Israel still Strikes Palestine

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tadi sore saya menonton sebuah berita di televisi. Topiknya pun masih tetap update, yaitu sekarang sudah memasuki hari kedelapan serangan Israel di Palestina, Lebih dari 500 orang yang meninggal dengan kurang lebih 100 anak-anak diantara mereka. Lalu, berita berikutnya adalah tentang pemblokiran jalur Gaza oleh Israel karena jumlah Dokter, perawat, dan fasilitas Rumah Sakit di negara itu tidak sanggup lagi menampung korban yang diperkirakan hampir mencapai 3000 orang. Kebayang nggak, gimana rasanya rakyat Palestina yang harus berjuang menghadapi rasa takut akan kematian dimana pun mereka berada? Lalu mengapa kita disini, Indonesia, hanya mampu berpangku tangan, atau malah tidak peduli terhadap hal itu. Padahal bukankah muslim itu seperti mata dan tangan. Ketika tangan terluka, mata menangis. Dan ketika mata menangis, tangan menyeka airmatanya. Apakah sekarang kita sudah tidak peduli terhadap semua itu? Terhadap saudara kita? Bahkan terhadap Agama kita yang kita yakini, Islam?

Lihatlah artikel yang saya sadur dari http://kertasburam.dagdigdug.com/ berikut.

Fatamorgana itu begitu nyata ketika bedebam roket keras menghantam bumi dengan gemuruh dan ledaknya. Mereka yang tinggal hanya bisa terkapar, mengutuk sarkatis serang laksana teroris. Dunia kini memicing tangis untuk mereka yang terkubur tragis dalam dalamnya palung historis yang tidak bisa dikeduk dengan sekadar simpatik melankolis.

Dunia bukan lagi jazirah yang menanda tempat sakral yang diisi dengan kontemplasi menenangkan dan memenangkan hati, yang terganti dengan detik dan menit menegangkan nadi, kini mereka sudah tidak memiliki lagi, sunyi. Jangankan untuk membalas, daya mereka pun tiada lagi sanggup membangun diri, hanya sekedar mengucap kalimat pemberhenti, pemisah antara hidup dan mati.

Ketika terompet mengganti tahun berbunyi, di sana dibarengi dentuman dahsyat membumi, meluluhlantakkan ilusi di tengah tirai imaji, tepat ketika mereka sedang membangun mimpi. Segaris jalur pembatas jalan kini menjelma segaris jalan rentetan anak, tanpa nyawa tentunya.

Ya, mereka sudah benar-benar gila, walau hanya dengan dengar racaunya.

Apakah hati kita tergerak? Meski hanya untuk menyumbang sekeping koin saja? Meski hanya untuk mebantu seujung kuku saja? Meski hanya berdoa sedetik saja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s