Film

Liburan yang penuh dengan film dan permainan, mari lupakan sejenak laporan yang belum selesai meski batas waktu pengumpulan semakin dekat. Yah, apa lagi yang dapat dilakukan saat sudah tidak ada minat untuk mengerjakan? Meskipun beban kerja besok akan menjadi lebih berat, nikmatilah waktu singkat yang ada bersama keluarga. Lagipula wajar bukan jika orang yang telah lama tidak bersua dengan para saudara ingin menghabiskan waktu lebih dengan mereka, meski hanya nonton film bersama atau berdiskusi soal liga primer dan permainan di hp atau komputer. Yah, sekalian meracau lah malam ini, sayangnya masih belum ada anggota keluargaku yang seru untuk diajak meracau, meski hanya sekedar berbicara asal tentang dunia tanpa tahu apakah pendapat kita benar atau tidak.

Akhir-akhir ini lumayan mengikuti film detektif, terutama film detektif hasil produksi BBC yang tidak terlalu panjang untuk diikuti seriesnya. Setelah Broadchurch dan Sherlock, ternyata Luther juga merupakan serial yang menarik untuk diikuti. Ketiganya mengangkat hal yang menurutku berbeda meskipun sama-sama bercerita tentang detektif. Sherlock, yang terinspirasi dari sherlock holmes karya sir arthur conan doyle, lebih mengangkat drama yang emosional terkait kehidupan sherlock sebagai tokoh utamanya, dan jelas mempertunjukkan kelihaian deduksi dan beragam keahlian sang sherlock–hei, memang itu yang ingin dilihat oleh para penghemar sherlock holmes–dalam kasus-kasus yang dibuat lebih modern. Broadchurch, meskipun sama-sama mengangkat sisi drama yang emosional, lebih menyorot ke kehidupan keluarga dan komunitas masyarakat terkait apa yang mereka lakukan setelah terjadi pembunuhan di daerah mereka. Serial ini juga lebih mempertunjukkan sisi psikologis manusia dalam beberapa hal, seperti saat kehilangan sesuatu atau seseorang yang berharga dan saat ditekan oleh semua orang yang ada di sekitar. Dalam hal ini, mungkin Luther sedikit berbeda, setidaknya itulah kesimpulanku dari 2 episode awal yang telah kulihat. Luther lebih mengangkat adu kecerdasan dan strategi antara detektif dan penjahat dengan tema yang lebih mengarah ke kriminal daripada drama.

Dan tadi juga baru saja menyaksikan film Prisoners, yah, setidaknya film itu juga mengangkat tema kriminal meski ada juga detektifnya. Bercerita mengenai penculikan anak kelihatannya merupakan salah satu metode kampanye yang baik di bidang perlindungan dan perhatian kepada anak, apalagi jika ceritanya dikemas dengan menarik. Yah, setidaknya thriller dan adegan kriminal yang diangkat menurutku menarik untuk dilihat, dari penculik yang psikopat sampai ke tindakan dari keluarga korban terhadap tersangka penculikan.

Selain itu The Time of The Doctor juga lumayan untuk dijadikan tontonan akhir tahun, sayangnya perlu mengikuti Doctor Who dari series 5 untuk (sedikit lebih) mengerti apa yang diceritakan, karena memang episode ini ditujukan untuk meninggalkan kenangan terhadap Doctor ke-11 karena ini merupakan episode terakhirnya. Agak disayangkan plot ceritanya agak terlalu terburu-buru, mungkin karena terlalu banyak logika science-fiction yang harus dijelaskan dalam 60 menit, tapi tetap saja ada hal yang menarik untuk dibahas, terutama kata-kata terakhir Doctor ke-11 sebelum digantikan. Mungkin lain kali akan dibahas.

Salah satu hal lain yang menarik, Doctor Who kelihatannya telah menjadi sebuah capaian yang hebat dari BBC. Sebagai series yang telah diputar 50 tahun, banyak aktor yang pernah bermain di Doctor Who juga mendapatkan peran di series BBC lainnya, entah apa hal yang mempengaruhi ini. Dan sayangnya british series yang bagus belum ada yang diputar di stasiun tv lokal indonesia, padahal menurutku series seperti ini lebih baik daripada drama asia timur yang sering diputar. Yah, entah itu cuma seleraku yang unik atau karena banyak yang belum berkesempatan melihat british series, tapi akan menyenangkan bisa menontonnya di indonesia. Apalagi beberapa series seperti Doctor Who juga ditujukan sebagai serial anak-anak yang dapat ditonton semua umur, terutama karena serial ini mengangkat tema kepahlawanan dari orang yang tidak menyukai kekerasan ataupun senjata, berbeda dengan kebanyakan anime yang mengangkat tema kepahlawanan dari segi pertarungan. Agak berharap post ini dibaca oleh pihak yang berwenang dalam penyiaran televisi, karena aku termasuk orang yang sudah tidak menemukan entertainment yang menarik di stasiun tv manapun saat ini, kecuali sangat sedikit. Yah, mengembalikan acara pembelajaran yang menarik seperti yang diputar oleh salah satu produsen suplemen otak pada awal 2000an lalu juga dapat menjadi solusi yang efektif, setidaknya dalam mengembalikan minatku untuk menonton televisi kembali.

