Review Supervisory Control And Data Acquisition (SCADA)

Berikut reviewku mengenai apa itu SCADA, sesuai dengan tugas dari salah satu mata kuliahku, semoga bermanfaat, terutama bagi yang tertarik pada bidang kontrol 🙂

1.1      Pengertian SCADA

         Sistem SCADA umumnya menggunakan teknologi OPC dalam mengawasi dan mengendalikan data. Untuk mengenal SCADA dan OPC, kita perlu mengenal OLE terlebih dahulu. OLE adalah singkatan dari Object Linking and Embedding, teknologi yang dikembangkan oleh Microsoft untuk menghubungkan (linking) beberapa program komputer agar dapat berbagi informasi, sehingga informasi dari suatu program dapat dimasukkan sebagai informasi yang diolah di program lain (embedding) tanpa menghilangkan program yang informasinya dimasukkan tersebut.

         Teknologi OLE awalnya diciptakan untuk menghubungkan informasi antara compound document, dokumen yang mendukung beberapa jenis data. Salah satu contoh penggunaan OLE adalah dokumen pada Microsoft Word. Saat kita memasukkan gambar dari program internet atau photo-editing, atau memasukkan grafik atau tabel dari program Microsoft Excel, kita telah menggunakan OLE. 

Image

Gambar 1.1 Contoh Penggunaan OLE pada Microsoft Word

         OPC—OLE for Processing Control atau Open Platform Communications jika mengacu pada revisi akronim OLE pada tahun 2011—adalah pemanfaatan teknologi OLE pada Proses Kontrol, berupa standar perangkat lunak antarmuka—software interface—yang memungkinkan program Windows untuk berkomunikasi hardware device pada industri.

Image  

Gambar 1.2 OPC Server 

         OPC beroperasi dalam pasangan server-klien. OPC Server adalah software yang mengubah protokol komunikasi hardware yang digunakan oleh PLC ke dalam protokol OPC. Sementara OPC Client Software adalah program apapun yang perlu terhubung dengan hardware dari industri. OPC client menggunakan OPC server untuk mendapat data dari hardware atau memberi perintah pada hardware dengan komunikasi melalui kontroler proses.

         Hal yang penting pada OPC adalah open standard, yang berarti biaya yang lebih rendah bagi produsen dan lebih banyak pilihan bagi pengguna. Produsen hardware hanya perlu menyediakan satu OPC server untuk perangkat mereka untuk berkomunikasi dengan OPC client apapun. Vendor software hanya perlu memasukkan kemampuan OPC client dalam produk mereka agar produk itu dapat terhubung dengan ribuan hardware device. Pengguna dapat memilih OPC client software yang mereka butuhkan, dan produk itu akan berkomunikasi secara lancar dengan OPC-enabled hardware mereka, dan sebaliknya.

         Seperti yang kita lihat bahwa OPC Server dikendalikan oleh PLC—Programmable Logic Controller. PLC adalah sistem kontrol komputer industri yang terus mengawasi keadaan input device dan membuat keputusan berdasarkan program yang telah disetel untuk mengendalikan keadaan pada output device. PLC digunakan di banyak industri dan mesin. Tidak seperti komputer pada umumnya, PLC dirancang untuk pengaturan input/output (I/O) dalam jumlah banyak, beroperasi di kisaran suhu yang lebih panjang, bebas dari electrical noise, dan tahan terhadap getaran dan benturan. PLC adalah contoh dari sistem real time karena output yang dihasilkan harus merespon kondisi input dalam waktu yang terbatas, jika tidak operasi yang tidak diinginkan akan terjadi. Salah satu contoh PLC adalah PLC Allen-Bradley.

 Image

Gambar 1.3 PLC Allen-Bradley

         Untuk memprogram PLC tersebut, diperlukan software programming. Dalam mata kuliah SCADA ini, software programming yang digunakan adalah RSLogix 5000 yang dibuat oleh Rockwell Software dan mendukung PLC Allen-Bradley. Tapi pada umumnya bahasa pemrograman yang digunakan pada PLC adalah sama, dan yang paling umum digunakan saat ini adalah Ladder Logic. Ladder Logic adalah bahasa pemrograman yang menggambarkan program dengan diagram grafis berdasarkan pada diagram sirkuit logic hardware berbasis relay. Bahasa ini umumnya digunakan untuk mengembangkan software untuk PLC gunakan dalam aplikasi kontrol industri.

 Image

Gambar 1.4 Contoh Ladder Logic pada PLC Allen-Bradley

         SCADA adalah singkatan dari Supervisory Control And Data Acquisition. Sistem SCADA mengoperasikan beberapa fungsi. Tiga fungsi dasar SCADA adalah monitoring (pengawasan), control (control) dan fungsi user interface (UI). Fungsi pengawasan mengumpulkan data dan mengirimkannya ke komputer central. Fungsi control mengumpulkan data dari sensor pada fungsi pengawasan, memproses data tersebut dan mengirimkan sinyal kontrol kembali kepada peralatan sesuai yang diarahkan program software. UI umumnya berupa ruang kontrol yang besar dimana pengguna dapat mengawasi input SCADA serta respon outputnya secara real-time.

         SCADA digunakan dalam berbagai proses dan sistem, misalnya sistem lalu lintas, atau dalam proses industri seperti pembuatan baja, pembangkit dan distribusi listrik (konvensional dan nuklir) serta perusahaan minyak dan gas. SCADA juga digunakan pada sistem eksperimental seperti proses fusi nuklir. Berikut adalah beberapa contoh studi kasus yang menggunakan SCADA.

         Pada tahun 2010, Campbell Scientific menyatakan bahwa Trenton dan Amalga, dua kota di utara Utah, Amerika, yang terpisah beberapa mil membuat rencana untuk mendesain dan membangun interkoneksi antara kedua sistem perairan di kota tersebut, memungkinkan air secara otomatis mengalir dari Trenton ke Amalga atau sebaliknya, sehingga kedua kota tersebut dapat berbagi air dalam situasi yang darurat. Tiap kota memiliki sumber air, pompa tangki dan sistem distribusi yang terpisah, jadi tantangannya adalah menemukan cara untuk menghubungkan mereka yang akan memudahkan kedua kota itu berbagi air. Dalam hal ini kedua kota tersebut bekerjasama dengan JUB Engineers of Logan untuk meng-install sistem SCADA yang memungkinkan kedua kota tersebut melihat status sistem perairan kedua kota tersebut dan mengendalikan sistem interkoneksi sesuai kebutuhan.

         Contoh lainnya adalah Laboratorium Uji Lingkungan yang dimiliki perusahaan manufaktur Ford di Dunton, UK yang digunakan untuk menguji mobil berukuran kecil dan sedang yang dihasilkan Ford dalam berbagai jenis lingkungan yang disimulasikan. Lab ini punya beberapa kamar tes seperti “climatict test chambers” yang dapat mensimulasikan tekanan dari rentang 91.4 mdpl (meter diatas permukaan laut) hingga 3658 mdpl, 4-WD dynamometer yang mensimulasikan kecepatan hingga 250 km/jam, dan berbagai jenis kamar lainnya dengan temperature yang dapat dikendalikan dari suhu -40oC hingga 55oC. Sebelumnya Ford menggunakan paket MS-DOS RTM untuk mengawasi kamar tes dan ingin menggantinya dengan software dan interface PC yang lebih kompatibel dengan versi terbaru Windows sambil tetap mempertahankan kemampuan pengawasan hardware di tiap kamar. Dalam kasus ini, sistem SCADA dipakai untuk mengakuisisi data dari modul akuisisi data Solartron Imp dan data terkait manajemen sistem enjin tiap ada kendaraan yang diuji. Hasilnya merupakan sistem pengawasan yang familiar dengan para engineer, menyediakan informasi secara real-time selama pengujian, menyediakan fitur data logging yang komprehensif untuk menyimpan semua informasi yang dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, serta menyediakan trend secara real-time maupun historical yang memungkinkan operator focus pada bidang keahliannya dan meng-export data tersebut menjadi format standar Microsoft Excel. Keuntungan yang didapatkan adalah hasil dari proses yang lebih baik karena akurasi dan tingkat kepercayaan yang tinggi pada kapabilitas pengukuran real-time SCADA, masalah pada sensor yang digunakan dapat diketahui dengan mudah, sistem dapat dikembangkan untuk mengawasi lebih banyak daerah laboratorium, dan mengurangi biaya pelatihan operator karena UI Windows merupakan UI yang familiar.

