Sekolah

Sekolah itu unik. Bisa kita lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Sekolah, disana disebutkan bahwa “Sekolah is a powerful devil [1]:49 and the primary deity worshipped by the sahuagin race. His sacred animal is the shark. His holy symbol is a white shark or a dorsal fin rising from the water.”

Ups, kelihatannya saya salah memasukkan link disini :p

Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin yaitu: skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Oke, mungkin definisi tersebut terkesan kurang sesuai dengan fungsi sekolah yang kita lihat saat ini. Setidaknya, begitulah awal dari sekolah.

Menurut KBBI, sekolah artinya  bangunan  atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran  (menurut tingkatannya). Tentu saja semua orang punya pandangan yang berbeda tentang definisi sekolah, seperti saya yang merasa bahwa makna sekolah harusnya tidak sesempit ini🙂

 

Untuk info mengenai sekolah saat ini, saya sempat meminta sahabat-sahabat di tempat saya menuntut ilmu untuk mengisi pendapat mereka mengenai apa yang mereka sukai dan apa yang tidak mereka sukai dari sekolah (sebetulnya tema utamanya pendidikan sih, tapi berhubung saat ini pendidikan sangat identik dengan sekolah, apa salahnya kalau kita juga membahas sekolah?). Yah, ada sekitar 20 orang yang memberikan respons. Hasilnya? Mari kita bahas satu-satu.

 

Mengenai hal yang disukai :

Ilmu pengetahuan yang beragam jenisnya jelas menjadi daya tarik tersendiri bagi sekolah. Yap, disana kita belajar banyak sekali ilmu, baik dari sains, seni, sejarah, budaya, belum lagi ragam ekstrakurikuler yang variatif dan teman-teman yang enak diajak ngobrol. Tempat yang asyik untuk memuaskan dahaga ilmu dan bersosialisasi bukan? Itu belum memperhitungkan faktor guru yang keren banget cara ngajarnya, belum lagi kalo tugasnya cocok banget sama kita. Yap, bagi orang-orang dengan rasa keingintahuan besar, sekolah (harusnya) merupakan tempat yang paling tepat untuk menuntut ilmu😀

Tapi, ada juga respon yang unik ketika ditanya apa yang disukai dari sekolah, responnya gini:
“Yang kusuka dari sekolah itu pas nggak ada guru, jam istirahat, ngobrol sama teman, pulang cepat dan pengumuman besok libur.” Haha, sebenernya miris juga sih kalo ngeliat pertanyaan ini direspon kayak gini. Tapi mungkin respon kayak gini juga merupakan salah satu mindset bagi pelajar saat ini. Kita lihat poin negatifnya yuk🙂

 

Mengenai hal yang tidak disukai :

Dari tulisan-tulisan yang saya baca tersebut, ada yang kecewa terhadap sekolah, terutama kesan yang ditimbulkan saat mendengar kata tersebut. Misalnya beban yang diberikan kepada anak, teori yang banyak dan terkesan kurang aplikatif (karena pemahaman konsep kurang diperhatikan), image komersialisasi pendidikan, perkelahian dalam bentuk bullying (meskipun mungkin secara verbal dan tak disadari yang melakukan) hingga kontak fisik dengan senjata, subjektivitas nilai guru (dan nilai inilah yang terkesan diincar oleh murid), beberapa tipe guru (terutama yang mengajar tanpa mempedulikan tingkat pemahaman muridnya, apalagi kalo ditanya malah ngebentak murid yang bertanya dengan kata-kata yang kurang enak didengar), labelisasi pelajar (mungkin di sekolah labelisasi ini terbagi berdasarkan nilai ujian), dan yang paling banyak disuarakan adalah peran sekolah yang hampir tidak dirasakan dalam pengembangan karakter siswa.

 

Wah, kayaknya pe er pendidikan di indonesia buat mendikbud banyak banget ya?
Eits, jangan salah. Mungkin sekarang sekolah memang punya banyak hal yang belum berfungsi dengan optimal, tapi tempat belajar itu bukan cuma di sekolah aja loh. Seperti yang kusebutkan di awal, definisi sekolah di KBBI menurutku terlalu sempit. Karena, kita dapat mengajar atau menerima pelajaran dimana saja, dan kapan saja. Kita punya waktu 24 jam dalam 1 hari yang bisa digunakan untuk itu bukan?🙂

Lagian, sebenernya belum tentu semua salah sekolah sih. Kalo aku diminta memilih siapa yang salah, aku mau sedikit mengingatkan bahwa media punya andil disini. Hah, kok media? Yap, ini salah media, media yang lebih sering melakukan publikasi terhadap berita-berita yang terkesan negatif. Dalam 24 jam yang kita gunakan, kalau kita sisihkan saja 1 jam saja tiap harinya buat nonton berita atau baca koran yang isinya berita negatif semua (baik itu berita anarkis, korupsi, pelecehan, dsb), yaah, siapa yang gak tertarik buat nyoba sih? Hehe, soalnya jujur, pas kasus 6.7T lagi rame, aku sempat kepikiran jadi koruptor itu enak loh (ayo lah, jelas-jelas itu cara cari duit yang instan, cepat dan mudah gitu, berapa banyak dana negara yang gak ketauan hilang kemana?). Beruntungnya, aku diingatkan bahwa korupsi itu mengambil hak orang lain yang bukan milikku, banyak loh orang-orang yang bakal menderita kalau aku melakukan itu. Yang mengingatkan itu ekskul keagamaan yang berbasis di masjid, oh, kayaknya baru-baru ini ada juga media yang menyebutkan ekskul itu sarang teroris deh.

Hehe, maaf ya, habis siapa juga yang nggak kesal kalau semua permasalahan dilihat dari sudut pandang negatif saja. Temanku sampe ada yang pernah menyatakan begini, “Media di Indonesia yang paling netral itu cuma Media Player” hehehe :p

Kalo ada kawan-kawan dari media yang tertarik dan ikut membaca sampai sini, aku mohon maaf ya, mungkin ini salah satu kritikan bagi media di Indonesia sekarang. Oiya, tenang, aku bukan orang yang anti media kok. Setidaknya aku suka membaca kolom berita olahraga dan kolom opini, hehe, kelihatannya saat ini aku belum bisa mencerna berita-berita di topik yang lain. Kalo emang benar ada, titip saran, tinjaulah semua informasi baik dan buruknya, serta tolong tuliskan dengan bahasa yang mudah dimengerti semua kalangan, termasuk kalangan awam seperti aku🙂

Nah, salah satu yang perlu diperhatikan disini adalah tempat kita menerima pembelajaran. Sebenarnya selalu ada pelajaran yang kita terima loh dalam tiap detik kehidupan kita. Tapi, mungkin kita juga gak sadar bahwa kita juga mengajarkan begitu banyak ilmu. Pada siapa? Pada lingkungan sekitar kita, terutama adik-adik yang lebih muda usianya.

Nah, karena itu, yuk. Gak ada salahnya kan kalo kita menjaga perkataan dan perbuatan kita agar adik-adik kita tidak melakukan hal-hal yang salah. Karena bukan mustahil kalo mereka melakukan suatu perbuatan buruk, terus pas orangtua nanyain dari siapa mereka belajar untuk berbuat atau berkata seperti itu, dengan muka polosnya mereka mengacungkan jari dan menunjuk kita🙂

Karena kita semua adalah murid dan guru dalam kehidupan ini😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s