Sepotong Roti

Hari masih tengah malam, namun dia menyusuri gang sempit itu dengan cepat, seolah-olah lari dari kejaran anjing pemburu. Dia tidak ingin ketahuan oleh orangtuanya. Ingatan akan kejadian kemarin siang masih membekas di benaknya.

Kemarin siang, dia bertengkar dengan ayahnya hanya dikarenakan masalah yang bisa dibilang sepele. Dia baru pulang sekolah, tetapi saat dia tiba di rumah ibunya belum menyiapkan makanan untuknya. Padahal saat itu dia sangat kelaparan. Diapun menghardik ibunya dan ibunya berkata bahwa tangan ibunya sedang sakit. Namun dia tidak peduli. Akhirnya, dia pergi diam-diam dari rumah orangtuanya karena berpikir mereka tidak sayang lagi padanya.

Singkat cerita, dia sampai di sebuah kota yang besar. Disana dia melihat seorang penjual roti. Karena rasa lapar yang sudah ditahannya dari tengah malam, dia bertanya pada tukang roti itu, “Permisi, Pak. Bisakah saya meminta sepotong roti milik bapak?”
Tukang roti itu pun menjawab, “Rasa-rasanya aku belum pernah melihatmu disini. Siapa engkau? Darimana asalmu?”
Dia pun menjawab, “Nama saya fulan, saya berasal dari desa sebelah.”
Tukang roti itu pun berkata lagi, “Wahai fulan, mengapa engkau berada disini? Dimana orangtuamu?”
Dia pun menjawab, “Saya berada disini karena saya ingin meminta sepotong roti dari dirimu. Orang tua saya masih berada di rumah.”
“Bukankah kau berasal dari desa sebelah? Apa itu berarti engkau pergi menempuh perjalanan jauh itu sendirian?”
“Ya.”
“Mengapa engkau melakukan itu?”
“Karena orang tua saya sudah tidak menyayangi saya lagi.”
“Apa maksudmu, wahai fulan?”
“Kemarin siang, ketika saya baru pulang sekolah saya tidak mendapati adanya makanan di meja. Padahal saat itu saya sangat lapar dan lelah.”

Tanpa pikir panjang, tukang roti itu memberikan sepotong roti kepada anak itu. Diapun menyantap roti itu dengan lahap. Setelah dia selesai makan, dia berkata, “Terima kasih wahai tukang roti berhati mulia. Engkau baik sekali.”
Tukang roti itu bertanya padanya, “Apakah orang tuamu tidak memberikan makanan kepadamu sejak engkau kecil?”
“Tentu saja mereka memberiku makan.”
“Apakah mereka memberi semua yang kau inginkan?”
“Meskipun ada beberapa yang tidak terkabul, tapi umumnya iya.”
“Apakah kemarin malam kau tidak makan?”
“Tidak, kemarin malam aku masih kesal dengan orangtuaku sehingga aku tidak menyentuh makanan yang ibuku buat sedikitpun. Karena itu, aku dimarahi oleh ayahku. Rasa kesalkupun ikut bertambah.”
“Jadi karena itu engkau kabur dari rumah?”
“Ya, aku kabur karena mereka sudah tidak berlaku baik lagi terhadapku.”
“Bukankah mereka selalu memberimu makan? Bagaimana engkau bisa bilang aku yang hanya memberikan sepotong roti itu baik, padahal orangtuamu yang telah memberimu kasih sayang yang tak ternilai dan telah mencukupi makanmu selama bertahun-tahun hingga saat ini kau katakan sebagai orang yang tidak baik?”

Sang anakpun menyesal setelah mendengar perkataan sang penjual roti itu. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang setelah berterimakasih kepada tukang roti yang telah menyadarkannya itu.

Rasa Takut yang Menyelamatkan

Rasulullah saw bercerita :

Dahulu ada seorang laki-laki yang tidak pernah berbuat kebaikan sedikitpun. Suatu hari dia berkata pada keluarganya, “Apabila aku meninggal nanti, bakar mayatku, lalu gilinglah aku hingga menjadi debu, kemudian letakkan setengahnya di darat dan setengahnya di laut. Demi Allah, seandainya Allah dapat menghisabku, tentu Dia akan memberikan siksaan yang belum pernah ditimpakan kepada seseorang pun di dunia ini.”

