Keramaian

Heran, dari dulu aku lebih suka menyendiri daripada berkegiatan rame-rame. Meskipun sifat fluktuatif antara extrovert dan introvert, kayaknya introvert dominan ya, haha.

Tadi diajakin pawai buat acara itb insight yang bakal dilaksanakan lusa. Acaranya keren banget, ada wahana sains buat anak-anak dan pameran beberapa aplikasi bikinan anak ft, rumah hantu 4d, ngundang band netral juga lagi. Sayangnya aku gak suka kondisi saat jumlah orangnya terlalu banyak, dan aku sangat tidak suka hal-hal yang berisik. Aku bisa dengan mudah kehilangan rasa hormat untuk orang-orang yang mengeraskan suaranya tanpa alasan yang jelas. Sederhananya, gak boleh ada yang lebih berisik daripada aku, hahaha. Dan mungkin ini juga alasan kenapa aku tidak menyukai pawai.

Aku juga pernah mencoba ikut demonstrasi, saat masih sma dan isu yang diangkat adalah isu pendidikan. Dan itu demo pertama dan terakhirku, haha. Bukan karena tidak mau memperjuangkan hal yang kuanggap penting, tapi lebih karena metode yang sesuai dengan perjuangan kita berbeda 🙂

Dulu aku penasaran banget konser itu kayak apa. Tapi pas kelompokku ikut net quiz dan jadi juara 2 (lupa itu kuis apa, tapi menang, hehe), ada grup band yang tampil, dan sound speakernya sangat berisik. Dan sejak itu aku tidak punya minat untuk ikut di acara yang sound sistemnya sangat berisik. Jadi kayaknya lusa aku gak bakal nonton netral nih, haha.

Entah ya, sampai sekarang aku gak suka dengan orang yang bersuara keras. Menurutku itu identik dengan ngotot dan memaksakan pendapat, dan aku gak suka. Aku suka diskusi dan hormat pada orang-orang yang memberikan pendapat dan sudut pandangnya, tapi diskusi bisa jadi kacau dan ricuh saat ada yang cara berpendapatnya kurang tepat.

Apakah di negeri ini hanya ada satu pendapat yang benar dan harus diikuti oleh semua orang?

Entah lah, yang jelas aku menyukai kedamaian dan ketenangan.

Aku menganggap meyakinkan orang bahwa acara lusa itu keren lebih baik daripada bergerombol keliling kampus dan meneriakkan acara tersebut, menurutku itu mengganggu kondisi perkuliahan dan nugas. Aku menganggap meyakinkan orang bahwa isu ini penting untuk dirubah dan memperjuangkannya lebih penting daripada demo yang sering berakhir ricuh. Dan aku menganggap konser band itu berisik, sebagus dan seinspiratif apapun lagunya.

Mungkin ini cuma pandangan seorang introvert yang hobi menyendiri dan suka kedamaian, bagaimanapun, tiap orang punya sudut pandang yang berbeda, kan?

Kegagalan

Entah kenapa kegagalan itu selalu dinilai sebagai suatu hal yang negatif. Entah apakah saat ini masyarakat terlalu maju dan menuntut keberhasilan sehingga orang-orang yang gagal tidak memiliki tempat atau apa. Pelatih klub sepakbola yang tidak pernah menang tidak akan butuh waktu lama untuk dipecat–atau ditekan para suporter untuk mundur, begitu juga pegawai yang gagal memenuhi ekspektasi atasannya, itu hanya sebagian contoh yang umum terjadi sekarang.

Siang ini ada kejadian yang membuatku merasakan kegagalan, gagal dalam memenuhi ekspektasi orang lain, gagal di bidang yang ingin kukuasai, dan yang paling parah, gagal memenuhi ekspektasiku terhadap diriku sendiri. Membuatku memandang rendah dan tidak menyukai diriku. Tidak perlu disebutkan detail kejadiannya disini, yang jelas saat ini aku merasa down.

