Count

Count your age by friends, not years.
Count your life by smiles, not tears.
-John Lennon

Iklan

Penilaian

Ini kali keduanya aku menyayangkan kondisi kampusku yang jurusannya kurang banyak. Pertama saat kasus buruh demo terjadi, dan kedua saat dokter demo baru-baru ini. Kampusku ini benar-benar kekurangan jurusan dan profil mahasiswanya banyak yang mirip, akibatnya aku jadi agak kesulitan nyari teman diskusi dalam kasus pro dan kontra gini. Akhirnya soal kasus buruh demo aku dapat pencerahan dari kawanku di program studi di bidang sosial masyarakat di depok dan jogja, sementara kasus kedokteran ini malah lebih banyak mereferensi film karena suka nonton drama kedokteran, dan detail kasusnya juga minta dari anak jogja sih, yang mungkin lebih ngerti, hehe. Tulisan ini sekedar pendapat dari seorang yang kurang memperhatikan dunia sosial tapi penasaran kenapa kasus ini bisa terjadi dan kenapa sampai booming seperti ini, jadi kalau ada pendapat yang dianggap salah, silahkan diluruskan dengan diskusi πŸ™‚

Kadang kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Entah karena terbawa suasana, entah karena teman yang kita kagumi memilih pendapat tersebut, entah karena kita merasa senasib dengan seseorang dari salah satu pihak, entah karena apa, tapi jika saat kita mendengar suatu hal kita langsung mengambil suatu kesimpulan, kelihatannya ada baiknya hal itu ditahan dulu, coba lah caritahu kenapa kedua pihak berpendapat seperti ini. Sayangnya, saat suatu masyarakat terlalu homogen, agak sulit untuk mencaritahu dan berdiskusi mengenai pandangan yang tidak sesuai dengan pandangan masyarakat tersebut. Dan itu lah yang kualami selama beberapa kasus belakangan ini, kesulitan mencari teman diskusi dari sudut pandang yang berbeda.

Yang pertama pada kasus buruh, di kampusku sih jelas, mayoritas gak setuju kalau gaji buruh dinaikkan sampai ke angka 3juta lebih. Banyak alasan yang dikemukakan, mulai dari gaji dosen yang tidak sampai segitu (lebih penting mana antara buruh dan dosen?), urgensi adanya buruh yang mungkin lebih boros dibandingkan dengan berinvestasi pada mesin produksi massal (kalau lebih murah beli mesin daripada mempekerjakan 100 orang buruh, kenapa nggak?), dampaknya terhadap minat investasi di indonesia (kalau gaji buruh tambah mahal, yakin masih banyak investor yang mau buka usaha di indonesia?), harga benda tambah mahal (upah buruh naik berarti biaya produksi juga naik kan?), dampak jangka panjangnya (kalau gaji buruh naik, daya beli masyarakat juga naik, akibatnya permintaan barang akan naik dan kalau supply barang gak berubah kelak harga barang bakal jadi tambah mahal, bukankah ini sama saja dengan usaha mengadakan demo berikutnya?), dan masih ada beberapa argumen sih terkait kenapa gaji buruh gak seharusnya naik sampai segitu, tapi pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat yang paling sering kudengar.

Namun, coba lihat dari sudut pandang buruh juga, dan beruntungnya aku punya teman yang bisa menyadarkan untuk adil dalam menilai. Bagaimanapun, mereka juga berhak hidup layak dan sejahtera, dan dalam kondisi seperti itu mungkin mereka dapat menjadi lebih inovatif dan kreatif. Lagipula, pekerjaan mereka kadang juga mengharuskan terjun ke situasi berbahaya dan resiko kecelakaan kerjanya lumayan tinggi (katanya resikonya lumayan beragam, dari lumpuh hingga meninggal). Dan, bisa jadi laba yang diambil pengusaha terlalu besar dan kondisi kalau pun para buruh gajinya dinaikkan tidak terlalu terlihat pengaruhnya. Lagipula, banyak kok cara untuk mencurangi sistem dan membiarkan para buruh bergaji lebih kecil dari seharusnya, orang yang hobi nonton film kriminal seperti “Leverage” juga mungkin tahu. Mungkin ini gak bakal terlalu berhubungan dengan investor, karena kalau mau investor berinvestasi disini ya berikan kepastian hukum dan perbaguslah situasi untuk berinvestasi, bukan dengan menjual tenaga kerja dengan harga yang murah, kecuali kalau kita pengen selamanya menjadi negara berkembang. Oke, ada satu pertanyaan yang belum terjawab sih, mengenai gaji buruh itu dinilai dari kebermanfaatannya atau kerja kerasnya (karena bisa aja perusahaan langsung ngeganti sama mesin juga kan?), tapi aku lumayan menangkap poin yang dibicarakan.

