Hujan

Aku selalu menyukai suasana yang ditimbulkan hujan, apa lagi saat berjalan di tengah hujan. Sayangnya, sebagai manusia di abad ke-21 yang sering membawa perlengkapan elektronik seperti handphone, kadang hujan juga bisa menyebalkan. Aku pernah ganti handphone sekali karena hobiku bermain hujan dan sifatku yang pelupa–lupa menaruh handphone di rumah sebelum permainan dimulai. Setelah direparasi di salah satu pusat elektronik kota Bandung, masalahnya pun belum selesai, baterainya selalu rusak, kelihatannya chip atau sistem chargingnya bermasalah, akhirnya terpaksa ganti handphone. Sedikit beruntung karena saat itu di rumah ada handphone yang tidak terpakai, tapi kelihatannya sifat langsung terjun saat semangat dan melupakan kondisi sekitar perlu kuberi perhatian lebih. Bahaya kalau aku bawa laptop dan tergoda untuk bermain.

Image

Oke, hari ini hobiku tambah menjadi. Diawali dari hujan saat berakhirnya sebuah seminar di kampus yang kebetulan kuikuti, kebetulan temanya konservasi energi–sesuai dengan minatku–dan ada coffee break dan makan siang di seminar yang gratis ini, tiga alasan kuat untuk mengikuti seminar ini. Seminarnya menarik, mengenai sistem untuk melakukan pengawasan terhadap energi yang digunakan dari jauh dan secara real-time, dan kebetulan tugas akhirku juga punya niat untuk memanfaatkan sistem itu, syukurlah perlengkapan yang diperlukan sudah ada di lab. Setelah seminar berakhir, makan siang habis dan kewajiban telah ditunaikan, aku segera pulang.

Dan sayangnya, hujan tambah deras, semakin menarik untuk bermain kelihatannya. Berhubung jarak kampus dan kosanku dekat, aku selalu berjalan dan jarang menggunakan kendaraan. Dan karena kondisi hujan begitu menarik dan sayang untuk diabaikan, jadilah aku berjalan menikmati hujan. Dan tiba-tiba terpikir untuk mulai mendengarkan apa yang ada di sekitar, seperti bunyi mobil yang berlalu, dan melakukan permainan sederhana, dengan diam dan menutup mata, lalu menjentikkan jari dan membuka mata saat mobil tepat berada di sampingku, dan melakukan evaluasi berdasarkan selisih waktu antara aksi yang berdasarkan perkiraan dan kenyataan. Dan hasilnya, aku perlu banyak berlatih sepertinya, hahaha.

Image

Entah lah, tingkahlaku akhir-akhir ini semakin absurd, permainan kuperpanjang dan satu-satunya indikator untuk berhenti adalah rasa kedinginan. Dan semakin lama aku bermain, semakin terpikir kondisi orang-orang zaman dahulu, saat navigasi belum secanggih sekarang mereka bisa memperkirakan lokasi terjadinya badai dan mengarahkan kapal (ketika membaca buku-buku tentang pelaut) atau memperkirakan jumlah pasukan musuh dari derap langkah kuda yang terdengar (ketika membaca buku-buku tentang indian). Awalnya pun aku berpikir ini merupakan suatu hal yang ajaib dan takjub kenapa mereka dapat melakukan hal-hal seperti itu.

Tapi setelah dipikir lagi, mungkin hal itu disebabkan mereka memiliki suatu hal, yang saat ini telah tergantikan dengan pesatnya perkembangan teknologi dan kemudahan terhubung dengan dunia luar, yaitu kemampuan untuk mendengarkan dan kemauan untuk memperhatikan alam dan belajar dari hal-hal tersebut. Dan mungkin hal seperti ini akan berguna kelak. Mungkin🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s