Filosofi Sepeda

Siapa yang tak kenal dengan sepeda? Kendaraan yang umumnya beroda dua ini sudah dikenal masyarakat secara meluas. Tidak jarang kita melihat orang yang bersepeda.Tukang tahu di dekat kompleks tempat tinggal saya saja mengantarkan dagangannya dengan bersepeda. Bahkan, mungkin sepeda bisa diidentikkan dengan perjalanan kehidupan kita.

Ketika kita pertama kali menaiki sepeda, mungkin yang kita beyangkan pertama kali adalah jatuh (seperti saya dulu, hehe…), dan rasa sakitnya ketika kulit epidermis kita tergerus oleh tanah atau bebatuan yang keras sehingga menyebabkan kita terluka. Sekarang, masihkah kita ingat pengalaman kita ketika belajar berjalan? Apakah ketika kita mulai berjalan, kita langsung menguasainya tanpa jatuh terlebih dahulu? Nggak lah, pasti semua pernah jatuh…

Tapi apa yang kita lakukan kemudian? Apakah kita memilih untuk ogah-ogahan latihan berjalan dan memilih untuk merangkak seumur hidup kita? Jelas nggak dong, pasti hampir semua manusia memilih untuk meneruskan latihan supaya bisa berjalan dengan lancar seperti yang orang tua kita lakukan. Memang butuh waktu yang lama (dan jatuh yang tidak sedikit) sampai kita bisa berjalan, tapi akhirnya kita bisa jalan toh? Ini menunjukkan bahwa jika kita sungguh-sungguh berusaha, kita bisa melakukan yang kita inginkan. Nothing’s impossible !! Namun, kenyataannya pada saat ini banyak yang nekad bunuh diri hanya gara-gara alasan yang sepele… Nggak lulus UN lah, nggak dapet kerja lah, de el el. Padahal mereka mungkin baru berusaha sedikit, bahkan lebih parah lagi jika misalnya orang yang nggak lulus UN itu nggak belajar. Yang salah siapa sih?

Oke, setelah kita bisa bersepeda, semuanya terlihat lebih mudah. Apalagi jika kita ingin menuju ke tempat yang lumayan jauh dengan murah tentunya, sepeda bisa jadi andalan kita. Belokan ke kanan, belokan ke kiri, turunan, bahkan tanjakan kita lalui. Bahkan mungkin saja aspal yang menutupi jalan sudah mulai berlubang dimana-mana, menyebabkan seringnya sepeda kita terguncang. Atau mungkin hujan kemarin malam menyebabkan rantai kita tersumbat tanah, menyebabkan kita harus berhenti sejenak dan membersihkan rantainya kembali. Atau perbaikan jalan yang menyebabkan kita harus memutar dan mengambil jalan lain. Bahkan mungkin saja ada anjing yang menghalangi kita dan bersiap mengejar kita hanya beberapa meter di depan kita (khusus yang ini, penulis pernah ngalamin secara pribadi, dikejar-kejar 5 menit berasa 1 jam loh… Xp).

Seperti itulah masalah yang kita hadapi. Jalan yang kita lalui ini tidak selalu lurus, tidak selalu datar, tidak selalu rata dan tidak selalu tanpa rintangan. Tidak jarang kita harus berganti tujuan, mempercepat atau memperlambat perjalanan kita, mengambil jalan yang lain (kan banyak jalan menuju roma… Pintu surga dan pintu rezeki juga nggak cuma satu kan?), berhenti sejenak untuk mempersiapkan diri dan mengatur strategi dalam melanjutkan perjalanan bahkan menghadapi rintangan yang tidak ringan. Jika kehidupan itu lancar-lancar aja, nggak seru kan? Nggak ada tantangannya, cupu !! Seperti lagu di Naruto yang berjudul “Wind”, saya masih ingat ketika kata-kata ini disenandungkan televisi di rumah saya.

“Don’t try… to live so wise…
Don’t cry… cause you’re so right…
Don’t dry… from fakes and fears
or you will hate yourself in the end…”

Yang terakhir, ingatlah ketika kita hampir mencapai tempat tujuan setelah bersepeda cukup lama. Meski lelah, tapi hati kita bisa merasakan kepuasan bahkan kebanggaan atas usaha yang kita lakukan. Tapi kita tetap tak boleh lengah. Bisa jadi, seperti ular tangga, semakin dekat dengan tujuan, semakin banyak rintangannya.

