Ayah

Baru tahu lah kalo ternyata 12 November itu hari ayah. Kalo buru-buru bikin tulisan karena ngejar deadline kayaknya gak bakal sempat sih, tapi ya sudah lah, jalanin aja. Sekalian ngalong lah, hahaha :p

 

Entah kenapa hari ayah ini kelihatannya tidak terlalu populer ya, setidaknya jika dibandingkan dengan hari pendamping hidupnya, hari ibu. Padahal peran keduanya sama penting dalam kehidupan dan pertumbuhan anak. Meski dalam tradisi islam anak harus lebih memuliakan ibunya daripada ayahnya, tradisi yang sama mengharuskan sang ibu lebih memuliakan sang ayah. Sama saja bukan?

 

Berbicara tentang ayah, cuma ada satu sosok di kepalaku yang identik dengan sebutan itu, ayah kandungku. Iya lah, siapa lagi? Meski banyak orang-orang yang kutemui yang jauh lebih dewasa, inspiratif, bijak, dan lain semacamnya, tetap aja sosok tersebut gak bisa digantikan. Meski memang banyak pengalaman yang menyebalkan, pengalaman yang menyenangkan tetap ada kok, meski gak tau kalo dihitung pengalaman mana yang jumlahnya lebih banyak, hehe.

 

Ayah itu sosok yang logis, visioner, tegas, pemimpin, serius dan peduli. Sifat baiknya banyak lah, meski tetap ada pandanganku yang agak berbeda dengannya. Beliau bukan sosok yang selalu sependapat dan memberikan kebebasan. Sebenernya mungkin aku bisa agak bebas kalau menang dalam adu logika dengan beliau, sayangnya, sampai sekarang keseringan kalah. Yah, logis itu bisa positif atau negatif ya, terutama bagi ayah saat anak sulungnya sedang dalam perjalanannya mengenal dunia, huhuhu -_-

 

Memang ada sisi positifnya juga, terutama setelah aku lumayan bebas (baca: pindah ke bandung), haha. Unik ya, orang yang terbiasa sama aturan itu bisa bosan terhadap aturan tersebut, tapi setelah sampai di bandung dan hidup tanpa aturan beberapa saat, aku malah gak tahan sendiri dan akhirnya membuat beberapa aturan pribadi agar kehidupanku (baik kehidupengan baikan akademik maupun kehidupan sosial) terjaga dengan baik.

 

Uniknya, disaat anak-anak lain banyak yang ingin meniru sosok ayahnya, aku malah penasaran apa yang terjadi kalo aku tidak mengikuti sosok beliau. Karena beliau serius, aku mencoba untuk santai dan menikmati kehidupan, sambil menyerap pelajaran saat menjalaninya. Kalo dipikir, mungkin faktor keturunan ini ya yang menyebabkan aku sering diasumsikan orang yang serius kalau lagi diam atau mikir, apalagi sama orang yang belum kenal, padahal nyatanya nggak terlalu sih. Tetap ada hal yang mengharuskanku serius, tapi sayang aku tidak bisa serius terlalu lama kalau masalah yang kuhadapi tidak terlalu sesuai sama minatku. Akibatnya malah kadang dianggap nyebelin sama teman-teman sekelompok tugas, padahal itu cuma kebiasaan ngomong asal biar otakku bisa mikir lagi, hahaha.

 

Ayahku banyak mengenalkanku pada hal-hal baru. Di jaman kecil, aku tidak pernah kekurangan bacaan. Dari buku-buku fiksi seperti Harry Potter sampai cerita sejarah dan biografi kesembilan Wali Songo sudah kulahap dari bangku SD, dan memang buku-buku tersebut lumayan memperluas pandanganku. Ayahku juga mengenalkanku pada dunia abu-abu, saat segala hal yang kulihat masih berupa hitam dan putih, dunia dimana kalau suatu hal tidak benar, maka hal tersebut salah secara mutlak. Dunia baru dimana segala hal yang dilakukan memiliki nilai-nilai positif dan negatif tersendiri, yang sulit digolongkan dalam dunia hitam dan putih.

