Musibah=Rekreasi?

Coba kita lihat daerah Situ Gintung, di saat warga disana menderita banyak orang datang kesana. Bukan untuk membantu, tapi hanya sekedar melihat. Sepertinya mereka menganggap itu tempat rekreasi yang bagus.
Keterlaluan gak tuh? Kemana sih hati mereka?

Padahal coba kita pikir, bagaimana jika seandainya kita adalah korban di Situ Gintung. Bagaimana jika saat kita sedang menderita seperti itu, orang lain datang hanya untuk menonton penderitaan kita? Keterlaluan kan? Apalagi mereka datang dengan alasan membawa bahan makanan dan bantuan lainnya. Tapi bantuan itu hanya sebagai kedok, penyamaran untuk mendapat izin masuk ke area yang masih dalam proses evakuasi itu.

Tidak hanya itu, karena lapar mereka juga mengambil jatah makanan yang harusnya hanya didapatkan oleh para korban dan relawan-relawan yang membantu korban dengan segala daya dan upaya mereka. Tapi, mereka tidak peduli. Mereka juga mempersulit jalannya proses evakuasi dengan berdiri di tempat-tempat yang seharusnya terlarang bagi mereka. Semua itu dilakukan hanya untuk memenuhi rasa keingintahuan mereka. Mereka tidak peduli dengan peringatan-peringatan para relawan, hanya menjauh sedikit kemudian kembali lagi ke tempat semula.

Terlebih itu, mereka mengambil foto disana, kelihatannya beberapa dari mereka adalah wartawan. Mereka bisa saja mengelak dari tuduhan diatas dengan alasan bahwa ini adalah tuntutan dari pekerjaan yang mereka pilih, tapi tak bisakah mereka bersabar? Bukankah mereka bisa menunggu sampai proses evakuasi selesai atau memotretnya dengan zoom?

Saya harap para warga dapat mengerti…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s