1.2    Keuntungan Penggunaan SCADA

Beberapa keuntungan dari SCADA bagi suatu perusahaan adalah:

  • Sistem SCADA dirancang menghemat waktu dan uang dengan menghilangkan kebutuhan petugas servis mengunjungi setiap tempat untuk pemeriksaan, pengumpulan data/logging atau melakukan penyesuaian.
  • Pengawasan dan simulasi real-time terhadap sistem
  • Input berupa berbagai jenis sensor yang dapat dihubungkan pada sistem dapat mencapai ribuan jumlahnya
  • Troubleshooting (salah satu bentuk pemecahan masalah dengan mencari sumber masalah secara logis dan sistematis)
  • Meningkatan umur peralatan
  • Meningkatkan efisiensi dan kinerja sistem
  • Memberikan pengetahuan langsung dari kinerja sistem
  • Mengurangi jumlah jam kerja (biaya tenaga kerja) yang diperlukan untuk pemecahan masalah atau jasa dan membebaskan tenaga kerja untuk tugas penting lain
  • Jumlah data yang dapat disimpan oleh komputer sangat besar, dan dapat ditampilkan dengan berbagai cara sesuai yang pengguna inginkan yang dapat dilihat dari mana saja

            Namun walaupun banyak keuntungan dari SCADA, tetap ada beberapa hal yang perlu dijadikan pertimbangan, sehingga para pengguna harus ketahui dan perhatikan dalam penggunaannya. Karena hal ini dapat dianggap sebagai drawback dari SCADA. Hal tersebut adalah:

  • Sistem menjadi lebih kompleks
  • Diperlukan beberapa kemampuan operasi, seperti analis sistem dan programmer
  • Ribuan jumlah sensor berarti jumlah kabel yang dibutuhkan sangat panjang
  • Apa yang dapat dilihat operator hanyalah sejauh apa yang terdata pada PLC

1.3      Contoh Arsitektur SCADA

            Sistem SCADA umumnya mencakup subsistem Human Machine Interface (HMI)—peralatan yang memperlihatkan data proses ke operator dan melalui ini sang operator mengawasi dan mengendalikan proses, sistem (komputer) Supervisory—yang mengumpulkan data proses dan mengirimkan perintah pada proses, Remote Terminal Unit (RTU)—yang menghubungkan sensor-sensor dalam proses dan mengubah sinyal-sinyal sensor menjadi data digital yang akan dikirimkan ke sistem Supervisory, PLC—sebagai perlengkapan lapangan, dan infrastruktur komunikasi—yang menghubungkan RTU dengan sistem Supervisory. Ini merupakan arsitektur sistem SCADA yang sempat digunakan di CERN7.

 Image

Gambar 1.5 Contoh Arsitektur Sistem SCADA

            Arsitektur Hardware

                  Dalam arsitektur hardware, pengendali proses seperti PLC terhubung ke server data, baik secara langsung atau tidak. Server-server data yang ada terhubung satu sama lain dan terhubung ke OPC Client melalui Ethernet LAN. RTU terhubung ke physical equipment, lalu mengubah sinyal listrik yang dihasilkan equipment tersebut menjadi nilai-nilai digital seperti open atau closed pada switch atau valve, atau besaran seperti tekanan, laju aliran, beda potensial atau arus listrik. Sinyal inilah yang menyebabkan RTU dapat mengendalikan equipment yang ada.

 Image

Gambar 1.6 Contoh Arsitektur Hardware Sistem SCADA

            Dalam arsitektur hardware ada istilah Supervisory Station—Stasiun Pengawas—yang mengacu pada server dan software yang fungsinya berkomunikasi dengan peralatan lapangan (RTU, PLC, dan sebagainya), dan kemudian ke software HMI yang bekerja pada workstation—komputer yang didesain untuk keperluan teknis atau saintifik—yang terletak di ruang kontrol atau di tempat lain. Dalam sistem SCADA yang lebih kecil, workstation dapat terdiri dari satu PC. Dalam sistem SCADA yang lebih besar, workstation dapat mencakup beberapa server, aplikasi software yang terdistribusi, dan situs pemulihan kerusakan.

            Arsitektur Software

            Produk ini multi-tasking dan didasarkan pada real-time database (RTDB) yang terletak di satu server atau lebih. Server bertanggung jawab untuk akuisisi data dan penanganan (seperti pengecekan alarm, kontroler polling—kecepatan pencacahan/sampling data, perhitungan, data logging dan pengarsipan) pada set parameter, yang khusus terhubung pada server. Namun, memiliki dedicated server—server yang digunakan secara penuh tanpa dibagi dengan fungsi lain—untuk tugas-tugas tertentu dapat dilakukan.

 Image

Gambar 1.7 Contoh Arsitektur Software Sistem SCADA

Komunikasi

            Komunikasi antara server-client atau server-server pada umumnya menggunakan TCP/IP protocol dengan berbasis event-driven (dimana laju program ditentukan oleh event atau kejadian seperti klik pada mouse) dan publish-subscribe (dimana pengirim pesan atau publisher tidak memprogram pesan kepada penerima atau subscriber yang spesifik, melainkan menggolongkan pesan-pesan tersebut ke beberapa kelas, dimana tiap subscriber pun akan menerima semua pesan yang termasuk dalam kelas yang di-subscribe atau diikuti).

            Data server mengendalikan kontroler sesuai dengan polling rate yang ditentukan pengguna, yang mungkin berbeda untuk parameter yang berbeda. Kontroler melewatkan parameter yang diminta menuju server data. Produk yang menyediakan communication driver yang umum digunakan oleh PLC adalah Modbus. Satu server data dapat mencakup beberapa protokol komunikasi, sebanyak jumlah slot untuk interface cards—penghubung komputer dengan jaringan ethernet.

 

Referensi Terkait

  1. http://academic.pgcc.edu/~bspear/IntroMsOffice/AUTOptn/word3/Web%20Page%20and%20Exam/word/lesson1.htm
  2. http://www.opcdatahub.com/WhatIsOPC.html
  3. http://accelconf.web.cern.ch/accelconf/ica99/papers/mc1i01.pdf
  4. http://www.amci.com/tutorials/tutorials-what-is-programmable-logic-controller.asp
  5. http://www.epgco.com/scada-system-assessment.html
  6. http://www.campbellsci.com/water-scada
  7. http://www.measuresoft.com/case-studies/manufacturing-pharmaceutical-medical/ford.aspx
  8. http://www.controlscada.com/advantages-plc-dcs-scada-system
  9. http://www.eeweb.com/blog/purnendu_kumar/scada-systems-introduction-architecture-functionality-and-other-aspects

Menilai Manusia

Dan kali ini kebiasaan procrastinating kembali beraksi -_- Disaat seharusnya lagi hectic tugas dan fokus, malah buka media sosial dan nemu status menarik yang sedikit menggelitik dan membuatku penasaran, jika kita harus menilai manusia, apakah yang akan kita nilai?

 

Akankah kita menilai dari berapa negara yang sudah disinggahi, untuk mengagumi kesempatan yang dia dapatkan, berkenalan dengan orang-orang hebat di luar negeri, bersantap makanan tradisional yang mungkin belum pernah kita dengar atau lihat, berinteraksi dengan orang-orang dari suku, agama, dan ras yang berbeda dan berbagai pengalaman yang mungkin tak akan pernah kita alami lainnya?

 

Atau akankah kita melihat dari kedekatannya dengan alam, berapa gunung yang sudah didaki, tempat apa saja yang sudah dikunjungi, binatang dan tumbuhan apa saja yang ditemui, pengalaman ter-ekstrim apa yang sudah dihadapi, dan berbagai pengalaman mengesankan lainnya?

 

Tanpa mengurangi rasa hormat bagi orang-orang seperti itu, kelihatannya sekarang kita sudah bisa mendapatkan semua pengetahuan yang ada di internet, bahkan untuk melihat permukaan pluto tanpa perlu jauh-jauh pergi kesana pun sudah dapat dilakukan (coba tulis “the surface of pluto” di google). Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk melihat dan mengetahui segala hal, dari kebudayaan, makanan tradisional, statistik dan data, dan masih banyak lagi, jadi bagaimana bisa hal ini membedakan?

