Memaknai Tahun Baru Hijriyah

Postingan ke-133, yay!😀

Selamat tahun baru hijriyah bagi yang merayakan.

Tahun baru, baik masehi ataupun hijriyah, dianggap sebagai momen yang penting, dan banyak orang yang membuat resolusi tahun baru di awal tahun. Kedua tahun baru ini juga dijadikan sebagai hari libur, entah agar resolusi dapat dibuat dengan lebih khusyuk atau agar kita memulai tahun dengan bermalas-malasan. Yah, semoga awal dari tindakan kita dalam mewujudkan resolusi kita bukanlah kegiatan bermalas-malasan seperti itu ya🙂

Oiya, dalam kasus ini, aku tidak akan membahas tahun baru imlek, tahun baru saka dan tahun baru dalam sistem-sistem penanggalan lain karena keterbatasan pengetahuan terkait budaya pada masyarakat yang menggunakan sistem penanggalan tersebut, hanya pikiran asal tentang tahun baru hijriyah dan masehi saja.

Sampai sekarang, aku masih belum mengerti urgensi kedua tahun baru (masehi dan hijriyah) dan ulang tahun dirayakan, aku memang tidak termasuk orang-orang yang merayakan ketiga hari itu. Aku juga mencoba memahami argumen-argumen dari beberapa kawan yang antusias menyambut momen ini, dan tetap belum mengerti.

Karena ini merupakan kesempatan untuk membuka lembaran baru? Yaaa, tiap hari juga merupakan hari yang baru sih, bahkan tiap detik juga merupakan detik yang baru, dan jelas kalo mau membuka lembaran yang baru harusnya gak perlu menunggu momen tahun baru atau ulang tahun juga.

Karena ini merupakan hal istimewa yang terjadi hanya sekali tiap tahun? Cobalah rayakan ulang tahun dimana tanggal, bulan dan harinya sama dengan tanggal, bulan dan hari lahir kita, itu hanya terjadi 3 kali dalam 28 tahun (siklus kalender berulang tiap 11 tahun, 11 tahun dan 6 tahun karena pengaruh tahun kabisat), jelas lebih istimewa bukan?

Bagaimanapun, harus diakui bahwa tahun baru merupakan momen yang tepat untuk membuat resolusi, targetan yang ingin dicapai atau dilaksanakan selama setahun kedepan. Memang aku bukan orang yang terlalu antusias dalam menyambut tahun baru, karena aku menyambut hari libur dengan menonton film, main game dan bermalas-malasan, haha. Tapi aku sendiri pernah membuat sebuah resolusi pada tahun baru masehi 2009 silam, dan sampai sekarang itu satu-satunya resolusi yang pernah kubuat saat tahun baru. Resolusinya tentang apa biar jadi rahasiaku, yang jelas aku tau ini resolusi yang baik.

Tak lama setelah melakukan perubahan berdasarkan resolusi itu, diskusi terkait ikut-ikutan merayakan tahun baru lumayan ramai di internet. Dan aku pun memang sempat berpikir ulang terkait resolusiku tersebut. Bid’ah karena mengkhususkan momen atau mengikuti kaum yang tidak sejalan? Yaa, kan jelas perubahannya menuju kearah yang lebih baik, lagian kalo dapat tekad atau hidayah buat berubahnya memang kebetulan barengan sama momen khusus kaum lain, apa yang salah? Dan Alhamdulillah efek dari resolusi itu masih bisa kurasakan dan masih berpengaruh dalam kehidupanku sampai sekarang.

Mungkin ini salah satu kesalahan kita, kita mengadakan hari besar tanpa pemaknaan. Kita tidak mengerti mengapa sebuah hari diliburkan. Jika orang-orang memaknai idul fitri sebagai hari saat kita kembali ke dalam keadaan yang suci, saat kita telah berhasil mengendalikan hawa nafsu, mungkinkah saat ini kasus tindak kriminal di jalanan masih banyak jumlahnya jika orang-orang ingin mempertahankan keadaan sucinya dan tetap mengendalikan hawa nafsunya? Jika orang-orang memaknai tahun baru sebagai ajang untuk berubah, melihat ada satu tahun penuh yang dapat dimaksimalkan untuk berkarya, mungkinkah hidup orang-orang akan menjadi lebih bermanfaat?

Entah lah, bagaimanapun juga aku hanya manusia yang bisa berandai-andai apakah dunia bisa menjadi lebih baik jika orang-orangnya begini dan begitu. Sulit untuk mengetahui asumsi kita benar atau salah jika kondisi yang kita bayangkan tidak pernah terjadi dalam dunia nyata, bukan?

Mungkin sampai saat ini aku memang belum mengerti urgensi untuk merayakan momen seperti ini, tapi pemikiran dan tulisan asal malam ini kelihatannya mengharuskanku untuk lebih memaknai momen-momen yang ada. Karena itu, izinkan aku merevisi pernyataan awalku.

Tahun ini baru saja dimulai, masih banyak waktu untuk berkarya, memberikan manfaat, berbagi, berkreasi dan beraktivitas di tahun ini. Selamat memanfaatkan tahun ini dengan sebaik mungkin, jadikan lah tahun-tahun lalu sebagai pelajaran agar tahun ini berjalan lebih baik bagi kita semua. Selamat berkarya kawan!😀

2 pemikiran pada “Memaknai Tahun Baru Hijriyah

  1. Happy islamic new year 1435h!^^ Semangat berkarya~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s