Dan sekarang kesimpulanku mengenai hal ini adalah, kembali ke hal yang mendasar. Pada dasarnya hubungan antara buruh dan yang mempekerjakannya adalah transaksi jual-beli, dengan benda yang diperjualbelikan adalah tenaga sang buruh. Jadi, jika sang buruh mau naik gaji, tunjukkan lah kalau dia memang pantas mendapatkannya. Kalau sang buruh menyalahi kontraknya, seperti jam kerja harusnya jam 7-11.30 dan lanjut lagi jam 12.30-16 tapi sang buruh masuknya pada jam 8-11 dan lanjut lagi pada jam 14-16, menurutku sederhana, buruh itu keterlaluan kalau minta gajinya tetap dinaikin–kecuali kalau mereka memang dalam kondisi gak sehat akibat dari diforsir oleh perusahaan, itu beda lagi. Dan di sisi yang lain, pengusaha juga seharusnya lebih menempatkan diri pada posisinya, berikanlah upah buruh sesuai dengan yang dijanjikan, dan berikanlah bonus atau tambahan kalau kinerja sang buruh melebihi ekspektasi. Aku sempat diceritain sama dosen pas sebuah mata kuliah kalau itu yang nyebelin dari indonesia, kalau mempekerjakan tenaga kerja asing dan mereka selesai lebih cepat maka mereka dapat bonus berupa bayaran sejumlah sisa hari pekerjaan, sementara kalau tenaga kerja lokal nggak. Belum tahu sih kebenarannya gimana karena belum pernah memeriksa langsung (lulus aja belum), tapi secara logika kalau mempekerjakan tenaga kerja lokal artinya kan lebih enak selesai pada waktunya, kalau begini terus, sampai kapan kita mau jadi negara berkembang?

Dan salah satu yang menyebalkan dari posisi masyarakat sebagai konsumen adalah, mengutip bahasa temanku, kita gak tau mana perusahaan yang memperlakukan buruhnya dengan layak dan mana perusahaan yang tidak. Sebagai konsumen kita hanya melihat pada harga yang tertera pada produk, dan mungkin logo halal pada sebagian produk tentunya. Ambil contoh ada 2 buah sabun batang, sabun A yang harganya Rp2,000 dan sabun B yang harganya Rp2,300. Mungkin dari segi finansial (khususnya bagi mahasiswa dan anak kos seperti saya) kita cenderung memilih sabun A yang lebih murah, tapi bagaimana kalau ternyata harga sabun B lebih mahal dari sabun A karena perusahaan sabun B memberikan kompensasi finansial yang layak bagi para buruhnya, sementara perusahaan sabun B menekan biaya buruhnya sehingga harga sabunnya bisa murah? Well, di dunia seperti sekarang, membedakan mana yang baik dan mana yang buruk tidaklah semudah membedakan mana yang putih dan mana yang hitam lagi ya, terlalu banyak hal yang perlu dipertimbangkan dan kita tidak mengetahui semua fakta di lapangan. Agak menyebalkan mungkin, tapi ini lah kondisi saat ini.

Dan sekarang kasus ini yang terjadi, kasus dokter. Kelihatannya kasus ini sedang booming jadi kronologisnya gak usah dibahas disini lah ya, udah dengar juga kasusnya dari temanku (maklum, gak punya tv dan internet gak terlalu sering buka berita, aku agak apatis memang di dunia maya) dan dari yang kulihat sejauh ini, hal utama yang dipermasalahkan adalah mengenai kebijakan para dokter yang memilih untuk meliburkan diri selama sehari dari mengobati pasien dan berdemo.

