Seliter Cahaya

Yak, berhubung malam ini juga sedang gencar publikasi ITB Insight, mungkin aku juga akan berbagi pengalaman tentang apa yang terjadi hari ini di program Liter of Light.

 

Liter of Light adalah program dalam rangkaian acara dies ke-60 Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik-Institut Teknologi Bandung, dimana kita ingin mensosialisasikan penggunaan lampu botol (atau Solar Bottle Light Bulb, bagi yang belum tahu bisa lihat video youtube http://www.youtube.com/watch?v=_zMAWztZ6TI terkait aplikasi lampu botol di negara lain. Terkait latar belakangnya juga bisa dilihat di http://www.itbinsight.com/pengabdian-masyarakat/ tentang gerakan tersebut, sekalian promosi acara itb insight) ke masyarakat yang bertempattinggal di pemukiman yang padat (sehingga memerlukan pencahayaan dari lampu pada siang hari) dan dari segi ekonomi tergolong kurang mampu. Setelah proses survey yang cukup panjang, akhirnya diputuskan dua lokasi yang lumayan sesuai dan terjangkau dari kampus ganesha dengan kategori tersebut adalah Cicukang dan Kampung Jamika.

 

Lampu botol ini memang tergolong sederhana. Ini hanyalah botol aqua 1.5 liter yang diisi air hingga hampir penuh, kemudian sedikit ditambahkan pemutih agar air di dalam botol tidak cepat kotor (seperti karena lumut) dan juga agar cahaya matahari yang diteruskan lampu botol itu lebih terang. Lampu ini memang fungsinya adalah meneruskan cahaya dari matahari masuk langsung ke dalam rumah. Kemudian lampunya dibor untuk dimasukkan ke atas atap dan dilapisi dengan lapisan anti air (aquaproof) agar atap rumah tidak bocor saat hujan.

 

Ok, kembali ke acara. Pagi ini dimulai dengan agak kosong, karena aku datang ke tempat yang salah, menunggu di depan kubus saat yang lain briefing di himpunan. Dan baru sadar salah tempat saat anak-anak hmft pada jalan ke kubus, jadinya gak ikut briefing, haha. Lalu, akhirnya pas ketemu sama anak-anak himpunan, masih harus nyari petinggi acaranya dulu buat tanya-tanya jobdesk. Habis ketemu, barulah ngobrol soal acara. Berdasarkan pembagian tugas yang lama, aku masuk ke tim yang dikirim ke cicukang, dan karena waktu itu gak ada yang bawa pembagian tugas yang baru, akhirnya aku tetap ke cicukang. Setelah ketemu baru lah mulai sibuk (baca: panik), terutama sibuk nyari helm sih, karena tiba-tiba mau jalan dan helm kurang satu.

 

Buru-buru lah nyari helm, ke Salman, angkatan-angkatan tuanya pada gak ada, dan angkatan muda yang dikenal gak banyak (efek kelamaan off dari salman dan keterusan lah ini, haha) dan kebetulan gak ada yang bisa minjemin helm. Yah, balik ke kosan deh, setidaknya teman-teman kosan pada punya dan udah biasa minjemin kok. Dan, akhirnya terpaksa aku balik ke kosan. Uniknya, di perjalanan balik, ada ibu pemilik warung yang manggil aku. Mungkin heran ya ngeliat ada orang yang dari pagi kerjaannya bolak-balik, terus akhirnya ngobrol sebentar. Aku sebenarnya udah sering berbalas sapa dengan beliau, tapi gak dekat banget sih. Terus ibu pemilik warung itu nanya “mau kemana, cep?”, dengan singkat dan mungkin kurang sopan karena buru-buru pun aku menjelaskan aku mau minjam helm dari kosan buat jalan ke cicukang untuk acara ini. Dan ibunya malah bilang gini, “ooh, ya udah, pake helm ibu aja ya cep” dengan nada yang pelan tapi tulus, kemudian beliau memanggil suaminya dan aku dipersilahkan meminjam helm dari keluarga itu.