Seperti itulah ketika tujuan kita sudah di depan mata. Mungkin saja masih banyak rintangan yang harus kita hadapi. Di film yang pernah saya tonton, seorang pemain ice hockey pernah berkata (kalau nggak salah begini), “When you got the puck, usually you become to careful. When the enemy know your condiion, they can got the puck back easily. So, when you got the puck, not too careless but not too careful” Kata-kata ini dapat diartikan, jika kita sudah dekat dengan tujuan, kita tidak boleh ceroboh, tapi kita juga sebaiknya tidak terlalu hati-hati, sifat yang berlebihan ini dapat dimanfaatkan untuk menjatuhkan kita. Karena itu, berjalanlah seperti biasa, dan ketika kita sampai ke tujuan, perasaan bahagia itu datang, menemani kita dan menghiasi keberhasilan kita…

Doa dan Usaha…

ada seorang pemuda sedang naik sepeda motor di jalan raya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seperti ditumpahkan dari langit. Dengan segera ditepikan sepeda motornya untuk berteduh di emper sebuah toko. Dia pun membuka helm yang dikenakan dan segera perhatiannya tercurah pada langit di atas yang berlapis awan kelabu.

Sambil menggigil kedinginan, bibirnya tampak berkomat-kamit melantunkan doa, “Tuhan, tolong hentikan hujan yang kau kirim ini. Engkau tahu, saya sedang didesak keadaan harus segera tiba di tempat tujuan. Please Tuhan….., please….. Tolong dengarkan doa hambamu ini”. Dan tak lama kemudian tiba-tiba hujan berhenti dan segera si pemuda melanjutkan perjalanannya sambil mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mendengar dan mengabulkan doanya.

Di waktu yang berbeda, di cuaca yang masih tidak menentu, lagi-lagi hujan turun cukup deras dan kembali si pemuda mengulang kegiatan yang sama seperti pengalamannya yang lalu, yakni berdoa memohon Tuhan menghentikan hujan, tetapi kali ini hujan tidak berhenti bahkan semakin deras mengguyur bumi. Di tengah menunggu berhentinya hujan, si pemuda sadar, dia harus berupaya menemukan dan membeli jas hujan untuk mengantisipasi saat berkendaraan di tengah hujan. Kali ini, walaupun terlambat, dia belajar sesuatu hal yakni ada saatnya mengucap doa tetapi juga harus disertai dengan usaha yaitu menyiapkan jas hujan.

Suatu hari, di waktu yang berbeda,si pemuda ke kantor tanpa sepeda motornya karena mogok akibat kebanjiran. Hujan yang kembali turun, tetapi jas hujan yang telah dibeli, saat dibutuhkan, tiba-tiba raib entah kemana. Dia pun mulai bertanya kesana kemari, barangkali ada yang bersedia meminjamkan payung atau apapun untuk melindunginya dari terpaan guyuran hujan. Kembali diulang doa yang sama, usaha yang sama, dan harapan yang sama pula. Eh,tiba-tiba seorang teman yang bersiap hendak meninggalkan tempat itu dengan berkendaraan mobil berkata, “Hai teman, kalau kita searah jalan. Ayo ikut aku sekalian. Aku antar sampai tempat tujuanmu dan dijamin tidak kehujanan, oke?”. maka si pemuda itu pun mendapat tumpangan dan pulang ke rumah dengan selamat.