Lagi, dari satu sisi, mungkin bisa dikatakan bahwa para dokter mengabaikan kewajibannya disini. Kalau misalnya ada pasien yang luka parah dan tidak terobati akibat dari dokternya melakukan demo, apakah dokter dapat disalahkan? Lagipula, terkait kesalahan prosedurnya juga masih dipertanyakan, ada temanku yang bilang kalau prosedur yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur yang harusnya dilakukan sehingga terjadinya kesalahan harusnya bukan tanggungjawab dari sang dokter, tapi ada juga temanku yang bilang kalau tenaga medis saat ini umumnya tidak mengikuti protokol yang dipelajari selama masa perkuliahan mereka sehingga kesalahan seperti yang terjadi pada kasus ini umum terjadi dan karena itu lah aksi demo ini dilakukan. Dan karena aku tidak tahu apa-apa mengenai kondisi lapangan kelihatannya aku bukan orang yang tepat untuk berbicara mengenai ini, sekedar menyampaikan beberapa pandangan yang ada.

Dan di sisi lain, dokter yang melakukan demo pun tidak bisa sepenuhnya digeneralisasi. Mungkin dokter itu memilih melakukan demo karena dia ingin menolong masyarakat tapi masyarakat malah menyudutkannya (dalam hal ini aku bisa bersimpati pada para dokter, karena aku juga pernah mengalami hal yang sama, ingin menolong sekelompok orang, atau setidaknya seseorang, tapi gak ada yang merasa perlu bantuan. Baru sampai disitu aja rasanya udah gak menyenangkan, gimana kalau ditambah dengan disudutkan?), atau mungkin karena dokter itu yakin bahwa yang dilakukan sang dokter dalam kasus tersebut sudah benar sehingga keputusan menghukumnya tidak dapat diterima, atau karena berbagai alasan lain? Entah lah, ribet, tapi yang jelas dokter juga manusia, dan menurutku wajar kalau mereka merasa kecewa saat profesi yang mereka junjung tinggi itu dianggap rendah atau kotor, toh di kode etik insinyur ada kewajiban untuk menjaga nama baik insinyur, mungkin dokter juga punya tanggungan untuk menjaga nama baiknya. Lagipula, awalnya yang ada di bayanganku tentang malpraktek adalah dokter jahat yang membuat pasiennya sakit biar datang terus ke rumah sakit dan berobat biar dokternya untung, ternyata (setelah googling) definisi malpraktek ituΒ adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional. Entah lah apa kasus ini memang merupakan kasus malpraktek ataupun bukan, karena dunia kedokteran itu benar-benar dunia antara hidup dan mati, dan agak sulit menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Bisa saja sang dokter sudah melakukan yang terbaik dan sesuai dengan prosedur untuk pasiennya tapi pasiennya tetap meninggal. Tapi kalau dari salah satu film yang suka kutonton, “House”, disana dokternya malah terlalu sering melanggar prosedur yang ada, tapi pasiennya banyak yang selamat justru karena prosedur itu dilanggar. Hahaha, dunia kedokteran beneran ribet ya ._.

Oke, terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi pada kasus ini dan apakah dokter tersebut salah atau tidak, sekedar mengingatkan, sebagai orang berpengetahuan dan memiliki kekuatan yang lebih, kita juga pasti akan memiliki tanggungjawab yang lebih. Sebagai calon engineer, aku sadar itu. Seperti halnya dokter, kalau kita salah memasukkan spesifikasi rancangan pada plant atau bangunan, korban bisa jatuh dalam jumlah besar. Tapi bagaimanapun kita tetap manusia yang tidak luput dari kesalahan. Dan seperti yang pernah dosenku katakan, kita pasti akan melakukan kesalahan (terlepas dari akibat ketidaktahuan, kekeliruan atau kecerobohan) dan mengalami kegagalan. Pertanyaannya adalah kapan itu terjadi dan apa yang kita lakukan untuk menyikapinya dan memperbaikinya. With great power comes great responsibility, right? πŸ™‚

Dan meski out of topic aku agak heran, kenapa ya tiba-tiba dalam sebulan ini udah ada dua profesi yang menjadi sorotan berita. Apakah hanya kebetulan atau ada permainan di tahun pemilu ini ya? Hahaha, ah, sudah lah, dari pada berteori mengenai konspirasi lebih baik sibuk membenahi diri agar kesalahan di masa depan dapat diminimalisir, terutama kesalahan yang menyangkut hidup orang banyak πŸ™‚

Well, curhatan malam tentang penilaian yang tidak selalu objektif dari sebuah profesi beres juga. Seperti yang telah dikatakan di awal, penulis cuma anak muda yang awam dan penasaran, dan mencoba untuk melihat secara objektif. Kalau ada kesalahan, silahkan diluruskan dengan diskusi yang membangun, sekedar menuangkan apa yang ada di sudutpandangku, semoga bermanfaat πŸ™‚