Ketika laki-laki itu meninggal, keluarganya melaksanakan pesan dan amanahnya. Allah swt lalu memerintahkan daratan dan lautan untuk mengumpulkan debu dan tulang yang berserakan tersebut. Ketika sudah terkumpul semuanya, Allah berfirman pada laki-laki tersebut, “Apa yang membuatmu melakukan hal ini. Kau tentu tahu bahwa mudah bagi-Ku untuk mengumpulkan semua serpihan dari dirimu.”

Laki-laki itu pun menjawab, “Ya Allah, aku lakukan ini semata karena rasa takutku kepada-Mu dan Engkau tentu lebih mengetahui.”

Mendengar jawaban tersebut, Allah kemudian mengampuni segala dosa-dosanya.

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim

Silaturahim=Menyambung Tali Persaudaraan…

Persaudaraan kadang seperti tingkah dahan-dahan yang ditiup angin. Walau satu pohon, tak selamanya gerak dahan seiring sejalan. Adakalanya seirama, tapi tak jarang berbenturan. Tergantung mana yang lebih kuat: keserasian batang dahan atau tiupan angin yang tak beraturan.

Indahnya persaudaraan. Sebuah anugerah Allah yang teramat mahal buat mereka yang terikat dalam keimanan. Segala kebaikan pun terlahir bersama persaudaraan. Ada tolong-menolong, terbentuknya jaringan usaha, bahkan kekuatan politik umat.

Namun, pernik-pernik lapangan kehidupan nyata kadang tak seindah idealita. Ada saja khilaf, salah paham, friksi, yang membuat jalan persaudaraan tidak semulus jalan tol. Ketidakharmonisan pun terjadi. Kebencian terhadap sesama saudara pun tak terhindarkan.

Muncullah kekakuan-kekakuan hubungan. Interaksi persaudaraan menjadi hambar. Sapaan cuma basa-basi. Tidak ada lagi kerinduan. Sebaliknya, ada kekecewaan dan kebencian. Suatu hal yang sulit ditemukan dalam tataran idealita persaudaraan Islam.

Lebih repot lagi ketika disharmoni itu menular ke orang lain. Keretakan persaudaraan bukan lagi hubungan antar dua pihak, bahkan merembet. Penyebarannya bisa horisontal atau ke samping, bisa juga vertikal atau atas bawah. Para orang tua yang berseteru, anak cucu pun bisa ikut kebagian.

Rasulullah saw. pernah mengingatkan itu dalam sabdanya, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari)

Waktu memang bisa menjadi alat efektif peluntur kekakuan itu. Saat gesekan menghangat, perjalanan waktulah yang berfungsi sebagai pendingin. Orang menjadi lupa dengan masalah yang pernah terjadi. Ada kesadaran baru. Dan kerinduan pun menindaklanjuti.

Kalau berhenti sampai di situ, bisa jadi, perdamaian cuma datang dari satu pihak. Karena belum tentu, waktu bisa menjadi solusi buat pihak lain. Kalau pun bisa, sulit memastikan bertemunya dua kesadaran dalam rentang waktu yang tidak begitu jauh.

Perlu ada cara lain agar kesadaran dan perdamaian bertemu dalam waktu yang sama. Dan silaturahim adalah salah satunya. Inilah cara yang paling ampuh agar kekakuan, ketidaksepahaman, kekecewaan menjadi cair. Suasana yang panas pun bisa berangsur dingin.

Dengan nasihat yang begitu sederhana, Rasulullah saw. mengajarkan para sahabat tentang keunggulan silaturahim. Beliau saw. bersabda, “Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung tali silaturahim.” (Muttafaq ‘alaih)

Menarik memang tawaran Rasul tentang manfaat silaturahim: luasnya rezeki dan umur yang panjang. Dua hal tersebut merupakan simbol kenikmatan hidup yang begitu besar. Bumi menjadi begitu luas, damai, dan nyaman. Sehingga, kehidupan pun menjadi sangat berarti.