Peristiwa alam yang sama, yakni turunnya hujan, telah mengajarkan si pemuda bahwa selain doa, harus usaha dan akhirnya berserah. Karena jika kita mau membuka hati, ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan kita tetapi kitalah yang harus berupaya dengan segala cara dan pikiran yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Hanya sekedar mengandalkan doa saja namun tanpa usaha dan kerja nyata tidak mungkin ada perkembangan, hasil akhirnyapun pasti nihil alias kosong, sedangkan sekedar kerja keras tanpa diiringi doa memungkinkan kita salah bertindak karena hanya memikirkan hasilnya. Dengan dilengkapi doa tentu usaha kita itu terarah di jalan yang benar, baik dan halal, maka yang paling ideal adalah usaha dan kerja keras kita yang diiringi dengan doa, niscaya segala usaha kita akan dikabulkan dan tentu hasil yang kita inginkan akan sukses dan memuaskan

http://planetmotivasi.wordpress.com/2009/12/10/doa-dan-usaha/

Ingat, jangan pernah berdoa tanpa melakukan usaha. Itu seperti makan siang dengan roti, tidak memuaskan hati. Banyak orang yang merasa kecewa ketika Allah subhanahuwata’ala tidak mengabulkan doa yang mereka panjatkan, padahal mereka sendiri tidak pernah mencoba untuk berusaha. Sekarang coba kita pikirkan, apakah pantas seandainya kita meminta nilai UN yang bagus tapi kita hanya menghabiskan waktu untuk Online, Main PS, dan segala kegiatan yang tidak mempengaruhi nilai UN sampai kita melupakan belajar? Tapi jangan lupakan doa, karena skenario ada di tangan Allah subhanahuwata’ala, dan percayalah, Dia pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita. Mungkin pernah kita dikecewakan karena mengalami hal yang tidak kita inginkan, tapi ketahuilah sahabatku, terkadang suatu pola yang abstrak antara kebaikan dan keburukan akan menghasilkan corak yang indah dan mampu mempesona siapa saja yang memandangnya. Lagipula, apakah kamu yakin yang baik bagimu itu baik di mata Allah?

Kisah Pegawai Hotel

Beberapa bulan yang lalu di meja pemesanan kamar hotel Memphis, saya melihat suatu kejadian yang bagus sekali, bagaimana seseorang menghadapi orang yang penuh emosi.

Saat itu pukul 17:00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah. Pegawai tersebut berkata, “Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar ’single’ untuk Anda.”

“Single,” bentak orang itu, “Saya memesan double.”

Pegawai tersebut berkata dengan sopan, “Coba saya periksa sebentar.” Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, “Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh.”

Tamu yang berang itu berkata, “Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double.”

Kemudian ia mulai bersikap “anda-tau-siapa-saya,” diikuti dengan “Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat Anda dipecat.”

Di bawah serangan gencar, pegawai muda tersebut menyela, “Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda.”

Akhirnya, sang tamu yang benar-benar marah itu berkata, “Saya tidak akan mau tinggal di kamar yang terbagus di hotel ini sekarang, manajemennya benar-benar buruk,” dan ia pun keluar.

Saya menghampiri meja penerimaan sambil berpikir si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis-habisan. Sebaliknya, ia menyambut semua dengan salam yang ramah sekali “Selamat malam, Tuan.”

Ketika ia mengerjakan rutin yang biasa dalam mengatur kamar untuk saya, saya berkata kepadanya, “Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar2 sabar.”

“Ya, Tuan,” katanya, “Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, ia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan istrinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali ia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya.”

Pegawai tadi menambahkan, “Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.” Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ulang perkataannya, “Pada dasarnya ia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

Ingat dua kalimat itu kalau ada orang yang menyatakan perang pada Anda. Jangan membalas. Cara untuk menang dalam situasi seperti ini adalah membiarkan orang tersebut melepaskan amarahnya, dan kemudian lupakan saja .

http://ervakurniawan.wordpress.com

Dari cerita singkat diatas, dapat kita lihat bahwa sebenarnya semua orang sebenarnya baik (Bukankah semua orang terlahir dalam keadaan fitrah? Masa sih orang jahat bisa lahir dalam keadaan fitrah…), hanya saja seringkali ada sebuah situasi yang menyebabkan kita tidak dapat berpikir dengan tenang, menyebabkan kepanikan dan akhirnya adalah kita akan menyemburkan api emosi dan kemarahan kita pada setiap orang yang kita temui. Tanpa peduli apakah dia memang salah ataupun tidak bahkan meski yang sebenarnya salah adalah kita.

Jadi, ada baiknya kita mulai mengendalikan diri, menahan emosi dan mulai belajar untuk sabar.

Maaf yah baru nulis lagi…, UN sebentar lagi…