Nebula

Ini postingan random sih, ngesearch gambar-gambar nebula yang ada di internet. Tapi harus diakui, gambarnya beneran bagus sih :3 Dan gambar-gambar kayak gini memang memacu imajinasi sendiri, gimana rasanya kalau terbang dan jalan-jalan ke nebula nun jauh disana. Jadi pengen punya teropong bintang sendiri πŸ˜€ Oiya, karena di kuliah etika profesi disebutkan harus menyertakan sumber agar tidak terjerat kasus plagiat, maka beginilah postingannya, hahaha πŸ™‚

Image

http://www.sidleach.com/m16.htm

Crab Nebula

http://wallpaperswide.com/crab_nebula-wallpapers.html

Eagle_nebula_pillars

http://en.wikipedia.org/wiki/Nebula

Lagoon_nebula_SALT

heic0506b

http://www.spacetelescope.org/images/heic0506b/

lrg_foxfur_nebula_ngc2264

http://www.cosmotography.com/images/lrg_Fox_Fur_Nebula_crop_ngc2264.html

M16-Eagle-Nebula

http://scienceblogs.com/startswithabang/2012/09/24/behind-the-galaxys-most-famous-nebula/

M33

http://scienceblogs.com/startswithabang/2013/02/25/messier-monday-the-triangulum-galaxy-m33/

NEBULA NGC 2818 (in our galaxy)

http://www.nebulastone.com/

nebula-over-the-beach-14486-1920x1200

http://www.webutation.net/go/review/superbwallpapers.com

Messier_17_ESO

converted PNM file

http://en.wikipedia.org/wiki/Nebula

phoenix_nebula

http://vuni.net/

101_baltoji_nykstuke

http://www.technologijos.lt/n/mokslas/astronomija_ir_kosmonautika/S-17920/straipsnis?name=S-17920

Planetary_Nebula_M2-9

http://dic.academic.ru/dic.nsf/ruwiki/1637411

rosette_lula_1700

http://apod.nasa.gov/apod/ap110214.html

Dan gambar-gambar berikutnya dariΒ http://thatscienceguy.tumblr.com/post/49314737944:

tumblr_mm3ea2TlRf1s6r1vho2_1280

Butterfly Nebula

Orion Nebula

Omega Nebula

For my part I know nothing with any certainty, but the sight of the stars makes me dream.
-Vincent van Gogh-

Guess I understand how that feels like πŸ™‚

Marah

Hari ini bener-bener tidak terprediksi lah, pas praktikum sebuah mata kuliah tadi, ada sebuah kejadian yang bikin dosenku marah. Padahal dosen ini bukan tipikal orang yang suka (atau pernah terlihat) marah.

Jadi, saat itu ada 3 kelompok praktikum, kelompokku yang sedang membereskan sisa-sisa praktikum dan 2 kelompok yang sedang mulai praktikum, tapi kasusnya beberapa anggota kelompok itu terlambat, dan saat praktikum pun ada beberapa orang yang tidak punya pekerjaan. Lalu, dosenku itu mengumpulkan mahasiswa yang sedang praktikum ke tempat di dekat kelonpokku dan berkata kira-kira seperti ini (agak lupa redaksi lengkapnya)

Kalian disini mau praktikum dengan serius? Kalau terus telat seperti ini, nanti waktu praktikum kita kepotong shalat jumat lagi, lama lagi jadinya. Kalau kalian nggak serius, lebih baik pulang saja. Toh saya juga ngajar disini karena saya bosan ngeliat kualitas tugas-tugas akhir yang sampah seperti yang sudah-sudah.

Harusnya kalian mensyukuri kesempatan ini untuk belajar, bukan cuma bengong ngeliatin teman kalian ngerjain. Soalnya kalau bukan sekarang, kapan lagi kalian mau belajar? Pas sudah masuk perusahaan besar? Pas sudah lulus dengan ipk yang bagus? Bullshit itu.

Udah, sekarang kalian buka laptop masing-masing dan cobalah kerjakan apa yang ada di modul

Setelah itu, mahasiswa di ruangan itu langsung diam dan nurut semua. Entah tersindir kata-katanya, atau mungkin juga kaget dan takut ngeliat dosen yang biasanya baik, penyayang dan pengertian bisa menyampaikan kalimat yang *jleb* gitu, meski tanpa meninggikan suara tapi kelihatannya beliau memang marah.

