Kemampuan Berkomunikasi

Setelah sekian lama blog ini terabaikan, kelihatannya aku akan mencoba untuk mengaktifkannya lagi, bismillaah🙂

Siang ini, di kuliah Metode Penelitian dan Perancangan, ada cerita yang menarik dari dosen. Beliau bercerita, dari pengalaman beliau ke luar negeri dan pergaulannya dengan teman-teman dari asia tenggara seperti filipina, bahwa masalah para pelajar indonesia bukanlah masalah kecerdasan, tapi lebih mengenai masalah dalam berkomunikasi. Saat diminta untuk memecahkan masalah, kita mungkin unggul, tapi saat diminta mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan atau dialog, kita kurang baik, kira-kira begitulah pendapat beliau, meski aku lupa redaksi lengkapnya.

 

Mungkin ada benarnya, sebagai orang indonesia, aku sendiri menganggap minat kita dalam membaca dan menulis tergolong kurang. Karena aku sendiri lebih menyukai hal-hal yang instan. Daripada membaca jurnal penelitian untuk mencari sebuah data yang penting, aku lebih suka bertanya pada google dan melihat headline atau judul dari hasil pencarian. Dan daripada menulis, aku lebih suka menghabiskan waktuku berkutat dengan kegiatan yang kuanggap bermanfaat. Aku juga lebih suka berdialog dan berdiskusi daripada menulis, karena menurutku pribadi, hal-hal seperti ini lah yang membuka pengetahuan🙂

 

Sayangnya, mungkin hal seperti ini lah yang menyebabkan orang indonesia kurang mampu mengekspresikan dirinya. Kita mungkin memang punya banyak hal untuk diutarakan. Tapi ketika mengutarakannya, banyak hal yang mungkin terlupa. Ketika menulisnya, banyak hal yang mungkin kita pertanyakan–entah pengaruh karena tulisannya dipublikasikan ke khalayak ramai atau apa–sehingga akhirnya kita urung untuk menulisnya. Entah ini hanya dialami oleh aku yang introvert atau tidak, tapi mungkin ada benarnya bahwa kita kurang handal dalam mengkomunikasikan maksud dan mengekspresikan diri kita.

 

Kalau mau merunut sedikit ke belakang, kembali ke jaman sma, sebagai siswa sma di jakarta selatan, aku bersyukur masuk ke SMA Negeri 47 Jakarta Selatan. Alasannya sebenarnya simpel, selama 3 tahun yang kuhabiskan disana, aku tidak pernah menjumpai kegiatan seperti tawuran, dan di perpustakaan ada komputer yang saat itu di-install game oleh kawanku, setidaknya aku bisa ansos selama di sma, hahaha :p Entah bagaimana, ketika mengingat saat-saat seperti itu sekarang, mungkin hal-hal ini juga disebabkan kekuranghandalan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Mungkin saja tawuran diawali dengan niat untuk mengajak sekolah bermain bersama yang disalahartikan, dan akhirnya terjadi kericuhan. Entah ya, tapi saat melihat kejadian seperti tawuran antar sma atau kericuhan antar suporter bola, apalagi sebagai siswa sma di jakarta yang sekarang kuliah di bandung, aku masih belum tahu, apakah ini disebabkan kita gampang terprovokasi atau kita kurang mampu berkomunikasi.

 

Ada artikel menarik mengenai komunikasi bagi anak-anak, jika kita mau merunut sedikit lebih jauh ke bidang pendidikan: http://edukasi.kompasiana.com/2013/09/27/anak-kelas-1-sd-di-indonesia-vs-inggris-595432.html

Tiap orang pasti punya pendapat yang berbeda-beda setelah membaca artikel tersebut, dan menurutku, mungkin kasus seperti pendidikan indonesia di artikel ini turut berperan dalam menghambat kemampuan kita dalam berkomunikasi. Kenapa? Karena yang dilihat hanyalah benar dan salah, dan dilihatnya juga hanya dari satu sudut pandang. Padahal, dalam berkomunikasi, kita pasti akan bertemu dengan berbagai jenis orang dari berbagai latar belakang, dan dengan berbagai pendapatnya mengenai kehidupan. Pasti akan ada perbedaan, dan kalau kita tidak berani mengkomunikasikan perbedaan tersebut, jelas sudutpandang dan pemikiran kita tidak akan berkembang.

