Sepotong Roti

Hari masih tengah malam, namun dia menyusuri gang sempit itu dengan cepat, seolah-olah lari dari kejaran anjing pemburu. Dia tidak ingin ketahuan oleh orangtuanya. Ingatan akan kejadian kemarin siang masih membekas di benaknya.

Kemarin siang, dia bertengkar dengan ayahnya hanya dikarenakan masalah yang bisa dibilang sepele. Dia baru pulang sekolah, tetapi saat dia tiba di rumah ibunya belum menyiapkan makanan untuknya. Padahal saat itu dia sangat kelaparan. Diapun menghardik ibunya dan ibunya berkata bahwa tangan ibunya sedang sakit. Namun dia tidak peduli. Akhirnya, dia pergi diam-diam dari rumah orangtuanya karena berpikir mereka tidak sayang lagi padanya.

Singkat cerita, dia sampai di sebuah kota yang besar. Disana dia melihat seorang penjual roti. Karena rasa lapar yang sudah ditahannya dari tengah malam, dia bertanya pada tukang roti itu, “Permisi, Pak. Bisakah saya meminta sepotong roti milik bapak?”
Tukang roti itu pun menjawab, “Rasa-rasanya aku belum pernah melihatmu disini. Siapa engkau? Darimana asalmu?”
Dia pun menjawab, “Nama saya fulan, saya berasal dari desa sebelah.”
Tukang roti itu pun berkata lagi, “Wahai fulan, mengapa engkau berada disini? Dimana orangtuamu?”
Dia pun menjawab, “Saya berada disini karena saya ingin meminta sepotong roti dari dirimu. Orang tua saya masih berada di rumah.”
“Bukankah kau berasal dari desa sebelah? Apa itu berarti engkau pergi menempuh perjalanan jauh itu sendirian?”
“Ya.”
“Mengapa engkau melakukan itu?”
“Karena orang tua saya sudah tidak menyayangi saya lagi.”
“Apa maksudmu, wahai fulan?”
“Kemarin siang, ketika saya baru pulang sekolah saya tidak mendapati adanya makanan di meja. Padahal saat itu saya sangat lapar dan lelah.”

Tanpa pikir panjang, tukang roti itu memberikan sepotong roti kepada anak itu. Diapun menyantap roti itu dengan lahap. Setelah dia selesai makan, dia berkata, “Terima kasih wahai tukang roti berhati mulia. Engkau baik sekali.”
Tukang roti itu bertanya padanya, “Apakah orang tuamu tidak memberikan makanan kepadamu sejak engkau kecil?”
“Tentu saja mereka memberiku makan.”
“Apakah mereka memberi semua yang kau inginkan?”
“Meskipun ada beberapa yang tidak terkabul, tapi umumnya iya.”
“Apakah kemarin malam kau tidak makan?”
“Tidak, kemarin malam aku masih kesal dengan orangtuaku sehingga aku tidak menyentuh makanan yang ibuku buat sedikitpun. Karena itu, aku dimarahi oleh ayahku. Rasa kesalkupun ikut bertambah.”
“Jadi karena itu engkau kabur dari rumah?”
“Ya, aku kabur karena mereka sudah tidak berlaku baik lagi terhadapku.”
“Bukankah mereka selalu memberimu makan? Bagaimana engkau bisa bilang aku yang hanya memberikan sepotong roti itu baik, padahal orangtuamu yang telah memberimu kasih sayang yang tak ternilai dan telah mencukupi makanmu selama bertahun-tahun hingga saat ini kau katakan sebagai orang yang tidak baik?”

Sang anakpun menyesal setelah mendengar perkataan sang penjual roti itu. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang setelah berterimakasih kepada tukang roti yang telah menyadarkannya itu.

Satu pemikiran pada “Sepotong Roti

  1. Makanya, jangan durhaka sama orangtua kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s