah, jam masih menunjukkan sekitar pukul 6. Karena aku tidak melihat seorangpun kecuali satpam sekolah aku pun menelpon ketua ROHIS sekolahku yang akan pergi bersamaku, kita samarkan namanya AD. Berikut dialognya :
Aku : Halo, AD. Wassalamu’alikum.
AD : Halo, Laks.
Aku : Lw dimana? Katanya ngumpul jam 6.
AD : Gw di Mie Ayam 47.

Mendengar itu pun aku memutuskan sambungan secara mendadak. Dia yang daritadi menyadari kehadiranku pun tertawa-tawa dari Mie Ayam 47, yang terletak di seberang SMA N 47 Jakarta. Aku hanya bisa tersenyum, menyadari kebodohanku yang menghabiskan pulsa untuk menelpon orang yang terlihat di mataku. Aku pun sontak tersenyum karena ternyata yang berada disana hanyalah dirinya sendiri. Tidak lama berselang, jam 6 lebih sedikit datanglah teman kami yang namanya PDM. Tak lama berselang datanglah seorang teman kami lagi yang namanya KAM. Akhirnya kami berempat pergi menuju tempat dimana teman kami yang satu lagi, CLA akan menjemput kami. Singkat kata, kami pun berangkat ke sana.

Sampai di alamat yang dituju, yaitu jalan M, kami kesulitan mencari gedung bernomor 60. Betapa sulitnya hal itu mengingat nomor rumah di jalan ini tidaklah berurutan seperti umumnya. Bahkan kami sempat melihat rumah dengan nomor 1000. Mungkin sang pemilik rumah hanya asal tempel nomor untuk formalitas atas keeksistensian rumah tersebut.

Akhirnya, setelah tersesat selama kurang lebih 15 menit, kami sampai juga di tempat yang dituju. Saat itu, jam menunjukkan pukul 7 lebih sedikit. Kami sedikit lega mengingat acara akan dimulai pada pukul 7.30, itu berarti kami tidak perlu menunggu terlalu lama sampai waktu dimulainya acara. Tetapi kami lupa akan penyakit yang diderita oleh beberapa (ratus ribu) warga Indonesia : Terlambat dari waktu yang telah ditentukan dalam memulai suatu acara alias Ngaret.

Singkat kata, kami dipaksa menunggu sampai jam 8 lebih sedikit. Jika ditanya, mereka pasti akan beralasan dan aku dapat memikirkan salah satu alasan yang akan mereka kemukakan, penyakit yang diderita oleh beberapa (ratus ribu) warga Indonesia kedua : Tidak menghargai waktu alias Telat.

Akhirnya, acara dimulai pada pukul 8 lebih sedikit. Itu termasuk dalam kategori “Cepat” jika dibandingkan dengan beberapa acara lain yang ngaretnya bisa sampai satu jam lebih. Acara dimulai dengan Salam, dilanjutkan dengan Tilawatil Qur’an dan sambutan-sambutan. Setelah itu, para peserta diberikan istirahat selama 15 menit. Lalu dilanjutkan dengan satu materi dari sang pemberi materi 1 (lupa namanya) sampai waktu Dzuhur. Setelah itu dilanjutkan dengan Ishama (Istirahat, Shalat, Makan).

Setelah Ishama, mereka menyajikan sebuah materi lagi yang diberikan oleh sang pemberi materi 2 (lupa lagi namanya. Benar-benar orang yang tidak menghargai sang pemberi ilmu…). Kesanku terhadapnya :
1. Suka ngelawak
2. Setia
3. Mirip sama Nardji (Pelawak yang di grup Cagur itu. Kenal kan?. Sudahlah, aku juga tidak terlalu kenal)

Mau tahu kenapa kubilang dia mirip dengan Nardji? Yang pertama adalah dari gaya bicaranya. Dia memiliki intonasi dan artikulasi yang sama dengannya. Yang kedua adalah karena dia suka bercanda. Waktu itu dia sedang menjelaskan tentang lebih penting mana antara ilmu untuk mengatasi masalah dan ilmu untuk menunjukkan kebenaran. Ketika kami lebih memilih ilmu untuk menjelaskan kebenaran, dia bertanya kepada salah satu dari kami, “Apakah 1 + 1 = 2?” Yang ditanya pun berkata, “Ya, benar.” Diapun bertanya lagi, “Bagaimana kalau saya bilang 1 + 1 = 6?” Yang ditanya pun berkata, “Itu salah.” Dia bertanya lagi, “Mengapa salah?” Yang ditanya pun menjawab lagi, “Karena 1 + 1 = 2.” Dia pun berkata lagi, “Lah, orang anaknya 4.” Spontan para peserta tertawa atas jawaban yang konyol itu. Lalu dia menjelaskan mengapa ilmu untuk mengatasi masalah lebih penting daripada ilmu untuk menunjukkan kebenaran. Itu dikarenakan semua kebenaran di sini bersifat relatif, dan kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah swt.

Akhirnya, setelah pelatihan yang melelahkan itu, kami semua diizinkan pulang ke rumah, Sebelum itu, kami shalat Ashar terlebih dahulu mengingat kami hampir tidak mungkin bisa shalat Ashar di rumah. Setelah shalat, kami mencegat taksi untuk pulang, menggunakan uang transport sebesar Rp 50000,- yang diberikan pada kami. KAM, dan PDM turun di SMA N 47 karena mereka memarkir motornya di sana. CLA pun ikut turun disana karena rumahnya dekat dari sekolah. Lalu penumpang taksi pun tinggal aku dan sang ketua rohis, AD. Aku diturunkan di stasiun pemberhentian kedua, Larangan. Karena memang uang untuk bayar taksi adalah uang transport ditambah uangnya, taksi itu akan mengarah langsung ke stasiun pemberhentian terakhir, rumah AD. Lalu, aku langsung menaiki angkutan C01 untuk kembali ke rumahku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s