Genius dan Kegigihan

Kalau mendengar kata genius, hal apa ya yang bakal langsung terlintas di pikiran kita? Mungkin para penggemar film kartun akan segera ingat Jimmy Neutron pada channel Nickelodeon atau Shikamaru dari manga Naruto, penggemar olahraga akan membayangkan atlet idola atau orang yang dikategorikan ahli dalam cabang olahraga tersebut seperti Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi pada sepak bola atau Rudy Hartono dan Susi Susanti dari bulu tangkis (cabang olahraga yang beritanya kuikuti, tanpa bermaksud mendiskriminasikan atlet-atlet hebat lainnya), atau mungkin ada yang mengkategorikan tokoh Indonesia seperti Bapak  B.J. Habibie dengan PT Dirgantara Indonesia dan pesawat-pesawatnya atau Jenderal Soedirman dengan strategi gerilyanya yang handal saat agresi militer kedua Belanda, atau mungkin tidak usah jauh-jauh, mungkin ada yang punya kenalan seorang genius?

 

Ada video menarik di youtube terkait anak genius di salah satu show yang baru dishare salah seorang sahabatku, yang juga menjadi alasanku menulis ini, bisa dilihat di:

Arden Hayes, anak di dalam show tersebut, dikatakan bisa mengetahui semua negara yang ada di peta beserta ibukotanya dengan ejaan yang benar. Dan itu bukan satu-satunya video yang akan kita temukan saat kita memasukkan “genius boy” sebagai kata kunci pencarian kita, ada banyak anak-anak genius yang lain. Dan mungkin kadang kita akan penasaran, apa sih yang membedakan anak genius ini dengan anak-anak lainnya? Ada ilustrasi dari komik strip Calvin and Hobbes yang kuanggap menarik dalam hal ini:

 

Image

 

 

 

Di komik strip ini, Calvin menganggap dirinya adalah genius yang tidak dimengerti, karena tidak ada orang yang menganggap dirinya genius. Dan menurutku, mungkin nyatanya apa yang terjadi di sekitar kita memang begitu, orang-orang yang genius tidak dianggap sebagaimana mestinya. Tapi, mari kita bahas dari awal.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi genius (iya, kata yang ada di KBBI adalah kata genius, bukan jenius) adalah berkemampuan (berbakat) luar biasa dalam berpikir dan mencipta, sementara kalau mau percaya pada google, maka definisi genius dalam bahasa inggris adalah “a person who is exceptionally intelligent or creative, either generally or in some particular respect”, orang yang luar biasa cerdas atau kreatif, baik secara umum atau dalam beberapa hal tertentu. Meskipun memang ada pendapat lain mengenai genius sebagai gejala/symptom Low Latent Inhibition (LLI) yang dibahas lengkap pada link yahoo answers berikut:  http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20120511032245AAEMdSv, namun karena dua definisi awal tersebut kuanggap lebih menggambarkan apa yang ada di pikiran masyarakat saat ini, itulah yang akan kujadikan acuan.

 

Dalam komik-komik yang kubaca, pada umumnya genius adalah tokoh yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan tokoh utama yang merupakan sosok yang gigih (dan mungkin pada awalnya belum bisa apa-apa) dengan sifat serba bisa yang menyebalkan. Contoh dari manga dengan cerita seperti itu adalah Naruto (antara Naruto dan Sasuke) dan Slam Dunk (antara Sakuragi dan Rukawa), meski pada umumnya (generalisasi dari manga yang pernah kubaca) manga tersebut akan berlanjut sampai tahapan dimana sang tokoh utama akan mencapai level yang sama atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan si genius itu. Entah lah, mungkin ini menggambarkan bahwa Jepang merupakan negara dimana orang-orangnya lebih menghargai kegigihan dibandingkan dengan genius yang malas-malasan.

 

Mari kita coba berimajinasi sedikit, bagaimana kalau ternyata semua orang terlahir sebagai genius? Kira-kira seperti apa dunia kita sekarang? Mungkin sudah tidak ada masalah, semua orang sadar pentingnya sebuah peraturan dibuat sehingga semua orang pun taat, semua penyakit telah dianalisa dan dikembangkan obatnya oleh para genius sehingga tidak ada lagi orang yang sakit, semua atlit menyajikan kompetisi yang berkelas sebagai hiburan bagi para pekerja yang lelah, mungkin bahkan umat manusia telah menjelajah galaksi dan menemukan planet baru untuk disinggahi saat pemanasan global mengancam seperti saat ini, dan masih banyak lagi kemungkinan lainnya. Semua hal yang mungkin hanya ada di utopia, pulau khayalan di Samudra Atlantik dengan masyarakat yang memiliki berbagai kualitas mendekati kesempurnaan, dapat terwujud.