Meski aku diberi waktu tambahan 5 hari untuk membereskan ini dan yang lain mengatakan tidak apa-apa–setidaknya bahasa tubuh mereka menyatakan demikian, kalau aku tidak salah tangkap–aku tetap menyalahkan diriku atas apa yang belum maksimal kukerjakan, keacuhan dan lain sebagainya. Dan masalahku adalah karena sampai sekarang aku tahu.

Aku tahu harus berbuat apa, harus kemana, bagaimana melakukannya, tapi tidak berbuat apa-apa.

Dan mengetahui itu pun hanya membuat sindiranku terhadap diriku sendiri semakin menyesakkan.

Tapi entah kenapa saat ini aku merasa inilah yang kubutuhkan. Perasaan tidak puas terhadap kondisi saat ini, tidak suka untuk membiarkan kondisi ini tetap berlangsung, keinginan untuk berubah dan keharusan untuk melakukannya. Dan, jujur, aku ingin perasaan ini bertahan terus, untuk memotivasi diriku, meneguhkan tekadku dan menguatkan semangatku untuk terus melakukan tugasku.

Aku heran, kenapa banyak orang yang tidak ingin merasakan kegagalan–setidaknya dari pengalamanku selama beberapa tahun terakhir, orang-orang cenderung menghindar. Mengubah nilai rapot di sekolah agar bisa lanjut kuliah ke kampus yang bagus, menyontek saat smp atau sma karena tidak ingin dianggap gagal oleh masyarakat–atau mungkin ingin secepatnya keluar dari sekolah tanpa pandangan negatif dari lingkungan– serta membiarkan konsep-konsep keren yang ada tetap bertahan sebagai konsep, selalu ada alasan untuk tidak melakukannya, padahal kerugian kalau konsep itu dijalankan tapi tidak terwujud pun menurutku lumayan baik. Segitu rendahnya kah orang-orang yang gagal menurut kita?

Aku juga heran kenapa tidak ada sekolah yang mengajarkan muridnya untuk gagal, atau setidaknya memberi pengetahuan apa yang dapat dilakukan kalau muridnya gagal. Selalu ada resiko untuk gagal, baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam masalah akademik, dalam pekerjaan, dalam segala hal. Dan cepat atau lambat itu akan terjadi. Apa yang dapat diharapkan pada orang yang tidak tahu bagaimana menghadapi kegagalan? Akankah diam di tempat saja, depresi, melupakan segalanya atau menghilang dari masalah akan membereskan kegagalan tersebut?

Entah lah, bagaimanapun juga kalau disikapi dengan benar, kegagalan merupakan hal yang bermanfaat. Bukan untuk dilakukan terus-terusan memang, tapi sebagai pelajaran untuk melanjutkan kehidupan, motivasi untuk jadi lebih baik di masa depan nanti, dan pengingat agar selalu membumi dalam kondisi apapun.

Kamu gagal? Ya sudah, setidaknya apa yang kamu telah lakukan jauh lebih baik daripada mereka yang tidak mencoba, bukan?

Dan aku pun masih berharap perasaan seperti saat ini terus ada dalam kehidupanku, tenang lah 🙂

There Is Still Time to Change

There Is Still Time to Change

Video yang bagus buat orang-orang yang sering berpikir negatif terhadap masa depan dunia ini, terutama bagi orangtua dengan anak kecil 🙂

Mungkin kita sering berpendapat bahwa dunia di masa depan akan menjadi jauh lebih buruk daripada apa yang telah terjadi saat ini. Herannya, meski kita berpikir itu yang akan terjadi, kita tidak melakukan apa-apa, seolah itu adalah hal yang sudah pasti terjadi dan tidak dapat dihindari. Tapi, bukankah itu sekarang masih belum terjadi? 🙂