Tapi terlepas dari itu, aku agak penasaran, kenapa menonton skenario dari layar kaca itu sangat menarik ya? Entah itu film kartun, sinetron, drama korea, british series, ataupun pertandingan sepakbola, melihat hal-hal yang orang lain lakukan kelihatannya sangat menyenangkan dan dapat membuat banyak orang lupa waktu. Entah apakah karena kita ingin melupakan masalah diri sendiri dengan fokus pada masalah orang lain, mencari inspirasi untuk bertindak atau berkarya, ingin mengetahui dunia yang sangat sulit kita lihat dari kehidupan kita atau kenapa, semua orang jelas punya alasannya tersendiri. Tapi yang jelas, ada juga beberapa–atau mungkin lumayan banyak, entah lah, sayang aku tidak punya data–orang yang terlalu terobsesi dengan kehidupan para karakter di film tersebut.

Menonton bukanlah hal yang buruk, jelas ada hal positif yang dapat kita ambil. Sudut pandang yang mungkin berbeda, pelajaran terkait konflik yang mungkin sedang atau akan kita alami, dan memperhatikan sebuah skenario yang mungkin terjadi dalam jangka panjang. Tapi, kelihatannya obsesi bukanlah hal yang bagus, apalagi sampai menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyelami dunia fiksional tersebut. Karena, semenarik apapun dunia fiksi tersebut, selalu ada hal yang perlu diselesaikan di dunia nyata terkait diri kita. Dan meskipun sudah terbiasa untuk menonton, ada waktunya kita perlu mengambil peran utama dalam masalah di dunia nyata, bukan?

Cerita Para Halte

Diawali dari sebuah janji bertemu dengan seorang sahabat lama, hari ini kembali jalan-jalan mengelilingi jakarta dengan busway. Hari ini jalanan lumayan kosong, entah pengaruh dari “hari kejepit” atau libur panjang, yang jelas ini menyenangkan bagi pengguna angkutan umum sepertiku. Tujuan hari ini adalah Kota Tua, dan tentu saja sebagai warga negara yang berdomisili di perbatasan Tangerang-Jakarta Selatan, Blok M adalah tempat terdekat untuk masuk ke jalur transportasi Busway. Sepanjang jalur busway koridor 1, aku melihat urutan halte yang dilalui bus ini. Ternyata lumayan banyak cerita yang telah kubuat, dan tidak sedikit yang menyenangkan untuk dikenang atau bahkan direka ulang.

 

Dimulai dari Blok M, yang sering menjadi tempat yang kugunakan untuk berkumpul dengan teman-teman dari jejaring sosial Plurk, jejaring sosial yang mengandalkan fitur emotikon dan tempat “sampah” yang dapat diandalkan serta tempat untuk melontarkan berbagai komentar dan diskusi dari hal yang sangat penting sampai hal yang tidak masuk akal dan tidak perlu dibicarakan, kebetulan teman-teman semasa SMA banyak yang menggunakan plurk dan sampai sekarang kelompok kecil ini masih lumayan akrab. Memang agak disayangkan kesibukan sebagai mahasiswa dan jadwal universitas yang berbeda membuat gathering lebih sulit dilakukan sekarang, tapi setidaknya plurk masih merupakan tempat sampah yang baik dan setia, terutama terkait hal-hal yang tidak bisa diungkapkan di facebook dan blog. Selain itu, ada juga masjid Al-Fajr di belakang Rumah Sakit Pusat Pertamina yang sering kukunjungi untuk kegiatan rapat fortris semasa SMA dulu. Dan tiap rapat punya kesan, keasalan dan keunikannya masing-masing, dari foto lembaran absen dengan ratusan komentar terkait rencana politik yang asal dan SMA mana yang lebih penting saat fortris baru dibuat, rapat yang menyindir susunan struktur organisasi (koordinator sekolah yang tidak tahu letak sekolah-sekolah yang harusnya dia pegang, kepala divisi danus yang tidak punya minat dan pengalaman untuk berjualan, kepala divisi humas yang kehilangan handphone-nya dua kali, kepala divisi pergerakan yang tidak mendapat restu untuk ikut aksi dari orangtuanya, dan sekretaris jendral yang tulisannya sulit dibaca) hingga keusilan terhadap ketua fortris yang sedang berulangtahun.

Dilanjutkan dengan halte Masjid Agung Al-Azhar, yang terletak di sebelah sekolah Al-Azhar yang menjadi tempat pelatihan peserta OSN Fisika pada tahun 2009. Sekolah Al-Azhar ini memiliki 8 lantai, dan pelatihannya terletak di lantai 7. Dan, berhubung lift untuk pelatihan sering penuh dan beberapa peserta sepertiku malas untuk menunggu liftnya kosong, jadilah kami berolahraga sebelum pelatihan dengan naik tangga. Lumayan seru sih, meskipun agak canggung saat tahu jadi peserta di posisi 101 dari 101 orang yang lolos berdasarkan daftar absen, tapi tetap saja banyak pelajaran yang dapat diambil. Diskusi-diskusi ringan hingga berat terkait soal osn dan hal fisis aplikatif yang ada di sekitar. Ini juga hal yang aneh sih mengingat sebelum ujian dimulai aku lebih memilih membereskan hal lain yang menurutku lebih menenangkan jiwa daripada belajar. Ah, sudah lah, nikmati saja 🙂

