Menilai Diri

Kali ini hobi procrastinatingku (kabur dari kenyataan bahwa sekarang banyak tugas dan menunda-nunda pekerjaan) membawaku menemukan serial baru berjudul “Scrubs”. Mungkin komik strip yang satu ini ada benarnya bagi para deadliners, sekaligus mencari pembenaran untuk hobi procrastinatingku, mungkin.

 

Image

 

Serial Scrubs ini mengangkat tema kedokteran dan rumah sakit, yang dikemas dalam fantasi dari seorang dokter yang menjadi tokoh utamanya sekaligus narator dari cerita, Dokter John Dorian atau biasa dipanggil J.D. Alasan awal aku mendownload serial ini pun karena kabel data harddiskku sedang bermasalah sehingga harddiskku tidak terbaca pada laptop (semoga ini benar dan tidak ada masalah pada harddiskku), padahal semua film yang kubutuhkan untuk procrastinating ada disana. Berhubung serial House yang baru sebagian kutonton juga sedang tidak bisa dibuka, aku pun mencari serial baru yang mengangkat tema dunia kedokteran.

 

Kedua serial ini sama-sama menarik kok, meski memang berbeda (setidaknya dari beberapa episode yang telah kuikuti dapat kusimpulkan begitu). Scrubs memiliki tema tertentu pada tiap episode, yang umumnya merupakan pelajaran tentang kehidupan yang didapat dari kehidupan J.D. di rumah sakit, yang dikemas dalam bentuk komedi dan fantasi dalam alam pikiran J.D. Sementara House meskipun juga mengangkat nilai-nilai terkait kehidupan, tapi juga mengangkat tema terkait situasi, masalah dan beberapa hal yang kurang pantas untuk dilakukan tapi memang sangat mungkin terjadi pada rumah sakit, dan dikemas dalam bentuk drama. Keduanya sama-sama menarik, meskipun aku masih lebih suka serial House karena beberapa alasan. Semoga aku cepat menemukan waktu luang untuk ngurus harddiskku🙂

 

Oke, kembali ke topik. Di salah satu episode Scrubs yang baru saja kutonton, J.D. adalah seorang dokter intern (dokter dalam masa on-job training–pelatihan dengan praktek langsung di tempat kerja) dengan seorang mentor bernama Dokter Cox dalam sebuah hospital university (rumah sakit universitas, tempat para dokter intern–umumnya pelajar atau mahasiswa yang mengambil program studi terkait dalam bidang kedokteran–melakukan on-job training). Umumnya, ada masa dimana dokter mentor harus mengevaluasi kinerja yang telah ditunjukkan oleh para dokter intern selama mereka bekerja. Dan, dalam pengevaluasian ini, Dokter Cox meminta J.D. untuk mengisi lembar evaluasinya sendiri.

 

Akhirnya selama beberapa saat J.D. pun berusaha mengevaluasi dirinya sendiri dengan bertanya ke beberapa orang di rumah sakit terkait dengan bagaimana mereka mendeskripsikan dirinya. Setelah beberapa lama bertanya-tanya, akhirnya J.D. memutuskan untuk kembali ke Dokter Cox, menganggapnya tidak adil dan memintanya untuk mengisi evaluasinya–meski harus diakui caranya meminta kurang sopan. Lalu, ketika lembar evaluasinya selesai diisi, Dokter Cox pun menegur J.D., dikutip langsung dari transkrip episode tersebut di http://scrubs.wikia.com/wiki/My_Fifteen_Minutes_transcript

 

Dr. Cox: [forcefully] It’s time. Sit down.

 

J.D. pulls out the chair at his end of the table and sits. Dr. Cox walks over and stands at the opposite end, his hands shoved into his coat pockets.

 

Dr. Cox: Now, what do you want me to say? That you’re great? That you’re raising the bar for interns everywhere?

J.D.: [laughs a little] I’m cool with that.

Dr. Cox: I’m not gonna say that. You’re okay. You might be better than that someday; but right now, all I see is a guy who’s so worried about what everybody else thinks of him that he has no real belief in himself.

 

J.D. looks up at the ceiling, disappointed with the way this is going.

 

Dr. Cox: [continuing] I mean, did you even wonder why I told you to do your own evaluation?

