Drama dalam Rumah Sakit

Akhir-akhir ini aku lumayan sering menonton serial terkait kedokteran. Awalnya aku juga tidak mengerti kenapa, mungkin karena dokter merupakan profesi yang keren (sekeren engineer lah setidaknya, toh peralatan dokter juga dibuat oleh engineer :P), atau karena aku tertarik untuk tahu hal-hal apa yang ada di sekitarku dan ternyata berbahaya bagi diriku. Tapi, semakin lama aku menonton serial kedokteran ini, ada pikiran asal yang makin lama makin tertanam dalam otakku.

Tempat terbaik untuk menyaksikan kehidupan adalah rumah sakit, dan kuburan. Kenapa? Karena di kedua tempat itulah kita dapat melihat apa yang akan orang lakukan saat menyadari kehidupannya terbatas.

Di rumah sakit, kita dapat melihat pilihan yang diambil orang saat menyadari waktu untuk pergi telah dekat, seperti pada orang yang didiagnosa mengidap penyakit yang mematikan. Bahkan ada pemodelan kubler-ross mengenai 5 tahapan emosi yang dinamakan “five stages of grief” pada orang-orang yang diberitahu akan mengalami hal buruk yang tak dapat dihindarkan, yaitu:

Denial (penyangkalan) – Anger (marah) – Bargaining (tawar-menawar) – Depression (depresi) – Acceptance (penerimaan)

Pemodelannya kira-kira seperti ini (menurut pengertianku):
X didiagnosis mengidap penyakit kanker paru-paru stadium 4, dan diperkirakan hidupnya akan berakhir maksimal 40 hari lagi.
-Pada saat dia mendapat berita tersebut, dan dia menyangkal bahwa ini tidak mungkin terjadi pada dirinya, entah karena dirinya punya kewajiban yang belum selesai atau hal-hal yang tidak berhubungan seperti karena dia orang penting, dan lain sebagainya. Yang jelas, itu tahap pertama.
-Di tahap kedua, X akan marah. Entah pada siapa, pada dirinya yang tidak dapat berhenti merokok, pada teman-temannya yang mengenalkannya pada kegiatan seperti itu, pada dokter yang mungkin melakukan kesalahan pada operasi awalnya, pada orangtuanya karena kurang memperhatikannya sehingga dia berada dalam dunia seperti itu, pada semua hal, baik yang berhubungan ataupun tidak.
-Setelah tahap kedua berakhir, muncullah tahap ketiga, dimana dia berandai-andai dapat melakukan tawar-menawar, andai penyakit ini dihilangkan maka aku akan begini dan begitu, andai sisa waktuku lebih dari 2 bulan lagi aku akan begini dan begitu, dan seterusnya.
-Ketika menyadari bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan, dia akan depresi karena fakta ini akan segera menjadi kenyataan dan tidak dapat dihindarkan lagi
-Dan setelah depresi, lama-kelamaan dia akan berpikir, hei, apa buruknya kalau memang ini yang harus terjadi? Apa yang akan terjadi, terjadilah, toh cepat atau lambat kita semua akan meninggal, bukan? Atau berbagai pikiran lainnya untuk menenangkan dirinya, dan ini lah tahap final dari five stages of grief, penerimaan.

Tentu saja ini hanyalah salah satu teori tentang apa yang akan terjadi saat orang-orang dipastikan (atau diprediksi oleh orang yang ahli) akan menghadapi kematian. Dan memang hal ini tidak selalu bisa diterima. Para psikopat dengan sifat anehnya, para tentara dengan sifat patriotiknya, para orang alim atau berilmu, dan masih banyak lagi orang yang mungkin akan menghadapi periode ini dengan sikap dan emosi yang berbeda. Meskipun entah lah apa yang akan mereka lakukan, toh aku bukan psikopat ataupun tentara, dan aku ragu ilmuku telah mencukupi untuk digolongkan kedalam orang alim, jadi belum bisa kulogikakan. Bagaimanapun, tidak semua orang memiliki persepsi yang sama terhadap dunia, bukan?

Tapi tetap saja, menurutku kejadian seperti itu lah yang akan menyebabkan kita banyak belajar. Jika diri kita didiagnosis mengidap suatu penyakit yang mematikan dan hidup kita diprediksi tidak akan bertahan lama, apa yang akan kita lakukan? Jika teman dalam pekerjaan atau organisasi, sahabat dekat, atau orang yang kita sayang didiagnosis seperti itu, apa yang akan kita lakukan? Kadang, hidup itu hanyalah memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk melakukan suatu hal yang kita ingin lakukan, bukan?

Karena bagaimanapun, rumah sakit hanyalah tempat untuk mengulur waktu dari hal yang tidak bisa dihindari, atau setidaknya mungkin begitu, mengingat kita tidak dapat mengintip apa yang ada pada Lauhul Mahfuzh mengenai kapan kita akan meninggalkan dunia ini. Seperti yang dikatakan Doctor Cox pada serial Scrubs saat pasien J.D., seorang wanita tua bernama Mrs. Tanner, tidak mau menerima pengobatan dan meminta J.D. untuk membiarkannya meninggal:

Dr. Cox: Well, if she refuses dialysis, then there really is no ethical dilemma, is there?
J.D.: But what about our duty as doctors?
Dr. Cox: But what about our duty as doctors? Look. This is not about Mrs. Tanner’s dialysis, this is about you. You’re scared of death, and you can’t be; you’re in medicine for chrissakes. Sooner or later, you’re going to realize that everything we do around here, everything is a stall. We’re just trying to keep the game going, that’s all. But, ultimately, it always ends up the same way

Bagaimanapun juga, segala hal yang dilakukan di rumah sakit hanyalah untuk menjaga agar permainan tetap berlanjut, tapi kita semua tahu akhirnya akan tetap sama.