 

Oke, mungkin bakal ada argumen bahwa “merasakan sendiri itu beda”. Untuk menjawab itu, ada novel menarik berjudul “Measuring the World” yang dibuat oleh Daniel Kehlmann. Ceritanya merupakan bayangan seorang penulis mengenai 2 orang jerman yang mengukur dunia dengan caranya masing-masing, yaitu Carl Friedrich Gauss, matematikawan jerman yang tertutup dan sangat jarang bersosialisasi namun dapat membuktikan bahwa ruang angkasa itu melengkung tanpa perlu meninggalkan rumahnya, dengan Alexander von Humboldt, ahli ilmu bumi jerman yang naturalis dan aristokrat, hobi berpetualang, bahkan dikatakan tak ada gua dan bukit yang ditinggalkan tanpa terjelajah dan terukur. Kesimpulan yang diambil novel ini menarik, mengutip dari buku tersebut, “sampai sekarang, tidak ada yang tahu siapa yang sudah mengukur dunia lebih jauh” Bagi yang penasaran terhadap alasannya, silahkan baca sendiri :p

 

Bagi yang berargumen, “yang penting itu kan perjalanannya, perjuangan selama kita melangkah. Lagian banyak pelajaran yang didapat di sepanjang perjalanan kok”, aku sepakat, toh aku juga orang yang menyukai perjalanan. Cuma, semua kembali ke orangnya. Jadi ingat, setelah film “5 cm” keluar, dikatakan jumlah pendaki gunung semeru meningkat. Sayangnya, peningkatan ini diiringi dengan peningkatan jumlah sampah yang dibawa oleh para pendaki baru dan dibuang disana, dan aku tidak melihat itu sebagai tingkah laku orang yang mendapatkan pelajaran dari perjalanannya. Kembali lagi ke tujuan awal kita, untuk kebanggaan, atau untuk pelajaran?

 

Yah, semoga memang ada pelajaran yang didapatkan oleh para pendaki yang bisa membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya 🙂

 

Oiya, untuk yang menyukai perjalanan, ada perkataan yang bagus dari shawn spencer di film “psych”:

 

Take lots of pictures. Not of sights. Don’t take pictures of buildings. Take pictures of moments, ’cause that’s what matters. Capture ‘em here [points to his head], and hold on to ‘em here [points to his heart]… At least that’s what I would do.

 

Ambillah gambar yang banyak, tapi jangan ambil gambar pemandangan, jangan juga ambil gambar bangunan. Ambillah gambar dari momen-momen yang ada, kejadian-kejadian yang istimewa, karena itu lah yang penting. Masukkanlah gambar-gambar itu ke kepala, dan simpanlah mereka di dalam hati, setidaknya itu yang akan kulakukan 🙂

 

Oke, kembali ke topik. Apa lagi yang dapat kita nilai dari seseorang?

 

Akankah kita menganggap kecerdasan lah yang utama, bagaimana dia selalu mendapat nilai tinggi di sekolah, bagaimana dia selalu menjadi juara dalam olimpiade, bagaimana dia menyelesaikan pendidikan lebih cepat daripada orang-orang seusia dia, dan menilai segala penghargaan yang telah dia dapatkan?

 

Atau akankah kita mengagumi pola pikirnya, bagaimana dia bisa menghadapi masalah dengan tenang meski masalah itu belum pernah dihadapi siapapun sebelumnya, bagaimana tingkah lakunya yang dewasa dapat menenangkan orang-orang saat terjadi masalah, bagaimana kebijaksanaannya menginspirasi orang-orang yang ada di sekitarnya, dan tingkah laku menakjubkan lain yang pernah kita lihat pada dirinya?

 

Bagi orang-orang yang tertarik pada dunia psikologi atau pernah membaca mengenai multiple intelligence atau talent mapping, seharusnya pengetahuan bahwa setiap orang itu berbeda dan punya kelebihannya masing-masing merupakan pengetahuan umum, sehingga sulit untuk menilai manusia hanya dengan melihat tanpa mendalami alasan yang menyebabkan seseorang berlaku seperti itu, bukan? Tapi ini hal yang bagus kok, toh aku bisa membayangkan hambarnya dunia kalo semua orang itu sama, hehe.

 

Oke, lalu apa lagi yang dapat kita nilai?

 

Akankah kita menganggap tinggi hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, bagaimana dia selalu menyapa para tetangganya dengan rendah hati, bagaimana orang-orang yang mengenal dia memperlakukannya dengan baik, dan takjub pada interaksi yang terjadi antara dirinya dan lingkungannya yang terkesan selalu positif?

 

Akankah kita takjub pada apa yang telah dia lakukan untuk masyarakat, bagaimana dia mengatur waktunya sedemikian rupa hingga dapat tetap menebar manfaat pada sekitar, apa saja yang dia korbankan untuk kebaikan orang lain, apa saja yang telah dia lakukan dan berikan meski mungkin tidak ada orang yang tahu, dan berbagai aktivitas mengagumkan lain yang kita lihat dari dirinya?

 

Akankah kita terpukau dengan pengetahuan agamanya serta kemampuannya untuk konsisten dalam menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupannya, bagaimana orang-orang belajar dari caranya beribadah, bagaimana dia mengingatkan orang-orang yang salah dan menjelaskan mengapa hal ini dilarang, bagaimana tingkah lakunya terhadap manusia dan alam, dan berbagai hal menakjubkan lainnya yang ada pada dirinya?

 

Entah lah.

 

Sudah hampir 2 dekade aku berada di dunia ini, dan sampai sekarang aku masih belum mengerti, bagaimana cara menilai manusia?

Sistem Hibrid Energi Terbarukan

Ya, kali ini aku akan sedikit memberi gambaran tentang apa yang kukerjakan sebagai tugas akhir jurusanku, yaitu Sistem Hibrid Energi Terbarukan 😀

Energi merupakan kebutuhan yang vital bagi setiap manusia. Tak dapat dipungkiri, dewasa ini kita memang sangat tergantung pada teknologi, yang membutuhkan energi untuk menjalankannya. Untuk transportasi jarak dekat sering kita menggunakan sepeda motor pribadi atau mobil angkutan umum, dan untuk transportasi jarak jauh umumnya kita menggunakan kereta, yang sampai saat ini masih menggunakan energi fosil seperti bensin, solar, dan aftur sebagai sumber energinya. Saat di kantor, kita mengerjakan pekerjaan kita dengan menggunakan komputer, printer, dan berbagai teknologi canggih bagi yang bekerja dalam dunia engineer–keinsinyuran. Dan saat di rumah, kita juga men-charge hp kita, menyalakan televisi, memasak dengan kompor gas, kompor listrik atau microwave, dan sumber energi dari semua kegiatan kita di rumah dan di kantor umumnya berasal dari listrik yang dibangkitkan dengan berbagai metode. Dan pada umumnya pembangkit listrik yang ada di indonesia menggunakan tenaga dari pembakaran bahan bakar fosil juga (seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam) untuk menghasilkan energi listrik. Energi listrik digunakan karena bentuk energi inilah yang paling praktis dan mudah untuk didistribusikan ke berbagai tempat.

 

Sementara hibrid adalah sesuatu yang berupa campuran dari beberapa hal atau suatu hal yang memiliki 2 komponen yang berbeda tapi hal yang dihasilkan itu sama. Misalnya jagung hibrida, itu adalah jagung yang merupakan hasil perkawinan silang antar 2 jenis bibit jagung. Atau contoh lainnya dalam Al-Quran sering disebutkan hewan bernama bagal yang merupakan keturunan silang antara kuda betina dan keledai jantan. Ada juga hewan bernama liger, atau singkatan dari lion-tiger, yang merupakan keturunan dari singa jantan dan harimau betina, sesuai dengan namanya.

