Ideologi-Ideologi di Dunia…

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Beberapa waktu yang lalu, teman ana mentag ana dalam senuah notes berjudul Ideologi-Ideologi di Dunia.
Isi notes ini sebagian besar hanyalah gurauan, dan jangan dimasukkan ke dalam hati ya bagi siapapun yang membaca…

SOCIALISME
Kau punya 2 sapi
1 sapi kau berikan untuk tetanggamu

COMMUNISME
kau punya 2 sapi
Negara mengambil alih keduanya dan memberimu 2 kaleng susu.

FASCISME
kau punya 2 sapi
Negara mengambil alih keduanya dan menjual susu padamu.

RASIONALISME:
kamu punya 1 sapi.
pacar kamu punya 1 sapi.
kalian berdua punya 2 sapi.

LOVISME:
jika kamu sapi jantan dan dia sapi betina serta kalian jodoh, kalian akan dapat sapi2 yg lain.

VALENTINISME:
Sapi itu ada 14..

TEISME:
Teman, tidak ada 2 Sapi, apalagi 3. Sapi itu cuma Satu.

ATEISME:
Sapi itu gak ada! semua itu khayalan belaka!!

AGNOSTISME:
Saya tidak peduli ada berapa sapi, saya mau susunya saja.

ORBAISME:
2 Sapi cukup!

POLIGAMISME:
Terserah ada berapa sapi. yang penting adil..

LIBERALISME:
Gak masalah ada berapa sapi. yang penting sapi sama sapi. kumpul sapi juga boleh..

JAWAISME:
sapi atau rame yang penting kumpul..

SAMPOERNAISME:
gak ada kamu gak sapi!

NAZISM
kau punya 2 sapi
negara mengambil keduanya dan menembakmu

BUREAUCRATISM
kau punya 2 sapi,
negara mengambil keduanya, yang satu ditembak, yang satu diperah susunya trus dibuang

TRADITIONAL CAPITALISM
kau punya 2 sapi betina
kau jual satu dan beli satu sapi jantan. ternakmu bertambah, dan ekonomi tumbuh.

SURREALISM
kau punya 2 jerapah
pemerintah memintamu untuk kursus harmonika

AN AMERICAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau jual satu, dan satunya kau paksa untuk memproduksi susu sebanyak 4 sapi.

kemudian, kau menyewa konsultan untuk menganalisa mengapa sapinya mati.

THE ANDERSEN MODEL
kau punya 2 sapi.
kau cincang-cincang dua-duanya.

A FRENCH CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau turun ke jalan, menyusun massa , memblokade jalanan, karena kau ingin punya 3 sapi.

A JAPANESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau medesignnya ulang hingga bisa menghasilkan 20 kali lipat susu.
kemudian kau buat komik kartun sapi pintar “Cowkimon” dan menjualnya ke seluruh dunia.

A GERMAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau merekayasanya supaya bisa hidup lebih dari 100 tahun, makan cukup sekali sebulan, dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.

AN ITALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi, tapi kau tak tahu dimana mereka.
kau putuskan untuk makan siang saja.

A RUSSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
kau menghitungnya dan berandai bagaimana bilamana punya 5 sapi kau
menghitungnya lagi dan berandai bagaimana bilamana punya 42 sapi kau
menghitungnya lagi dan menemukan bahwa sapimu cuma dua.
kau berhenti mengitung, lalu buka sebotol vodka.

A SWISS CORPORATION
kau ada 5000 sapi. tak satupun adalah milikmu.
kau mengenakan biaya administratif kepada pemiliknya untuk menyimpannya.

A CHINESE CORPORATION
kau punya 2 sapi.
kau punya 300 orang untuk memerah susunya kau nyatakan bahwa tak ada pengangguran, dan nilai produksi susu tinggi.
kau menangkap wartawan yang melaporkan kenyataanya.

BRITISH CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya sapi gila.

IRAQ CORPORATION
Semua orang berpikir kau punya banyak sapi kau bilang ke mereka kau cuma punya satu.
tak ada yang percaya, maka mereka mengebom daerahmu dan menginvasi negaramu.
kau masih tak punya sapi satupun, tapi setidaknya sekarang kau bagian dari demokrasi,

NEW ZEALAND CORPORATION
kau punya 2 sapi
sapi yang di kiri kelihatan sangat atraktif.

AUSTRALIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi.
bisnis kelihatanya sedang bagus. kau tutup kantor dan pergi mencari beer untuk merayakannya.

INDONESIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya curian.
lalu kau jual dua-duanya.
kemudian kau simpan uangnya di acount non budgeter yang tak jelas.
kemudian kau gunakan beberapa untuk mendanai kampanye partaimu tapi sebagian besar kau simpan untuk anak cucumu.

MALAYSIAN CORPORATION
kau punya 2 sapi
dua-duanya kau curi dari indonesia .

Motivational Stories…

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?”

“Ha?” kata jam terperanjat, “mana saya sanggup?”

“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?”.

“delapan puluh ribu empat ratus kali?dengan jarum jam yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” “dalam satu jam berdetak 3,600 kali? banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam, “kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?

“Naaaah, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias. maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.

tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti.

Dan itu berarti dia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan sekalipun. jangan berkata “tidak” sebelum anda pernah mencobanya.

Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun, yang lain dengan denyut jantung, gairah, dan air mata. tetapi ukuran sejati dibawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain…

(created by Adin…)

Korupsi : Yang Muda yang ANTI…

Responsi atas Aksi
Bebaskan Generasi Masa Depan Dari Korupsi”
KAPMI (Kesatuan Aksi Pelajar Muslim Indonesia)

Assalamu ’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Al-hamdu lillahi Rabbil ’alamin, wa bihi nasta’inu ’ala umurid-dunya wad-din. Wash-shalatu was-salamu ’ala asyrafil anbiyai wal mursalina nabiyyina Muhammadin, wa ’ala alihi wa shahbihi ajma’in. Wa ba’du.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Pendahuluan

Rekan-rekan seperjuangan yang kami cintai karena Allah dan selalu kami memohon kepada-Nya keberkahan bagi kalian. Perkenankan kami dari FORTRIS (Forum Silaturahim Rohis) untuk menyampaikan aspirasi dan seruan kami kepada kalian semua khususnya dan kepada seluruh rakyat Indonesia umumnya. Bahwa dengan ini kami mewakili segenap elemen masyarakat mengutuk segala bentuk korupsi yang telah mendarah daging di negeri ini.

Dan menyerukan kepada kalian semua supaya membuka mata dan melihat kenyataan yang sedang berjalan, bahwa telah terjadi sebuah konspirasi tingkat tinggi, telah dirancang sebuah rencana busuk yang tersusun secara sistematis oleh para konglomerat-konglomerat hitam kita untuk memakzulkan eksistensi KPK (Komisi Pmberantasan Korupsi). Dan kita semua tahu apa tujuan di balik semua itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah supaya budaya korupsi semakin merajalela di negeri ini, dan penyakit korupsi semakin akut menjangkiti mental anak bangsa. Sehngga dengannya mereka akan lebih bebas dan leluasa untuk meneruskan upaya mengenyangkan diri sendiri dan menggerogoti kekayaan negara.

Dampak Buruk Korupsi

Rasulullah Muhammad SAW bersabda: ”..Man ghasysyaanaa fa laysa minnaa”. ”..Barangsiapa yang menipu atau memanipulasi kami, maka bukanlah ia termasuk golongan kami (ummat Muhammad SAW)” (HR. Muslim).

Ikhwan wa akhwat rahimakumullah! Tidak salah apabila kita memaknai penipuan yang disinggung Nabi Muhammad SAW di atas salah satunya sebagai tindak korupsi. Karena sungguh mereka para koruptor adalah para penipu kelas kakap, di mana yang mereka tipu bukanlah satu atau dua orang, namun keseluruhan rakyat Indonesia. Secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan mereka telah mencuri hak-hak rakyat, dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Semisal memperbesar kerajaan bisnisnya, mengenyangkan perut keluarganya, dan menghambur-hamburkan uang negara tersebut untuk berfoya-foya dalam pesta pora dan kesenangan-kesenangan fana duniawi lainnya.

