Panggilan Muharram, Puasa Asyura

Appeal of Muharram – Fasting for Day of Asyura

Dari hadits Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw pernah bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامُ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلأَةِ بَعْدَ الْفَرِ يْضَةِ صَلأَةُ اللَّيْلِ

Artinya:
“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah (puasa) di bulan Muharram (bulan Allah), dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”[1]

Sebetulnya ada apa dengan Bulan Muharram? Pada Senin, 29 Desember 2008 yang lalu, telah bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah 1430H yang berarti tanggal 1 Muharram 1430H dalam kalender Islam. Lalu kapankah “puasa di bulan Muharram” itu dilaksanakan, sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas?

Bulan ini adalah Bulan Muharram, dan terdapat puasa di dalamnya adalah puasa Asyura.

Puasa Asyura di Bulan Muharram disebutkan keutamaannya sebagai amalan sebagaimana disebutkan pada hadits riwayat dari Qatadah berikut, bahwa Nabi saw bersabda,

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتََسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya:
“Puasa di hari Asyura, aku mengharapkan balasan dari Allah untuk mengampuni (dosa) selama setahun sebelumnya.”[2]

Puasa Asyura adalah puasa di hari kesepuluh (10) di bulan Muharram, di mana diperkuat oleh hadits shahih agar disambung dengan hari kesembilan (9) Muharram, sebagai tujuan salah satunya untuk menyelesihi umat Yahudi dan Nashrani.

Ibnu Abbas pernah ditanya mengenai puasa Asyura’, dan jawabnya bahwa Rasulullah sangat memohon keutamaan puasa, yakni di hari Asyura dan bulan Ramadhan.[3]

Sumber shahih mengenai menyambung puasa Asyura (hari ke-10) dengan hari kesembilan sebagaimana hadits berikut.

Dari hadits Ibnu Abbas, dia berkata, “Tatkala Rasulullah saw berpuasa Asyura, dan beliau sangat menganjurkannya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang dibesar-besarkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani.” Maka Rasulullah saw bersabda,

فَأِنْ كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – أِن ْشَاءَ اللهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّا سِعَ

Artinya:
“Kalau saja tahun depan (aku masih berada di tengah-tengah kalian) –insya Allah- maka kita akan berpuasa pada hari kesembilan.”

Ibnu Abbas berkata, “(Namun) sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah saw telah wafat terlebih dahulu.””[4]

Sebagian ulama menganjurkan untuk berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh di bulan Muharram (menggabung), sehingga tidak menyerupai orang-orang Yahudi yang hanya melakukannya pada hari kesepuluh.[5] Ini adalah pendapat tiga Imam: Malik, Syafi’i, dan Ahmad.

Adapun beberapa hadits tentang puasa Asyura selain kombinasi puasa antara 9 dan 10 Muharram, yakni berpuasa di 10 dan 11 Muharram, namun haditsnya sangat lemah.[6]

Sejarah singkat Asyura
Asyura atau tanggal 10 Muharram adalah hari multibersejarah bagi umat Islam. Di hari tersebut beberapa tahun silam terjadi kebesaran-kebesaran atas kemenangan Islam, sebagaimana disebutkan berikut.

Pada 10 Muharram, Bebasnya Nabi Nuh dan ummatnya dari banjir besar.
Juga Nabi Ibrahim selamat dari apinya Raja Namrudz.
Kesembuhan Nabi Yakub dari kebutaan dan ia dibawa bertemu dengan Nabi Yusuf pada hari Asyura.
Nabi Musa selamat dari pasukan Fir’aun.
Nabi Isa diangkat ke surga setelah usaha Roma untuk menangkap dan menyalibnya gagal. [7]
Sebelum Islam, hari Asyura sudah menjadi hari peringatan di mana beberapa orang Mekkah biasanya melakukan puasa. Ketika Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah, ia mengetahui bahwa Yahudi di daerah tersebut berpuasa pada hari Asyura – bisa jadi saat itu merupakan hari besar Yahudi Yom Kippur. Saat itu, Muhammad menyatakan bahwa Muslim dapat berpuasa pada hari-hari itu,[8][9] sebagaimana yang telah dijelaskan dari hadits-hadits di atas untuk dianjurkan menyambungnya dengan puasa pada 9 Muharram juga, sehingga puasa menjadi 9 dan 10 Muharram, dengan tujuan untuk menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani.

Referensi web:
http://www.Kahfi.web.id/

Referensi :
[1] Shahih. HR. Muslim (1163), An-Nasa’i di dalam Al-Kubra (2905), dan Ibnu Majah (1742).
[2] Shahih. HR. Muslim (1162).
[3] Shahih. HR. Al-Bukhari (2006), Muslim (1132).
[4] Shahih. HR. Muslim (1134).
[5] Syarh Az-Zarqawi (2/237) dan Al-Majmu’ (6/383).
[6] Dha’if jiddan (sangat lemah). HR. Ahmad (2418), Al-Humaidi (485), Ibnu Khuzaimah (2095), dan yang lainnya.
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Asyura
[8] Sahih Bukhari (1900), Sahih Muslim (1130).
[9] Javed Ahmad Ghamidi. Mizan, The Fast, Al-Mawrid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s