Kegagalan

Entah kenapa kegagalan itu selalu dinilai sebagai suatu hal yang negatif. Entah apakah saat ini masyarakat terlalu maju dan menuntut keberhasilan sehingga orang-orang yang gagal tidak memiliki tempat atau apa. Pelatih klub sepakbola yang tidak pernah menang tidak akan butuh waktu lama untuk dipecat–atau ditekan para suporter untuk mundur, begitu juga pegawai yang gagal memenuhi ekspektasi atasannya, itu hanya sebagian contoh yang umum terjadi sekarang.

Siang ini ada kejadian yang membuatku merasakan kegagalan, gagal dalam memenuhi ekspektasi orang lain, gagal di bidang yang ingin kukuasai, dan yang paling parah, gagal memenuhi ekspektasiku terhadap diriku sendiri. Membuatku memandang rendah dan tidak menyukai diriku. Tidak perlu disebutkan detail kejadiannya disini, yang jelas saat ini aku merasa down.

Meski aku diberi waktu tambahan 5 hari untuk membereskan ini dan yang lain mengatakan tidak apa-apa–setidaknya bahasa tubuh mereka menyatakan demikian, kalau aku tidak salah tangkap–aku tetap menyalahkan diriku atas apa yang belum maksimal kukerjakan, keacuhan dan lain sebagainya. Dan masalahku adalah karena sampai sekarang aku tahu.

Aku tahu harus berbuat apa, harus kemana, bagaimana melakukannya, tapi tidak berbuat apa-apa.

Dan mengetahui itu pun hanya membuat sindiranku terhadap diriku sendiri semakin menyesakkan.

Tapi entah kenapa saat ini aku merasa inilah yang kubutuhkan. Perasaan tidak puas terhadap kondisi saat ini, tidak suka untuk membiarkan kondisi ini tetap berlangsung, keinginan untuk berubah dan keharusan untuk melakukannya. Dan, jujur, aku ingin perasaan ini bertahan terus, untuk memotivasi diriku, meneguhkan tekadku dan menguatkan semangatku untuk terus melakukan tugasku.

Aku heran, kenapa banyak orang yang tidak ingin merasakan kegagalan–setidaknya dari pengalamanku selama beberapa tahun terakhir, orang-orang cenderung menghindar. Mengubah nilai rapot di sekolah agar bisa lanjut kuliah ke kampus yang bagus, menyontek saat smp atau sma karena tidak ingin dianggap gagal oleh masyarakat–atau mungkin ingin secepatnya keluar dari sekolah tanpa pandangan negatif dari lingkungan– serta membiarkan konsep-konsep keren yang ada tetap bertahan sebagai konsep, selalu ada alasan untuk tidak melakukannya, padahal kerugian kalau konsep itu dijalankan tapi tidak terwujud pun menurutku lumayan baik. Segitu rendahnya kah orang-orang yang gagal menurut kita?

Aku juga heran kenapa tidak ada sekolah yang mengajarkan muridnya untuk gagal, atau setidaknya memberi pengetahuan apa yang dapat dilakukan kalau muridnya gagal. Selalu ada resiko untuk gagal, baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam masalah akademik, dalam pekerjaan, dalam segala hal. Dan cepat atau lambat itu akan terjadi. Apa yang dapat diharapkan pada orang yang tidak tahu bagaimana menghadapi kegagalan? Akankah diam di tempat saja, depresi, melupakan segalanya atau menghilang dari masalah akan membereskan kegagalan tersebut?

Entah lah, bagaimanapun juga kalau disikapi dengan benar, kegagalan merupakan hal yang bermanfaat. Bukan untuk dilakukan terus-terusan memang, tapi sebagai pelajaran untuk melanjutkan kehidupan, motivasi untuk jadi lebih baik di masa depan nanti, dan pengingat agar selalu membumi dalam kondisi apapun.

Kamu gagal? Ya sudah, setidaknya apa yang kamu telah lakukan jauh lebih baik daripada mereka yang tidak mencoba, bukan?

Dan aku pun masih berharap perasaan seperti saat ini terus ada dalam kehidupanku, tenang lah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s