Entah lah, rasanya orangtua dan anak-anak itu jauh berbeda ya, orangtua dipenuhi dengan ketidakpercayaan akan masa depan, dan karena itu mereka melakukan persiapan sebaik mungkin untuk menghadapinya. Sementara anak-anak belum punya persiapan apapun untuk masa depan, tapi mereka punya harapan, kepercayaan bahwa semua dapat dilakukan. Dan mungkin sebuah harapan, yang disertai dengan usaha sungguh-sungguh untuk mewujudkannya, dapat berpengaruh besar pada kehidupan kita saat ini, bahkan mungkin pada dunia 🙂

Seperti yang pernah dilakukan pada zaman dahulu, saat seseorang berusaha untuk mengubah dunia saat lingkungannya dipenuhi dengan ketidakteraturan, perang antar golongan sering terjadi, rasa malu tidak dimiliki dan kehidupan dipandang sebelah mata, dimana satu gender dianggap jauh lebih baik dibandingkan gender yang lainnya. Seseorang yang terus menerus dihujat dan diserang saat menunjukkan pandangannya mengenai bagaimana tingkah laku masyarakat yang lebih baik, hanya karena dia percaya pada aturan lain, aturan yang dibuat oleh Yang Maha Mengetahui. Seseorang yang terus berharap, terus berdoa dan terus berjuang untuk menerapkan aturan itu sebagai landasan peradaban manusia. Seseorang yang kokoh pada pendiriannya meski diserang dari berbagai arah. Ya, kita tahu siapa dia 🙂

Tapi adakah yang mau mengambil posisinya di zaman ini, demi masa depan yang lebih baik? Aku yakin pasti ada, dan mungkin jumlahnya lumayan banyak. Meski orang-orang ini tidak (atau belum) mengenal satu sama lain, setidaknya tenang lah, masih ada waktu untuk berubah 🙂

Saat Sebuah Masjid di Inggris Didemo

Saat Sebuah Masjid di Inggris Didemo

Ini salah satu link yang menurutku menarik sih. Tentang apa yang dilakukan sebuah masjid di Inggris saat mereka didemo. Semoga kita dapat menyikapi segala sesuatu dengan lebih tenang dan bijak 🙂

 

*Procrastinating kali ini udah sampe level parah, hahaha, anak-anak FTI 2010 pasti pada tahu sih apa yang bisa bikin stres sampai aku perlu procrastinating separah ini, tapi ya sudah lah ya. Hidup emang gak bisa diprediksi, jalanin aja, tetap menarik kok 🙂

Inter Disiplin

Saat kita memasuki dunia kelak, kita akan dihadapkan dengan berbagai jenis masalah, dan akan sulit untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut jika kita hanya punya satu sudut pandang, terutama sudut pandang satu keilmuan saja. Karena pada faktanya, semua ilmu itu terintegrasi. Sebuah masalah yang terjadi atau solusi yang kita berikan terhadap suatu hal pun akan memiliki pengaruh terhadap hal-hal lain. Misalnya: karena rumah kita jauh dari peradaban seperti listrik pln, kita pun meng-install pembangkit listrik tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan energi di rumah kita tanpa merepotkan pln. Dan masalah pun belum selesai, kita perlu mempertimbangkan distribusi dan sistem kontrol plts tersebut, lalu kondisi cuaca yang mungkin bisa sampai hujan badai kalau sedang buruk, penempatan plts agar tidak mudah rusak, bahkan limbah yang mungkin ditimbulkan kalau plts tersebut tergores lumayan dalam saat sedang hujan. Dan mungkin ada banyak lagi perubahan yang dapat timbul sebagai reaksi dari sebuah masalah atau sebuah solusi.