Masalahnya, tidak mudah menggerakkan hati untuk berkunjung ke orang yang pernah dibenci. Mungkin masih terngiang seperti apa sakitnya hati. Begitu berat beban batin. Berat. Terlebih ketika setan terus mengipas-ngipas bara luka lama. Saat itulah, setan memposisikan diri seseorang sebagai pihak yang patut dikunjungi. Bukan yang mengunjungi. Kalau saja bukan karena rahmat Allah, seorang mukmin bisa lupa kalau ‘izzah bukan untuk sesama mukmin. Tapi, buat orang kafir.

Firman Allah swt. “Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, yang bersikap adzillah (lemah lembut) terhadap orang mukmin, yang bersikap ‘izzah (keras) terhadap orang-orang kafir….” (QS. 5: 54)

Setidaknya, ada tiga persiapan yang mesti diambil agar silaturahim tidak terasa berat. Pertama, murnikan keinginan bersilaturahim hanya karena Allah. Ikatan hati yang terjalin antara dua mukmin adalah karena anugerah Allah. Ikatan inilah yang menembus beberapa hati yang berbeda warna menjadi satu cita dan rasa. Sebuah ikatan yang sangat mahal.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka….” (QS. Al-Anfal: 63)

Jangan pernah selipkan maksud-maksud lain dalam silaturahim. Karena di situlah celah setan memunculkan kekecewaan. Ketika maksud itu tak tercapai, silaturahim cuma sekadar basa-basi. Silaturahim tinggallah silaturahim, tapi hawa permusuhan tetap ada.

Kedua, cintai saudara seiman sebagaimana mencintai diri sendiri. Inilah salah satu cara mengikis ego diri yang efektif. Ketika tekad ini terwujud, yang terpikir adalah bagaimana agar bisa memberi. Bukan meminta. Apalagi menuntut.

Akan muncul dalam nurani yang paling dalam bagaimana bisa memberi sesuatu kepada saudara seiman. Termasuk, memberi maaf. Meminta maaf memang sulit. Dan, akan lebih sulit lagi memberi maaf.

Hal inilah yang paling sulit dalam tingkat keimanan seseorang. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak beriman seseorang di antara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.”

Ketiga, bayangkan kebaikan-kebaikan saudara yang akan dikunjungi, bukan sebaliknya. Kerap kebencian bisa menihilkan kebaikan orang lain. Timbangan diri menjadi tidak adil. Kebaikan yang bertahun-tahun bisa terhapus dengan kesalahan semenit.

Maha Benar Allah dalam firmanNya, “…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa….” (QS. 5: 8 )

Tak ada yang pernah dirugikan dari silaturahim. Kecuali, tiupan angin ego yang selalu ingin dimanjakan. Karena, ulahnya tak lagi membuat tangkai-tangkai dahan berbenturan.
terima kasih http://www.dakwatuna.com

Dikutip dari http://laridarikenyataan.blogspot.com/

Mengapa kita Berdoa?

Seseorang, terutama Anda yang sering berdo’a pasti hafal beberapa do’a, sekecil apapun, sependek apapun. Namun, sadarkah kita bahwa tak selalu kita khusyuk dalam berdo’a? Hal ini adalah hal umum yang terjadi di kalangan masyarakat, terutama kawula muda yang makin larut dalam kehidupannya masing-masing. Di sini, saya akan mencoba membahas beberapa masalah dalam berdo’a dan penyelesaiannya.

1. Kepada siapa kita berdo’a?
Ini masalah paling umum di masyarakat. Rata-rata, sekolah memaksa murid untuk menghafal doa-doa harian. Hal ini membuat siswa menjadi berorientasi untuk berdo’a guna mendapatkan nilai. Hal ini menyebabkan siswa berpikir bahwa do’a adalah komplementer, membentuk jalan berpikir bahwa tidak berdo’a ya tidak apa-apa. Hal ini patut menjadi pembahasan, sebab, dengan jalan berpikir seperti ini, lama kelamaan berdo’a akan sama sekali ditinggal oleh masyarakat.