Tak lama kemudian, setelah kami selesai membereskan praktikum, temanku bertanya, tadi dosen itu marah ke kita juga nggak ya? Soalnya pada awalnya aku juga terlambat, meski syukurnya di kelompokku nggak ada yang sempat gabut. Tapi bagaimanapun, mendengar kata-kata itu dari dosen seperti beliau rasanya jleb banget sih. Kelihatannya benar, orang yang jarang marah itu punya wibawa lebih saat marah.

Setiap orang punya hak untuk marah, tergantung pada apa yang orang tersebut anggap penting, dan pada seberapa parah orang tersebut merasa kecewa. Dan kelihatannya ini memang alasan yang valid untuk marah, bagaimanapun juga jika mahasiswanya seperti ini, masa depan seperti apa yang bisa kita harapkan? Bukankah (seharusnya) mahasiswa itu menjadi agen perubahan, pengganti sosok penting di masyarakat, contoh yang dapat ditiru dan penjaga nilai-nilai baik pada masyarakat? Masihkah hal ini berlaku?

Yah, setidaknya biarlah ini menjadi sindiran dan motivasi bagi kaum mahasiswa, terutama bagi para mahasiswa senior yang sedang bersiap meninggalkan tempat perkuliahan menuju dunia nyata. Kalau begini terus, yakin bisa mengubah dunia sesuai dengan ideologi yang masih tersisa? Kalau begini terus, yakin bisa bertahan di dunia nyata? Kalau begini terus, yakin setelah lulus masih ada manfaat yang bisa kita berikan?

Kalau belum yakin, yuk mulai berubah, tak perlu drastis, perlahan saja, membenahi diri agar kita lebih yakin. Berhenti jadikan jam karet sebagai kebudayaan dan mulai tertarik atau serius dalam menekuni pelajaran mungkin akan jadi awal yang baik bagi kita. Karena waktu yang tersisa bagi kita sebelum terjun ke dunia nyata tidaklah lama, karena itu mulailah berubah, agar pertanggungjawaban kehidupan kita nantinya juga lebih mudah, semoga πŸ™‚

Dua Pekan Terakhir Perkuliahan

Dua pekan terakhir perkuliahan disini itu selalu jadi pekan dimana semua tugas menumpuk dan menunggu untuk dikumpulkan. Jadi, jika dibuat grafik jumlah tugas terhadap waktu, sekarang adalah titik puncaknya. Gak selalu menyenangkan memang, justru kadang cenderung menyebalkan kalau tugasnya terlalu banyak dan kita malah bingung mau ngerjain tugas yang mana dulu. Kadang skenario ini berakhir pada situasi deadline dan gak ada tugas yang beres karena tidur dan abai lebih menyenangkan, hahaha.

Tapi harus diakui, 2 pekan ini juga biasanya merupakan pekan yang penuh dengan hidayah, pintu-pintu ilmu terbuka lebar dan setiap usaha menerima ganjarannya. Sebagai bagian dari angkatan anomali (dalam beberapa hal, 2010 menyalahi standar yang telah dibuat oleh para senior, terutama saat tpb tahun lalu, haha), kita (atau setidaknya, aku) benar-benar mengambil hikmah dari sebuah cerita rakyat, “kalau 1000 candi bisa dibuat dalam 1 malam, kenapa tugas-tugas ini tidak?” Kelihatannya bukan ini nilai moral yang ingin disampaikan oleh generasi zaman dahulu, tapi kalau nilai ini yang kudapatkan mau bagaimana lagi? Oke, pelajaran hari ini, berhati-hatilah dalam menyampaikan sebuah cerita, karena hikmah yang diambil mungkin berbeda.

Tiap orang berbeda, aku punya sahabat yang menyukai kondisi sibuk karena itu membantunya belajar mengendalikan diri dan waktu. Berbeda denganku yang memilih untuk tidak terlalu menganggap serius sebuah masalah dan menikmati kehidupan, meski tetap akan mempertanggungjawabkannya kalau ada yang perlu dipertanggungjawabkan. Hei, kehidupan cuma sekali kan?

