Introvert

Ok, tema latihan menulis pekan ini adalah introvert, salah satu kepribadianku, meski memang hanya sedikit lebih dominan daripada sifat extrovertku sebagaimana terlihat dibawah😀

Tes Kepribadian Laksma

Salah satu definisi menarik mengenai introvert dapat ditemukan di web ini: http://giftedkids.about.com/od/glossary/g/introvert.htm, yang kira-kira dapat dikatakan seperti ini:

Introvert sering digolongkan sama seperti orang-orang yang pemalu. Padahal, sifat pemalu itu tidak selalu berhubungan dengan introvert. Pada dasarnya, introvert adalah orang yang men-“charge” atau mendapatkan kembali energinya saat menyendiri, dan aktivitas yang melibatkan orang lain –khususnya orang yang tidak dia kenal sama sekali– lah yang menghabiskan energinya. Jadi, tak peduli berapa sering seorang introvert berkegiatan dengan banyak orang, akan ada saat dia butuh waktu untuk menyendiri. Sementara, pemalu itu lebih ke sifat yang ditimbulkan karena takut terhadap penilaian sosial yang negatif.

Aku bisa mengatakan ini benar, karena berdasarkan pengalaman pribadiku seringkali setelah aku mengajar di suatu tempat, terlebih saat banyak guru atau murid baru yang terlibat dalam kegiatan belajar, aku lebih suka menghabiskan waktu pulang dengan berjalan sendirian meski memang agak jauh, dan saat sendirian pun aku lebih suka berpikir, berimajinasi, dan bahkan kadang mempertanyakan tentang berbagai hal terkait duniaku, dari fikih islam, energi terbarukan, hal-hal fisis di sekitar, pendidikan, hingga moralitas. Mempertanyakan mana yang benar dan mana yang salah, kenapa harus begini, kenapa itu dilarang, dan berbagai hal lain yang tidak masuk akal kucoba pertanyakan dari sudut pandang orang awam. Kadang aku juga berimajinasi mengenai apa yang mungkin bisa dilakukan untuk memanen energi dari sebuah lokasi atau situasi yang tidak sengaja kutemui di perjalanan, bagaimana membuat seseorang bertingkahlaku seperti apa yang aku atau masyarakat inginkan (meski imajinasi ini akan berlanjut dengan mempertanyakan hak asasi individu), bagaimana menghasilkan tugas dengan hasil yang baik dengan usaha sesedikit mungkin (sampai saat ini diskusi internal dalam kepalaku terhenti di kata “deadline”, hahaha, ada yang mau bantu menambahkan mungkin?😀 ), mempertanyakan bagaimana dampak sosial dan ekonomi jika teknologi yang baru saja kubaca di internet diterapkan di Indonesia, dan banyak lah. Yang jelas, apa yang satu introvert pikirkan belum tentu sama dengan apa yang introvert lain pikirkan, karena kita tertarik pada hal yang berbeda, dan itulah yang menarik untuk dipikirkan. Dan aku sendiri merasa bahwa apa yang kita lakukan –mengeksplorasi pengetahuan apa saja yang kita miliki dan bagaimana perasaan kita terhadap suatu hal– itu menyenangkan.

Kadang introvert lebih memilih menghindar dari sebuah situasi sosial, tapi kalau menurutku (setidaknya diriku secara pribadi) itu lebih tergantung mood sih. Bukan karena kita anti-sosial (ansos) atau tidak memiliki kemampuan bersosial yang baik, juga bukan karena kita depresi atas suatu permasalahan, tapi mungkin memang saat itu energi untuk bersosialisasi dengan orang baru sedang habis dan kita perlu men-charge diri kita, atau memang kita sedang butuh waktu untuk menyendiri dengan hal-hal yang sedang kita pikirkan.

Aku sendiri tidak menganggap kemampuan komunikasiku buruk, setidaknya ada peningkatan yang signifikan dari masa sma dimana aku hanya berbicara dengan teman dekat dan menolak semua ajakan dengan satu kata (“malas” atau “bosan”), hahaha. Tapi memang sampai sekarang pun aku lebih menyukai berbincang dengan kawan yang sudah dekat dibandingkan dengan orang yang masih asing. Dunia sosial introvert memang agak berbeda, dikatakan introvert lebih menyukai bertukar cerita sambil menikmati segelas minuman hangat dengan sahabat dekat dibandingkan ditraktir di restoran mewah dengan banyak orang tapi tidak ada yang dikenal. Soal depresi, entah lah, toh banyak orang lain yang masalahnya lebih besar dan aku juga tidak melihat ada alasan mengapa harus repot-repot mempermasalahkan masalah yang ada, karena aku juga cenderung menganggap masalah yang ada itu biasa saja, bukan hal yang tidak bisa diselesaikan (meskipun karena hobiku dalam procrastinating–menyiakan waktu melakukan hal lain saat ada tugas yang perlu kulakukan, masalah yang ada pun kadang jadi masalah besar. Seperti sekarang, aku malah mengikuti personality test untuk memastikan ke-introvertanku dan menulis artikel di blog ini saat ada ujian siang ini, dan karena fokus belajar itu sulit, hahaha).