Yang menarik dalam episode “My Old Lady” ini adalah, J.D. membuat daftar mengenai hal apa yang harus dilakukan selama masih hidup untuk meyakinkan pasiennya agar mau menerima pengobatan. Dan, ternyata sang pasien telah melakukan segala hal yang ada dalam daftar yang dibuat J.D. Kira-kira beginilah percakapannya:

J.D.: You didn’t tell them, did you.
Mrs. Tanner: It didn’t come up. Look, they don’t need that burden; besides, they’d just give me a bunch of reasons to change my mind.
J.D.: Speaking of which, I took the liberty of jotting down a few things I think everybody should do at least once in their life.

He removes a small notepad and a pen from his pocket.

Mrs. Tanner: Oh, no.
J.D.: Okay. [reading] “Number One: Eat a sausage-and-pepper hoagie from Enrico’s.”
Mrs. Tanner: Well, of course I’ve done that.
J.D.: “Number Two: Go to Asia.”
Mrs. Tanner: {something in Japanese}
J.D.: I’m gonna take that as a yes, and I’ll also check off “Learn a foreign language”.
Mrs. Tanner: Mm-hmm.

Mrs. Tanner’s Room J.D. sits on the floor, leaning against the wall opposite the woman’s bed. He still has his notepad, which has a good portion of turned pages.

J.D.: “Go to the top of the Eiffel Tower.”
Mrs. Tanner: Done.
J.D.: Fine. “Go to the top of the Meiffel Tower.”

He looks up at her.

Mrs. Tanner: Oh, now you’re making stuff up.
J.D.: No, I’m not; it’s right here, you can look at it!

He turns the notepad in her direction.

Mrs. Tanner: Listen, Dr. Dorian, there’s not one thing I regret as I lay here right now. I’m ready. I really am.
J.D.: [flipping through the pad] You have had an amazing life.
Mrs. Tanner: Good, then we agree. Now, aren’t there other patients you need to be seeing?
J.D.: Me? No, no, I’ve–I’ve been off for two hours.
Mrs. Tanner: So, with your precious free time, you’ve been sitting in a hospital room talking to an old lady. What about your list? How many of those things have you done? For that matter, how many times have you sat in the grass and done nothing, hm?

J.D. looks at her, unable to answer.

Mrs. Tanner: You need to start taking some time for yourself, young man. Promise me you’ll do that.
J.D.: I will.
Mrs. Tanner: Good. Now, get outta here. Go on.
J.D.: Yeah, well, let me–I just want to check out a few things before I…get going.

He stands up and goes over to her monitor, intently watching it as he presses some buttons.

J.D.: [reading the monitor] Uh-huh…. Uhh-huh….
Mrs. Tanner: Are you okay?

He turns to her.

J.D.: I’m scared.

She gestures to him.

Mrs. Tanner: Come here…. Come here…. Come here.

He comes over and sits on the edge of her bed. She wraps her arms around him, and he rests his head on her shoulder as she comforts him:

Mrs. Tanner: You’re okay…. You’ll be just fine…. Not to worry.

Aku selalu menyukai dialog dan diskusi, aku bahkan lebih banyak belajar dari kedua hal tersebut dibandingkan dengan tulisan dalam bentuk apapun, baik itu kata-kata motivator, cerita inspirasi atau cerita hikmah (meskipun cerita hikmah juga memberi banyak pelajaran). Karena dalam dialog dan diskusi, kita berusaha membuat orang lain mengerti mengapa kita berpendapat seperti ini, dan mengapa kita begini, dan kita pun mendapat sudut pandang yang baru terhadap suatu hal. Ini juga salah satu alasan kenapa aku sempat absen dalam dunia menulis selama sekitar tiga tahun mungkin. Dan mungkin aku juga salah menempatkan dialog jika dilihat dalam kaidah penulisan yang baik dan benar, hahaha. Kelihatannya aku juga sangat mudah terdistraksi dari topik, bukan hal yang bagus kalau aku melakukannya dalam tes ielts nanti, tapi untungnya ini bukan tes dan memang aku selalu menganggap ini menarik.

Dan yang menarik dari dialog ini adalah, Mrs. Tanner sudah melakukan segala hal yang ingin dilakukan dalam hidup J.D., dan bagaimana dengan kita? Haruskah kita menunggu berada di dalam tempat tidur rumah sakit sebelum menyesali apa yang tidak kita lakukan?

Begitu juga apabila kita berada di kuburan, tempat akhir dimana jasad-jasad tanpa nyawa disemayamkan. Dengan melihat bagaimana hidup orang-orang lain telah berakhir, mungkin kita akan memikirkan apa yang akan kita lakukan di sisa hidup kita, akankah kita meninggalkan kenangan yang baik bagi orang lain, ataukah malah meninggalkan kenangan buruk bagi orang lain? Dapatkah kita mempertanggungjawabkan apa saja yang telah kita lakukan atau tidak? Bagaimana diri kita saat ajal menjemput kelak? Dan berbagai pertanyaan lain yang menyebabkan kita terus berpikir apa yang akan kita lakukan di masa depan, sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi masa ketika ajal menjemput kelak.

Mungkin ini salah satu alasan mengapa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sangat menganjurkan kita untuk melakukan ziarah kubur. Yah, mungkin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s