Hukum Pacaran Sebelum Menikah dan Hukum Menolak Pinangan Tanpa Alasan

Heran, entah kenapa semakin tua dan lama berada di kampus tekanan buat nyari pendamping wisuda atau calon pendamping hidup alias pacar terus bertambah ya. Entah dibercandain lah, bahkan kalau sama teman-teman dekat bisa dipasang-pasangin segampang memasangkan reaksi kimia. Seolah-olah kalau gak punya pendamping gimana gitu. Bahkan ada yang bilang, “Wisuda cuma didampingin orang tua aja? Itu wisuda apa bagi rapot?” ._. Bosan ngedengerin gituan, terus coba cari-cari di web tentang hukumnya, kebetulan nemu hukum. Pas kuperiksa, kayaknya ulamanya orang salafy, dan setahuku golongan salafy lumayan bagus dalam kajian fiqih dan ilmu agama lainnya, meski setahuku mereka juga kurang di bidang pergerakan. Yah, ambil baiknya saja lah ya🙂

 

Ada satu hukum lagi tentang hukum menolak pinangan tanpa alasan. Ini juga dari pengalaman, karena ada sahabatku yang pernah bilang kalau perempuan gak boleh nolak kalau dilamar sama laki-laki yang shalih. Sebetulnya kebetulan aja sih nemu hukum ini sepaket (satu artikel) sama hukum yang pertama, dan ku-post juga aja sekalian, toh pas ngopi juga sepaket, dan sama-sama orang salafy. Setidaknya berbagi ilmu aja, siapatahu bermanfaat kan?🙂

 

Sumber: http://abuabdurrohmanmanado.wordpress.com/2013/05/04/hukum-pacaran-sebelum-nikah-dan-hukum-menolak-khitbahpinangan-tanpa-alasan/

 

Pacaran sebelum Menikah

 

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Soal:
Bagaimana pendapat agama dalam masalah pacaran ini?

Jawaban:
Perkataan penanya “Sebelum Pernikahan”, apabila yang dimaksud sebelum masuk dan setelah akad nikah, maka tidak mengapa. Sebab dengan akad, wanita tersebut telah menjadi istrinya, meskipun belum mendapatkan surat resmi untuk masuk (membina rumah tangga) bersamanya.

Adapun apabila hubungan tersebut dilakukan sebelum nikah, pada saat mengkhitbah atau sebelumnya, maka hal itu haram dan tidak boleh dilakukan.Tidak boleh bagi seseorang untuk bersenang-senang dengan wanita asing yang bukan mahramnya, tidak dengan ucapan, tidak dengan memandang dan tidak dengan berdua-duaan. Telah tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ. وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ

“Janganlah seseorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali wanita tersebut disertai mahramnya, dan janganlah wanita melakukan safar kecuali disertai mahramnya” (Muttafaqun ‘alaihi – red)

Walhasil, apabila hubungan tersebut setelah akad, maka tidaklah mengapa. Namun apabila sebelum akad nikah, meskipun setelah khitbah dan diterima, maka sesungguhnya tidak boleh, itu adalah perbuatan haram baginya, sebab wanita tersebut masih asing dan belum menjadi mahramnya hingga dia mengadakan akad dengannya.

(Dinukil untuk http://ulamasunnah.wordpress.com dari buku “Bingkisan ‘tuk Kedua Mempelai” hal 475, Abu Abdirrahman Sayyid bin Abdirrahman As Shubaihi, taqdim dan Murajaah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penerjemah Abu Huzaifah, penerbit Maktabah Al Ghuroba, Solo)

****

Menolak Pinangan Tanpa Alasan

Oleh: Asy Syaikh Shalih Bin Fauzan Al Fauzan

Pertanyaan:
Bagaimana hukum seorang wanita menolak pinangan (khithbah) dari seorang laki-laki tanpa alasan?

628152404xxxx@satelindogsm.com

Jawab:
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafidzahullah ditanya oleh seorang pemudi dengan pertanyaan yang senada dengan pertanyaan di atas, beliau hafidzahullah menjawab:

“Apabila engkau tidak berhasrat untuk menikah dengan seseorang maka engkau tidaklah berdosa untuk menolak pinangannya, walaupun ia seorang laki-laki yang shalih. Karena pernikahan dibangun di atas pilihan untuk mencari pendamping hidup yang shalih disertai dengan kecenderungan hati terhadapnya.

Namun bila engkau menolak dia dan tidak suka padanya karena perkara agamanya, sementara dia adalah seorang yang shalih dan berpegang teguh pada agama maka engkau berdosa dalam hal ini karena membenci seorang mukmin, padahal seorang mukmin harus dicintai karena Allah, dan engkau berdosa karena membenci keteguhannya dalam memegang agama ini. Akan tetapi baiknya agama laki-laki tersebut dan keridhaanmu akan keshalihannya tidaklah mengharuskanmu untuk menikah dengannya, selama tidak ada di hatimu kecenderungan terhadapnya. Wallahu a’lam” (Al Muntaqa min Fatawa Fadilatusy Syaikh Shalih Al Fauzan, 3/226-227, sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah, 2/706-707)

Sumber: Majalah Asy Syariah halaman 75
Vol II/No.04/Desember 2003/Syawwal 1424 H

Dicopy dari: 

http://www.ghuroba.blogsome.com

http://kaahil.wordpress.com/2013/03/05/hukum-pacaran-sebelum-nikah-dan-hukum-menolak-khitbahpinangan-tanpa-alasan/

Dan, gara-gara ini juga jadi ingat kalau ada kawanku yang minta dibikinin tulisan dari kata-katanya, “Kalau kau mencintai seseorang karena rupanya, bagaimana kau mencintai Tuhanmu yang tak berupa?” Oh, well, aku beneran lupa, dan kayaknya masih sibuk nugas deh. Kalau procrastinating pun apa yang kutulis itu asal, jadi kelihatannya gak akan selesai dalam waktu dekat, kalau kamu baca, punten ya -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s