 

Dan aku juga belajar banyak, meski bukan dari cara yang ayahku inginkan. Ayahku ingin aku fokus di bidang akademik saja, sambil berusaha menjaga kehidupan sosial. Dan aku fokus di bidang sosial sambil berusaha menjaga kehidupan akademik. Aku bahkan mengambil beberapa amanah, yang memang kuanggap penting dan layak untuk diperjuangkan, tanpa persetujuannya. Entah, tapi logikaku waktu itu pun sederhana saja, hanya ada dua sikap yang dapat ayahku tunjukkan, setuju atau tidak setuju. Kalau beliau setuju, aku tidak perlu mengetahuinya, bagaimanapun kelak aku yang akan menjalankan dan mempertanggungjawabkan hal-hal yang akan kulakukan. Dan kalau beliau tidak setuju, aku tidak mau mengetahuinya, bagaimanapun beliau tetap ayahku dan pendapatnya sangat berpengaruh terhadap tindakan-tindakanku, yang menurutku dapat mempengaruhi prioritas hal yang kuanggap penting ini, meskipun aku merasa inilah diriku dan disinilah tempatku setelah menjalani kehidupan selama beberapa lama. Bukan hal yang terlalu bagus untuk ditiru mungkin, setidaknya karena itu aku pun belajar untuk bertanggungjawab dan menyelesaikan semua masalahku sendiri. Hei, ini pilihanku, dan apa yang kukatakan, baik itu janji yang tak sengaja terucap atau perkataan yang terbawa suasana, dan apa yang kulakukan, baik secara sadar ataupun tidak terhadap konsekuensi dan efek jangka panjangnya, akan dimintai pertanggungjawaban kelak bukan?

 

Tapi kalau dipikir-pikir lebih jauh, meski banyak perbedaan pendapat diantara kita, tetap saja semua orang menginginkan yang terbaik bagi keturunannya. Kalau nggak salah ali radiyallahu anhu pernah bilang selama 7 tahun pertama manjakanlah anak-anak seperti raja, 7 tahun kedua tekankanlah nilai-nilai kedisiplinan kepada anak-anak, dan 7 tahun ketiga, perlakukanlah anak-anak seolah sahabat. Kemudian, lepaskanlah mereka.

 

Sekarang usiaku 19 tahun 7 bulan, tinggal 1 tahun 5 bulan lagi menuju batas waktu yang telah ditetapkan. Kemudian, setelah lepas aku akan dituntut untuk mandiri dan perlu mencari nafkah sendiri, mungkin kemudian akan menemukan sosok perempuan yang kuanggap pantas untuk menjadi pendamping hidup, jalan-jalan ke luar negeri untuk menimba ilmu dan pengalaman, menjadi sosok ayah yang punya tanggungan (anak, harta, dsb) untuk diurus dengan baik di dunia, bermanfaat bagi masyarakat sekitar, dan masih banyak lagi. Entah urutan terjadinya akan seperti apa, atau mungkin tidak semuanya sempat terjadi. Tapi meskipun tanggal kematian   tidak dapat diprediksi, rencanakan saja dulu semuanya, siapatau waktunya cukup kok.

 

Sampai sekarang belum kepikiran sih mau kerja sebagai apa (peneliti menarik, guru/dosen juga, sosiopreneur juga sama. Pilihan masih terbuka luas ya) dan belum tau kira-kira sebulan bisa dapat berapa. Kata ayah sih selama pola pikirku baik, itu modal yang sangat mencukupi untuk bisa survive, mari berharap itu benar. Kalau untuk kasus pendamping hidup pun aku belum terlalu mikirin. Masih menikmati sifat introvertku yang menyukai kesendirian :3 Lagian entah jodohku siapa dan bertemu kapan dan dimana, ada juga kemungkinan aku sudah bertemu tapi belum sadar aja jodohku yang mana. Banyak kemungkinan, dari sahabat seperti teman sekelas, seorganisasi atau teman masa kecil, sampai ke orang-orang yang belum pernah kujumpai. Hahaha, spekulasi terkait hal ini selalu asal sih, terlalu banyak faktor yang sulit diperhitungkan, tapi ya sudah lah ya. Toh aku juga gak bakal siap buat ngurus orang lain dalam waktu dekat, biarlah Allah membolak-balikkan hati pada waktunya, jadi tinggal nyiapin diri buat jadi baik secara wawasan, teladan dan finansial, dan berharap semoga dapat perempuan yang baik (target dapet gandengan–dari pembicaraan asal sama kawan sekelompok mentoring–masih sekitar 3-4 tahun lagi sih, semoga lancar lah).😀

 

Jalan-jalan ke luar negeri itu keharusan! Bukan karena aku bosan sama Indonesia sih, tempat-tempat disini, baik hiburan, wisata atau situs-situs menarik pun belum kujelajahi semua, tapi aku merasa masih perlu ketemu sama orang-orang dari berbagai tempat, dengan berbagai latar belakang, sudut pandang dan mengembangkan pola pikir dan metode komunikasiku. Sekaligus mengembangkan jaringan untuk mempermudah urusan dunia dan akhirat (cari kerja dan silaturahmi maksudnya :p) tentunya. Lalu tentu saja sudah kodrat bagi seorang lelaki untuk memimpin keluarga. Padahal sampai sekarang pun pengen punya keluarga seperti apa belum ada bayangan yang jelas, hahaha. Yah, masih ada waktu juga kok buat figure it out, nikmatin dulu aja lah :3 Untuk bermanfaat jelas sih, sejak awal cita-citaku memang agak general (dan harus diakui, agak abstrak), bermanfaat dalam hal-hal yang baik. Salah satu sebabnya adalah karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain, bukan? Hei, mungkin ini bisa jadi salah satu fondasi keluarga😀 Entah sih bakal bermanfaat dalam hal apa, yang jelas masih ada waktu buat figure it out juga kok.

