Menggurui dan Mengarahkan

Tadi habis isya nemenin junior ngunjungin rumah kepala DKM sebuah masjid untuk menyampaikan niatan bikin perpustakaan di masjid itu, biar kegiatan belajar di masjid itu lebih menarik. Yaa, aku sih lebih menganggap ini sebagai silaturahmi daripada urusan organisasi, toh silaturahmi juga mempermudah mengalirnya rezeki kan? Dan aku juga senang berbincang dengan orang ini, beliau enak buat diajak diskusi, dan tadi pun perbincangan yang terjadi keluar dari topik, seperti biasa, dari pembangunan ruang baca atau perpustakaan kecil, lanjut ke profil warga sekitar dan ujung-ujungnya tentang anak muda saat ini.

Awalnya kita berbicara soal pembangunan perpustakaan tersebut, barang-barang dari ruangan yang akan digunakan mau dipindah kemana, jenis rak buku yang ada, dan kapan buku-bukunya mau dipindahkan, lalu berlanjut ke evaluasi kegiatan belajar yang dilakukan oleh SKHOLE (ya, mungkin nanti perlu bikin tulisan sendiri untuk organisasi keren macam ini, haha) di daerah tersebut. Mengenai kenapa tiap kegiatan tidak banyak yang hadir, apa yang disukai anak-anak saat ini, faktor orangtua,pengaruh dkm dan rt/rw, dan beberapa hal lain. Pembicaraan pun terus berlanjut, dan kata-kata beliau yang paling ngena dari pembicaraan tadi adalah, “Saat ini anak-anak tidak suka digurui. Padahal tugas kami sebagai orangtua hanyalah mengarahkan.” Beliau bercerita mengenai sebuah organisasi kepemudaan sebagai contoh, tentang bagaimana anak-anak muda di organisasi tersebut membuat berbagai jenis proposal saat akan mengadakan acara untuk meminta dana, dan menyayangkan hal itu karena beliau berpendapat bahwa seharusnya organisasi dibentuk untuk memberi harapan bagi orang lain, bukan mengharapkan pemberian dari orang lain. Beliau sudah mencoba mengarahkan organisasi tersebut agar dapat mandiri secara finansial dengan bantuan dari rt/rw setempat, tapi sayangnya usaha beliau belum berhasil sampai sekarang karena apa yang beliau sampaikan hanya dikomentari oleh para anak muda, tapi belum ada yang dijalankan.

Jujur, kata-kata ini agak ngena ke aku. Soalnya aku memang bukan orang yang suka mendengarkan orang yang mengguruiku untuk melakukan sesuatu, aku lebih suka belajar dari pilihan yang kubuat, baik itu berhasil ataupun gagal. Aku kurang suka dengan orang yang mengatakan kamu seharusnya seperti ini dan seperti itu karena menurutku itu adalah pengalaman dari sudut pandang seseorang, dan apa yang berhasil bagi seseorang belum tentu akan berhasil padaku kan? Seminar terakhir yang kuikuti itu adalah SSDK (Seminar Sukses Di Kampus) yang poin-poinnya gak ada yang kujalankan sama sekali (terutama dalam poin mengatur waktu, dimana tugasku selalu deadline dan kadang bolos kuliah buat istirahat, nugas atau jalan-jalan), alhamdulillahnya prestasi akademikku masih lumayan, hahaha. Aku tidak punya masalah dengan seminar yang isinya informasi, seperti seminar tentang beasiswa dan semacamnya, tapi kalau seminar itu sudah terkait dengan bagaimana menjalankan hidup, mengatur diri dan lain semacamnya, aku gak bakal semangat buat ikut. Mungkin akan beda kalau fakta yang disampaikan terbukti secara statistik, tapi sayangnya kurang banyak seminar yang menyampaikan data seperti itu, dan karena itu aku sebagai peserta wajar dong untuk ragu yang disampaikan ini bener atau nggak.

Entah kenapa kata “menggurui” itu terdengar lebih seperti mendikte, dan kedengarannya menyebalkan. Sementara kata “mengarahkan” kalau konteksnya salah mungkin bisa mirip dengan kata menjerumuskan artinya, tapi tergantung juga sih, menjerumuskan ke hal yang baik gak bisa dibilang salah kan? Setidaknya selama definisi “baik” masih belum berubah, harusnya itu bukan masalah. Tapi yang jelas aku senang dengan kebebasan, meski tetap sadar kalau ada tanggungjawab, dan tidak terlalu suka kebebasanku diikat pada batasan-batasan dari pendapat orang yang tidak diketahui benar atau tidaknya.

Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku tidak terlalu tertarik pada motivator, seminar sukses, atau apapun yang menurutku menyampaikan pendapat atau memotivasi tanpa mengetahui kondisi, bahkan dalam kasus motivator kadang ada juga teman yang nyeletuk “Hidup ini gak segampang cocotnya *piiiip* (nama seorang motivator)”. Well, gimanapun juga sang motivator gak bisa disalahkan sih, toh memang kerjaan dia cuma memberikan motivasi, termotivasi apa nggak ya tergantung pribadi sendiri lah. Tapi kalau dipikir, kalau ada orang yang menjadikan motivator sebagai pekerjaannya, apakah ini pertanda bahwa tidak banyak masyarakat yang punya motivasi untuk melakukan suatu hal? Hm, mungkin ada baiknya tiap orang juga belajar memotivasi diri sendiri ya๐Ÿ™‚ *OOT*

Dan setelah dipikir lagi mungkin ada benarnya, kadang kita terlalu abai. Entah karena kita tidak suka digurui, tidak suka kehidupannya didikte orang lain, atau sekedar karena tidak peduli (kalau yang ini mungkin cuma aku sih, haha). Dan mungkin ada benarnya juga kalau generasi sekarang lebih cerdas dari generasi masa lalu, toh banyak dosen yang cerita jaman dulu ip itu susah banget dapat bagus, sementara sekarang jauh lebih gampang kayaknya. Tapi bagaimanapun juga, mungkin meluangkan waktu untuk mendengarkan pendapat orang lain seperti ini ada baiknya, karena meskipun mungkin kita memang lebih pintar, apa salahnya mendengarkan pendapat orang yang lebih bijak dan berpengalaman?๐Ÿ™‚

Tapi kalau orangnya kurang bijak dan kurang berpengalaman, dan ada yang menganggap tidak masalah mendengarkannya sebagai masukan pandangan, ya tidak masalah, toh itu pilihan, dan aku lebih memilih abai. Bukan kenapa-napa, somehow untuk hal-hal yang tidak menarik minatku dan bukan fakta statistik, i just simply don’t care๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s