 

Energi baru terbarukan merupakan salah satu alternatif baru dalam dunia energi yang menawarkan jumlah energi yang dapat diambil secara terus-menerus, karena energi tersebut bersumber dari proses alam yang berkelanjutan. Misalnya, ada yang pernah mendengar sel photovoltaic (sel surya), fuel cell atau pembangkit listrik tenaga air? Itu merupakan beberapa contoh energi baru terbarukan. Sel photovoltaic menggunakan proton dalam sinar matahari yang terpancar dan menyebabkan terjadi beda potensial antara 2 semikonduktor pada sel surya yang siap untuk dialirkan sebagai energi listrik, fuel cell menggunakan reaksi antara hidrogen dan oksigen yang menghasilkan energi listrik (karena pasangan ini merupakan sel galvani, yang menghasilkan listrik secara alami) dan kalor (reaksi eksoterm, kalor dilepas ke lingkungan), sementara pembangkit listrik tenaga air memanfaatkan air yang mengalir turun untuk memutar turbin yang tersambung dengan generator yang akan mengubah energi kinetik putaran menjadi energi listrik. Sayangnya saat ini regulasi pemerintah, harga yang tergolong mahal jika dibandingkan dengan energi fosil dan proses maintenance yang agak sulit menjadikan banyak sistem EBT (Energi Baru Terbarukan) yang belum berkembang di Indonesia. Jika ada yang tertarik dengan kondisi EBT di Indonesia dan mengapa ini juga penting untuk dikembangkan, silahkan buka http://energibarudanterbarukan.blogspot.com/ 🙂

 

Sistem Hibrid Energi Terbarukan (SHET)–atau Hybrid Renewable Energy Systems (HRES) dalam bahasa inggris–merupakan perpaduan dari dua buah sistem EBT atau lebih. Tujuan SHET ini adalah memanfaatkan sumber-sumber EBT yang ada untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari kita. Penggabungan ini dilakukan sebab tidak semua energi baru terbarukan dapat bekerja dengan maksimal. Sebagai contoh, sel photovoltaic tidak akan menghasilkan listrik saat malam hari, karena tidak ada cahaya matahari yang dapat dimanfaatkan. Pembangkit listrik tenaga air pun akan menghasilkan daya yang maksimal di musim hujan, namun pada musim kemarau daya yang dihasilkan mungkin tidak seberapa. Nah, karena kebutuhan energi kita tidak bisa dipenuhi secara setengah-setengah, tentu akan sulit untuk mengandalkan satu sistem saja. Apalagi jika satu-satunya sistem yang kita andalkan itu rusak.

 

SHET ini menjadi aplikasi yang banyak dibutuhkan untuk pembangkit listrik, terutama di daerah terpencil yang jauh dari sumber listrik Perusahaan Listrik Negara. Dosen Pembimbing dan Seniorku di Fisika Teknik juga sempat terlibat proyek untuk memasang SHET di jembatan suramadu, dimana EBT yang akan digunakan untuk menghasilkan listrik adalah pembangkit listrik tenaga angin, pembangkit listrik tenaga arus laut, pembangkit listrik tenaga gelombang dan sel surya. Energi dari keempat sistem EBT tersebut akan dikelola sehingga mampu mencukupi kebutuhan energi jembatan tersebut, terutama untuk penerangan dan monitoring–pengawasan–kondisi jembatan. Sistem seperti ini sangat cocok bagi Indonesia yang memiliki banyak pulau terpencil, apalagi mengingat cerita dosen-dosenku bahwa rasio elektrifikasi (jumlah penduduk yang mendapatkan energi listrik) di Indonesia masih sekitar 70% pada 2010 lalu.

 

Yang sedikit membedakan TA ini dari proyek di suramadu adalah kita juga akan mengintegrasikannya dengan listrik dari PLN. Hal ini disebabkan sumber energi yang akan digunakan adalah pembangkit listrik tenaga diesel dan sel surya, dan aku berencana mengaplikasikannya di salah satu labtek itb, dimana kebutuhan energi saat siang hari sangat besar dan dikhawatirkan energi dari kedua sistem EBT itu tidaklah mencukupi, sehingga listrik PLN tetap diperlukan sebagai back-up power jika energi dari kedua sistem EBT itu tidak mencukupi.

 

Ada 4 orang termasuk aku yang mengambil topik TA ini, dan uniknya di kampusku sendiri aku belum berhasil menemukan TA angkatan atas yang mengerjakan TA tentang ini sebelumnya, sehingga kami menjadi 4 orang pioneer di bidang ini, hahaha *bangga* 😀 Padahal sistem ini juga sudah berkembang pesat di dunia luar, tapi sayangnya banyak hal perkembangan di dunia luar yang tidak terlalu diperhatikan di Indonesia, padahal manfaatnya tidak sedikit. Yah, semoga apa yang kukerjakan ini dapat berguna di masa depan nanti. Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater. Salam Ganesha 🙂

Beberapa Istilah Inggris dalam Bahasa Indonesia

Ini salah satu randoman anak-anak yang stres tugas terkait istilah inggris yang di-Indonesia-kan, kalau ada yang penasaran silahkan dilihat dan dicoba gunakan 😀

-Istilah dunia teknologi

Online: Daring (Dalam Jaringan)

Download : Unduh

Upload : Unggah

Print : Cetak

Edit : Sunting

Software : Perangkat Lunak

Hardware : Perangkat Keras

Mouse (Komputer) : Tetikus

Keyboard (Komputer) : Papan Ketik

Printer : Pencetak

Scanner : Pemindai

Joystick : Tuas Kendali

Touchpad/Trackpad : Bantalan Sentuh

Touchscreen : Layar Sentuh

Motherboard : Papan Induk

Floppy Disk (Disket) : Cakram Flopi

Harddisk/Harddisk Drive/Hard Drive : Cakram Keras

Compact Disk : Cakram Digital/Cakram Padat/Cakram Optik

 

-Istilah dunia organisasi

Efektif : Mangkus

Efisien : Sangkil

Contact Person : Nara Hubung

Soft Skill : Kecakapan Insani (untuk yang ini katanya belum disahkan, tapi ada benernya juga sih)

 

-Istilah lain

Spare Part: Suku Cadang

Hoax : Berita Palsu

Keyword : Kata Kunci

 

Sayangnya karena keterbatasan pengetahuan mengenai kata kunci yang pas untuk nyari di google dan diskusi kemarin sore yang membahas ini tidak terlalu lama, baru segini istilah indonesia yang berhasil kukumpulkan. Silahkan bagi yang punya pengetahuan dan ingin menambahkan 🙂

Entah lah, saat ini aku melihat bahasa indonesia semakin kekurangan peminat. Orang kaya yang mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah bilingual (dua bahasa) atau bahkan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar juga tidak sedikit jumlahnya. Padahal saat menjadi anak-anak, komunikasi adalah salah satu hal yang penting. Dan bukan hanya komunikasi dengan orangtua, tapi juga komunikasi dengan anak-anak seumuran yang pada kenyataannya gak semua anak kecil di indonesia pandai berbahasa inggris. Dan kalo anak-anak gak dibiarkan komunikasi dengan sesama anak-anak lain, kepribadian macam apa ya yang bisa terbentuk pada diri sang anak? 🙂

Mungkin ini salah satu pengaruh globalisasi, jumlah bahasa yang digunakan di dunia semakin mengkerucut ke beberapa bahasa saja, dan sayangnya bahasa indonesia termasuk salah satu bahasa yang terancam hilang saat pengkerucutan itu. Jadi ingat dengan salah satu tulisan saat aku belajar untuk tes ielts (ya, aku juga belajar bahasa inggris kok, tapi aku tetap bangga dengan bahasa indonesia, hehe). Tulisan itu bercerita tentang bahasa yang hilang. Disana dijelaskan mengenai beberapa alasan mengapa banyak bahasa yang mulai hilang, dari krisis kepercayaan diri (karena ada komunitas yang lebih besar dan kaya yang berbicara dengan bahasa lain), pemerintah yang melarang penggunaan bahasa minoritas sampai ke tekanan untuk beradaptasi dengan situasi sosial-ekonomi.