Padahal Rasulullah SAW telah dengan gamblang ’mengancam’ para koruptor ini dengan tidak dianggap sebagai ummatnya. Wal ’iyadzu billah. Sungguh lancang perbuatan mereka, dan sungguh telah tertutup telinga dan mata hati mereka akan kebenaran dengan dosa-dosa mereka sendiri.

Bayangkan, betapa ironisnya keadaan kita saat ini. Sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia justru terlanjur dikenal sebagai salah satu negara terkorup sedunia –dengan catatan kami sangat mengapresiasi kinerja KPK yang telah menyelamatkan Indonesia dari sebutan buruk itu di masa lalu. Dan selain itu, korupsi di negara kita memang telah sangat membudaya dan mengakar kepada sistem. Betapa korupsi sebenarnya tidak dilakukan hanya oleh para elit konglomerat dan pejabat-pejabat eselon, namun merata di semua lini dan aspek. Di terminal, sekolah, birokrasi, dan lain-lain. Di mana-mana terjadi korupsi, bahkan terkadang di depan mata kita sendiri tanpa kesanggupan pada diri untuk membenahi.

Padahal kita semua paham bahwa tidak ada nilai positif dari budaya ini, bahkan ia merupakan sebuah budaya yang amat memalukan nama bangsa Indonesia dalam kancah pergaulan internasional. Kita melihat para investor yang terpaksa berpikir beberapa kali terlebih dahulu sebelum menanamkan modalnya di Indonesia, berhubung terlalu belepotannya birokrasi yang menghadang. Kita juga miris meyaksikan rendahnya moralitas para generasi penerus yang ternyata telah terbiasa dengan praktek-praktek korupsi dalam kesehariannya walau dalam cakupan yang relatif kecil. Dan sebagai kaum muslimin, kita mengerti apa yang dikatakan Syari’ah tentang perihal ini. Ingatlah ketika Nabi Muhammad SAW mengorek dengan tangannya sendiri dan memaksa cucunya tersayang untuk memuntahkan kurma zakat yang terlanjur berada di dalam mulutnya. Ia takut buah kurma tersebut keburu tercerna di dalam perut cucunya dan tumbuh sebagai daging haram. Keberkahan macam apa lagi kah yang diharapkan jika di dalam tubuh kita terdapat segumpal saja daging yang tumbuh dari makanan haram?

Realita Indonesia

Kembali ke topik, kini kita menyaksikan segelintir kalangan yang mempunyai pengaruh bemaksud melanggengkan praktek setan tersebut bertumbuh kembang di negara kita. 3 tahun lalu, MK (Mahkamah Konstitusi) telah menetapkan bahwa jika RUU Tipikor tidak berhasil disahkan dalam kurun waktu 3 tahun, maka keberadaannya akan menjadi unkonstitusional. Tentu tanpanya KPK akan sangat kehilangan taji. Dan keadaan kini sangat buruk. Ketika para anggota dewan yang tidak terpilih kembali untuk masa jabatan yang akan datang mulai malas untuk melakukan pembahasan-pembahasan tentang RUU ini. Dan sisa masa jabatan mereka pun kian hari kian tipis. Belum dikurangi dengan aktifitas kampanye pilpres yang pastinya juga sangat menguras tenaga dan waktu mereka. Sisi berbeda yang patut diacungi jempol, terlepas dari isu apakah penangkapan ketua KPK non aktif Antasari Azhar berbau konspirasi atau tidak, fakta yang tampak adalah kinerja KPK sama sekali tidak terpengaruh negatif dengan dibebastugaskannya sang nahkoda. Salah satu contoh yang bisa dilihat adalah penangkapan beberapa mantan deputi gubernur BI yang justru terjadi setalah demisionerisasi ketua KPK.

Poin lain yang patut dikonseni adalah bahwa nyatanya beberapa pasal yang tercantum dalam RUU Tipikor justru sangat merugikan KPK. Di antaranya adalah bahwa para pejabat tidak berkewajiban melaporkan kekayaannya kepada KPK. Jelas sudah peliknya permasalahan, dan berdirinya aktor-aktor seribu topeng di balik semua sandiwara ini.

