Lemak Babi di makanan kita???

Semuanya berawal dari saat saya membaca sebuah artikel di tempat les saya, Nurul Fikri. Disitu saya membaca sebuah artikel yang menerangkan beberapa produk yang katanya mengandung lemak babi. Dan baru-baru ini saya melakukan pencarian data di Internet. Dan saya menemukan artikel yang persis sama dengan yang saya baca di Nurul Fikri. Beginilah artikelnya.

LEMAK BABI

” Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS. ‘Abasa : 24)
Oleh Dr.M.Anjad Khan

Salah seorang rekan saya bernama Shaikh Sahib bekerja sebagai pegawai diBadan Pengawasan Obat & Makanan (POM) di Pegal, Perancis. Tugasnyaadalah mencatat semua merek barang, makanan dan obat-obatan. Produk apapun yang akan disajikan suatu perusahaan ke pasaran,bahan-bahan produk tersebut harus terlebih dahulu mendapat ijin
dari Badan pengawas Obat dan Makanan Prancis dan Shaikh Sahib bekerja di Badan tersebut bagian QC , oleh sebab itu dia mengetahui berbagai macam bahan makanan yang
dipasarkan. Banyak dari bahan-bahan tersebut dituliskan dengan istilah yang dituliskan dalam bentuk matematis seperti E-904, E-141.

Awalnya, saat Shaikh Sahib menemukan bentukmatematis tersebut, dia penasaran dan kemudian menanyakan kode matematis tersebut kepada seorang perancis yang berwenang dalam bidang itu dan orang tersebut menjawab ” KERJAKAN SAJA TUGASMU, DAN JANGAN BANYAK TANYA. Jawaban tersebut menimbulkan kecurigaan buat Shaikh Sahib dan diakemudian mulai mencari tahu kode matematis tersebut dalam dokumen yang ada.Ternyata apa yang dia temukan cukup mengagetkan kaum muslim di dunia. Hampir diseluruh negara barat termasuk Eropa, pilihan utama untuk daging adalah daging babi. Peternakan babi sangat banyak di negara-negaratersebut.Di perancis sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari 42.000. Jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya.

Namun orang Eropa dan Amerika berusaha menghindari lemak-lemak tersebut. Kemudian yang menjadi pertanyaan sekarang;dikemanakan lemak-lemak babi tersebut ? jawabannya adalah: Babi-babi tersebut dipotong di rumah-rumah jagal dalam pengawasan Badan POM dan yang membuat pusing Badan tersebut adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan dari daging babi. Dahulu kira-kira 60 tahun yang lalu, lemak-lemak tersebut dibakar. Kemudian mereka berpikir untuk memanfaatkan lemak-lemak tersebut. Sebagai awal ujicobanya mereka membuat sabun dengan bahan lemak tersebut dan ternyata itu berhasil.
Lemak-lemak tersebut diproses secara kimiawi, dikemas sedemikian rupa dan dipasarkan. Dalam pada itu negara-negara di Eropa memberlakukan aturan yang mengharuskan bahan-bahan dari setiap produk makanan, obat-obatan harus dicantumkan pada kemasan. Oleh karena itu bahan yang terbuat dari lemak babi dicantukam dengan nama Pig Fat (lemak babi)
pada kemasan produk.

Mereka yang sudah tinggal di Eropa selama 40 tahun terakhir ini mengetahui hal tersebut.
Namun produk dengan bahan lemak babi tersebut dilarang masuk kenegara-negara Islam pada saat itu sehingga menimbulkan defisit perdagangan bagi negara pengekspor. Menoleh kemasa lalu, jika anda hubungkan dengan Asia Tenggara, anda mungkin tahu tentang factor yang menimbulkan perang saudara. Pada saat itu, peluru senapan dibuat di Eropa dan diangkut ke belahan benua melalui jalur laut. Perjalanannya memakan waktu berbulan-bulan> hingga mencapai tempat tujuan sehingga bubuk mesiu yang ada di dalamnya.

Kemudian mereka punya ide untuk melapisi peluru tersebut dengan lemak babi. Lapisan lemak tersebut harus digigit dengan gigi terlebih dahulu sebelum digunakan. Saat berita mengenai pelapisan tersebut tersebar dan sampai ketelinga tentara yang kebanyakan Muslim dan beberapa Vegetarian ( orang yang tdk makan daging), maka tentara – tentara tersebut
menolak berperang sehingga mengakibatkan perang saudara ( civil war ).