Tapi tulisan itu juga menjelaskan bahwa saat ini ketertarikan pada identitas budaya mulai meningkat. Haha, agak ironis juga kalau berpikir mungkin ini salah satu sifat dasar manusia, tidak pernah sadar apa yang kita miliki sampai hal tersebut menghilang dari kehidupan kita, bukankah di indonesia yang sering terjadi juga seperti itu? Di tulisan itu, dikatakan bahasa yang punah itulah yang digunakan untuk mengajarkan kesenian tradisional kepada para turis. Ada juga artikel menarik dari national geographic mengenai upaya konservasi bahasa di Bangladesh, coba dibaca deh 😀
http://news.nationalgeographic.com/news/2013/06/130628-endangered-languages-scripts-bangladesh-indigenous-cultures-world/

Salah satu hal yang kusayangkan adalah tidak banyak orang yang tertarik pada kegiatan seperti itu. “Hei, bahasa ini sudah mau punah kan, buat apa diperjuangkan?” Komentar seperti ini dapat ditemukan beberapa buah dalam situs itu. Ada benarnya juga, bagaimana kita bisa mengembalikan sesuatu yang sudah tiada? Dan jika ini sudah mau punah, apakah masih mungkin diperjuangkan? Lagipula, banyak isu lain yang pantas untuk dipikirkan, global warming, energi listrik, sebutkanlah semua, dan banyak yang harusnya lebih kita prioritaskan daripada bahasa yang mau punah. Entah lah, meski ada benarnya tapi aku masih belum bisa menerima argumen seperti itu, mungkin karena aku merupakan orang yang bahasanya terancam punah dan masih peduli :/

Salah satu alasanku menulis kamus istilah yang singkat ini juga karena aku masih merasa bahasa indonesia itu masih menarik dan layak untuk diperjuangkan. Hei, meski aku jarang menulis tapi saat memilih diksi dan kosakata untuk tulisanku merupakan saat yang menyenangkan bagiku. Bukankah tergantung pada kita, apakah bagi kita bahasa ini masih pantas untuk dipelajari, diajarkan, dibangga-banggakan dan diperjuangkan atau tidak? Apa kita harus menunggu bahasa ini punah dulu sebelum merasa kehilangan jati diri bahasa kita? Aku masih merasa hal ini pantas, bagaimana denganmu? 🙂

Dan, sekaligus memperingati hari sumpah pemuda, mari kita ingat kembali teks sumpah pemuda:

contoh-gambar-teks-sumpah-pemuda-asli

Masihkah bahasa persatuan ini kita junjung, hai putra-putri Indonesia?

Introvert

Ok, tema latihan menulis pekan ini adalah introvert, salah satu kepribadianku, meski memang hanya sedikit lebih dominan daripada sifat extrovertku sebagaimana terlihat dibawah 😀

Tes Kepribadian Laksma

Salah satu definisi menarik mengenai introvert dapat ditemukan di web ini: http://giftedkids.about.com/od/glossary/g/introvert.htm, yang kira-kira dapat dikatakan seperti ini:

Introvert sering digolongkan sama seperti orang-orang yang pemalu. Padahal, sifat pemalu itu tidak selalu berhubungan dengan introvert. Pada dasarnya, introvert adalah orang yang men-“charge” atau mendapatkan kembali energinya saat menyendiri, dan aktivitas yang melibatkan orang lain –khususnya orang yang tidak dia kenal sama sekali– lah yang menghabiskan energinya. Jadi, tak peduli berapa sering seorang introvert berkegiatan dengan banyak orang, akan ada saat dia butuh waktu untuk menyendiri. Sementara, pemalu itu lebih ke sifat yang ditimbulkan karena takut terhadap penilaian sosial yang negatif.

Aku bisa mengatakan ini benar, karena berdasarkan pengalaman pribadiku seringkali setelah aku mengajar di suatu tempat, terlebih saat banyak guru atau murid baru yang terlibat dalam kegiatan belajar, aku lebih suka menghabiskan waktu pulang dengan berjalan sendirian meski memang agak jauh, dan saat sendirian pun aku lebih suka berpikir, berimajinasi, dan bahkan kadang mempertanyakan tentang berbagai hal terkait duniaku, dari fikih islam, energi terbarukan, hal-hal fisis di sekitar, pendidikan, hingga moralitas. Mempertanyakan mana yang benar dan mana yang salah, kenapa harus begini, kenapa itu dilarang, dan berbagai hal lain yang tidak masuk akal kucoba pertanyakan dari sudut pandang orang awam. Kadang aku juga berimajinasi mengenai apa yang mungkin bisa dilakukan untuk memanen energi dari sebuah lokasi atau situasi yang tidak sengaja kutemui di perjalanan, bagaimana membuat seseorang bertingkahlaku seperti apa yang aku atau masyarakat inginkan (meski imajinasi ini akan berlanjut dengan mempertanyakan hak asasi individu), bagaimana menghasilkan tugas dengan hasil yang baik dengan usaha sesedikit mungkin (sampai saat ini diskusi internal dalam kepalaku terhenti di kata “deadline”, hahaha, ada yang mau bantu menambahkan mungkin? 😀 ), mempertanyakan bagaimana dampak sosial dan ekonomi jika teknologi yang baru saja kubaca di internet diterapkan di Indonesia, dan banyak lah. Yang jelas, apa yang satu introvert pikirkan belum tentu sama dengan apa yang introvert lain pikirkan, karena kita tertarik pada hal yang berbeda, dan itulah yang menarik untuk dipikirkan. Dan aku sendiri merasa bahwa apa yang kita lakukan –mengeksplorasi pengetahuan apa saja yang kita miliki dan bagaimana perasaan kita terhadap suatu hal– itu menyenangkan.

Kadang introvert lebih memilih menghindar dari sebuah situasi sosial, tapi kalau menurutku (setidaknya diriku secara pribadi) itu lebih tergantung mood sih. Bukan karena kita anti-sosial (ansos) atau tidak memiliki kemampuan bersosial yang baik, juga bukan karena kita depresi atas suatu permasalahan, tapi mungkin memang saat itu energi untuk bersosialisasi dengan orang baru sedang habis dan kita perlu men-charge diri kita, atau memang kita sedang butuh waktu untuk menyendiri dengan hal-hal yang sedang kita pikirkan.

Aku sendiri tidak menganggap kemampuan komunikasiku buruk, setidaknya ada peningkatan yang signifikan dari masa sma dimana aku hanya berbicara dengan teman dekat dan menolak semua ajakan dengan satu kata (“malas” atau “bosan”), hahaha. Tapi memang sampai sekarang pun aku lebih menyukai berbincang dengan kawan yang sudah dekat dibandingkan dengan orang yang masih asing. Dunia sosial introvert memang agak berbeda, dikatakan introvert lebih menyukai bertukar cerita sambil menikmati segelas minuman hangat dengan sahabat dekat dibandingkan ditraktir di restoran mewah dengan banyak orang tapi tidak ada yang dikenal. Soal depresi, entah lah, toh banyak orang lain yang masalahnya lebih besar dan aku juga tidak melihat ada alasan mengapa harus repot-repot mempermasalahkan masalah yang ada, karena aku juga cenderung menganggap masalah yang ada itu biasa saja, bukan hal yang tidak bisa diselesaikan (meskipun karena hobiku dalam procrastinating–menyiakan waktu melakukan hal lain saat ada tugas yang perlu kulakukan, masalah yang ada pun kadang jadi masalah besar. Seperti sekarang, aku malah mengikuti personality test untuk memastikan ke-introvertanku dan menulis artikel di blog ini saat ada ujian siang ini, dan karena fokus belajar itu sulit, hahaha).

Oiya, sebagai introvert ada satu lagi yang menurutku tepat, yaitu introvert kurang lancar dalam berbasa-basi. Entah lah, kadang aku juga merasa canggung atau bingung kalo diajak berbasa-basi, soalnya kurang tau apa yang perlu dibicarakan dalam konteks ini. Kita lebih baik dalam mendengarkan dibandingkan berbicara. Tapi bukan berarti introvert tidak pernah berbicara dengan orang lain, meskipun memang topik obrolan yang menarik introvert itu adalah minat mereka, sebagaimana aku suka membicarakan tentang pendidikan dengan kawan-kawan di SKHOLE, tentang berbagai hal fisis yang terjadi di dunia sekitar bersama kawan-kawan di jurusan Fisika Teknik, juga tentang pertanyaan-pertanyaan aneh dari murid saat sedang belajar, seperti teknologi suku maya, segitiga bermuda dan lain sebagainya.