Saudara-saudara seaqidah! Mari bersama kita terpekur malu menyaksikan realita yang ada di negeri Indonesia kita tercinta ini. Dan sepantasnya para koruptor-koruptor bulus itu lebih malu lagi jika menyaksikan kita semua yang notabene masih berstatus pelajar, telah bersama bergerak bangkit dan membuka mata mengkritisi fenomena negatif yang bergulir di permukaan media massa hari-hari ini. Apakah mereka tidak pernah merasakan apa yang tengah kita rasakan? Ketika idealisme benar-benar menggelora di dada, dan berusaha penuh untuk bisa menyumbangkan sedikit sumbangsih untuk keharuman nama bangsa ini semampunya.

Pada akhirnya, kita semua menyadari bahwa kejahatan yang harus kita perangi bukan hanya korupsi. Dan penindakan korupsi pun tak akan berjalan dengan efektif walau KPK masih tetap eksis, jika tidak ada kesadaran yang tumbuh dari sendiri pada semua elemen masyarakat. Maka kita serukan, berantas korupsi! Mari kita perjuangkan bersama-sama dengan seluruh anggota masyarakat. Dan kaum pelajar menyatakan diri siap berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan kepantasannya.

Kesimpulan

Dengan ini kami menyatakan: 1) Menyeru kepada pihak DPR untuk lebih menyadari esensi keberadaaannya di gedung dewan sebagai wakil rakyat yang sepantasnya menjadi corong aspirasi mereka. Segera sahkan RUU Tipikor dan koreksi pasal-pasal bermasalah yang di antaranya telah sedikit disingung di atas. Demi tegaknya keadilan dan berjayanya hukum di negeri kita. 2) Menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat mulai dari para pelajar, aktifis NGO-NGO yang memiliki sangkut-paut dengan persoalan ini, dan setelahnya seluruh rakyat Indonesia, untuk membuka mata menyadari realita. Bahwa negeri kita telah sangat dibobrokkan oleh perihal korupsi, dan mari bersama menegakkan kembali supremasi hukum dan keadilan. Di antaranya adalah dengan bersama berjuang mempertahankan eksistensi KPK yang disinyalir tengah dirongrong oleh pihak-pihak yang menginginkan hal-hal buruk bagi bangsa ini. 3) Menyerukan kepada seluruh jajaran pejabat penyelenggara pemerintahan termasuk di antaranya KPK sendiri, untuk malu kepada kami semua sebagai generasi penerus yang telah terpaksa ikut berkoar-koar mengecam tindak korupsi yang telah merajalela ini. Berilah contoh dan suri tauladan yan positif, dan didik kami semua supaya membenci budaya korupsi sehingga dapat melupakannya pada era kami mendapat giliran mengelola negara ini.

Sekian kiranya yang dapat kami sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf. Wa ma ’alaina illal balaghul mubin. Wallahu a’lamu bi kulli syaiin wa Huwa Hadina ila aqwamith thariq.

Wassalamu ’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Rabu, 1 Juli 2009 pkl 23:29
Robie’ Khalilurrahman siswa SMAN 34 Jakarta, Ketua Umum FORTRIS (Forum Silaturahim Rohis).

Referensi:
• Kitab Hadits Nabawi Riyadhush-Shalihin
• Audiensi dengan Bag. Pengaduan KPK
• Internet
• Berbagai sumber

Ana dapat ini dari notes di facebook…
Semoga bermanfaat untuk kita semua…

Last Breath…

Sumber : http://www.allthelyrics.com/lyrics/ahmed_bukhatir/last_breath-lyrics-1219839.html

Last Breath
Nasyid by Ahmed Bukhatir
Composed by Osman El-Ashi
Full Version : http://www.youtube.com/watch?v=7IILr6YhBLo

From those around I hear a Cry,
Oh God, Oh God, My eyes are dry
From those around I hear a Cry,
A muffled sob, a Hopeless sigh,
I hear their footsteps leaving slow,
And then I know my soul must Fly!
A chilly wind begins to blow,
within my soul, from Head to Toe,
And then, Last Breath escapes my lips,
It’s Time to leave. And I must Go!
So, it is True (But it’s too Late)
They said: Each soul has its Given Date,
When it must leave its body’s core,
And meet with its Eternal Fate.