Oiya, sebagai introvert ada satu lagi yang menurutku tepat, yaitu introvert kurang lancar dalam berbasa-basi. Entah lah, kadang aku juga merasa canggung atau bingung kalo diajak berbasa-basi, soalnya kurang tau apa yang perlu dibicarakan dalam konteks ini. Kita lebih baik dalam mendengarkan dibandingkan berbicara. Tapi bukan berarti introvert tidak pernah berbicara dengan orang lain, meskipun memang topik obrolan yang menarik introvert itu adalah minat mereka, sebagaimana aku suka membicarakan tentang pendidikan dengan kawan-kawan di SKHOLE, tentang berbagai hal fisis yang terjadi di dunia sekitar bersama kawan-kawan di jurusan Fisika Teknik, juga tentang pertanyaan-pertanyaan aneh dari murid saat sedang belajar, seperti teknologi suku maya, segitiga bermuda dan lain sebagainya.

Ada pernyataan yang menarik dari link diatas, disana dikatakan introvert mengisi sekitar 60% dari populasi orang-orang yang berbakat (atau secara statistik, dari 10 orang berbakat yang kamu temui, 6 diantaramnya adalah introvert), tapi hanya 25-40% jumlah introvert dalam populasi keseluruhan (lagi, secara statistik, dari 20 orang yang kamu temui, hanya 5 sampai 8 orang yang introvert). Atau, kata-kata kesukaanku, introvert adalah minoritas dalam populasi keseluruhan, tapi mayoritas dalam populasi orang-orang berbakat. Senang mengetahuinya, setidaknya ada yang bisa kubangga-banggakan :p

Ada buku menarik yang ditulis Susan Cain dengan judul “Quiet: the Power of Introverts in a World that Can’t Stop Talking.” Ringkasannya bisa dilihat di http://www.npr.org/2012/01/30/145930229/quiet-please-unleashing-the-power-of-introverts atau di http://www.nytimes.com/2012/01/15/opinion/sunday/the-rise-of-the-new-groupthink.html?pagewanted=all&_r=0.

Selama ini, kita selalu punya kekaguman tersendiri terhadap sifat extrovert, setidaknya sampai batasan tertentu. Tapi saat bidang bisnis berkembang pesat seperti saat ini, extrovert lah yang paling diuntungkan. Semua orang tiba-tiba pindah ke kota besar dan melamar pekerjaan, melakukan interview, dan lain sebagainya. Mengutip salah satu link diatas, kita telah berpindah dari apa yang sejarawan budaya sebut “Kebudayaan karakter” menuju “Kebudayaan kepribadian”. Ada yang mengatakan ini disebabkan jumlah film dan bintang film meningkat, menyebabkan kita termotivasi untuk mengikuti orang yang kita kagumi dalam film, yang umumnya memang karismatik dan dapat menarik banyak orang (atau penonton). Saat masa kebudayaan karakter, apa yang penting adalah hal baik apa yang kamu lakukan saat tidak ada orang yang melihatnya. Dari amerika Abraham Lincoln adalah salah satu contoh kebudayaan itu, dan bagi muslim yang membaca ini, bukankah itu juga yang ditekankan oleh Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat seperti Umar radiyallahu anhu saat menjadi khalifah, dimana dikisahkan Rasul memberi makan seorang pengemis buta yang terus menerus mencaci beliau dan Umar berkeliling di tengah malam mencari warga yang merasa tertindas selama kepengurusan beliau? Memang, sebagai orang yang pernah aktif di dunia pengabdian masyarakat, salah satu dunia dimana “Kebudayaan karakter” menurutku masih cukup kuat, hal ini agak sulit untuk diteruskan. Karena saat ini apa yang diinginkan kebanyakan orang adalah untuk menjadi pribadi yang karismatik dan dapat menarik banyak orang, menjadi karakter yang baik namun tidak pernah terlihat mungkin sudah bukan prioritas lagi.

Sayangnya, saat ini pun tempat kerja lebih banyak di-desain untuk extrovert, dengan mengatur agar interaksi antar kelompok terjadi sesering mungkin, meski kadang hal ini dicapai dengan mengurangi privasi dalam kantor itu sendiri. Introvert juga kurang difavoritkan untuk menjadi manajer dalam perusahaan, meskipun ada juga yang berargumen manajer introvert dan manajer extrovert punya kelebihan tersendiri. Manajer introvert dapat memberikan hasil yang baik saat dihadapkan pada karyawan yang proaktif (yah, beruntung lah selama di SKHOLE anggotaku ada yang proaktif, haha) karena introvert dianggap lebih mau mendengarkan saran dan metode serta memaksimalkan potensi karyawan, sementara manajer extrovert dapat memberikan hasil yang baik saat dihadapkan pada karyawan yang pasif karena dorongan dan motivasi yang diberikan mereka untuk melakukan tugasnya.