Ada pernyataan yang menarik dari link diatas, disana dikatakan introvert mengisi sekitar 60% dari populasi orang-orang yang berbakat (atau secara statistik, dari 10 orang berbakat yang kamu temui, 6 diantaramnya adalah introvert), tapi hanya 25-40% jumlah introvert dalam populasi keseluruhan (lagi, secara statistik, dari 20 orang yang kamu temui, hanya 5 sampai 8 orang yang introvert). Atau, kata-kata kesukaanku, introvert adalah minoritas dalam populasi keseluruhan, tapi mayoritas dalam populasi orang-orang berbakat. Senang mengetahuinya, setidaknya ada yang bisa kubangga-banggakan :p

Ada buku menarik yang ditulis Susan Cain dengan judul “Quiet: the Power of Introverts in a World that Can’t Stop Talking.” Ringkasannya bisa dilihat di http://www.npr.org/2012/01/30/145930229/quiet-please-unleashing-the-power-of-introverts atau di http://www.nytimes.com/2012/01/15/opinion/sunday/the-rise-of-the-new-groupthink.html?pagewanted=all&_r=0.

Selama ini, kita selalu punya kekaguman tersendiri terhadap sifat extrovert, setidaknya sampai batasan tertentu. Tapi saat bidang bisnis berkembang pesat seperti saat ini, extrovert lah yang paling diuntungkan. Semua orang tiba-tiba pindah ke kota besar dan melamar pekerjaan, melakukan interview, dan lain sebagainya. Mengutip salah satu link diatas, kita telah berpindah dari apa yang sejarawan budaya sebut “Kebudayaan karakter” menuju “Kebudayaan kepribadian”. Ada yang mengatakan ini disebabkan jumlah film dan bintang film meningkat, menyebabkan kita termotivasi untuk mengikuti orang yang kita kagumi dalam film, yang umumnya memang karismatik dan dapat menarik banyak orang (atau penonton). Saat masa kebudayaan karakter, apa yang penting adalah hal baik apa yang kamu lakukan saat tidak ada orang yang melihatnya. Dari amerika Abraham Lincoln adalah salah satu contoh kebudayaan itu, dan bagi muslim yang membaca ini, bukankah itu juga yang ditekankan oleh Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat seperti Umar radiyallahu anhu saat menjadi khalifah, dimana dikisahkan Rasul memberi makan seorang pengemis buta yang terus menerus mencaci beliau dan Umar berkeliling di tengah malam mencari warga yang merasa tertindas selama kepengurusan beliau? Memang, sebagai orang yang pernah aktif di dunia pengabdian masyarakat, salah satu dunia dimana “Kebudayaan karakter” menurutku masih cukup kuat, hal ini agak sulit untuk diteruskan. Karena saat ini apa yang diinginkan kebanyakan orang adalah untuk menjadi pribadi yang karismatik dan dapat menarik banyak orang, menjadi karakter yang baik namun tidak pernah terlihat mungkin sudah bukan prioritas lagi.

Sayangnya, saat ini pun tempat kerja lebih banyak di-desain untuk extrovert, dengan mengatur agar interaksi antar kelompok terjadi sesering mungkin, meski kadang hal ini dicapai dengan mengurangi privasi dalam kantor itu sendiri. Introvert juga kurang difavoritkan untuk menjadi manajer dalam perusahaan, meskipun ada juga yang berargumen manajer introvert dan manajer extrovert punya kelebihan tersendiri. Manajer introvert dapat memberikan hasil yang baik saat dihadapkan pada karyawan yang proaktif (yah, beruntung lah selama di SKHOLE anggotaku ada yang proaktif, haha) karena introvert dianggap lebih mau mendengarkan saran dan metode serta memaksimalkan potensi karyawan, sementara manajer extrovert dapat memberikan hasil yang baik saat dihadapkan pada karyawan yang pasif karena dorongan dan motivasi yang diberikan mereka untuk melakukan tugasnya.

Padahal, solitude –kesendirian/kesunyian– sering dihubung-hubungkan dengan kreativitas dan kelebihan. Kita sering terpukau dengan karisma seseorang sehingga melupakan bagian yang sunyi saat kreativitas bekerja dalam proses. Seperti dalam perusahaan Apple, yang disebutkan di link diatas, fokus utama dari pemberitaan perusahaan tersebut adalah daya tarik misterius dari Steve Jobs. Padahal ada sosok lain yang tidak kalah penting, Stephen Gary “Steve” Wozniak, yang ramah dan bertindak sebagai “introverted engineering wizard”, yang bekerja keras sendirian demi penemuannya tercinta, Personal Computer (PC).

Mengutip dari web tersebut,

Rewind to March 1975: Mr. Wozniak believes the world would be a better place if everyone had a user-friendly computer. This seems a distant dream — most computers are still the size of minivans, and many times as pricey. But Mr. Wozniak meets a simpatico band of engineers that call themselves the Homebrew Computer Club. The Homebrewers are excited about a primitive new machine called the Altair 8800. Mr. Wozniak is inspired, and immediately begins work on his own magical version of a computer. Three months later, he unveils his amazing creation for his friend, Steve Jobs. Mr. Wozniak wants to give his invention away free, but Mr. Jobs persuades him to co-found Apple Computer.

The story of Apple’s origin speaks to the power of collaboration. Mr. Wozniak wouldn’t have been catalyzed by the Altair but for the kindred spirits of Homebrew. And he’d never have started Apple without Mr. Jobs.

But it’s also a story of solo spirit. If you look at how Mr. Wozniak got the work done — the sheer hard work of creating something from nothing — he did it alone. Late at night, all by himself.

Intentionally so. In his memoir, Mr. Wozniak offers this guidance to aspiring inventors:

“Most inventors and engineers I’ve met are like me … they live in their heads. They’re almost like artists. In fact, the very best of them are artists. And artists work best alone …. I’m going to give you some advice that might be hard to take. That advice is: Work alone… Not on a committee. Not on a team.”

To harness the energy that fuels both these drives, we need to move beyond the New Groupthink and embrace a more nuanced approach to creativity and learning. Our offices should encourage casual, cafe-style interactions, but allow people to disappear into personalized, private spaces when they want to be alone. Our schools should teach children to work with others, but also to work on their own for sustained periods of time. And we must recognize that introverts like Steve Wozniak need extra quiet and privacy to do their best work.

Before Mr. Wozniak started Apple, he designed calculators at Hewlett-Packard, a job he loved partly because HP made it easy to chat with his colleagues. Every day at 10 a.m. and 2 p.m., management wheeled in doughnuts and coffee, and people could socialize and swap ideas. What distinguished these interactions was how low-key they were. For Mr. Wozniak, collaboration meant the ability to share a doughnut and a brainwave with his laid-back, poorly dressed colleagues — who minded not a whit when he disappeared into his cubicle to get the real work done.

Bagi yang kurang mampu berbahasa Inggris dan penasaran tentang sejarah Apple atau Steve Wozniak bisa membuka google translate, karena aku cuma akan membahas quotes dari tuan Wozniak untuk meluruskan, hehe 🙂 Para seniman dapat memaksimalkan hasil kerjanya saat sendirian. Bukan bermaksud untuk melupakan segala jenis kerjasama yang dilakukan golongan atau kelompok, karena faktanya, seniman sekaliber Vincent van Gogh pun tidak dimengerti di masanya sehingga hidupnya agak menyedihkan. Beberapa jenis kerjasama juga menyenangkan, menstimulus dan sangat berguna untuk bertukar informasi. Jelas kita butuh orang lain, apa yang menyenangkan dari hidup kalau kita tidak punya orang yang kita suka, orang kepercayaan dan sahabat tempat berbagi? Sebagai manusia, jelas kita membutuhkan satu sama lain, meski memang kita juga membutuhkan privasi dan kebebasan.