Oh mark the words that I do say,
Who knows? Tomorrow could be your Day,
At last, it comes to Heaven or Hell
Decide which now, Do NOT delay !
Come on my brothers let us pray
Decide which now, Do NOT delay !
Come on my brothers let us pray
Decide which now, Do NOT delay !

Oh God! Oh God! I cannot see !
My eyes are Blind! Am I still Me
Or has my soul been led astray,
And forced to pay a Priceless Fee
Alas to Dust we all return,
Some shall rejoice, while others burn,
If only I knew that before
The line grew short, and came my Turn!
And now, as beneath the sod
They lay me (with my record flawed),
They cry, not knowing I cry worse,
For, they go home, I face my God!

Oh mark the words that I do say,
Who knows, Tomorrow could be your Day,
At last, it comes to Heaven or Hell
Decide which now, Do NOT delay !
Come on my brothers let’s pray
Decide which now, do not delay ….
Come on my brothers let’s pray
Decide which now, do not delay ….

Syukran atas message dari akh Hira ,”The Last Breath of Miklós Fehér, dengan lagu ini sebagai Background Music…
Kematian selalu mengincar kita, baik kita siap ataupun tidak untuk menerimanya…
Meski kita berada di benteng yang paling kokoh sekalipun, bisa saja besok adalah saat kematian kita…

Akhirnya kita akan menuju Surga atau Neraka,
Putuskanlah yang mana (yang akan kita tuju) sekarang, jangan menunda-nunda.
Ayo saudaraku, mari kita beribadah,
Putuskanlah yang mana (yang akan kita tuju) sekarang, jangan menunda-nunda.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Q.S. Al-Imran (3) : 185)

Sudah siapkah kita menghadapi kematian?

Pantaskah kita SOMBONG…?

Seorang ikhwah fillah pernah menulis notes berjudul “HIKMAH, PANTASKAH KITA SOMBONG?”

Jum’at, 5 Juni 2009 / 11 Jumadil Akhir 1430 H

Pantaskah kita sombong? Padahal, kita semua akan kembali kepadaNya.

Pantaskah kita sombong? Padahal, kita hanya dari setetes air hina.
Pantaskah kita sombong? Padahal, waktu keluar dari rahim ibu kita menangis dan telanjang.
Pantaskah kita sombong? Padahal, waktu bayi kita belum bisa dan punya apa-apa.
Pantaskah kita sombong? Padahal, kita diasuh kedua orang tua dari waktu kita kecil.

Pantaskah kita sombong? Padahal, selama dua tahun ibu kita menyusui.
Pantaskah kita sombong? Padahal, ulama dan guru yang mengajari kita berbagai ilmu.
Pantaskah kita sombong? Padahal, kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.
Pantaskah kita sombong? Padahal, kita belum tentu lebih baik dari orang lain.

Pantaskah kita sombong? Padahal, harta kita bisa hilang karena terampas atau dirampas.
Pantaskah kita sombong? Padahal, kekuasaan yang kita miliki hanyalah sementara.
Pantaskah kita sombong? Padahal, popularitas kita tidak abadi.
Pantaskah kita sombong? Padahal, setiap amanah akan dipertanggungjawabkan.

Pantaskah kita sombong? Padahal, segala rezeki yang kita miliki datangnya dari Allah.
Pantaskah kita sombong? Padahal, rasa kantuk saja tidak bisa kita tahan.
Pantaskah kita sombong? Padahal, ketika kita sakit kita tidak berdaya.
Pantaskah kita sombong? Padahal, ketika dapat musibah kita tidak dapat menghindarinya.

Pantaskah kita sombong? Padahal, kematian datang mengintai kita setiap saat.
Pantaskah kita sombong? Padahal, kita akan kembali ke liang lahat.
Pantaskah kita sombong? Padahal, ketika mati kita tidak membawa harta dan jabatan.
Pantaskah kita sombong? Padahal, yang pantas sombong hanyalah Allah.

Dalil dari Al Quran

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Qashash:83)

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. “ (QS. Luqman:18)

Dalil yang diambil dari surat Al Qashash:83 menjelaskan bahwa sorga adalah tempatnya orang-orang yang tidak sombong. Dan pada dalil yang terdapat dalam surat Luqman:18 Allah swt memerintahkan kita untuk tidak sombong kepada sesama.