Dan selama 7 semester aku kuliah disini, ini pekan pertama aku menghabiskan 8 jam di lab, berusaha untuk menyelesaikan tugas, atau setidaknya mendapat bahan untuk didiskusikan pada sebuah mata kuliah. Ini pekan, atau setidaknya 3 hari pertama, saat aku benar-benar belajar mempelajari cara untuk mengendalikan jadwal dan menyelesaikan tugas tepat pada waktunya–seabstrak apapun pemahamanku terhadap tugas tersebut, belajar untuk mandiri dalam belajar dan motivasi diri, belajar menggunakan web browser sebagai sarana belajar yang efektif, dan belajar banyak mengenai beberapa bidang keilmuan spesifik dari program studiku yang sangat luas. Tidak terlalu menyenangkan memang, tapi kelihatannya orang yang terlalu banyak bersantai sepertiku membutuhkannya πŸ™‚

Dan kelihatannya akan ada banyak keilmuan kuliah yang dapat kubagi disini saat sudah menemukan waktu untul membaginya. Percayalah, aku gak salah memilih fisika teknik sebagai program studiku. Memang pelajarannya gak mudah, dan gak semuanya menyenangkan untuk dipelajari, tapi dengan menjalankan semua itu justru banyak pelajaran yang kudapat. Dan kegiatan pembelajaran ini benar-benar menyenangkan bagiku πŸ˜€

Dan aku juga semakin menyadari kondisi yang ada. Sebagai mahasiswa tingkat 4 (yang sering merasa ketuaan meski umurnya pun belum kepala dua), sebentar lagi akan tiba masaku untuk melanjutkan kehidupan, baik itu melanjutkan studi ke Strata-2 maupun bekerja. Dan itu akan menjadi masa dimana setiap mata kuliah yang telah diambil untuk dipertanggungjawabkan, baik sebagai pre-requisite mata kuliah di Strata-2 ataupun diaplikasikan dalam dunia nyata. Dan, sebagai seorang insinyur keteknikan, yang cepat atau lambat karyanya akan diaplikasikan pada masyarakat, mungkin kesalahan sekecil apapun akan berpengaruh besar pada masyarakat. Dan kelihatannya aku juga gak bisa terus-terusan malas, acuh dan abai begini terhadap keilmuanku kan? Semoga cepat mendapat waktu luang lah untuk membagi ilmu yang kudapat 2 pekan ini, toh cara terbaik untuk mengikat ilmu adalah dengan menuliskannya πŸ™‚

Yah, mungkin memang kesibukan itu tidak selalu menyenangkan, tapi bagaimana kita bisa menghargai waktu luang kalau kita tidak pernah mengalami tekanan ataupun kesibukan? Bukankah ini memang sebuah nikmat yang sering sekali disia-siakan? πŸ™‚

Scrooge McDuck

Scrooge McDuck

Nemu fan art yang keren dari kawan haha. Sebagai salah satu Tokoh Kartun yang menemain masa kecilku, aku jauh lebih menyukai Scrooge McDuck (nama dalam Bahasa Indonesianya adalah Paman Gober) yang masih muda, saat dia masih sosok yang gigih dan pekerja keras. Saat sudah tua kelihatannya sosok ini jauh lebih menyebalkan, suka marah-marah, sibuk menjaga kekayaan dan mandi di kolam uang.

Doctor Who

Tema google hari ini bagus juga, ulang tahun ke-50 dari serial TV BBC berjudul Doctor Who πŸ˜€ Gamesnya juga lumayan, menggunakan Doctor untuk mengambil huruf-huruf penyusun kata GOOGLE dengan menghindari musuh bebuyutannya, Dalek. Sayang serial TV sains-fiction ini belum terlalu terkenal di Indonesia, sedikit perhalusan dari fakta bahwa acara ini memang nggak terkenal disini, haha. Berhubung hari ini adalah ulangtahunnya ke-50, yang akan berlangsung pada pukul 17:15 waktu GMT tepatnya, setidaknya aku akan mencoba menjelaskan acara apa ini menurutku. Oh, sekedar info, kalender masehi yang digunakan pada tahun 1963 sama dengan kalender masehi yang akan digunakan pada tahun ini πŸ™‚