Contohnya seperti ini:
-Seorang anak telah diajarkan do’a makan. Ketika hendak makan, gurunya mengingatkan,”Hayo, jangan lupa berdo’a!”. Kemudian anak itu akan berdo’a sesuai yang diajarkan, misalnya ” Allahuma baariklana, fiima……dst”. Sampai di rumah, ibunya melakukan hal sama yang dilakukan gurunya di sekolah, dan hal itu berulang terus dari hari ke hari.-

Hal ini akan membentuk pemikiran dalam diri anak bahwa berdo’a adalah budaya sebelum makan, bukannya bentuk permohonan pada Allah. Jadi, do’a yang keluar dari mulut hanya sekadar kata-kata belaka tanpa ada pengertian lebih lanjut. Akibatnya, do’a tadi jadi tidak mujarab. Akibatnya pula, anak menjadi tak mengerti maksud dan kegunaan do’a. Do’a tadi tak didasarkan atas permohonan kita pada Allah, namun pada kebiasaan sehari-hari. Hal ini harus kita hindari agar tak terjadi yang namanya kesalahpahaman. Semua orang yang masih belum terlambat dinasehati, harus sesegera mungkin dinasehati, agar, do’a kita makbul dan tidak sia-sia. Do’a yang tanpa harap akan menimbulkan kesan bodoh dan sombong yang tentunya tidak mau kita miliki bersama.

2. Apa tujuan kita berdoa?
Doa dapat kita lakukan dengan bermacam-macam tujuan. Akan tetapi, sangat disayangkan karena banyak orang yang hanya menghafal doa tanpa mengerti artinya hingga kita hanya mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak kita pahami. Jika ini dilanjutkan, ada kemungkinan akan terciptanya sebuah bid’ah bahkan mantera perdukunan baru. Karena itu, kita lebih baik menghafal doa sekaligus artinya agar kita bisa lebih menghayati maksud dan tujuan doa ini dibacakan.

Dua poin itu adalah inti dari kesalahpahaman kita yang sering terjadi pada diri kita.
Sekarang pertanyaannya adalah “Sudah benarkah doa yang kita lakukan?”

Apakah Akhwat yang Berjilbab pasti Menutup Auratnya?

Sekarang di Indonesia mulai banyak akhwat yang mulai mengenakan jilbab. Baik karena mengikuti teman, karena udang di balik batu ataupun karena sadar akan kewajibannya menutup aurat.

Masalahnya, berapa banyakkah akhwat yang memakai jilbab itu benar-benar menutup auratnya?
Dalam arti mereka mengerti bagian mana saja yang merupakan aurat bagi mereka dan benar-benar sadar akan tidak bolehnya memperlihatkan aurat mereka.

Suatu hari, saya sedang berada di angkot. Ketika saya melihat keluar jendela, ada seorang akhwat yang berjilbab tetapi ketika dia naik kendaraan bermotor, dia memperlihatkan betisnya yang merupakan bagian dari auratnya. Lalu, saya melihat beberapa akhwat berjilbab lain yang menggulung lengan bajunya sehingga tangannya yang merupakan bagian dari auratnya juga terlihat. Bahkan, banyak sekali akhwat yang berjilbab pacaran. Padahal, jika mereka mengerti apa alasan mereka menggunakan jilbab pasti hal seperti itu tidak akan terjadi.

Coba sekarang kita pikirkan, berapa persentase dari akhwat yang menggunakan jilbab di antara seluruh akhwat yang berada di dunia, paling tidak di Indonesia saja. Pasti persentasenya lumayan. Tapi bagaimana jika kita hitung persentase akhwat yang benar-benar memakai jilbab karena mengerti kewajibannya dengan akhwat yang hanya memakai jilbab, bagaimana hasilnya?

Rahasia Bersyukur

Rasulullah saw pernah bercerita :

Pada masa Bani Israil hiduplah tiga orang sahabat akrab. Orang yang pertama menderita sopak (lepra), orang yang kedua gundul dan orang yang ketiga buta. Suatu hari, Allah swt brmaksud menguji ketiganya. Dia mengutus seorang malaikat untuk menemui mereka.

Yang pertama kali dikunjungi adalah si sopak. Malaikat berkata, “Hai fulan, apa yang kau inginkan saat ini?”. Dia pun menjawab, “Wahai Syekh, yang aku inginkan hanyalah sembuhnya penyakit sopak ini. Aku tidak kuat dngan celaan dan cercaan orang-orang. Gantilah kulit berpenyakit ini dengan kulit bersih dan berwarna indah.” Lalu malaikat itu mengusap kulitnya dan dengan izin Allah swt, seketika penyakit kulitnya sembuh dan menjadi kulit yang bersih dan indah. Lalu, sang malaikat bertanya lagi, “Sekarang, kekayaan apa yang kau inginkan?”. “Berilah aku seekor unta.” Lalu diberilah dia seekor unta yang sedang hamil.

