Marah

Hari ini bener-bener tidak terprediksi lah, pas praktikum sebuah mata kuliah tadi, ada sebuah kejadian yang bikin dosenku marah. Padahal dosen ini bukan tipikal orang yang suka (atau pernah terlihat) marah.

Jadi, saat itu ada 3 kelompok praktikum, kelompokku yang sedang membereskan sisa-sisa praktikum dan 2 kelompok yang sedang mulai praktikum, tapi kasusnya beberapa anggota kelompok itu terlambat, dan saat praktikum pun ada beberapa orang yang tidak punya pekerjaan. Lalu, dosenku itu mengumpulkan mahasiswa yang sedang praktikum ke tempat di dekat kelonpokku dan berkata kira-kira seperti ini (agak lupa redaksi lengkapnya)

Kalian disini mau praktikum dengan serius? Kalau terus telat seperti ini, nanti waktu praktikum kita kepotong shalat jumat lagi, lama lagi jadinya. Kalau kalian nggak serius, lebih baik pulang saja. Toh saya juga ngajar disini karena saya bosan ngeliat kualitas tugas-tugas akhir yang sampah seperti yang sudah-sudah.

Harusnya kalian mensyukuri kesempatan ini untuk belajar, bukan cuma bengong ngeliatin teman kalian ngerjain. Soalnya kalau bukan sekarang, kapan lagi kalian mau belajar? Pas sudah masuk perusahaan besar? Pas sudah lulus dengan ipk yang bagus? Bullshit itu.

Udah, sekarang kalian buka laptop masing-masing dan cobalah kerjakan apa yang ada di modul

Setelah itu, mahasiswa di ruangan itu langsung diam dan nurut semua. Entah tersindir kata-katanya, atau mungkin juga kaget dan takut ngeliat dosen yang biasanya baik, penyayang dan pengertian bisa menyampaikan kalimat yang *jleb* gitu, meski tanpa meninggikan suara tapi kelihatannya beliau memang marah.

Tak lama kemudian, setelah kami selesai membereskan praktikum, temanku bertanya, tadi dosen itu marah ke kita juga nggak ya? Soalnya pada awalnya aku juga terlambat, meski syukurnya di kelompokku nggak ada yang sempat gabut. Tapi bagaimanapun, mendengar kata-kata itu dari dosen seperti beliau rasanya jleb banget sih. Kelihatannya benar, orang yang jarang marah itu punya wibawa lebih saat marah.

Setiap orang punya hak untuk marah, tergantung pada apa yang orang tersebut anggap penting, dan pada seberapa parah orang tersebut merasa kecewa. Dan kelihatannya ini memang alasan yang valid untuk marah, bagaimanapun juga jika mahasiswanya seperti ini, masa depan seperti apa yang bisa kita harapkan? Bukankah (seharusnya) mahasiswa itu menjadi agen perubahan, pengganti sosok penting di masyarakat, contoh yang dapat ditiru dan penjaga nilai-nilai baik pada masyarakat? Masihkah hal ini berlaku?

Yah, setidaknya biarlah ini menjadi sindiran dan motivasi bagi kaum mahasiswa, terutama bagi para mahasiswa senior yang sedang bersiap meninggalkan tempat perkuliahan menuju dunia nyata. Kalau begini terus, yakin bisa mengubah dunia sesuai dengan ideologi yang masih tersisa? Kalau begini terus, yakin bisa bertahan di dunia nyata? Kalau begini terus, yakin setelah lulus masih ada manfaat yang bisa kita berikan?

Kalau belum yakin, yuk mulai berubah, tak perlu drastis, perlahan saja, membenahi diri agar kita lebih yakin. Berhenti jadikan jam karet sebagai kebudayaan dan mulai tertarik atau serius dalam menekuni pelajaran mungkin akan jadi awal yang baik bagi kita. Karena waktu yang tersisa bagi kita sebelum terjun ke dunia nyata tidaklah lama, karena itu mulailah berubah, agar pertanggungjawaban kehidupan kita nantinya juga lebih mudah, semoga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s