 

Mari kita sedikit realistis, bagaimana jika lingkungan tempat sang genius ini tinggal tidak memungkinkan sang genius mengembangkan bakatnya? Bagaimana jika seorang Susi Susanti memiliki orangtua yang berharap anaknya menjadi dokter? Bagaimana jika Lionel Messi terus-terusan belajar untuk bisa masuk universitas yang bagus karena orangtuanya menginginkan begitu? Mungkin sejarah dunia tidak lah seperti sekarang, bukan?

 

Mungkin kita perlu kembali ke dunia nyata, tapi bagaimana bila skenario ini lah yang sedang terjadi sekarang? Banyak genius yang tidak dikenal ataupun dihargai, mungkin karena memang mereka tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakatnya, atau mungkin ke-genius-an mereka bukanlah hal yang dibutuhkan sekarang. Yaa, bagaimanapun, sampai saat ini aku belum pernah mendengar julukan genius diberikan pada orang-orang yang hebat dalam me-modifikasi mobilnya, membuat nasi goreng atau mengecat bangunan. Kelihatannya hidup orang-orang dengan bakat yang dianggap tidak diperlukan di dunia agak menyedihkan, ironis memang. Mungkin kalau popularitas sepak bola tidak sebaik saat ini Messi dan Ronaldo hanyalah kuli bangunan atau tukang potong rambut, hei, selalu ada kemungkinan bukan?

 

Ada quotes menarik dari Einstein mengenai hal ini:

 

Image

 

Semua orang adalah genius, tapi ikan bukanlah sosok yang genius dalam bidang memanjat pohon. Lagipula, buat apa juga ikan memanjat pohon?

 

Mungkin ada yang pernah mendengar fenomena salah jurusan dalam perkuliahan? Atau mungkin merasakannya sendiri? Karena ini topik obrolan yang lumayan hangat selama 2 tahun pertamaku di kampusku, pada tahun pertama orang-orang mempertanyakan apakah fakultas yang diambil merupakan pilihan yang tepat, dan pada tahun kedua orang-orang mempertanyakan jurusannya hal yang sama. Mungkin ini disebabkan tidak banyak orang yang tahu mendetail mengenai jurusan-jurusan yang ada terkait minat dan bakatnya, atau mungkin jurusan terkait minat dan bakatnya itu tidak direstui orangtua atau bukan pilihan yang populer untuk bersaing di dunia kerja. Sejujurnya sampai sekarang pun aku masih menganggap memilih sebuah jurusan itu seperti disuruh mengambil sebuah karung dari dalam gudang yang remang-remang, kita memilih tanpa tahu keseluruhan dari jurusan yang kita pilih dan jurusan yang sesuai minat atau bakat kita tapi tidak kita pilih. Dan, menilai dari jumlah orang yang membicarakan ini, baik di kampusku ataupun di kampus lain, lumayan banyak juga yang senasib denganku.

 

Syukurlah aku memilih jurusan yang tepat🙂 Tapi jika ada yang masih merasa salah jurusan, cobalah bertahan dan luluslah dengan baik. Karena semua jurusan yang ada di perkuliahan itu keren kok, dan mungkin dengan bertahan kita bisa segera menemukan apa yang keren pada jurusan tersebut. Lagipula selalu ada kemungkinan ternyata jurusan yang kita sempat rasa salah itu masih bisa dikaitkan dengan minat dan bakat kita kok, coba aja dulu. Kalau pun ternyata tidak cocok, kita tetap selalu bisa mencontoh kegigihan Naruto atau Sakuragi kan? :3

 

Dan terkait kegigihan, ada ilustrasi menarik lagi dari zenpencils (iya, ilustrasinya keren, hehe, sumber: http://zenpencils.com/comic/40-calvin-coolidge-never-give-up/):

 

Image

 

Apapun yang kita lakukan, tak ada yang bisa menggantikan posisi kegigihan dan determinasi. Mungkin aku agak menghindari kata “kerja keras” disini, karena dalam beberapa kasus “kerja cerdas” lebih diperlukan daripada “kerja keras”. Tapi percayalah, meskipun hasil dari apa yang kamu kerjakan belum tentu sesuai dengan apa yang kamu inginkan, toh bakal selalu ada orang yang melihat usaha yang telah kamu lakukan selama prosesnya🙂 Dari komik silver spoon, haha.

 

Sebagai tambahan, berhati-hatilah dalam menyebut orang, apalagi dengan sebutan “bodoh” dan berbagai sinonimnya, karena mungkin kita hanya belum tahu apa hal yang dapat mereka lakukan. Paragraf terakhir ini memang tidak terkait pada topik bahasan ini, tapi menurutku lumayan bagus untuk dimasukkan sebagai pengingat, apalagi kondisi dunia anak muda di indonesia sekarang lumayan identik dengan kata-kata seperti itu. Ada quotes terakhir dari Calvin dan Hobbes sebagai penutup malam ini :3

 

Image

 

Spot on, Hobbes!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s