 

Agak menyesal jadinya atas penjelasanku yang kurang berkenan tadi, apalagi malah ibu pemilik warung ini sampai minjamin helm segala. Yah, pelajaran pertama hari ini, jaga sikap. Setidaknya kalo kejadian kayak gini keulang lagi, gak bakal ngerasa bersalah kayak gini lah🙂

 

Ok, setelah semuanya siap, angkot yang tujuannya ke kampung jamika diberangkatkan duluan, karena angkot yang tujuannya ke cicukang masih ada urusan sedikit. Dan, setelah itu ada anak himpunan yang nanya kenapa aku gak ikut pergi ke Kampung Jamika, dia pegang list pembagian tugas yang baru dan ternyata aku dipindah. Ah, sudah lah, berpikir positif aja, pasti ada alasan segala sesuatu ini terjadi kan?

 

Dan ternyata benar, aku sama sekali gak menyesali kepergianku ke cicukang. Acara dimulai dengan manggil-manggilin warga dan jajan roti isi es krim rasa stroberi, sekalian meningkatkan pendapatan penjaja makanan di cicukang lah ya, hehe. Lalu acara dibuka secara formal dengan sambutan dari dosen dan warga, yang dilanjutkan dengan proses pembuatan lampu botol tersebut. Namun, kebetulan ada masalah karena tukang yang seharusnya hadir untuk menjebol genteng saat pemasangan lampu botol tidak hadir, aku pun ikut kerja mencari tukang yang bisa diajak kerja bareng dari warga.

 

Meskipun lampu botol ini bukan teknologi yang baru ataupun teknologi yang tidak terkenal, namun para warga antusias sekali dalam membuatnya, setidaknya begitulah pengamatanku secara sekilas. Mungkin memang tidak banyak warga yang ikut dalam proses pembuatan lampu ini, namun saat aku berkeliling mencari tukang yang dimaksud, banyak juga warga yang bertanya tentang lampu botol ini dan bagaimana cara membuatnya. Dan saat menjelaskan pun aku senang saat melihat mereka yang bertanya-tanya tentang lampu botol, bahkan ada yang berkata “oh, lampunya gini cep?” dengan nada nggak percaya. Yaaa, mau diapain lagi, lampunya emang gak sesulit dan semahal jenis led sih, tapi lumayan laah.

 

Dan disini ada kejadian unik lagi, setelah aku sosialisasi singkat mengenai lampu itu, beberapa warga malah inisiatif manggil tukang yang udah berpengalaman yang tinggal di dekat tempat kita ngobrol tadi. Belajar dari kejadian pagi tadi, lebih bersyukur lah😀 Dan gak lama kemudian, tukang yang dimaksud pun ketemu. Dan setelah ngobrol beberapa lama. syukur lah beliau bersedia bantu kita masang lampu botol itu.

 

Kembali ke acara, gak lama kemudian setelah lampu botol yang sudah tersusun lumayan banyak, waktunya mulai memasang. Kebetulan kita punya 2 buah bor buat ngebolongin atap warga, jadi tugas masang dibagi 2 kelompok. Awalnya aku cuma bantu ngebagi dan ngondisiin kelompok buat shalat dzuhur (karena katanya gak ada kerjaan lagi selain nunggu 2 kelompok awal ini beres), tapi setelah beres shalat dzuhur, di saat anak-anak yang lain pada balik ke tempat awal, aku malah diajak sama beberapa kawan yang jadi panitia inti buat ngecek kondisi salah satu kelompok yang gak ditemani panitia inti, kelompok kedua.