Doctor Who

Doctor Who adalah serial TV yang diputar BBC dengan genre science-fiction, mengangkat tema kehidupan seorang alien dari ras Time Lords atau Pengendali Waktu yang memanggil dirinya “Doctor”–setidaknya begitu lah dia memanggil dirinya, dan begitu juga orang-orang lain memanggil dirinya. Dia memiliki kemampuan untuk melakukan regenerasi, yang akan mengubah dirinya menjadi orang yang benar-benar berbeda saat kondisi kesehatannya sudah sangat parah, itu caranya “mencurangi kematian”–dan itu juga yang menyebabkan serial ini masih ada sampai sekarang, setiap saat aktor pemeran “Doctor” akan mundur, maka “Doctor” akan melakukan regenerasi dan diperankan oleh aktor baru. Setelah melakukan regenerasi pun sang “Doctor” akan memiliki wajah, kepribadian, sifat, dan selera yang berbeda. Namun, dia tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang dia pegang, nilai-nilai sebagai seorang “Doctor”. Baginya, nama adalah sebuah janji yang harus dia laksanakan, karena itu pada umumnya, dia bertingkah seperti layaknya seorang “Doctor”, sebagai penyembuh, atau sebagai orang bijak. Saat ini regenerasi yang dia lakukan sudah mendekati selusin, atau mungkin lebih, dan sekarang adalah giliran Matt Smith dalam memerankan “Doctor” kesebelas.

Eleventh Doctor

Dia memiliki alat transportasi bernama TARDIS, singkatan dari Time And Relative Dimension In Space, kombinasi dari pesawat luar angkasa dan mesin waktu dengan bentuk unik, kotak polisi berwarna biru. Meski kelihatannya kecil, namun pintu masuk kotak biru ini merupakan gerbang menuju dimensi lain yang jauh lebih luas dan dapat digunakan untuk berpindah waktu dan tempat dengan cepat. Alasan kenapa menggunakan kotak polisi berwarna biru masih belum diketahui, tapi idenya unik juga. Siapa yang menyangka bahwa benda-benda di sekitar kita yang umum kita lihat (pada zaman dahulu kotak polisi berwarna biru mudah ditemukan di daerah Inggris) memiliki kemampuan melebihi apa yang kita kira?

TARDIS-Blue Police Box

Salah satu alasan utama aku menyukai serial ini adalah karena ini adalah pertunjukan mengenai dua hal yang aku suka dan sering kupertanyakan, sains dan moralitas. Ini adalah tempat yang tepat untuk melihat tentang salah satu kemungkinan bayangan teknologi di masa depan akan jadi seperti apa, kemungkinan mengendalikan gelombang suara untuk membuka pintu atau memeriksa kesehatan makhluk hidup, tamasya ke segala tempat di zaman apapun, material yang sangat kuat dan tidak dapat ditembus, dan lain sebagainya. Dari segi moralitas, serial ini menunjukkan kredibilitas sang aktor dalam menunjukkan keseriusan sang “Doctor” menepati janji sebagai namanya, sebagai orang yang selalu menolong, bijak dan berusaha menyembuhkan situasi yang ada.

Oiya, serial ini berbeda dengan Star Trek dan Star Wars. Meskipun sama-sama mengangkat tema mengenai luar angkasa dan penjelajahan, atau perang dengan ras lain, Doctor Who menurutku memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap hal-hal seperti ini.Β “Doctor” cenderung memilih untuk lari dari masalah, tidak menyukai aksi kekerasan dalam bentuk apapun, dan sangat jarang terlibat dalam peperangan. “Doctor”, setidaknya dalam serial yang baru di-reboot pada tahun 2005 ini, selalu memberikan pilihan bagi orang-orang yang dia hadapi, untuk pergi dan melupakan rencananya atau hancur saat bertarung, bukan hal yang umum ditemui dalam medan perang. Tokoh “Doctor” pun digambarkan sebagai sosok yang memiliki kegelapan tersendiri yang tidak dimengerti oleh para teman-teman perjalanannya. Ide bagi para musuh “Doctor” pun beragam, dan kadang menyeramkan. Seperti Dalek yang merupakan otak jahat dan bersembunyi dalam baju besi yang kuat (oke, bentuknya memang aneh, dan mungkin gak menyeramkan, tapi serial ini menggambarkannya lumayan menyebalkan), dan hanya punya keinginan untuk menghancurkan segala hal yang berbeda. Bagaimanapun, agak menyeramkan kalau tiba-tiba kita menemukan sosok orang dengan kepribadian seperti itu, menghancurkan semua orang lain hanya karena mereka berbeda, kan? Entah bagaimana, Doctor Who lebih menggambarkan mengenai hal-hal yang mungkin, atau sudah terjadi di dunia nyata. Cerita ini juga melibatkan tokoh-tokoh yang pernah ada, seperti Ratu Elizabeth, Winston Churchill, Vincent van Gogh, Agatha Christie dan masih banyak lagi. Selain itu, serial yang lebih senior dari Star Trek dan Star Wars ini juga kadang menjadi referensi dari kedua serial tersebut.