Lanjut ke halte Bundaran Senayan dan Gelora Bung Karno, tempat ambil nilai olahraga dengan lari keliling dua putaran lintasan luar Lapangan Sepak Bola GBK. Ternyata di ITB pun ambil nilainya tidak jauh berbeda, sama-sama lari, haha. Oiya, tempat ini juga merupakan tempat pertamakalinya aku diajak adikku menonton pertandingan sepakbola secara langsung, saat tim nasional Indonesia bertanding dengan Liverpool di pertengahan tahun lalu. Meski tim favoritku sudah main duluan dan menang telak dari timnas 7-0, dan sekarang sedang memimpin premier league dengan perolehan poin yang sangat ketat, tapi perjuangan timnas saat itu tetap pantas untuk ditonton dan diacungi jempol. Perlawanannya lebih sebanding, meski agak disayangkan seminggu kemudian timnas kalah telak lagi dengan tim premier league lainnya. Selain itu, sebuah mall di senayan juga menyimpan kenangan tersendiri bagiku, yang masa kecilnya diisi dengan bunyi dan atraksi dari dentang jam pada mall tersebut saat jarum panjang menyentuh angka 12. Selalu ada perasaan khusus saat melihat jam tersebut beratraksi, bahkan sampai sekarang pun perasaan itu masih ada.

Dan berikutnya, halte bendungan hilir, halte singgah dari imigrasi saat membuat atau mengurus paspor, dan halte singgah dari gor sumantri, tempat sebuah try out dilaksanakan saat masih kelas 12 sma. Lalu halte setiabudi, yang terletak di dekat sma 3 yang menjadi tempatku mengikuti ujian seleksi osn fisika di tahun 2009. Ada lagi halte Bank Indonesia yang menjadi tempatku berkumpul saat bulan ramadhan lalu dan temanku mengusulkan untuk membuat perkumpulan antar universitas untuk dapat memberikan kontribusi lebih pada masyarakat. Meskipun aku terdaftar, tapi untuk yang satu ini aku cenderung berhati-hati, maklum, ini tahun pemilu dan mahasiswa sahabatku itu memang kelihatannya punya tendensi ke satu partai–tidak usah disebutkan partai mana–dan aku tidak berminat untuk diperalat secara politis. Yah, sekedar waspada. Dan yang terakhir sebelum stasiun kota adalah halte glodok, tempat favorit keluarga untuk berbelanja beberapa hal.

Di halte ujung, stasiun kota tua, nyaris ada cerita yang dapat dibuat tadi siang, tapi kelihatannya Allah belum berkenan dengan merancang skenario yang unik. Yah, terpaksa kembali ke Blok M setelah shalat jumat. Dan perjalanan kembali pun kadang masih diisi dengan kilas balik dari hal-hal yang telah lalu.

Setelah sampai di blok m pun masih ada niatan untuk random, pergi ke mall di senayan itu untuk melihat jam tersebut beratraksi. Dan, ternyata perasaan khusus itu masih ada, saat jam tersebut seolah memberikan performa yang terbaik hanya untukku meski banyak yang juga menunggu atraksi jam tersebut, terutama anak-anak. Yah, kadang kebahagiaan itu memang sederhana dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata bukan? Yah, setidaknya ada hal yang membuat perjalanan siang ini berkesan, sebuah cerita baru bahwa sejak kecil hingga mulai beranjak dewasa seperti saat ini, ada hal yang tidak berubah, dan kelihatannya tidak akan kubiarkan berubah.

 

Kelihatannya setelah semua berlalu, kehidupan hanyalah menjadi kumpulan cerita ya, entah untuk dikenang, dijadikan pelajaran ataupun dibicarakan oleh generasi penerus di masa depan. Cerita ini dapat tercipta dimana saja, meskipun tempat itu mungkin terkesan sepele seperti di dalam busway, bahkan mungkin cerita yang akan tercipta itu memiliki alur cerita yang sangat dalam, panjang, kompleks dan penuh dengan hal-hal yang menarik. Yah, bagaimanapun ceritanya, setidaknya buatlah cerita yang bagus agar dapat dikenang, dijadikan pelajaran dan dibicarakan secara positif oleh generasi berikutnya, iya kan? Setidaknya, ada kepuasan tersendiri setelah melakukannya, percayalah 🙂

 

Dan kelihatannya intensitas menulis akan sedikit berkurang di periode liburan ini karena beberapa hal, dari file-file film yang sudah berkali-kali merengek minta diputar, tempat-tempat yang ingin kukunjungi, sepeda yang perlu diurus, tempat-tempat yang ingin dikunjungi, dan kawan-kawan untuk bersilaturahmi. Yah, selamat datang kembali di ciledug laks, manfaatkanlah waktumu dengan baik ya 🙂

Ucapan

 

 

 

 

Menemukan komik yang menarik di pertengahan pekan ini. Ya, isu tidak boleh merayakan natal ataupun menyelamatinya selalu menjadi isu yang populer di akhir tahun, entah kenapa. Dan komik ini membahas toleransi antar penganut agama. Ah, sepakat ataupun tidak, isu ini selalu menarik bagi seorang muslim bukan? Yah, setidaknya perdebatan terkait ini kadang masih terjadi.

1476649_556107137808796_809921097_n

Komik ini menganggap bahwa ucapan merupakan prinsip yang mendasar bagi seorang muslim. Apa beratnya sebuah ucapan? Memang, itu hanya untaian kata. Tapi yang membedakan orang yang menganut agama islam dan tidak juga hanyalah kalimat syahadat. Ucapan juga merupakan hal yang membedakan orang yang munafik dan orang yang tidak, bukankah Rasulullah pernah bersabda “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya” dalam hadits yang diriwayat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim? Dusta dalam berkata dan ingkar dalam berjanji, padahal kata dan janji juga hanyalah ucapan, namun itu merupakan tanda orang munafik.