 

Bahkan, mungkin setiap hal yang kita lakukan, meskipun hanya sekedar diam tanpa berbuat apa-apa, juga akan membentuk dunia. Seperti efek kupu-kupu Lorentz, saat Lorentz menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer dalam usahanya untuk meramal cuaca. Hasil perhitungannya itu kemudian digambarkan dalam bentuk kurva yang dicetak pada sehelai kertas. Pada awalnya, Lorentz mencetak kurva dalam format enam angka di belakang koma (…, 506127). Kemudian untuk menghemat waktu dan kertas ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (…,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas yang sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi dengan menggunakan enam angka di belakang angka. Satu jam kemudian, Lorentz terkejut dengan hasil yang sangat berbeda dari apa yang diharapkan. Pada awalnya, kedua kurva yang tercatat tersebut memang berhimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang sama sekali berbeda. Inilah yang kemudian dikenal sebagai “efek kupu-kupu” (butterfly effect). Efek ini mengibaratkan kepakan sayap kupu-kupu di Brasil (setara dengan pengabaian angka sekecil 0.000127) akhirnya mampu memicu terjadinya badai tornado diTexas beberapa bulan kemudian. Artinya, sekecil apa pun tindakan kita sekarang, pasti akan berdampak besar di kemudian hari. Efek ini mengajari kita untuk berhati-hati dalam berpikir, berbicara, dan bertindak, karena semua hal yang kita lakukan, meski sekecil kepakan sayap kupu-kupu, dapat berpengaruh signifikan kelak, seperti terjadinya badai. Yah, mungkin.

 

Aku selalu kagum dengan para orang-orang cendekia di zaman dahulu, khususnya ilmuwan muslim. Karena mereka semua adalah polymath, ahli di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dalam kasus ilmuwan muslim, keistimewaan mereka adalah umumnya mereka hafal Al-Qur’an, dan mereka tetap ahli di berbagai bidang. Salah satu contoh ilmuwan muslim yang terkenal adalah Ibnu Sina dengan pengetahuan kedokterannya. Mungkin itu salah satu penyebab perkembangan islam pada zaman dahulu sangat cepat, mereka ahli dalam berbagai bidang dan dapat mempertimbangkan masalah dari berbagai sudut pandang.

 

Dan mungkin ini juga faktor yang melatarbelakangi ada mata kuliah baru bernama Proyek Multidisiplin Teknik Fisika, dimana para mahasiswa Teknik Fisika ITB dikelompokkan bersama dengan mahasiswa sefakultas (Teknik Kimia, Teknik Industri dan Manajemen Rekayasa Industri) untuk menyelesaikan suatu masalah. Pada semester ini, masalah yang diangkat adalah instalasi pembangkit listrik tenaga gas pada ITB Jatinangor. Mata kuliah ini perlu kuakui sangat membuka wawasan. Aku banyak belajar mengenai bagaimana memandang suatu proyek dari sudut pandang lain, seperti mendeskripsikan masalah dan stakeholder dengan metode fishbone dan catwoe, menentukan alternatif paling baik, serta belajar mengenai proses gasifikasi.

 

Mungkin ada yang bilang kalau jurusan yang kutempuh terlalu luas, kita belajar segala hal fisis, dari pelajaran mesin, elektro, sipil, tata ruang dan berbagai ilmu susah lainnya, dan lain semacamnya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bahkan aku masih merasa sudut pandang jurusanku yang luas ini juga belum cukup untuk menyelesaikan suatu masalah, dan pemikiran tersebut terbukti benar saat mata kuliah ini berlangsung.

 

Mungkin banyak yang masih menganggap Fisika Teknik itu jurusan yang susah, ribet, tapi keren. Haha, kalau kau tidak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan. Memiliki banyak sudut pandang dan wawasan yang luas itu menyenangkan loh 🙂

Where You Needed To Be

Where You Needed To Be

Aku suka sama kata-kata Douglas Adams ini, terutama setelah ngikutin bukunya, “The Hitchhikkers Guide To The Galaxy”. Memang bukunya agak terlalu imajinatif sih, dan dia juga menentang keberadaan Tuhan dengan argumen yang disampaikan secara unik. Tapi kata-kata ini malah membuatku berpikir, “Allah punya rencana”, dan kelihatannya itu lebih baik daripada rencanaku. Nikmatilah setiap saat dalam hidup, tapi jangan lupa mempertanggungjawabkannya kelak 🙂