 

Meski memang kayaknya pekerjaanku panjang dan merepotkan ya kalau diprediksi seperti itu -_- Yang jelas, aku ingin menikmati kehidupanku seperti saat ini dulu, saat semua hal yang perlu dipertanggungjawabkan hanya berkisar pada diri sendiri, dan kemungkinan peran di masa depan masih sangat banyak, sebelum menjalani peran yang spesifik dengan banyak tanggungan. Hei, masih ada 17 bulan yang bisa kumanfaatkan untuk berkembang dan belajar.

 

Bagaimanapun juga, sampai sekarang aku gak pernah kepikiran gimana kalau aku terlahir di keluarga lain, meski munngkin banyak juga anak-anak yang kurang puas dengan situasi yang mereka hadapi dan berharap mereka terlahir di keluarga lain, atau bahkan mati aja. Dan aku gak bisa mengerti apa yang ada di pikiran mereka, beneran, entah orangtua itu harusnya seperti apa buat mereka -_- Karena aku sendiri pun gak bisa membayangkan hidupku, pola pikirku, jalan yang kuambil dan semua aspek dalam hidupku akan seperti apa kalau aku gak terlahir di keluarga ini, dan ayahku bukanlah beliau. Beda pendapat tetap sering, tapi semua itu punya pelajaran sendiri kok. After all, thanks a lot dad. Dan sekarang saatnya untuk menyiapkan diri, agar aku dapat dilepas tanpa rasa khawatir. You’ve done really well in your job, the role I might start playing in the short future, if Allah still gives me a time. Once again, thanks🙂

7 pemikiran pada “Ayah

  1. Nice post laks. Mengingatkan aku lagi sama sosok Bapak yang selama ini sering aku tentang dan aku tinggalkan. Entah kenapa sejak Bapak wafat semua nasihatnya jadi make sense, dan aku ngerasa nyesel. But anyway, beda dengan ayahmu, bapakku ngasih aku banyak komik, beberapa buku dan berjam-jam waktu untuk nonton film buat ngenalin aku sama banyak hal baru dan aku rasa itu punya bagian besar dalam pembentukan pola pikirku yang sekarang ini hehehe, jadi bisa aku bilang aku yang keras kepala dan semi liberal ini hasil didikan bapakku hehehehe.

    Aku suka dengan idemu jalan-jalan ke luar negeri, tapi aku punya pandangan lain soal itu laks, sejauh ini tanpa aku ninggalin tanah air sekalipun, aku bertemu banyak orang dari berbagai belahan dunia yang datang ke sini buat nikmatin Indonesia dan aku saling belajar sama mereka semua. Hehehe, mungkin sangat menarik buat kita kalo kita ngelola usaha tour & travel ngebawa banyak orang asing ke Indonesia untuk community service hehehe.
    😀

    • Haha, iya bie, ayahku juga ngebeliin banyak komik kok, sayangnya dulu aku lebih suka main ps kalo lagi “nguasain” TV, jadinya gak terlalu sering nonton, hehe. Tapi ternyata sama aja lah ya, sama-sama ingin mengenalkan dunia🙂 Iya, aku juga mikir banyak soal keluarga setelah perjalananku ke jogja waktu itu bie, mungkin karena kita sama-sama anak sulung jadi kepikiran aja kalau giliranku entar bakal gimana🙂

      Kalo soal jalan-jalan ke luar negeri, salah satu alasan utamanya karena pola pikir yang ingin kukembangkan adalah pola pikir sains dan teknologi, terutama di bidang energi terbarukan, belum terlalu berkembang di indonesia bie. Iya, waktu aku di Jogja aku juga ketemu sama banyak orang luar negeri, mereka asik diajak ngobrol dan diskusi, enak buat nambah wawasan. Tapi khawatirnya masih kurang aja sih, terutama karena aku mau jadi ahli energi terbarukan dan mengembangkannya di indonesia kelak, kayaknya lebih enak buat belajar langsung di tempatnya. Lagipula, peralatan disana jauh lebih memadai, dan siapatau saat belajar aku juga bisa dapat link orang-orang yang mau mengembangkan energi terbarukan di indonesia, atau setidaknya supply komponen murah bisa lah ya, hehe😀

      Dan, imam syafii juga menyarankan kita untuk merantau, kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s