Tapi, saat ini pandangan kita terlalu berat sebelah. Kita lebih percaya bahwa semua kreativitas dan hasil yang baik berasal dari kerjasama, padahal dalam beberapa situasi menyendiri mempunyai keuntungan juga. Itu juga yang dikritik di buku Quiet tersebut, bukan masalah extrovertnya, tetapi jika yang ideal hanyalah menjadi extrovert, itu yang perlu disadari.

kuiafui

Dan ada juga beberapa link yang menarik mengenai introvert (meskipun aku tidak merasakan semua ini benar sih, mungkin karena bagian extrovertku juga masih lumayan besar meski tidak dominan):
http://www.huffingtonpost.com/2013/08/20/introverts-signs-am-i-introverted_n_3721431.html
http://www.buzzfeed.com/erinlarosa/problems-only-introverts-will-understand

Obrolan Malam

Yap, kehidupan memang tidak mudah diprediksi, selalu ada kejadian yang gak pernah disangka akan terjadi. Belum sampai sebulan yang lalu, saat aku berkunjung ke sebuah kota karena ada acara, aku masih ingat saat itu kehadiranku disambut dengan baik oleh kawan-kawan lamaku disana. Bahkan ada temanku yang bilang kalau dia gak masalah nyiapin banyak hal seperti transport dan akomodasi kalau aku sempat mengabari kehadiranku. Apresiasi lah 😀 Sayangnya, di saat-saat terakhir justru aku tidak sempat berpamitan dengan kawanku itu, karena dia sudah berada di Jakarta. Dia pergi dengan penerbangan terawal yang bisa dia dapatkan karena ayahnya baru saja meninggal di pagi hari. Ketika ditanya, temanku pun menjawab bahwa meninggalnya ayah beliau pun memang mengejutkan, karena ayah beliau awalnya cuma tidur, dan tidak bangun lagi. Tidak ada kejelasan, atau setidaknya aku belum tahu kalau ada.

 

Hal mengejutkan bisa terjadi kapan saja. Baru-baru ini pun aku mengalaminya lagi. 2 hari yang lalu, saat aku mampir ke panti yang biasanya kukunjungi untuk mengajar atau berbagi cerita, numpang melaksanakan ibadah sekaligus berteduh karena hujan deras (kebetulan aku sedang bermain di sekitar daerah itu). Tiba-tiba kepala pantinya memberitahuku bahwa sekarang di panti sedang ada acara perpisahan untuk beliau. Beliau dipindahtugaskan ke daerah lain untuk mengurus panti lain disana, dan malam itu pun beliau langsung pergi kesana. Aku yang gak tau kondisi, meski udah dikabarin sama salah seorang muridku di panti itu tentang rumor kepindahan beliau, pun kaget. Karena memang ketika aku menanyakan hal itu ke pegawai ada yang mengatakan itu hanya rumor.

 

Yah, setidaknya kebetulan ini membuatku bisa berdiskusi sedikit. Diskusi terakhir saat beliau masih menjabat sebagai kepala panti setidaknya. Kami pun berbincang mengenai kondisi panti beliau yang baru. Beliau bercerita bahwa di pantinya yang baru sistemnya agak berbeda dengan panti yang ada di bandung. Panti disana memakai sistem rumah dengan penanggungjawab tersendiri di tiap rumah, bukan sistem kamar dengan satu penanggungjawab terpusat seperti yang beliau jalankan di bandung, sehingga beban kerja beliau akan lebih ringan.

 

Diskusi tidak berlangsung lama, hanya beberapa pertanyaan, karena setelah itu anak-anak di panti juga meminta foto bareng dengan beliau sebagai kenang-kenangan. Setelah itu, aku membantu sejenak anak-anak yang sedang pekan UTS. Beberapa dari mereka sedang tidak berminat belajar, entah karena beliau baru pergi atau memang sudah kebiasaan, haha. Setelah itu pun aku menumpang mobil seorang karyawan beliau, satu dari tiga mobil yang mengantar beliau pergi, untuk sedikit memutar karena aku memang sudah berencana nonton film dengan beberapa kawan malam itu. Beliau menaiki mobilnya sendiri.

 

Mungkin karena masih penasaran, di mobil pun aku masih sempat bertanya pada mengenai apakah tidak bisa beban di panti ini dibagi untuk lebih dari seorang, seperti panti yang ada di daerah itu. Dan sang karyawan pun bercerita mengenai kondisi pekerja sosial saat ini, mengenai tidak banyak pekerja sosial yang mau turun ke panti karena mungkin materi yang didapat tidak seberapa dibandingkan dengan turun ke tempat lain, juga mengenai baik-buruknya sistem panti baru itu. Salah satunya yang kuingat adalah meski pembagian kerjanya lebih ringan, karena sistemnya per rumah, justru jadi susah menegur anak-anak karena segan sama pengurusnya.

 

Hal ini pun terjadi lagi kemarin sore, saat tiba-tiba seorang kawan memberikanku sebuah amplop berisi undangan dari sebuah firma konsultan ternama, untuk mengikuti seminar dari perusahaan mereka untuk para pencari kerja. Kata temanku untuk kp disana saja besar gajinya bisa sampai 8 angka, dan gaji untuk para pekerjanya bisa mencapai 2-3 kali lipat nilai yang disebutkan temanku itu. Kelihatannya segi akademikku memenuhi kriteria mereka, sayang seminarnya hari sabtu dan aku sudah memesan tiket ke Jakarta jumat malam ini. Aku sudah menawarkan temanku untuk ikut menggantikanku, tapi karena nggak ada yang mau ya sudah. Entah lah, tapi sampai sekarang aku masih belum terlalu tertarik untuk bekerja secara penuh, karena aku belum tahu banyak soal perusahaan itu, terlebih mengenai apakah aku bisa mengembangkan minatku di bidang energi terbarukan disana. Mencoba mencari info tentang perusahaan itu, kelihatannya bisa sih, tapi karena minatku untuk sementara ini adalah scholarship hunter jadi kelihatannya kulepas dulu saja lah ya 🙂

 

Uniknya justru setelah aku menolak tawaran itu, saat aku sedang repot dan panik mengurus formulir terkait tugas akhirku, justru datang kabar kalau sebuah universitas dari jerman akan mengadakan info session bagi yang tertarik untuk melanjutkan studi ke Jerman. Jerman memang menjadi negara tujuan utamaku untuk melakukan studi di bidang energi terbarukan, karena dari pencarian jurusan di bidang sustainable/renewable energy, lumayan banyak universitas di jerman yang memiliki program studi itu. Selain itu, di jerman katanya riset dari universitas itu berpadu dengan industri, yang memungkinkan perkembangan teknologi terjadi dengan cepat karena faktor science push dan market pull. Karena itu lah saat ini jerman lah yang jadi target utamaku untuk melanjutkan studi, dengan inggris atau australia sebagai target berikutnya karena kemampuan bahasa jermanku masih (sangat) kurang 🙂

 

Entah lah, pengalamanku selama di bandung selalu berurusan dengan hal-hal tak terduga seperti ini. Lapangan itu dinamis, dan memprediksinya tidak mudah. Dan selama ini pun aku menjalani kehidupan dengan prinsip “Ya udah, jalanin aja”. Dan harus kuakuin, aku sangat dipengaruhi oleh seniorku dalam hal ini -_- Hahaha, yah, tapi justru ini yang membuatku memikirkan banyak hal. Kita tahu kalau ada banyak hal yang memang berada diluar kendali kita, bukankah harusnya kita tidak mudah kaget apabila terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan?

 

Yang jelas, mungkin disini lah kita perlu berpikir positif. Siapatau berbagai kegagalan dalam proyek sebelumnya itu memang untuk mempersiapkan keberhasilan kita di proyek yang akan datang. Atau mungkin juga memang apa yang terjadi itu lah yang terbaik. Karena Allah Ta’ala pun telah berfirman,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

 

Bagaimanapun juga, ilmu kita memang sangat terbatas bukan? 🙂

 

 

Ini tulisan yang kubuat di malam baru-baru ini. Meski awalnya aku mau update artikel tentang introvert, justru artikel lain yang menarik minatku. Hahaha, memang aku mudah terdistraksi ya. Mungkin aku juga akan membahas tentang bahasa inggris dan pentingnya bermain ah di lain waktu :3

N.B. Salah info, ternyata universitasnya dari Belanda. Hahaha, karena ngantuk jadi salah baca info, dari dutch jadi deutsch :p But still, infonya bagus kok 😀

Kemampuan Berkomunikasi

Setelah sekian lama blog ini terabaikan, kelihatannya aku akan mencoba untuk mengaktifkannya lagi, bismillaah 🙂

Siang ini, di kuliah Metode Penelitian dan Perancangan, ada cerita yang menarik dari dosen. Beliau bercerita, dari pengalaman beliau ke luar negeri dan pergaulannya dengan teman-teman dari asia tenggara seperti filipina, bahwa masalah para pelajar indonesia bukanlah masalah kecerdasan, tapi lebih mengenai masalah dalam berkomunikasi. Saat diminta untuk memecahkan masalah, kita mungkin unggul, tapi saat diminta mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan atau dialog, kita kurang baik, kira-kira begitulah pendapat beliau, meski aku lupa redaksi lengkapnya.