Dalil dari Hadits

Ada banyak dalil tentang sabar yang berasal dari hadits atau sunnah Rasul. Semoga dalil ini dapat membuat kita selalu bisa bertawadhu dalam kehidupan di dunia agar tidak menjadi takabur dan sombong. Adapun dalil tentang haramnya takabur dan sombong yang berasal dari hadits atau sunnah Rasul adalah sebagai berikut:

Dari Abdullah bin Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar atom.” Ada seorang laki-laki berkata: “Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sandal/sepatu yang bagus pula.” Nabi Muhammad saw kembali bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesame manusia.” (HR. Muslim)

Dari Salamah bin Al Akwa ra bahwasannya ada seorang laki-laki makan di hadapan Nabi Muhammad saw dengan memakai tangan kirinya, beliau lantas bersabda: “Makanlah dengan memakai tangan kananmu.” Laki-laki itu menjawab: “Saya tidak bisa.” Nabi Muhammad saw bersabda lagi: “Kamu tidak bisa, itu adalah perbuatan sombong.” (HR. Muslim)

Dari Haritsah bin Wahb ra berkata: “Saya mendengar Nabi Muhammad saw bersabda, “Maukah kamu sekalian aku beritahu tentang ahli neraka? Yaitu setiap orang yang kejam, rakus, dan sombong.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id Al Khudry ra dari nabi Muhammad saw, beliau bersabda: “Sorga dan neraka itu berdebat; neraka berkata: “Padaku orang-orang yang kejam dan sombong” Sorga berkata: “Padaku orang-orang yang lemah (tertindas) dan miskin” Kemudian Allah member keputusan kepada keduanya: “Sesungguhnya kamu sorga adalah tempat rahmatKu, Aku memberi rahmat dengan kamu kepada siapa saja yang Aku kehendaki. Dan sesungguhnya kamu neraka adalah tempat siksaanKu, Aku menyiksa dengan kamu kepada siapa saja yang Aku kehendaki; dan bagi masing-masing kamu berdua Aku akan memenuhimya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah ra bahwasannya Nabi Muhammad saw bersabda: “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihat orang yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: “Ada tiga kelompok orang yang nanti pada hari kiamat Allah tidak akan berbicara dengan mereka, Allah tidak akan membersihkan (mengampuni dosa) mereka, dan Allah tidak akan memandang mereka, serta mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu: orang tua yang berzina, raja (penguasa) yang suka bohong, dan orang miskin yang sombong.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda, Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: “Kemuliaan adalah pakaianKu dan kebesaran adalah selendangKu, maka barangsiapa yang menyaingi Aku dalam salah satunya maka Aku pasti akan menyiksanya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah ra bahwasannya Nabi Muhammad saw bersabda: “Suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan memakai perhiasan dan bersisir rambutnya, ia mengherani dirinya sendiri dengan penuh kesombongan di dalam perjalanannya itu, kemudian tiba-tiba Allah menyiksanya yaitu ia selalu timbul tenggelam di permukaan bumi sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Salamah bin Al Akwa ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda: “Seseorang itu senantiasa membanggakan dan menyombongkan dirinya sehingga ia dicatat dalam golongan yang kejam lagi sombong, kemudian ia tertimpa apa yang biasa menimpa mereka.” (HR. At Turmudzy)

Sumber :

http://www.syahadat.com/islam/dalil/205-dalil-haramnya-sombong-

http://www.facebook.com/inbox/readmessage.php?t=1172936924710&mbox_pos=0&q=sombong#/note.php?note_id=97679992791&id=1587193303&ref=share

Keutamaan Niat…

Alkisah, di suatu negeri pernah hidup seorang kaya raya, yang rajin beribadah dan beramal. Meski kaya
raya, ia tak sombong atau membanggakan kekayaannya. Kekayaannya digunakan untuk membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga-tetangganya yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya. Di musim paceklik, ia membagikan bahan pangan dari kebunnya yang berhektar-hektar kepada banyak orang yang kesusahan. Salah satu yang sering dibantu adalah seorang tetangganya yang miskin.