 

Dan inilah yang sedang kucoba kembangkan sekarang, dengan mulai menulis dan berbagi cerita🙂 Meskipun katanya orang introvert itu jago nulis, tapi kayaknya belajar nulis tetap diperlukan ya, haha.

Untuk tambahan, baru-baru ini aku baru diberi hadiah dari seorang sahabat seperjuangan di sebuah organisasi, semacam gantungan kunci berisikan quotes dari Mahatma Gandhi yang menurutku lumayan pas dengan konteks bahasan ini:

A language is an exact reflection of the character and growth of its speakers.

Mungkin memang ada perlunya seperti ini. Sebagai seorang engineer yang kemungkinan besar akan bekerja di tengah masyarakat, kemampuan untuk mengkomunikasikan ide merupakan hal yang krusial, karena saat kamu ingin mengimplementasikan sebuah solusi yang kamu tawarkan, pasti diperlukan bantuan masyarakat untuk itu. Sebagai orang yang pernah mencoba untuk turun ke masyarakat dengan membawa sebuah ide, aku lumayan mengerti itu. Saat itu aku pernah mencoba mempraktekkan cara belajar yang menarik di sebuah daerah di Bandung, karena dari survey singkat yang kulakukan anak-anak disana memang sedang bosan dengan sekolah, jadi kita mencoba untuk bermain sambil belajar saja. Namun, kesalahanku saat itu adalah kurangnya komunikasi untuk meyakinkan orangtua anak-anak tersebut bahwa kegiatan yang kulakukan dapat memberi manfaat, sehingga para orangtua kurang mempercayakan anaknya untuk ikut kegiatan dan akhirnya tidak terlalu baik, karena masyarakat justru menjadi tidak peduli. Begitu pula dengan dunia kerja kelak. Jika kamu tidak bisa meyakinkan masyarakat mengenai apa yang baik bagi mereka dari dasar keilmuanmu, mungkin hasilnya tidak akan jauh berbeda dengan pengalamanku.

And that’s why language is an exact growth of its speaker. Dengan berkomunikasi, kita belajar banyak mengenai aturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat, yang akan menjadi pelajaran bagi kita untuk mengembangkan diri kita. Salah satu dosenku, pak budi, menekankan pentingnya bermain. Karena dengan bermain kita akan berinteraksi dengan teman sepermainan, dan itu lah pembelajaran kita mengenai nilai-nilai sosial masyarakat yang berlaku. Renungan sejenak. Andai kita semua mengingat masa kecil, dimana kita menghentikan permainan karena ada satu anak yang menangis, mungkin saat ini korupsi sudah berhenti dilakukan karena masyarakat yang menangis sudah terlalu banyak, bukan begitu?

Untuk melanjutkan blog ini, berhubung aku orangnya mudah lupa kalau tidak ada motivasi, mungkin aku akan membuat artikel tentang hal-hal ini yang menurutku menarik untuk dibagi. Aku mendeklarasikan ini setidaknya biar punya motivasi untuk melanjutkan dan tidak kehilangan fokus dalam belajar menulis dan mengekspresikan diri. I’m not good at keeping my promise, I’m just bad at forgetting it, especially if it is about something I truly care. And living without fulfill it just made me worse🙂

Oke, topik artikel berikutnya yang sempat terlintas di pikiran:

  1. Introvert
  2. Segala hal yang terjadi adalah yang terbaik
  3. Sistem Hibrid Energi Terbarukan
  4. Pendidikan dan Manfaat
  5. Doctor Who
  6. Seleksi Untuk Berbagi

 

Entah kenapa dalam beberapa minggu belakangan ini, banyak hal yang seolah memintaku untuk menulis, baik sharing dari seorang pengajar muda, kawan di himpunan, anak-anak skhole, lalu juga persiapan untuk sesi writing tes ielts dan berikutnya cerita dari dosen seperti ini. Meskipun wordpress terkesan sebagai blog bagi artikel-artikel serius, aku hanya memanfaatkannya untuk belajar. Semoga bisa konsisten🙂

Bagi yang mau ikut menulis tapi ragu karena masih pemula, ada quotes yang bagus:

Just do what you want to do. Remember, the arc was built by amateur, but the titanic was built by professional.

Kalau ada saran dan kritik jangan segan berkomentar ya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s