Yang berikutnya dikunjungi adalah si gundul. Malaikat berkata, “Hai fulan, apa yang kau inginkan saat ini?”. Dia pun menjawab, “Wahai Syekh, yang aku inginkan hanyalah rambut yang lebat dan indah. Aku tidak kuat dngan celaan dan cercaan orang-orang terhadap kepalaku yang gundul ini.” pinta si gundul memelas. Lalu malaikat itu mengusap kepalanya dan dengan izin Allah swt, seketika tumbuhlah rambut yang tebal dan indah. Lalu, sang malaikat bertanya lagi, “Sekarang, kekayaan apa yang kau inginkan?”. “Berilah aku seekor sapi.” Lalu diberilah dia seekor sapi yang sedang hamil.

Yang terakhir kali dikunjungi adalah si buta. Malaikat berkata, “Hai fulan, apa yang kau inginkan saat ini?”. Dia pun menjawab, “Wahai Syekh, yang aku inginkan hanyalah sembuhnya penglihatan layaknya penglihatan manusia pada umumnya dan berilah aku seekor kambing.” Maka diusaplah kedua mata orang itu dan dengan izin Allah swt pula orang tersebut bisa melihat kembali. Lalu diberilah dia seekor kambing yang sedang hamil.

Hewan-hewan yang diberikan kepada mereka sangat cepat beranak pinak, sampai akhirnya mereka menjadi kaya raya. Lalu, suatu hari malaikat itu diutus lagi untuk menguji mereka bertiga. Kali ini, sang malaikat diutus dalam wujud seorang laki-laki tua yang kurus, miskin dan penyakitan.

Ia mendatangi si sopak sambil berkata, “Kasihanilah aku, Tuan. Aku seorang tua yang miskin dan tidak punya apa-apa, sementara perjalananku masih jauh. Dengan nama Allah swt yang telah memberikan tuan kulit yang bagus nan indah dan harta yang berlimpah, berilah aku bekal apa adanya agar aku sampai di tempat tujuan.” Si sopak pun menjawab, “Maaf, aku juga banyak kebutuhan lain.”
“Rasanya aku mengenalmu, bukankah engkau adalah orang yang dulunya berpenyakit sopak, lalu Allah swt sembuhkan dan berikan harta yang melimpah?” Dengan nada marah si sopak pun menjawab, “Enak saja! Hartaku ini melimpah karena warisan dari leluhurku. Pergi dan jangan pernah kesini lagi! Aku tidak akan pernah memberimu apapun.”

Lalu, malaikat itu pergi mengunjungi si gundul. Akan tetapi, si gundul itu menghardiknya dan tidak memberikan apa-apa padanya sebagaimana si sopak. Lalu akhirnya malaikat itu pun mengunjungi si buta.

Ketika malaikat yang menyamar menjadi lelaki tua itu mengeluh, si buta berkata, “Ambillah apa pun yang kau butuhkan dan kau inginkan, karena sesungguhnya dahulu aku seorang yang miskin dan buta, lalu Allah swt mengembalikan penglihatanku dan memberiku rezeki yang berlimpah. Aku tidak punya alasan untuk menghalangimu mengambil apapun dariku.”

Lelaki tua itu lantas berkata, “Tidak usah, sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menguji kalian bertiga. Allah swt meridhaimu dan membenci kedua temanmu.”
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah ra)

Dari Hadits diatas dapat kita lihat hebatnya syukur.
Sekarang, pertanyaan untuk kita adalah “Sudahkah kita bersyukur atas apa yang Allah swt berikan kepada kita hari ini?”

Detik-detik Meninggalnya Rasulullah saw

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Utsman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.

Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata jibril.Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

” Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.

dikutip dari:
thetrueideas.multiply.com
Answering-ff.org

Lihat cerita barusan…
Terbukti bahwa Rasulullah saw mencintai ummatnya melebihi apapun juga.
Tapi, bagaimana dengan kita?