Mencoba googling tentang pentingnya menjaga perkataan, dan menemukan hadits arbain nomor 29 dari kitab Arba’in An-Nawawiyyah, yang menyebutkan “… Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci semua ini?’ Saya (Mu’adz ra) berkata, ‘Mau, wahai Rasulullah saw.’ Maka Rasulullah saw memegang lidahnya, beliau bersabda, ‘Tahan ini!’ Saya (Mu’adz ra) berkata, ‘Wahai Nabi Allah, adakah kita terhitung berbuat dosa dikarenakan apa yang kita bicarakan?’ Maka Rasulullah saw bersabda, ‘Ibumu kehilangan dirimu wahai Mu’adz, tidakkah banyak manusia terjerumus mukanya di dalam neraka dikarenakan lidahnya’, Atau ‘Bukankah hidung manusia terjerembab ke dalam neraka dikarenakan jeratan-jeratan lidahnya?’ ” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakan hadits ini hasan shahih).

Dan aku juga pernah mendengar kalimat, “Jika kau tidak cukup sayang terhadap saudaramu dengan memberitahukan keburukannya langsung kepada dirinya, janganlah kau nodai kehormatannya dengan membicarakan keburukan tersebut di belakangnya”. Lagi, semuanya hanya lah kata-kata yang mungkin tidaklah penting. Tapi hal yang sering tidak dianggap penting ini mampu menjatuhkan kehormatan orang, mampu merusak persahabatan, mampu menimbulkan kebencian, dan mampu mengawali terjadinya kejahatan. Baru-baru ini katanya ada kasus dimana seorang orang yang terhormat (kalau tidak salah semacam pendeta atau petinggi agama hindu di bali, kalau aku tidak salah ingat) yang meninggal ditusuk oleh anaknya sendiri. Alasannya? Anak tersebut tidak terima dinasihati oleh ayahnya. Lagi, hanya diawali dengan kata-kata.

Ya, kata-kata memang sepele, tapi bagi muslim, kata-kata itu merupakan hal yang signifikan. Ambil contoh dalam pernikahan, halal dan tidaknya sebuah pasangan hanya ditentukan oleh serah terima (akad) yang diucapkan dengan kata-kata. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam transaksi jual-beli, hubungan dengan dosen pembimbing atau petinggi masyarakat, bahkan hubungan dengan teman sebaya juga punya keterkaitan pada kata-kata yang kita pilih. Setidaknya itu akan berperan dalam jumlah teman yang kita miliki dan pandangan orang-orang di sekitar kita terkait diri kita, hanya dari kata-kata.

Dan mungkin itu lah penyebab kenapa menyelamati orang beragama lain atas hari rayanya bukan hal yang layak untuk dilakukan seorang muslim. Bagaimanapun, kata-kata merupakan salah satu hal yang mendasar dalam kepercayaan kita. Jika ada keharusan untuk menyelamati, entah untuk menjaga wibawa atau hubungan dengan teman, mungkin ucapan “selamat berlibur”, “selamat berkumpul dengan keluarga” dan “selamat hari libur” dapat dijadikan alternatif yang tidak menyalahi kepercayaan kita. Itu yang umumnya kulakukan, karena bagiku tanggal merah selalu merupakan hari raya, yang kurayakan dengan hal tertentu seperti shalat ied, atau hari libur, yang kunikmati dengan beristirahat, hahaha.

Oh iya, ada juga temanku yang berkata untuk tidak terlalu menggembar-gemborkan masalah ini di media sosial, berhubung memang mungkin ada orang-orang dari agama lain yang kurang senang atau tidak enak jika melihat apa yang dia percayai dipandang “kok gini sih” oleh para muslim, atau mungkin karena ada muslim yang kurang bijak dalam menyampaikan pandangannya di media sosial (entah dengan kalimat menghina atau semacamnya, dan aku tidak jarang menemukan yang seperti ini), padahal tulisan-tulisan di media sosial itu merupakan tulisan yang dapat dibaca semua orang. Yah, itu penyebab lain kenapa aku menyukai komik diatas. Menunjukkan batasan toleransi melalui aksi, tapi tetap ada prinsip yang perlu kita jaga.

Bagaimanapun juga, semester telah beres, selamat berlibur semua 😀

Playlist 1-Lagu Indonesia

Yak, another random night. Berawal dari sharing post dan semacamnya karena bosan nubes dan perlu ganti suasana, tiba-tiba ngeliat postingan gambar barusan itu postingan ke-182. Dan karena sekarang playlist iTunes sedang memutar lagu dari Blink 182, jadi kepikiran soal band-band di playlist. Mengingat selera musikku unik (yah, setidaknya dari pengalaman saat diajakin karaoke bareng teman-teman random alias skhole angkatan 2008 dan 2010, gak banyak yang tahu lagu pilihanku, bahkan banyak tempat karaoke yang tidak menyediakan lagu pilihanku, haha) kelihatannya isi playlist minta dibicarakan. Tapi kelihatannya cukup lagu indonesia yang menurutku enak didengar saja, hei, playlistku mencakup 871 lagu yang kalau diputar memakan waktu lebih dari dua hari, aku juga malas menulis semuanya. Yah, siapatau dari lagu yang kusuka ada yang worth it untuk mengisi waktu luang atau menenangkan pikiran dari tugas-tugas besar dan uas-uas yang tidak selalu menyenangkan. Lagipula lagu indonesia lebih mudah dibahas, berhubung jumlah lagunya jauh lebih sedikit daripada lagu luar, dan biar ada yang bisa dibanggakan sebagai anak bangsa, haha. Tenang, tidak semua lagu yang diciptakan anak bangsa tidak layak untuk disebarluaskan kok, banyak yang sebetulnya bisa bersaing dengan dunia luar kalau saja ada yang berniat untuk membuat versi internasionalnya, hehe 🙂