J.D.: I-I can’t think of a safe answer. I just figured—

Dr. Cox: Clam up! I wanted you to think about yourself — and I mean really think. What are you good at? What do you suck at? And then I wanted you to put it down on paper. And not so I could see it, and not so anybody else could see it, but so that you could see it. Because, ultimately, you don’t have to answer to me, and you don’t have to answer to Kelso, you don’t even have to answer to your patients, for God’s sake! You only have to answer to one guy, Newbie, and that’s you!

 

J.D. bitterly digests these words. After a moment, Dr. Cox picks up the evaluation folder.

 

Dr. Cox: [shaking his head] There. You. Are…. Evaluated.

 

He flings the folder onto the table. It slides across the smooth wood, landing in J.D.’s lap.

 

Dr. Cox: Now get the hell outta my sight. You honest-to-God get me so angry, I’m afraid I just might hurt myself.

 

J.D quietly stands from the chair and exits the room.

 

Aku suka dengan kata-kata Dokter Cox dalam scene ini, “Saat ini, apa yang bisa kulihat adalah lelaki yang terlalu khawatir terhadap apa yang orang lain pikirkan mengenai dirinya sehingga dia tidak punya kepercayaan pada dirinya sendiri. Aku ingin kamu benar-benar berpikir mengenai dirimu, apa hal yang dapat kamu lakukan dengan baik, apa hal yang tidak dapat kamu lakukan dengan baik, dan aku ingin kamu menuliskannya di dalam kertas. Bukan agar aku dapat melihatnya, bukan juga agar orang lain dapat melihatnya, tapi agar kamu dapat melihatnya. Karena, kamu tidak perlu memberikan jawaban ini padaku, pada Kelso (dokter pemilik rumah sakit) ataupun pada pasienmu. Kamu hanya perlu memberikan jawaban pada satu orang, yaitu dirimu.”

 

Ada benarnya. Sampai saat ini, aku jarang melihat ada orang yang bisa menilai dirinya dengan baik, bahkan aku juga belum terlalu dapat melakukannya. Aku masih sering meminta pendapat dari orang lain terkait diriku agar dapat melakukan evaluasi. Dan ini lah salah satu paradigma yang diserang disini, apa kamu yakin orang lain dapat menilai dirimu secara lebih objektif jika dibandingkan dengan kamu sendiri yang menilai?

 

Pada umumnya–hasil generalisasi dari beberapa teman dan pengalaman selama berinteraksi dengan orang-orang Indonesia–saat orang diminta untuk menuliskan sifat baik dan sifat buruk yang ada pada dirinya, kolom sifat buruk akan terisi dengan sangat cepat, sementara kolom sifat baik lumayan sulit untuk diisi. Dan mungkin salah satu hal yang menyebabkan ini adalah keraguan, apakah benar orang-orang di sekitarku juga menganggap diriku seperti ini? Alasan lain yang mungkin menyebabkan demikian adalah karena orang tersebut tidak ingin dianggap narsis, sombong atau pamer, tidak bisa dihindari bukan?

Memang, kita juga perlu penilaian orang lain, dan bahkan kadang itulah cara terbaik untuk melihat diri kita seperti apa. Tapi, kita tidak perlu berusaha membuat semua orang senang terhadap diri kita seperti apa. Mungkin ada nilai-nilai yang berbeda, hal yang tidak sama, dan beberapa faktor lain yang menjadikan apa yang kita lihat dan apa yang orang lain lihat berbeda bukan?

Sometimes the only way to take a really good look at yourself is through someone else’s eyes. If you’re lucky, you’ll like what you see. Or you’ll learn from it. If you don’t like what you see, all you can do is hope that you haven’t burned too many bridges.

Mungkin ada baiknya kita mulai percaya pada diri kita, seperti apakah diri kita menurut kita yang menjalankan? Pada hal-hal yang positif, kalau memang sudah sesuai, pertahankanlah. Dan kalau ternyata belum sesuai, berusahalah untuk menjadi seperti itu. Mengutip dari film “The Iron Giant”–film kartun jaman dahulu yang bercerita mengenai persahabatan antara sebuah robot raksasa yang memiliki kekuatan penghancur yang hebat dengan seorang anak yang suka berpetualang–saat sang robot menolak anggapan bahwa dirinya hanyalah mesin penghancur:

You are who you choose to be.

 

Dan kadang kita memang perlu memilih seorang sosok teladan untuk kita tiru, apalagi bagi orang yang belum terlalu mengenal mana yang baik dan mana yang buruk. Siapapun dia, semoga orang tersebut memang akan menjadikan diri kita lebih baik🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s