Dikisahkan, sesudah meninggal, berkat banyaknya amal, si orang kaya ini pun masuk surga. Secara tak terduga, di surga yang sama, ia bertemu dengan mantan tetangganya yang miskin dulu. Ia pun menyapa.

“Apa kabar, sobat! Sungguh tak terduga, bisa bertemu kamu di sini,” ujar si kaya.
“Mengapa tidak? Bukankah Tuhan memberikan surga pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa memandang kaya dan miskin?” jawab si miskin.
“Jangan salah paham, sobat. Tentu saja aku paham, Tuhan Maha Pengasih kepada semua umat-Nya tanpa memandang kaya-miskin. Cuma aku ingin tahu, amalan apakah yang telah kau lakukan sehingga mendapat karunia surga ini?”
“Oh, sederhana saja. Aku mendapat pahala atas amalan membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya….”

“Bagaimana itu mungkin?” ujar si kaya, heran. “Bukankah waktu di dunia dulu kamu sangat miskin.
Bahkan seingatku, untuk nafkah hidup sehari-hari saja kamu harus berutang kanan-kiri?”

“Ucapanmu memang benar,” jawab si miskin. “Cuma waktu di dunia dulu, aku sering berdoa: Oh, Tuhan!
Seandainya aku diberi kekayaan materi seperti tetanggaku yang kaya itu, aku berniat membangun rumah
ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan banyak amal
lainnya. Tapi apapun yang kau berikan untukku, aku akan ikhlas dan sabar menerimanya.”

“Rupanya, meski selama hidup di dunia aku tak pernah berhasil mewujudkannya, ternyata semua niat baikku yang tulus itu dicatat oleh Tuhan. Dan aku diberi pahala, seolah-olah aku telah melakukannya. Berkat semua niat baik itulah, aku diberi ganjaran surga ini dan bisa bertemu kamu di sini,” lanjut si miskin.

Maka perbanyaklah niat baik dalam hati Anda. Bahkan jika Anda tidak punya kekuatan atau kekuasaan untuk mewujudkan niat baik itu dalam kehidupan sekarang, tidak ada niat baik yang tersia-sia di mata Tuhan…..

Sumber: Anonim

Niat bukan sekedar ucapan nawaytu (saya berniat). Lebih daripada itu, ia adalah dorongan hati seiring dengan futuh (pembukaan) dari Allah SWT. Kadang-kadang ia mudah dicapai, tetapi kadang-kadang juga sulit. Seseorang yang hatinya dipenuhi urusan din (agama), akan mendapatkan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk berbuat baik. Sebab ketika hati telah condong kepada pangkal kebaikan, ia pun akan terdorong untuk cabang-cabang kebaikan.

Dari riwayat Umar bin Khathab, Rasulullah bersabda ,” Bahwasanya amal-amal itu tergantung kepada niat. Dan seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa niat hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, hijrahnyapun kepada Allah dan rasul-Nya. Barang siapa niat hijrahnya kepada dunia yang diinginkannya atau wanita yang akan dinikahinya, hijrahnyapun untuk apa yang ia niatkan “.

Kalimat , “bahwasanya amal-amal itu tergantung pada niat” berarti, baiknya amal yang dikerjakan sesuai dengan sunnah itu tergantung kepada kebaikan niatnya. Sabda Rasulullah “Bahwasanya amal-amal itu tergantung kepada akhirnya”.
Kalimat ,”Dan seorang itu akan mendapatkan apa yang ia niatkan”, berarti pahala amal seorang itu tergantung kepada kebaikan niatnya.

Kalimat, “ Barang siapa niat hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, hijrahnyapun kepada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya kepada dunia yang diinginkannya atau wanita yang akan dinikahi-Nya, hijrahnyapun untuk apa yang ia niatkan”.

Diatas adalah contoh dari amalan-amalan yang memiliki kesamaan bentuk pelaksanaanya, tetapi berbeda dalam hasil. Namun, niat baik tidak akan mengubah kemaksiatan pada hakikatnya. Jadi kemaksiatan itu tidak dapat berubah menjadi ketaatan karena niat.

