Konsumtif

Aku bukan orang yang konsumtif, setidaknya pada hal selain buku. Dan sekarang aku bingung hal ini baik atau tidak.

Mungkin pada waktu kecil, kita sering dinasihati, atau bahkan sudah membiasakan diri untuk menabung. Bagaimanapun, hidup akan lebih tenang jika kita punya cadangan devisa yang bisa dipakai kapan saja bukan?

Dan siang ini, aku bertemu dengan penjual makanan ringan. Ilegal kelihatannya, dia tidak membuka lapak, hanya membawa plastik berisi bahan dagangan. Dagangannya berupa makanan ringan kiloan yang dikemas sendiri, seperti snack “kriuk” di jakarta. Awalnya aku tidak berminat membeli dan hanya berlalu ketika ditawarkan, tapi kemudian aku berpikir ulang, apa salahnya menanyakan harga? Setidaknya bisa menjadi cemilan saat tugas atau nonton kan? Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali.

Saat aku menanyakan harga, sang penjual mengatakan awalnya dia menaruh harga Rp3000/bungkus, tapi karena dia khawatir dengan daya beli mahasiswa, harganya diturunkan jadi Rp5000/2 bungkus. Harga ini wajar, setidaknya ketika aku sma dulu harga makanan ringan seperti itu di lingkunganku memang berkisar antara Rp5000/3 bungkus hingga Rp2000/bungkus.

Lalu sang penjual bercerita bahwa dia berjualan tanpa modal, membawa dagangan dari produsen makanan ringan itu, dan kemudian menyetor sesuai dengan jumlah makanan ringan yang terjual. Hal itu disebabkan dia ingin mengobati penyakit kencing manisnya, namun dia tidak punya modal meskipun hanya untuk memulai usaha.

Aku heran kenapa usaha seperti ini yang beliau pilih. Padahal untung usaha ini tidak terlalu besar (kalau harganya Rp5000/2 bungkus, berapa untungnya?), dan harga untuk berobat ke rumah sakit jelas tidak sedikit. Tapi aku menghormati orang-orang seperti ini, yang tetap menahan diri dari meminta-minta meski situasinya sulit dan percaya bahwa Allah mengatur rezeki hambaNya.

Aku tidak tahu apakah orang itu jujur atau tidak, bagaimanapun juga kita bukanlah Allah yang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati. Tapi kalau kita fokus pada harta yang kita miliki saja, tanpa memperhatikan faktor seperti kepribadian sang penjual dan lain sebagainya, bukankah dalam harta kita terdapat bagian milik orang lain juga? Entah dalam bentuk sedekah atau transaksi dagang, tapi tidak semua harta yang kita miliki merupakan bagian kita🙂

Mungkin kita perlu belajar untuk menyeimbangkan keuangan kita, berapa banyak yang kita simpan, dan berapa banyak yang kita gunakan. Bijak lah dalam mengaturnya. Memang kita tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi setidaknya itu akan lebih mudah dipertanggungjawabkan🙂

Lagipula, perekonomian tidak akan sehat jika semua rakyatnya menganggap konsumtif itu buruk. Dan menurutku konsumtif dalam hal seperti makanan ringan ini akan lebih membantu daripada konsumtif pada peralatan mahal seperti mobil murah, yang jelas akan menambah kepadatan jalanan di indonesia🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s