 

Akhirnya kita pun nyari rumah yang dituju kelompok kedua, dan kita pun nyasar. Percayalah, peta daerah ini bukan hal yang mudah untuk diingat bagi orang yang baru pertama kali berkunjung ke daerah ini. Kita nyasar berkali-kali, bolak-balik, sampai akhirnya menemukan seorang warga yang tau rumah mana yang kita tuju. Beneran harus banyak bersyukur lah ini, pertolongan dari warga atas kehendak Allah sangat berlimpah :’)

 

Setelah ketemu, akhirnya malah kita yang bantuin ngebor atap, atau tepatnya satu temanku ngebor atap sementara aku dan anggota kelompok yang lain ngomentarin dan ngasih instruksi, hahaha. Lumayan lama sih prosesnya, tapi ketika ngeliat hasilnya beneran gak jelek. Penerangannya bahkan menurutku jauh lebih bagus daripada lampu pijar yang dipakai di rumah itu (katanya memang setara dengan lampu fluoroscent 55W kalau gak salah), dan kita yang ngerjain (dan ngeliatin) sangat bangga atas pencapaian ini.

 

Dari dulu aku gak pernah ragu kalau Fisika Teknik itu jurusan yang keren, tapi baru kali ini aku dapat kesempatan buat menunjukkan kekerenan itu ke masyarakat luas🙂

 

Sayangnya, waktu yang terbatas hanya memungkinkan kita menyelesaikan pemasangan lampu di dua rumah dari target awal lima rumah. Akhirnya, lampu-lampu yang sudah jadi itu pun kita berikan langsung ke warga untuk mereka pasang sendiri. Memang gak sesuai sama rencana sih, tapi aku sudah puas banget kok sama apa yang telah kita lakukan hari ini.

 

Sebagai mahasiswa engineer (teknik), kita belajar banyak soal teknologi, dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang murah sampai yang mahal, tapi gak banyak pengetahuan-pengetahuan ini yang kita bagikan ke masyarakat. Padahal, mungkin ada teknologi yang kita pelajari yang murah dari segi biaya, mudah dari segi teknis dan bermanfaat bagi masyarakat, tapi sayangnya tidak banyak informasi mengenai teknologi seperti itu yang sampai pada masyarakat. Kenapa ya?

 

Terkait ini, ada temanku (atau mungkin dosen temanku) yang nyindir, “calon engineernya banyak, tapi kok bangsanya gini-gini aja? udah berguguran sebelum melepas titel ‘calon’ ya?” Yah, memang sih, kalo bangsanya gak berubah-berubah juga meski engineernya banyak, manfaat atau bahkan keseriusan kita dalam menjalankan profesi sebagai engineer jelas akan dipertanyakan.

{sumber: http://kacamatazia.wordpress.com/2013/08/06/calon-engineer-wejangan-yang-menampar/ }

 

Hari ini, banyak warga yang sudah tahu bagaimana cara untuk membuat lampu tersebut, dan beberapa bahkan sudah memasangnya sendiri, mungkin ini bisa merintis pergerakan irit listrik secara bottom-up. Selain itu, semoga teknologi yang sederhana ini juga mengembangkan minat anak-anak di bidang sains dan teknologi, karena nyatanya banyak hal yang hebat kok yang bisa kita lakukan dengan peralatan-peralatan sederhana yang ada di sekitar kita.

 

Untuk acara kali ini, standing ovation lah buat semua pihak yang terlibat, terutama semua anak FT angkatan 2010-2012 yang telah membantu mensukseskan acara ini, all of us did a fantastic work guys, give applause to ourselves!😀

 

Karena teknologi itu tidak harus sulit dimengerti ataupun mahal harganya untuk dapat memberi manfaat bagi masyarakat, semoga yang kita lakukan ini bermanfaat dan bisa memberikan efek yang berkelanjutan. Bahkan seliter cahaya pun dapat menjadi sangat berharga. Dan inilah salah satu hal yang bisa Fisika Teknik lakukan untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater. Vivat FT! Dan Salam ganesha!

 

H-19 ITB Insight, waktunya menggemparkan Bandung, kunjungi web ini ya :3

http://www.itbinsight.com/insight-festival/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s