Negara-negara eropa mengakui fakta tersebut dan kemudian menggantikan penulisan lemak
babi dalam kemasan dengan menuliskan lemak hewan. Semua orang yang tinggal di Eropa sejak tahun 1970 – an mengetahuinya. Saat perusahaan produsen ditanya oleh pihak berwenang dari negara Islam mengenai lemak hewan tersebut, maka jawabannya bahwa lemak tersebut adalah lemak sapi & domba, walaupun demikian lemak-lemak tesebut haram bagi muslim karena penyembelihan hewan ternak tersebut tidak mengikuti syariat islam.Oleh karena itu produk dengan label baru tersebut dilarang masuk ke negara-negara islam. Sebagai akibatnya, perusahan-perusaha produsen menghadapi masalah keuangan yang sangatserius karena 75% penghasilan mereka diperoleh dengan menjual produknya ke negara islam, dimana laba penjualan ke negara islam bisa mencapai milliar dolar. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat kodifikasi bahasa yang hanya dimengerti oleh Badan POM sementara orang awam tidak mengetahuinya. Kode tersebut diawali dengan kode E-CODES. E-INGREDIENTS ini terdapat dibanyak produk perusahaan multinasional termasuk
pasta gigi, sejenis permen karet, cokelat, gula-gula, biscuit, makanan kaleng, buah-buahan kalengan dan beberapa multi vitamin dan masih banyak lagi jenis produk makanan & obat-obatan lainnya.

Olehkarenanya, saya mohon kepada semua umat islam untuk memeriksa terlebih dahulu bahan-bahan produk yang akan kita konsumsi dan mencocokannyadengan daftar kode
E-CODES berikut ini. Jika ditemukan kode- kode berikut ini dalam kemasan produk yang akan kita beli, maka hendaknya dapat dihindari karena produk dengan kode-kode tersebut di bawah ini mengandung lemak babi.
E100, E110, E120, E 140, E141, E153, E210, E213,
E214, E216, E234,
E252,E270, E280, E325,
E326, E327, E334, E335, E336, E337, E422, E430,
E431, E432, E433,
E434, E435, E436, E440,
E470, E471, E472, E473, E474, E475,E476, E477, E478,
E481, E482,
E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542,E570, E572,
E631, E635, E904.

Adalah tanggung jawab kita semua sebagai umat islam untuk mengikuti syariat islam dan juga memberitahukan informasi ini kepada saudara-saurdara kita.

Disadur dari http://forumjumat.multiply.com/journal/item/16

Begitulah info yang saya baca disana. Lalu, saya mencari data di Google dengan keywords “Code E, Pig Fat” dan saya mendapat data yang hampir sama, diperkirakan ini adalah data aslinya, beginilah datanya.

Are we in danger of eating Haraam products?

By Yasir Muhammad Khan & Sheikh Sahib

There are many products containing pig fat which we might not notice in the ingredients. Sheikh Sahib have worked in the food department of France for ten years. His duty dealt with the registration of food and cosmetic items.

Before launching the product the manufacturer would bring a specimen to me with a list of components used in it. I would send the specimen to laboratory for examination. Then I would compare the ingredients appearing in the laboratory report with the ones mentioned in the list submitted by the company. If there were no discrepancies, I would issue the registration letter. I noticed that some of the component lists submitted by the companies carried some codes like “E141” and “E904”. In the beginning, I was very surprised at reading these codes. When I asked my senior officers about the codes, they said, ‘check only the components and don’t consider these letters’.

This increased my curiosity and I started investigating at my own. I came to know startling facts. My investigation revealed that pig meat is eaten in all Europe, America and Far East. In these countries, there are millions of farms for breeding pigs. In France alone, there are 42 thousand such farms. When the pigs reach a certain age, they are slaughtered and their meat is supplied to the markets. People eat pig flesh. In Europe and America, people do not eat fats at all while pig has a lot of fats.