 

Mungkin ada benarnya, sebagai orang indonesia, aku sendiri menganggap minat kita dalam membaca dan menulis tergolong kurang. Karena aku sendiri lebih menyukai hal-hal yang instan. Daripada membaca jurnal penelitian untuk mencari sebuah data yang penting, aku lebih suka bertanya pada google dan melihat headline atau judul dari hasil pencarian. Dan daripada menulis, aku lebih suka menghabiskan waktuku berkutat dengan kegiatan yang kuanggap bermanfaat. Aku juga lebih suka berdialog dan berdiskusi daripada menulis, karena menurutku pribadi, hal-hal seperti ini lah yang membuka pengetahuan 🙂

 

Sayangnya, mungkin hal seperti ini lah yang menyebabkan orang indonesia kurang mampu mengekspresikan dirinya. Kita mungkin memang punya banyak hal untuk diutarakan. Tapi ketika mengutarakannya, banyak hal yang mungkin terlupa. Ketika menulisnya, banyak hal yang mungkin kita pertanyakan–entah pengaruh karena tulisannya dipublikasikan ke khalayak ramai atau apa–sehingga akhirnya kita urung untuk menulisnya. Entah ini hanya dialami oleh aku yang introvert atau tidak, tapi mungkin ada benarnya bahwa kita kurang handal dalam mengkomunikasikan maksud dan mengekspresikan diri kita.

 

Kalau mau merunut sedikit ke belakang, kembali ke jaman sma, sebagai siswa sma di jakarta selatan, aku bersyukur masuk ke SMA Negeri 47 Jakarta Selatan. Alasannya sebenarnya simpel, selama 3 tahun yang kuhabiskan disana, aku tidak pernah menjumpai kegiatan seperti tawuran, dan di perpustakaan ada komputer yang saat itu di-install game oleh kawanku, setidaknya aku bisa ansos selama di sma, hahaha :p Entah bagaimana, ketika mengingat saat-saat seperti itu sekarang, mungkin hal-hal ini juga disebabkan kekuranghandalan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Mungkin saja tawuran diawali dengan niat untuk mengajak sekolah bermain bersama yang disalahartikan, dan akhirnya terjadi kericuhan. Entah ya, tapi saat melihat kejadian seperti tawuran antar sma atau kericuhan antar suporter bola, apalagi sebagai siswa sma di jakarta yang sekarang kuliah di bandung, aku masih belum tahu, apakah ini disebabkan kita gampang terprovokasi atau kita kurang mampu berkomunikasi.

 

Ada artikel menarik mengenai komunikasi bagi anak-anak, jika kita mau merunut sedikit lebih jauh ke bidang pendidikan: http://edukasi.kompasiana.com/2013/09/27/anak-kelas-1-sd-di-indonesia-vs-inggris-595432.html

Tiap orang pasti punya pendapat yang berbeda-beda setelah membaca artikel tersebut, dan menurutku, mungkin kasus seperti pendidikan indonesia di artikel ini turut berperan dalam menghambat kemampuan kita dalam berkomunikasi. Kenapa? Karena yang dilihat hanyalah benar dan salah, dan dilihatnya juga hanya dari satu sudut pandang. Padahal, dalam berkomunikasi, kita pasti akan bertemu dengan berbagai jenis orang dari berbagai latar belakang, dan dengan berbagai pendapatnya mengenai kehidupan. Pasti akan ada perbedaan, dan kalau kita tidak berani mengkomunikasikan perbedaan tersebut, jelas sudutpandang dan pemikiran kita tidak akan berkembang.

 

Dan inilah yang sedang kucoba kembangkan sekarang, dengan mulai menulis dan berbagi cerita 🙂 Meskipun katanya orang introvert itu jago nulis, tapi kayaknya belajar nulis tetap diperlukan ya, haha.

Untuk tambahan, baru-baru ini aku baru diberi hadiah dari seorang sahabat seperjuangan di sebuah organisasi, semacam gantungan kunci berisikan quotes dari Mahatma Gandhi yang menurutku lumayan pas dengan konteks bahasan ini:

A language is an exact reflection of the character and growth of its speakers.

Mungkin memang ada perlunya seperti ini. Sebagai seorang engineer yang kemungkinan besar akan bekerja di tengah masyarakat, kemampuan untuk mengkomunikasikan ide merupakan hal yang krusial, karena saat kamu ingin mengimplementasikan sebuah solusi yang kamu tawarkan, pasti diperlukan bantuan masyarakat untuk itu. Sebagai orang yang pernah mencoba untuk turun ke masyarakat dengan membawa sebuah ide, aku lumayan mengerti itu. Saat itu aku pernah mencoba mempraktekkan cara belajar yang menarik di sebuah daerah di Bandung, karena dari survey singkat yang kulakukan anak-anak disana memang sedang bosan dengan sekolah, jadi kita mencoba untuk bermain sambil belajar saja. Namun, kesalahanku saat itu adalah kurangnya komunikasi untuk meyakinkan orangtua anak-anak tersebut bahwa kegiatan yang kulakukan dapat memberi manfaat, sehingga para orangtua kurang mempercayakan anaknya untuk ikut kegiatan dan akhirnya tidak terlalu baik, karena masyarakat justru menjadi tidak peduli. Begitu pula dengan dunia kerja kelak. Jika kamu tidak bisa meyakinkan masyarakat mengenai apa yang baik bagi mereka dari dasar keilmuanmu, mungkin hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan pengalamanku.

And that’s why language is an exact growth of its speaker. Dengan berkomunikasi, kita belajar banyak mengenai aturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat, yang akan menjadi pelajaran bagi kita untuk mengembangkan diri kita. Salah satu dosenku, pak budi, menekankan pentingnya bermain. Karena dengan bermain kita akan berinteraksi dengan teman sepermainan, dan itu lah pembelajaran kita mengenai nilai-nilai sosial masyarakat yang berlaku. Renungan sejenak. Andai kita semua mengingat masa kecil, dimana kita menghentikan permainan karena ada satu anak yang menangis, mungkin saat ini korupsi sudah berhenti dilakukan karena masyarakat yang menangis sudah terlalu banyak, bukan begitu?

Untuk melanjutkan blog ini, berhubung aku orangnya mudah lupa kalau tidak ada motivasi, mungkin aku akan membuat artikel tentang hal-hal ini yang menurutku menarik untuk dibagi. Aku mendeklarasikan ini setidaknya biar punya motivasi untuk melanjutkan dan tidak kehilangan fokus dalam belajar menulis dan mengekspresikan diri. I’m not good at keeping my promise, I’m just bad at forgetting it, especially if it is about something I truly care. And living without fulfill it just made me worse 🙂

Oke, topik artikel berikutnya yang sempat terlintas di pikiran:

  1. Introvert
  2. Segala hal yang terjadi adalah yang terbaik
  3. Sistem Hibrid Energi Terbarukan
  4. Pendidikan dan Manfaat
  5. Doctor Who
  6. Seleksi Untuk Berbagi

 

Entah kenapa dalam beberapa minggu belakangan ini, banyak hal yang seolah memintaku untuk menulis, baik sharing dari seorang pengajar muda, kawan di himpunan, anak-anak skhole, lalu juga persiapan untuk sesi writing tes ielts dan berikutnya cerita dari dosen seperti ini. Meskipun wordpress terkesan sebagai blog bagi artikel-artikel serius, aku hanya memanfaatkannya untuk belajar. Semoga bisa konsisten 🙂

Bagi yang mau ikut menulis tapi ragu karena masih pemula, ada quotes yang bagus:

Just do what you want to do. Remember, the arc was built by amateur, but the titanic was built by professional.

Kalau ada saran dan kritik jangan segan berkomentar ya 😀