Dimulai dari musik buatan anak bangsa. Dalam kasus ini, file musik terbanyak disumbangkan oleh Pak Addie Muljadi Sumaatmadja, atau Addie M.S. dengan album The Sound of Indonesia, berisi lagu-lagu tradisional dan lagu-lagu nasional Indonesia yang dikemas dalam format orkestra. “Rasa Sayange”, “Bolelebo,Anak Kambing Saya” dan “Cublak-Cublak Suweng” direkomendasikan lah. Beruntung juga pernah bertemu langsung dengan Pak Addie saat mengisi kuliah umum di ITB, dan syukurlah saat itu beliau tidak melarang para peserta kuliahnya untuk mendownload lagu karyanya secara gratis. Yaa, kelanjutannya bisa ditebak lagu-lagu di iTunes ini berasal dari mana, haha.

Pak Addie diikuti oleh Pak Ari Lasso, pencipta lagu “Misteri Ilahi” yang merupakan lagu favoritku di masa sekolah dasar dulu. Lagu yang recommended ya itu, “Misteri Ilahi”. Oh iya, “Hampa” juga enak didengar kok. Band zaman dulu lainnya adalah Base Jam, dengan “Bukan Pujangga” dan “Rindu”.

Bondan Prakoso dan Fade2Black juga masuk, lagunya enak-enak dan menjadi satu-satunya band yang kudengarkan semasa sma dan kuliah tingkat awal saat musik Indonesia dipenuhi dengan virus lagu cinta, hahaha, entah kenapa kurang sesuai dengan lagu yang mengangkat tema itu, toh aku menganggap musik itu sarana untuk mengekspresikan diri, dan banyak hal lain yang layak untuk diekspresikan selain cinta. Haha, terlalu banyak lagu cinta yang beredar justru membuat lagu yang mengangkat tema lain lebih menarik, mungkin awal-awal orang antusias, tapi kalau begini terus umumnya orang juga akan bosan. Mungkin itu penyebab lagu-lagu tentang cinta yang kusuka umumnya lagu-lagu jaman dulu, bukan dari band jaman sekarang, haha. Dan kalau dipikir lagi, ini mirip dengan apa yang terjadi pada masjid, dulu saat masjid masih sedikit orang-orang selalu memenuhi masjid namun sekarang saat masjid sudah banyak justru jamaahnya kosong. Iya, ironis. Dan mungkin banyaknya lagu ini turut berperan dalam pembentukan remaja galau ya, lumayan banyak contoh subjek yang ditemukan meski tidak diketahui penyebab galaunya, hahaha. Oh iya, beberapa lagunya bahkan dibuat bentuk ceritanya oleh Fahd Djibran, kalau tidak salah judulnya “Hidup Berawal Dari Mimpi”, sesuai dengan judul lagunya. Dan lagu yang direkomendasikan adalah “Hidup Berawal Dari Mimpi”, “Kita Selamanya”, “R.I.P”, “Bumi ke Langit” dan “Ya Sudahlah”.

Oh, ada lagi, Pee Wee Gaskins dan Superman Is Dead. Alasannya tidak jauh berbeda dengan alasanku menyukai Bondan, bosan dengan lagu cinta. Selain itu, lagu “Dari Mata Sang Garuda” karya Pee Wee Gaskins yang diputar saat timnas indonesia berlaga di piala aff 2010 yang lalu juga membangkitkan rasa optimisme timnas akan meraih piala aff di tahun itu. Yaa, terlepas dari berhasil tidaknya, tapi punya lagu seperti ini tidak buruk kok. Selain itu “Sebuah Rahasia” dan “Aku Bukan Musuhmu” juga enak didengar kok. Untuk Superman Is Dead, coba lah dengarkan “Jika Kami Bersama” dan “Kuat Kita Bersinar”, it’s nice, really.

Almarhum Chrisye menyusul. A maestro, indeed. Lagunya bagus, terutama “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” dan “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada” yang membuat merenung, “Lirih” dan “Hip Hip Hura” juga enak didengarkan meski memang agak bergantung pada suasana hati, dan bahkan lagu “Kangen” yang aslinya karya Dewa 19 menurutku lebih pas saat dinyanyikan oleh Chrisye (kebetulan juga memang cuma versi itu yang kupunya, dan mungkin karena kurang sesuai dengan band itu).

Berikutnya, lagu yang jadi soundtrack pada film Laskar Pelangi, lagu “Sahabat Kecil” karya Ipang, diikuti dengan lagu “Malam Indah” dan “Bebas” karya Iwa Kusuma. “Pak Tua” karya Iwan Fals juga lumayan enak, sedikit gambaran di hari tua mungkin, haha. Sayang hanya itu lagu dari mereka yang ada di playlistku, hasil dari nemu secara random sih, nyaman untuk didengar dan teman yang baik dalam menghabiskan waktu, tapi belum ada niat menambah koleksi lagu mereka di playlist, hehe.