Padahal, solitude –kesendirian/kesunyian– sering dihubung-hubungkan dengan kreativitas dan kelebihan. Kita sering terpukau dengan karisma seseorang sehingga melupakan bagian yang sunyi saat kreativitas bekerja dalam proses. Seperti dalam perusahaan Apple, yang disebutkan di link diatas, fokus utama dari pemberitaan perusahaan tersebut adalah daya tarik misterius dari Steve Jobs. Padahal ada sosok lain yang tidak kalah penting, Stephen Gary “Steve” Wozniak, yang ramah dan bertindak sebagai “introverted engineering wizard”, yang bekerja keras sendirian demi penemuannya tercinta, Personal Computer (PC).

Mengutip dari web tersebut,

Rewind to March 1975: Mr. Wozniak believes the world would be a better place if everyone had a user-friendly computer. This seems a distant dream — most computers are still the size of minivans, and many times as pricey. But Mr. Wozniak meets a simpatico band of engineers that call themselves the Homebrew Computer Club. The Homebrewers are excited about a primitive new machine called the Altair 8800. Mr. Wozniak is inspired, and immediately begins work on his own magical version of a computer. Three months later, he unveils his amazing creation for his friend, Steve Jobs. Mr. Wozniak wants to give his invention away free, but Mr. Jobs persuades him to co-found Apple Computer.

The story of Apple’s origin speaks to the power of collaboration. Mr. Wozniak wouldn’t have been catalyzed by the Altair but for the kindred spirits of Homebrew. And he’d never have started Apple without Mr. Jobs.

But it’s also a story of solo spirit. If you look at how Mr. Wozniak got the work done — the sheer hard work of creating something from nothing — he did it alone. Late at night, all by himself.

Intentionally so. In his memoir, Mr. Wozniak offers this guidance to aspiring inventors:

“Most inventors and engineers I’ve met are like me … they live in their heads. They’re almost like artists. In fact, the very best of them are artists. And artists work best alone …. I’m going to give you some advice that might be hard to take. That advice is: Work alone… Not on a committee. Not on a team.”

To harness the energy that fuels both these drives, we need to move beyond the New Groupthink and embrace a more nuanced approach to creativity and learning. Our offices should encourage casual, cafe-style interactions, but allow people to disappear into personalized, private spaces when they want to be alone. Our schools should teach children to work with others, but also to work on their own for sustained periods of time. And we must recognize that introverts like Steve Wozniak need extra quiet and privacy to do their best work.

Before Mr. Wozniak started Apple, he designed calculators at Hewlett-Packard, a job he loved partly because HP made it easy to chat with his colleagues. Every day at 10 a.m. and 2 p.m., management wheeled in doughnuts and coffee, and people could socialize and swap ideas. What distinguished these interactions was how low-key they were. For Mr. Wozniak, collaboration meant the ability to share a doughnut and a brainwave with his laid-back, poorly dressed colleagues — who minded not a whit when he disappeared into his cubicle to get the real work done.

Bagi yang kurang mampu berbahasa Inggris dan penasaran tentang sejarah Apple atau Steve Wozniak bisa membuka google translate, karena aku cuma akan membahas quotes dari tuan Wozniak untuk meluruskan, hehe🙂 Para seniman dapat memaksimalkan hasil kerjanya saat sendirian. Bukan bermaksud untuk melupakan segala jenis kerjasama yang dilakukan golongan atau kelompok, karena faktanya, seniman sekaliber Vincent van Gogh pun tidak dimengerti di masanya sehingga hidupnya agak menyedihkan. Beberapa jenis kerjasama juga menyenangkan, menstimulus dan sangat berguna untuk bertukar informasi. Jelas kita butuh orang lain, apa yang menyenangkan dari hidup kalau kita tidak punya orang yang kita suka, orang kepercayaan dan sahabat tempat berbagi? Sebagai manusia, jelas kita membutuhkan satu sama lain, meski memang kita juga membutuhkan privasi dan kebebasan.

Tapi, saat ini pandangan kita terlalu berat sebelah. Kita lebih percaya bahwa semua kreativitas dan hasil yang baik berasal dari kerjasama, padahal dalam beberapa situasi menyendiri mempunyai keuntungan juga. Itu juga yang dikritik di buku Quiet tersebut, bukan masalah extrovertnya, tetapi jika yang ideal hanyalah menjadi extrovert, itu yang perlu disadari.

kuiafui

Dan ada juga beberapa link yang menarik mengenai introvert (meskipun aku tidak merasakan semua ini benar sih, mungkin karena bagian extrovertku juga masih lumayan besar meski tidak dominan):
http://www.huffingtonpost.com/2013/08/20/introverts-signs-am-i-introverted_n_3721431.html
http://www.buzzfeed.com/erinlarosa/problems-only-introverts-will-understand

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s