Inter Disiplin

Saat kita memasuki dunia kelak, kita akan dihadapkan dengan berbagai jenis masalah, dan akan sulit untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut jika kita hanya punya satu sudut pandang, terutama sudut pandang satu keilmuan saja. Karena pada faktanya, semua ilmu itu terintegrasi. Sebuah masalah yang terjadi atau solusi yang kita berikan terhadap suatu hal pun akan memiliki pengaruh terhadap hal-hal lain. Misalnya: karena rumah kita jauh dari peradaban seperti listrik pln, kita pun meng-install pembangkit listrik tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan energi di rumah kita tanpa merepotkan pln. Dan masalah pun belum selesai, kita perlu mempertimbangkan distribusi dan sistem kontrol plts tersebut, lalu kondisi cuaca yang mungkin bisa sampai hujan badai kalau sedang buruk, penempatan plts agar tidak mudah rusak, bahkan limbah yang mungkin ditimbulkan kalau plts tersebut tergores lumayan dalam saat sedang hujan. Dan mungkin ada banyak lagi perubahan yang dapat timbul sebagai reaksi dari sebuah masalah atau sebuah solusi.

 

Bahkan, mungkin setiap hal yang kita lakukan, meskipun hanya sekedar diam tanpa berbuat apa-apa, juga akan membentuk dunia. Seperti efek kupu-kupu Lorentz, saat Lorentz menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer dalam usahanya untuk meramal cuaca. Hasil perhitungannya itu kemudian digambarkan dalam bentuk kurva yang dicetak pada sehelai kertas. Pada awalnya, Lorentz mencetak kurva dalam format enam angka di belakang koma (…, 506127). Kemudian untuk menghemat waktu dan kertas ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (…,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas yang sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi dengan menggunakan enam angka di belakang angka. Satu jam kemudian, Lorentz terkejut dengan hasil yang sangat berbeda dari apa yang diharapkan. Pada awalnya, kedua kurva yang tercatat tersebut memang berhimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang sama sekali berbeda. Inilah yang kemudian dikenal sebagai “efek kupu-kupu” (butterfly effect). Efek ini mengibaratkan kepakan sayap kupu-kupu di Brasil (setara dengan pengabaian angka sekecil 0.000127) akhirnya mampu memicu terjadinya badai tornado diTexas beberapa bulan kemudian. Artinya, sekecil apa pun tindakan kita sekarang, pasti akan berdampak besar di kemudian hari. Efek ini mengajari kita untuk berhati-hati dalam berpikir, berbicara, dan bertindak, karena semua hal yang kita lakukan, meski sekecil kepakan sayap kupu-kupu, dapat berpengaruh signifikan kelak, seperti terjadinya badai. Yah, mungkin.

 

Aku selalu kagum dengan para orang-orang cendekia di zaman dahulu, khususnya ilmuwan muslim. Karena mereka semua adalah polymath, ahli di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dalam kasus ilmuwan muslim, keistimewaan mereka adalah umumnya mereka hafal Al-Qur’an, dan mereka tetap ahli di berbagai bidang. Salah satu contoh ilmuwan muslim yang terkenal adalah Ibnu Sina dengan pengetahuan kedokterannya. Mungkin itu salah satu penyebab perkembangan islam pada zaman dahulu sangat cepat, mereka ahli dalam berbagai bidang dan dapat mempertimbangkan masalah dari berbagai sudut pandang.

 

Dan mungkin ini juga faktor yang melatarbelakangi ada mata kuliah baru bernama Proyek Multidisiplin Teknik Fisika, dimana para mahasiswa Teknik Fisika ITB dikelompokkan bersama dengan mahasiswa sefakultas (Teknik Kimia, Teknik Industri dan Manajemen Rekayasa Industri) untuk menyelesaikan suatu masalah. Pada semester ini, masalah yang diangkat adalah instalasi pembangkit listrik tenaga gas pada ITB Jatinangor. Mata kuliah ini perlu kuakui sangat membuka wawasan. Aku banyak belajar mengenai bagaimana memandang suatu proyek dari sudut pandang lain, seperti mendeskripsikan masalah dan stakeholder dengan metode fishbone dan catwoe, menentukan alternatif paling baik, serta belajar mengenai proses gasifikasi.

 

Mungkin ada yang bilang kalau jurusan yang kutempuh terlalu luas, kita belajar segala hal fisis, dari pelajaran mesin, elektro, sipil, tata ruang dan berbagai ilmu susah lainnya, dan lain semacamnya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bahkan aku masih merasa sudut pandang jurusanku yang luas ini juga belum cukup untuk menyelesaikan suatu masalah, dan pemikiran tersebut terbukti benar saat mata kuliah ini berlangsung.

 

Mungkin banyak yang masih menganggap Fisika Teknik itu jurusan yang susah, ribet, tapi keren. Haha, kalau kau tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan. Memiliki banyak sudut pandang dan wawasan yang luas itu menyenangkan loh🙂

2 pemikiran pada “Inter Disiplin

  1. “kalau kau tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan”, bagus sekali ungkapan ini … Alhamdulillah kalau ternyata kuliah PRID membuka wawasan …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s