Lalu ada Jamrud, dengan lagu “Jauh”, “Kabari Aku”, “Terima Kasih”, “Selamat Ulang Tahun” dan “Pelangi di Matamu” dan Padi dengan lagu “Mahadewi”, “Sahabat Selamanya” dan “Sang Penghibur”. Dua band lain yang sering menemani malam nugas. Selain itu Sheila On 7 juga masih setia menemani dengan lagunya yang entah kenapa masih sesuai dengan telinga meski sudah berkali-kali diputar, dan untuk band yang terakhir ini justru aku tidak punya preferensi, lagunya enak-enak, hahaha.

Ok, jadi tadi ada niatan untuk menghubungkan playlist ini dengan hak cipta menurut pandanganku, secara aku lebih menyukai orang-orang yang tidak terlalu peduli dengan hak cipta dan berkarya karena ingin menyampaikan sesuatu, sehingga tidak masalah jika karyanya disebarluaskan begitu saja. Sayangnya lagi kurang mood, niat tadi hilang setelah debat via media sosial terkait kebencian dan pembasmian suatu golongan dengan satu sahabat lain. Haha, mungkin lain kali, kalau aku ingat dan mulai ada niat lagi untuk membahasnya, semoga. Sulit untuk membahas sesuatu saat sedang tidak mood, procrastinating pun terjadi karena tidak mood nugas atau belajar, niat awalnya yang membahas semua artis satu persatu pun sudah menguap setelah debat itu, di bagian akhir sudah tidak niat melanjutkan, tapi sayang kalau tidak diteruskan, hahaha.

Yah sudah lah, semua ada waktunya kan? 🙂

 

Haha, dan ternyata sampai sekarang pun kehilangan minat untuk melanjutkan tulisan ini. Ah, semua punya masanya tersendiri ya, ada masa semangat dan ada masa malas. Yah, mohon maaf untuk band yang memiliki nama dengan huruf-huruf yang terletak di bagian belakang urutan alfabet atas kekurangan dalam penjelasannya. Tapi bagaimanapun, karya-karya kalian semua kuhormati kok, two thumbs up for you guys! 😀

Sebuah Pertanyaan

Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama diberikan oleh seorang juniorku, dan dia memang memintaku membuat catatan mengenai pertanyaan ini, namun kelihatannya baru saat ini dapat terealisasi. Yah, perubahan kurikulum di program studiku memang lumayan unik, beban kerja dari tugas besar sangat bertambah setelah program studi ini terakreditasi internasional. Memang berat sih, tapi setidaknya setelah lulus dari ini aku akan dianggap sekompeten engineer-engineer di bidang studi yang sama dari universitas manapun. Selain itu, aku banyak belajar dari tugas-tugas yang selama ini telah diberikan. Yah, selalu ada sisi positif dari masalah kan? 🙂

Oke, pertanyaan yang dimaksud terkait dengan cinta dan Tuhan, dan kelihatannya lumayan sering diajukan, entah dalam puisi, untaian kata ataupun cerita, “Kalau kau mencintai seseorang karena parasnya, bagaimana kau mencintai Tuhanmu yang tak berparas?”. Sejujurnya, sampai sekarang aku pun belum tau apa jawaban yang tepat bagi pertanyaan ini. Karena belum ada respon yang terlintas dalam pikiran, mari kita analisis pertanyaan tersebut dengan menganggap ini sebuah pernyataan implikasi dalam bentuk jika “p” maka “q”. Dengan begitu, ada 4 kemungkinan orang menurut logika dari juniorku ini, yaitu “orang yang mencintai seseorang karena parasnya dan mencintai Tuhannya”, “orang yang mencintai seseorang karena parasnya dan tidak mencintai Tuhannya”, “orang yang tidak mencintai seseorang karena parasnya dan mencintai Tuhannya” dan “orang yang tidak mencintai seseorang karena parasnya dan tidak mencintai Tuhannya”. Oke, setelah menulis satu paragraf penuh aku baru menyadari kelihatannya menggolongkan subjek dan menganalisisnya satu persatu memang bukan logika yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Hahaha, yah, setidaknya kita mendapatkan sudut pandang yang baru terkait golongan dalam manusia, sebuah metode untuk menganalisis masalah, dan sekedar informasi atau detail menarik dari masalah tersebut.

Mari coba metode lain, metode perumpamaan, dengan mengumpamakan paras sebagai keju yang dimasukkan dalam adonan untuk membuat kue. Mungkin jika pertanyaan tersebut diubah untuk menyesuaikan dengan tema ini, “Jika kau menyukai kue karena keju yang ada di dalamnya, bagaimana kau menyukai sang pembuat kue yang tidak terbuat dari keju?” Ah, setidaknya sekarang mulai ada gambaran tentang pertanyaan tersebut, meski memang ini adalah perumpamaan yang sangat asal, hahaha.

Oke, kesimpulan sementara yang dapat kutarik adalah bahwa kedua pernyataan tersebut tidak lah berhubungan, mengacu pada contoh keju dalam kue tersebut. Tiap orang punya cara yang berbeda dalam memperlakukan kue tersebut, ada yang memakan kejunya terlebih dahulu lalu menyisakan bagian kue yang tidak mengandung keju, atau mungkin memberikannya ke orang lain. Ada juga yang mungkin memakan semua bagian yang tidak mengandung kejunya terlebih dahulu untuk menyisakan kejunya agar dimakan terakhir. Tapi semua itu tidak ada pengaruhnya terhadap bagaimana orang tersebut menyukai sang pembuat kue.

