Pembinaan Imtaq, Mari rapatkan barisan…

Pembinaan Imtaq adalah kegiatan rutin di sekolahku yang dilaksanakan setiap hari Jum’at siang, tepatnya setelah Shalat Jum’at selesai. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk menambah keimanan dan ketaqwaan bagi para siswa-siswi SMA N 47 Jakarta. Tapi, sangat disayangkan kelihatannya kegiatan ini kurang berhasil. Sebab, hanya ada beberapa persen siswa yang menyimak kegiatan ini dengan penuh perhatian. Dan banyak yang mengobrol di sesi kegiatan ini. Padahal seringkali materi dalam kegiatan ini lumayan bagus. Misalnya saja kemarin, 9 Januari 2009.

Setelah shalat Jum’at selesai, guruku mengajak para siswa yang sudah selesai shalat ba’diyah Jum’at untuk melakukan shalat ghaib untuk para saudara kita yang telah meninggal di Palestina, khususnya karena serangan biadab Israel. Tapi sangat disayangkan, banyak umat muslim yang kurang tanggap soal ini. Padahal yang terbunuh saudara mereka sendiri, tapi mereka malah bermain dan bercanda seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi ya sudahlah, namanya juga manusia. Pasti punya khilaf.

Beginilah materi yang kudapat ketika Pembinaan Imtaq kemarin.

Coba kita lihat suri tauladan kita, Rasulullah saw. Ketika beliau masih berada di dalam kandungan, ayahnya sudah meninggal. Lalu, pada umur 6 tahun, ibunya juga meninggal. Sehingga beliau tumbuh besar tanpa didampingi kedua orangtuanya. Lalu, pada usia 8 tahun, kakek beliau, yang merupakan pengasuh beliau pada saat itu juga meninggal. Tapi, lihatlah beliau, beliau adalah suri tauladan umat Islam. Tapi seperti yang kita ketahui, beliau adalah salah satu pemimpin terhebat sepanjang masa. Bukankah hebat, seorang dengan latar belakang seperti beliau dapat menjadi orang terhebat sepanjang masa (menurut buku karya Michael Hart atau siapa ya? Itu loh, penulis buku “100 orang yang peling berpengaruh sepanjang masa”).

Coba kita ingat peristiwa perang 6 hari pada tahun 1967 (kalau nggak salah. Kalau salah mohon mafhum, namanya juga manusia) negara Islam yang jika ditotal jumlah penduduknya berpuluh-puluh juta jiwa kalah dari Israel yang hanya berjumlah kurang lebih 3 juta jiwa. Mengapa itu bisa terjadi? Semua itu dikarenakan longgarnya barisan kita, tidak adanya persatuan antara sesama muslim. Saya bukan bermaksud menyuruh anda berjihad menenteng senjata menuju Israel, tetapi saya hanya ingin agar kita dapat bersatu untuk membela yang benar dan mencegah yang salah.

Coba ingat zaman dahulu, ketika kekhalifahan Umar bin Khatthab ra pada tahun 634. Saat itu, mereka disambut dengan penuh sukacita di Yerusalem karena mereka adalah pembawa kunci kebebasan dari penjajahan di negeri itu. Tapi coba lihat sekarang, akankah umat Islam disambut seperti itu lagi?

Untuk itu, mari kita rapatkan barisan kita, satukan Visi, Misi dan Persepsi kita dan berusaha menggapai ridha Illahi. Jangan biarkan barisan kita longgar, karena hal itu dapat menghancurkan kita, baik dikarenakan faktor internal maupun dikarenakan faktor eksternal.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s