Dalek

Awalnya, serial ini ditujukan bagi anak-anak. Aku pernah menonton dua seri episode awal dari Doctor Who, seri episode pertama mengenai kegunaan api di sebuah suku saat zaman purba, dimana pemimpin dari suku tersebut adalah orang yang dapat membuat api. Cerita ini muncul setahun setelah kejadian “Cuban Missile Crisis” pada 1962, dan menggunakan “api” sebagai metafor dari “senjata atomik”, yang dapat membawa manfaat ataupun kehancuran massal, tergantung pada penggunaannya. Seri episode kedua adalah pengenalan “Doctor” kepada ras alien yang akan menjadi musuh bebuyutannya, yaitu “Dalek”. Dalek merupakan ras yang tidak menyukai (atau takut) kepada semua hal yang berbeda, akibatnya mereka memutuskan untuk menghancurkan semua hal yang mereka anggap berbeda di semesta ini. Ada yang tahu kaum apa yang menjadi inspirasi bagi alien Dalek ini? Bagi yang belum dapat menebak, Dalek ini terinspirasi dari kelompok “Nazi”, dengan argumen bahwa semua anggota dari ras tersebut memiliki pemikiran yang sama, tidak menyukai perbadaan dan komunis. Aku tidak terlalu menangkap permasalahan dengan komunis, meski mungkin ini memang salah satu kampanye BBC untuk memenangkan ideologi liberal pada saat itu, tapi bagaimanapun, sejarah mengenai kaum Nazi bukanlah suatu hal yang baik. Oiya, tapi aku pun tidak terlalu menganjurkan untuk menonton serial yang jadul tersebut kalau mau having fun, karena jujur, aku sendiri menganggap acting beberapa tokoh saat Doctor Who baru diputar itu jelek, apalagi yang memerankan Susan–cucu dari “Doctor”. Aku merekomendasikan serial hasil reboot yang jauh lebih baik dibandingkan dengan serial zaman dahulu, special effectnya pun lebih keren, namun kalau mau mengetahui story line sesungguhnya dari kehidupan “Doctor”, silahkan cari file film zaman dulu tersebut πŸ™‚

Dalek's Inside

Dan sekarang, serial ini telah di-reboot, setelah berhenti pada akhir tahun 1989, dan dilanjutkan dengan film Bioskop pada 1996, serial ini ditayangkan lagi pada tahun 2005. Dan hasil reboot serial ini pun menjadi lebih terkenal dibandingkan serial ini pada zaman dahulu, yang hanya dapat membangun basis fans pada wilayah Britania Raya saja. Sekarang, Doctor Who juga menjadi serial TV BBC terpopuler di Amerika. Meski memang basis story line, atau garis ceritanya agak rumit karena sang “Doctor” dapat berpindah ke waktu kapanpun dan tempat manapun, namun nilai-nilai yang dibawa, pertualangan dan kisah hidupnya–salah satu yang paling membedakan serial Doctor Who pada zaman dahulu dan saat ini adalah kehidupan asmaranya, dimana dahulu “Doctor” digambarkan sebagai sosok yang tidak peduli dengan urusan asmara dan sekarang menjadi sosok yang lebih terbuka dan peduli, mungkin pengaruh dari generasi galau saat ini yang menyukai sikap romantis–yang memang keren.

Time and Space

Malam ini serial “Doctor Who” akan memutar episode spesial 50 tahunnya, dengan judul “The Day of the Doctor”. Berdasarkan spoilernya, episode ini terkait dengan masa lalunya yang kelam saat terjadi Time War antara kaum Time Lord dan Dalek, kelihatannya menarik :3

Doctor Who Logo

Dan kalau para pembaca belum pernah menontonnya, percaya lah, serial ini seru untuk diikuti. Meski memiliki ciri khas kaum cendekia barat yang mengingkari adanya Tuhan, dan kuakui beberapa hal mungkin kurang berkenan dalam kebudayaan timur, namun nilai yang dapat diambil pun lumayan banyak. Bagaimanapun, kita dapat mengambil hikmah dari mana saja, bukan? Mari kita lihat apakah kelak serial ini bisa menjadi populer di Indonesia atau tidak, setidaknya lebih menyenangkan saat kita punya teman untuk melakukan keanehan bersama-sama πŸ™‚