Ketaatan bisa berubah menjadi kemaksiatan karena niat. Perkara mubah bisa menjadi kemaksiatan dan bisa berubah menjadi ketaatan karena niat. Sedangkan kemaksiatan tidak akan berubah menjadi ketaatan karena niat (tetapi justru akan menambah berat dan dosa dari kemaksiatan itu).

Pada dasarnya , keabsahan suatu ketaatan itu terikat kepada niat. Begitu pula dengan pelipatgandaan pahalanya. Sehubungan dengan keabsahan, seseorang harus meniatkan ketaatanya sebagai ibadah kepada Allah SWT saja. Jika ia meniatkan riya’, maka ketaatan yang ia lakukan itu berubah menjadi kemaksiatan. Perkara-perkara yang mubah, secara keseluruhannya mengandung satu niat atau lebih. Karenanya ia bisa menjadi bentuk taqrrub yang bernilai tinggi, dan disediakan pula derajad yang tinggi untuknya.

Keutamaan niat.
Umar bin Khathab berkata, “ Amal yang paling utama adalah melaksanakan kewajiban dari Allah SWT, bersikap wara’ terhadap apa yang diharamkan-Nya, dan meluruskan niat untuk mendapatkan pahala disisi Allah SWT.
Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat. Betapa banyak pula amalan besar menjadi kecil karena niat.
Niat adalah kehendak hati . Tidak diwajibkan melafalkannya dalam ibadah .

Sumber : Tazkiyatun Nafs, Ibn Rajab Al-Hambali.

http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg02309.html
http://harapansatria.blogspot.com/2008/07/pengertian-ucapan-niat.html

Aku mendengar kalian…

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Baru-baru ini, seorang sahabat saya men-tag saya di sebuah notes tentang seorang sahabat, Bilal bin Rabah, sang muadzin Rasulullah saw.
Kisah ini berjudul “Aku mendengar kalian”…
Beginilah kisahnya, semoga bermanfaat bagi kita semua…

Perkenalkan!
Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah.
Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil.
Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan
perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.

Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memacangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menidih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkungjung, ingin sekali minum. Aku memnitanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad… ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hamper tak bias tegak. Ingin sekali rubuh, namun abu bakar terus membimbingku dengan saying. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari rada. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali Bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.
Dia bangkit, dan menyosongku dengan kegembiraan yang Nampak sempurna. Bahkan hamper tidak ku percaya ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis.” “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, dipeluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlalu pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.
Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dank arena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih saying Al-Mushtafa. Tak aka nada yang ku inginkan selain hal ini.

Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiak pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.

Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangung, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan pernyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang

“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan.
“Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bias memanggil mereka”
“Bagaimana jika sebuah genta?”
“Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”
“JIka terompet tanduk?”
“Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?”

Semua yang hadir disana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu sepertui matahari di setiap waktu, bersina terang. Sampai suatu ketika Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.

“Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada suatu titik. Kami memberikan kepadangnya kesempatan untuk berbicara.

“Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa…” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu berasal dai Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga…”. Begitu nabi bertutur. Kami semua sepakat, tapi kemudain kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakika?, anak-anak?, suara lembut?, keras? Atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suara mu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.

Kau tidak pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. “Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunya sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam” ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulan untukku. Aku mengangguk.

Akhirnya, akmi semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggilah mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku harus kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.
Dibawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, meneluspkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada di ketinggian sering memusingkan kepala, dan aku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar disampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan?“ Aku memohon petunjuknya. Dan ku dengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.

Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru:

Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah
Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah
Marilah Shalat
Marilah Menggapai Kemenangan
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Tiada Tuhan Selain Allah.

Ku sudahi lantunan. Aku memandangi Nabi, dank au akan melihat saat itu Purnama Madinah itu di tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”

Aku Bilal, anak seorang budak berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mrngajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.

Hingga suatu saat,

Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali.

Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil ‘ummatii… ummatiii’ sebelum nafas terakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya. Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuatku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adza, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, ‘Muhammad’. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.

Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian…
Memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, aka nada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.

Alhamdulillah kisahku telah sampai, kusampaikan salam untuk kalian. Wassalamua’alaikum

Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya dilakukan. Ada bilali yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat sebuat kata mutiara yang dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD “Husnul, Shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika direnungkan dalam-dalam.