Some two hundred years ago, pig farms and slaughter-houses were formally set up and pork was supplied to the consumers under supervision big problem to dispose of the fat. In the beginning they used to burn the fat but later they thought to use it in products. So, the pig fat was melted and used in making soap. The experiment was successful. Then, plants were set up to process the fat. The packed fat was brought in market where companies would put the fat for using it in food and drinks.

In the beginning of this century, quality control was systematized. European countries started to introduce quality control over food, drinks, lotions and drugs, and directed the manufacturing companies to print a list of ingredients and their effects. The companies started printing “Pig Fat” on the wrappers and bottles.

But when these products came to Islamic countries, the Muslims boycotted them. You must know the background of the freedom war in 1857 in India. At that time, rifle bullets were sent to India from Europe via sea. During the six-month journey in the sea, the bullets would get moisturized due to humid and salty air of sea and were no longer usable. Britain would put a coating on the bullets to preserve them. To use the bullets, the soldiers would peel the fat coating with their teeth. This continued for some time, but when the local soldiers came to know that the coating was made of pig fat, they revolted. The revolt turned into the freedom war of 1857.

Muslims around the world learnt that the European, products had pig fats, and the sale was adversely affected. The manufacturing companies raised a hue and cry and the European governments allowed them to print “animal fats” instead of “pig fats”. Now the companies declared that their products used animal fats. But westerners kill the animals in a violent manner by electrocuting them or cutting the neck in one goes with machines. The Muslims slaughter the animals in Islamic way and believe slaughtering through electrocution as haraam, and do not eat the flesh, fat, etc of an animal slaughtered in such way.

The European companies renamed the “pig fats” as “animal fats”, but the Muslims refused to accept as halaal all the animals slaughtered by the Europeans and started boycotting the European products having an animal ingredient.

This was the time when the companies had taken the shape of multinational companies and their products were being sold in the seven continents. The companies did not want to lose a one-third of their buyers. Secondly, the number of products and the output of companies had increased so much that it was nearly impossible to arrange for the fat of halaal animals or corn oil. If the companies had obtained the fats of animals slaughtered in Islamic ways or used corn oil. Their budget would have been affected and the cost would have increased.

Thirdly, the pig fat would have gone in waste. After prolonged deliberation, the European minds devised a solution that the companies should not mention “fat” on the ingredient list.

But there was a problem that under the law, the manufacturers were bound to print the names of ingredients. To solve this problem, they defined codes for animal ingredients used in the products. The codes represented which animal’s ingredient was used in which ratio. The list of codes was sent to food departments of different countries. Since then, the companies mention only the codes and thus make billions of dollars profits every year.

It is a pity that the Muslims are unknowingly using these products. One major reason of the increasing obscenity and debauchery in the Muslim countries is the toothpaste, chewing gums, chocolates, sweets, biscuits, corn flakes, packed fruits and vitamin tablets in which fats of haraam animals have been used.

These are the only E codes you may detect in a product which has a haraam ingredient. Please print a copy and take it with you on every shopping trip.

E-100 E-110 E-120 E-140 E-141 E-153 E-160a E-210

E-213 E-214 E-216 E-234 E-252 E-270 E-280 E-325

E-326 E-327 E-334 E-335 E-336 E-337 E-422e E-430

E-431 E-432 E-433 E-434 E-435 E-436 E-440 E-470

E-471 E-472a-e E-473 E-474 E-475 E-476 E-477 E-478

E-481 E-482 E-483 E-491 E-492 E-493 E-494 E-495

E-542 E-570 E-572 E-631 E-635 E-640 E-904 E-920

Disadur dari http://www.classicalislam.com/pages/articles/haramfood.htm
Kayaknya sama aja ya…

Jadi, gimana?
Ada yang bisa bantu cari data yang lebih lengkap soal kasus ini? Paling tidak sekedar sedikit pengetahuan mengenai hal ini…

Satu pemikiran pada “Lemak Babi di makanan kita???

  1. sy tinggal d salah satu negara islam d timur tengah betapa kaget nya saya setelah tau klw ternyata di negara arab jg msh banyak beredar produk2 yg mengandung lemek babi,slh satu nya adalah fresh milk yg di konsumsi klwrga sy.dan yg paling tidak habis pikir susu tersebut mrupakan produk dari KSA(kingdom of saudi arabia/arab saudi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s