Mungkin seperti yang telah kusebutkan diatas (ah, ternyata logika yang tidak terstruktur seperti ini masih ada gunanya, hahaha), ada bermacam jenis orang, baik itu yang mencintai karena paras dan mencintai Tuhan, mencintai karena paras dan tidak mencintai Tuhan, mencintai bukan karena paras dan tidak mencintai Tuhan, serta yang mencintai bukan karena paras dan tidak mencintai Tuhan. Dan mungkin semua orang memiliki alasannya tersendiri untuk masuk ke dalam salah satu golongan, alasan orang-orang yang segolongan belum tentu sama, bahkan mungkin sebuah alasan yang menyebabkan seseorang masuk ke sebuah golongan dapat menyebabkan orang yang berbeda masuk ke golongan yang berbeda juga.

Dan jika logikaku benar, maka sebenarnya semua ini tergantung pada para pencinta (ya, maaf atas kosakata yang aneh, ini adalah kosakata yang dibuat berdasarkan logika karena aku belum dapat menemukan kata yang pas untuk memanggil orang-orang yang mencintai, kosakataku masih kurang banyak memang). Apa yang menjadi pertimbangan mereka untuk mencintai memang sepenuhnya merupakan hak individu mereka, tapi bagaimanapun saat mencintai seseorang, maka perlu diingat bahwa orang tersebut tidak hanya memiliki hal-hal yang mereka cintai, ada banyak hal lain yang mungkin tidak mereka cintai atau bahkan mereka benci dan terdapat dalam diri orang yang mereka cintai. Dan semua akan kembali pada sang pencinta, apa yang akan mereka lakukan untuk dapat berkompromi dengan kenyataan tersebut. Mungkin ada yang memutuskan untuk berubah membenci atau meninggalkan orang yang mereka cinta, ada yang memutuskan untuk bersabar, ada yang menyakiti orang yang mereka cinta atau ada yang berusaha untuk mengubah orang yang mereka cinta, dan ada berbagai skenario lain yang mungkin dapat dilakukan karena semua orang berbeda, tapi sulit untuk mengetahui apakah mereka mencintai Tuhannya atau tidak. Bagaimana bisa menilainya?

Dan semua juga tergantung pada yang dicinta, mau dicintai oleh pecinta seperti apa? Bagaimanapun, saat berbicara mengenai hubungan antar manusia, hubungan yang terjadi selalu merupakan hubungan dua arah, hubungan yang terjadi bukan karena keputusan sebelah pihak saja, namun harus ada keterlibatan dua belah pihak. Dan yang dicinta juga berhak untuk memutuskan mau menerima pecinta yang mencintai karena paras, dan meragukan apakah dia mencintai Tuhannya, atau tidak. Karena semua orang punya pilihan, bukan?

Mungkin itu penyebab Rasulullah saw pernah berkata, “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkarakarena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanyaPilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin” melalui Abu Hurairah kepada para laki-laki. Setidaknya, jika yang dipilih adalah mencintai karena agamanya, kemungkinan orang tersebut mencintai Tuhannya lebih tinggi daripada mencintai karena parasnya, dan kemungkinan untuk selamat dalam hari pembalasan juga lebih besar. Aku lupa periwayat haditsnya tapi setahuku hadits ini sudah lumayan sering dibicarakan di forum-forum pra-nikah atau forum lelaki atau perempuan yang galau nikah (bukan bermaksud menyamakan kedua forum tersebut, tapi mungkin memang keduanya mirip dari segi bahasan, dan mungkin beberapa dari para peserta juga).

Dan sekarang kembali kepada diri masing-masing, waktunya untuk bertanya mau mencinta karena apa dan mau dicinta karena apa 🙂

Kesepian vs Obesitas

Kesepian vs Obesitas

Sumber: http://dailyinfographic.com/loneliness-is-more-deadly-than-obesity-infographic

Info terkait mana yang lebih berbahaya bagi kesehatan seseorang, kesepian ataukah obesitas, mengacu pada statistik di amerika. Iya, keduanya sama-sama buruk, tapi setidaknya ini dapat menjadi semacam sindiran. Kita sering mendengar orang mengatakan “Jangan makan terlalu banyak, entar gendut loh” atau semacamnya, tapi kelihatannya jarang ada yang mengatakan. “jangan main internet terlalu lama, entar gak punya teman loh”. Entah, atau itu hanya terjadi di keluargaku ya?

Yah, pengalaman kalau pulang ke rumah dan ketemu dengan nenek, selalu saja dibuatkan makanan dalam jumlah berlebih meskipun dia juga sering memarahiku kalau terlalu banyak makan jajanan atau di luar rumah. Haha, salah satu fenomena doublethink, berpikir bahwa aku tidak boleh makan terlalu banyak tapi tetap saja memberiku makanan dalam porsi yang berlebih. Ah, doublethink, berpendapat bahwa skenario A harus berjalan sambil berpendapat bahwa skenario B yang bertentangan dengan A juga sama pentingnya. Yah, setidaknya itu contoh doublethink pertama yang kukenal, meskipun katanya jauh lebih banyak doublethink terkait, “Kalau kerja jangan mikirin dapat uangnya berapa, tapi kalau gak dapat uang buat apa kerja?” Yah, memang saat ideologi dihadapkan dengan realita kita belum tentu dapat pilihan yang mudah kan?

