Mengapa kita Berdoa?

Seseorang, terutama Anda yang sering berdo’a pasti hafal beberapa do’a, sekecil apapun, sependek apapun. Namun, sadarkah kita bahwa tak selalu kita khusyuk dalam berdo’a? Hal ini adalah hal umum yang terjadi di kalangan masyarakat, terutama kawula muda yang makin larut dalam kehidupannya masing-masing. Di sini, saya akan mencoba membahas beberapa masalah dalam berdo’a dan penyelesaiannya.

1. Kepada siapa kita berdo’a?
Ini masalah paling umum di masyarakat. Rata-rata, sekolah memaksa murid untuk menghafal doa-doa harian. Hal ini membuat siswa menjadi berorientasi untuk berdo’a guna mendapatkan nilai. Hal ini menyebabkan siswa berpikir bahwa do’a adalah komplementer, membentuk jalan berpikir bahwa tidak berdo’a ya tidak apa-apa. Hal ini patut menjadi pembahasan, sebab, dengan jalan berpikir seperti ini, lama kelamaan berdo’a akan sama sekali ditinggal oleh masyarakat.

Contohnya seperti ini:
-Seorang anak telah diajarkan do’a makan. Ketika hendak makan, gurunya mengingatkan,”Hayo, jangan lupa berdo’a!”. Kemudian anak itu akan berdo’a sesuai yang diajarkan, misalnya ” Allahuma baariklana, fiima……dst”. Sampai di rumah, ibunya melakukan hal sama yang dilakukan gurunya di sekolah, dan hal itu berulang terus dari hari ke hari.-

Hal ini akan membentuk pemikiran dalam diri anak bahwa berdo’a adalah budaya sebelum makan, bukannya bentuk permohonan pada Allah. Jadi, do’a yang keluar dari mulut hanya sekadar kata-kata belaka tanpa ada pengertian lebih lanjut. Akibatnya, do’a tadi jadi tidak mujarab. Akibatnya pula, anak menjadi tak mengerti maksud dan kegunaan do’a. Do’a tadi tak didasarkan atas permohonan kita pada Allah, namun pada kebiasaan sehari-hari. Hal ini harus kita hindari agar tak terjadi yang namanya kesalahpahaman. Semua orang yang masih belum terlambat dinasehati, harus sesegera mungkin dinasehati, agar, do’a kita makbul dan tidak sia-sia. Do’a yang tanpa harap akan menimbulkan kesan bodoh dan sombong yang tentunya tidak mau kita miliki bersama.

2. Apa tujuan kita berdoa?
Doa dapat kita lakukan dengan bermacam-macam tujuan. Akan tetapi, sangat disayangkan karena banyak orang yang hanya menghafal doa tanpa mengerti artinya hingga kita hanya mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak kita pahami. Jika ini dilanjutkan, ada kemungkinan akan terciptanya sebuah bid’ah bahkan mantera perdukunan baru. Karena itu, kita lebih baik menghafal doa sekaligus artinya agar kita bisa lebih menghayati maksud dan tujuan doa ini dibacakan.

Dua poin itu adalah inti dari kesalahpahaman kita yang sering terjadi pada diri kita.
Sekarang pertanyaannya adalah “Sudah benarkah doa yang kita lakukan?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s