Kisah zaman dahulu

Dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah berkata, “Bersabda Rasulullah saw., ‘Ada seseorang membeli ladang dari orang lain. Kemudian orang tersebut menemukan pundi-pundi berisi emas di ladang tersebut. Si pembeli mengembalikan pundi-pundi itu kepada si penjual. Si penjual menolak karena merasa bukan miliknya. Katanya, “ambillah.” Tetapi si pembeli itu pun menolaknya dengan berkata, “Aku hanya membeli ladang, bukan membeli emas itu.” ‘ (HR Muslim)

Alkisah Abdullah bi Ahmad-sebut saja begitu-membeli sebidang tanah untuk bercocok tanam dari tetangganya, Salman. Esok harinya, Abdullah bersama anak lelakinya pergi ke ladang yang baru mereka beli untuk mengolah tanah dan menanam sayur-mayur. Menjelang tengah hari, Abdullah terkejut ketika sedang memacul tanah. Paculnya menghantam benda yang keras. Ternyata benda itu adalah sebuah pundi-pundi yang berisi emas.

Karena terkejut, Abdullah segera berteriak memanggil putranya, “Nak… nak segera ke sini. Cepat nak, cepat… cepat!” “Ada apa pak, ada apa? Kok berteriak seperti itu?” “Coba lihat ini! Bukankah ini emas? Emas, nak. Banyak sekali. Cepat lihat kesini,” Teriak Abdullah dengan suara agak bergetar. Setelah melihat pundi-pundi tersebut, putranya pun berseru gembira “Wah, bukankah ini emas pak? Ini emas pak. Banyak sekali!” Mereka pun menggali kembali dan mengumpulkan seluruh emas di ladang mereka. Mereka gembira karena menemukan pundi-pundi emas di ladang mereka, namun khawatir karena emas ini bukanlah milik mereka.

Akhirnya, Abdullah membawa seluruh pundi-pundi emas itu untuk diserahkan ke Salman-pemilik ladang sebelumnya. Ia yakin bahwa yang ia beli hanyalah tanah ladang, tidak termasuk emas yang banyak itu. Namun, saat melihat emas itu, Salman juga tidak pernah menyangka ada emas sebanyak itu di ladangnya. Dia pun berkata, “Wahai Abdullah, meski pundi-pundi emas ini kau temukan dari ladangku, ini bukan milikku lagi. Harta ini sudah menjadi milikmu, karena aku sudah menjual ladang itu beserta apa yang ada di dalamnya. Bawalah emas ini, gunakanlah sesukamu. Kau yang lebih berhak.”

“Tu… tunggu dulu Tuan Salman. Memang benar aku yang menemukan emas di ladangku, tanah yang telah menjadi milik dan hakku. Namun hanya tanah yang kubeli darimu, bukan emas sebanyak ini. Emas ini tetap milikmu, ambillah! Aku permisi pulang.”

“Berhenti Abdullah, jangan pulang dulu! Persoalan ini masih belum selesai. Aku tidak bisa menerima ini,” kata Salman setengah berteriak menahan Abdullah pulang. “Sungguh aku sangat senang dan menaruh hormat padamu atas sikapmu Abdullah. Kejujuranmu tiada taranya. Namun, aku mohon mengertilah. Aku pun tidak ingin menerima harta yang bukan milikku. Aku pun ingin menjadi seperti engkau, menjaga diri dari menyentuh sesuatu yang bukan hakku”

Akhirnya, mereka meminta bantuan kepada seorang hakim yang shalih. Mereka menceritakan seluruh permasalahan kepadanya. Sang hakim mendengarkan dengan seksama dan terharu dengan keimanan mereka yang membuahkan kehati-hatian. Meskipun mereka tidak kaya, “hati mereka sangat kaya”. Mereka mampu menjaga dirinya untuk tidak menyentuh apa-apa yang bukan haknya.
Setelah berpikir agak lama, sang hakim bertanya, “Apakah kalian mempunyai anak?” “Ya, aku punya anak laki-laki” jawab Abdullah, diikuti dengan jawaban Salman yang ternyata punya anak perempuan. “Bagus… bagus kalau begitu. Aku punya ide untuk solusinya. Bagaimana kalau kalian menikahkan kedua anak kalian dan menggunakan seluruh harta itu untuk pernikahan dan hidup mereka? Kalian berdua berbesanan dan anak kalian terjamin masa depannya. Bagaimana? Itulah keputusanku,” kata hakim senang.

Mendengar keputusan tuan hakim (yang di luar dugaan), wajah Abdullah dan Salman tampak berseri-seri. “Terima kasih Tuan Hakim… terima kasih,” serentak keduanya berujar. Mereka pun berpelukan dengan gembira dan pulang dengan rasa riang.

Kebahagiaan diperoleh dari keimanan dan kejujuran, bukan dari harta, apalagi yang bukan haknya…

***********************************************************************************

Beberapa tahun yang lalu, para imigran Irlandia menerima teori bahwa mereka dapat mengkonsumsi kentang besar dan menggunakan kentang kecil untuk pembibitan. Mereka melakukannya selama beberapa waktu. Akan tetapi, tidak lama kemudian mereka mulai sadar, saat mereka menjalankan teori di atas, kentang-kentang mereka semakin hari semakin kecil dan akhirnya kentang-kentang mereka berukuran sebesar kelerang. Mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa menyimpan hal-hal terbaik dalam kehidupan untuk mereka sendiri dan hanya menyisakan sisanya untuk masa depan (pembibitan).

Hukum alam menyatakan bahwa musim panen mencerminkan musim tanam. Kita sering mencoba menyimpan sesuatu yang terbaik untuk diri kita dan menyisakan sesuatu yang kurang baik untuk masa depan kita. Andai kita menanam kentang yang besar, mungkin saja kita masih dapat menikmati kentang besar tersebut sampai beberapa generasi mendatang, namun jika yang kita tanam hanyalah kentang yang kecil, kentang yang kecil pula lah yang akan kita terima di masa depan.

Ingatlah ini, “Engkau menuai apa yang engkau tanam, tidak yang lainnya”

Mulyanto,DR (2004).Kisah-kisah Teladan untuk Keluarga.Jakarta : Gema Insani*
*dengan beberapa perubahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s