Yang harus diingat adalah, segala sesuatu yang berlebihan, baik itu dalam bentuk perasaan seperti kesepian, kegalauan, sedih, senang, benci atau perasaan lainnya, maupun dalam bentuk lainnya seperti persentase lemak tubuh, lama waktu bermain internet, lama waktu tidur, dan lainnya, itu tidak lah baik bagi kita. Karena segala sesuatu ada kadarnya, dan yang sesuai dengan kadar tersebut lah yang baik bagi diri kita 🙂

Jadi ingat sebuah hadits sebagai berikut:

Anas r.a. menceritakan bahwa ada tiga orang datang ke rumah istri-istri Nabi Saw. Mereka bertanya mengenai ibadah Nabi Saw. Ketika mereka diberitahu tentang bagaimana ibadah beliau, mereka terlihat sedih dengan kualitas dan kuantitas ibadah mereka. Mereka mengatakan, “Ibadah kita sama sekali tak sebanding dengan ibadah Rasulullah Saw., padahal beliau telah diampuni semua dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.” Lalu, ada salah seorang diantara mereka yang berkata, “Mulai sekarang aku akan shalat malam terus-menerus.” Yang lain berkata, “Mulai sekarang aku akan berpuasa (sunah) terus-menerus.” Yang lain lagi berkata, “Mulai sekarang aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.” Tak selang berapa lama, Rasulullah Saw. datang. “Saya tadi mendengar pembicaraan kalian. Demi Allah, aku ini orang yang paling takut dan paling bertakwa pada Allah. Namun, aku sendiri kadang berpuasa dan kadang tidak. Aku juga shalat malam, tapi aku juga tidur. Aku juga menikahi wanita. Orang yang tidak menyukai sunahku, berarti bukan termasuk golonganku,” (HR Al-Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)

Hadits di atas mengingatkan kita bahwa segala sesuatu itu harus berimbang, dan segala sesuatu ada aturan dan tata caranya, termasuk dalam beribadah kepada-Nya. Dan memang, ini berarti berlebih-lebihan dalam hal apapun bukanlah perkara yang baik bukan?

Kepuasan

Senin yang lalu merupakan hari yang kacau tapi menyenangkan, pertamakalinya presentasi jam 10 dan baru mulai membuat slide presentasi pada pukul 10.20, hahaha, pertamakalinya setelat ini selama nugas. Bukan karena tidak punya niat untuk mengerjakan presentasinya, tapi karena sampai saat yang ditentukan pun hal yang harusnya dipresentasikan pun memang belum beres. Ini satu-satunya mata kuliah dari S2 yang kuambil karena ada hubungannya dengan Tugas Akhir yang akan kukerjakan dan tidak ada mata kuliah yang mengakomodir ilmu ini dalam kurikulum S1 di program studiku, dan kelihatannya aku tidak berminat untuk mengambil mata kuliah S2 lain selama masa S1 ini. Tapi ini juga merupakan presentasi pertama yang membuatku puas, atas segala hal yang telah dilakukan selama mata kuliah ini.

SCADA, Supervisory Control And Data Aquisition, mata kuliah yang mendalami metode komunikasi data dari file yang berbeda. Mata kuliah ini berfokus pada OLE (Object Linking & Embedding) yang telah dijelaskan pada postingan terkait scada. Tugas besar yang harus dilaksanakan adalah untuk mengkomunikasikan data dengan web hmi (human-machine interface berbasis jaringan web) menggunakan salah satu software industri bernama Genesis64 dari iconics.

Salah satu hal yang menyebabkan kenapa perlu waktu lama untuk mempersiapkan presentasi adalah minimnya info terkait software tersebut di dunia maya. Dan, sebagai google engineer, kekurangan ini sangat memperlama waktu. Terpaksa harus melihat manual dan mencari hal-hal yang ingin kami lakukan di manual tersebut lebih sulit dibandingkan dengan mencari orang yang punya pengalaman serupa dan telah menyelesaikan masalahnya. Dunia maya memang tempatnya masalah ya, dari sekedar curhatan galau di media sosial sampai perdebatan sengit (dan kolot) di beberapa situs yang mengangkat tema suku, agama, ras, kesetaraan gender, klub sepakbola, dan isu-isu kontroversial semacam itu. Dan karena dunia maya itu tempatnya masalah, kenapa tidak menaruh solusinya disini juga? Beberapa solusi, meski bukan solusi yang wah atau sangat out of the box, tetap akan sangat membantu kok, terutama bagi orang-orang yang tidak punya pengalaman di masalah terkait, cobalah menulis dan mendokumentasikan solusi yang pernah dibuat 🙂

Oke, meskipun solusinya sulit dicari, harus diakui kejadian itu justru memperbanyak pelajaran yang dapat diambil. Diawali dengan berkunjung ke kantor senior untuk meminjam kunci lab, berakhir dengan mengerjakan tugas secara mandiri disana karena beberapa informasi dan wejangan dari para senior. Dan entah kenapa, ada kepuasan tersendiri saat sebuah hal yang diawali dengan ketidaktahuan, bertemu dengan momen “oh, begitu caranya” setelah melalui berbagai proses yang dapat menjatuhkan semangat dan membuat putus asa.

Jadi ingat film sekolah rimba, terkait seharusnya pendidikan itu mempersiapkan anak didiknya untuk beradaptasi dan menghadapi dunia nyata. Jika masalah yang dihadapi sudah umum, mencari solusi dari orang lain merupakan hal yang wajar, namun jika masalah yang dihadapi tidak umum? Waktunya menggunakan semua pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki untuk menghasilkan solusi. Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambaNya kan?

Dan sekarang masih berniat untuk menyempurnakan tugas itu sebelum mengumpulkan laporannya, baru mulai memahami serunya mata kuliah itu dimana sih. Agak terlambat memang, semester sudah berakhir, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan? Lagipula, lebih baik belajar sekarang sebelum dihadapkan ke dunia nyata kan? 🙂