Sokola Rimba

Baru aja dari bioskop, dan ternyata ada film bagus yang lagi diputar disana, karya anak bangsa lagi, judulnya sokola rimba. Itu kisah (atau terinspirasi dari kisah ya?) Butet Manurung–atau Saur Marlina Manurung-dalam usahanya merintis Sokola pada hilir (dan kelak merambat ke hulu) sungai makekal di tengah hutan bukit duabelas jambi, dengan orang-orang rimba (orang-orang yang bertempattinggal di dalam hutan tersebut) sebagai muridnya. Kisah yang menarik, sekaligus kritik sosial dan sebuah pandangan yang unik terhadap kehidupan dan realita saat ini.

Oiya, sekedar memberitahu, tulisan ini akan membahas beberapa adegan dalam film tersebut yang kuanggap menarik, dan mungkin ini akan jadi spoiler bagi yang belum menonton, jadi bagi yang ingin menonton filmnya dalam waktu dekat tidak terlalu disarankan membaca artikel ini lebih lanjut. Dan ini juga merupakan perspektif pribadi terhadap sebuah karya, tiap orang berhak punya interpretasi tersendiri kan?🙂 Yah, sekedar memberitahu, karena bagaimanapun juga ini hanyalah sebuah tulisan, dan meskipun tulisan bisa memotivasi ataupun menjatuhkan, tulisan tidak cukup kuat untuk mengatur apa yang sedang atau akan kalian lakukan bukan?

Keep Out! (Or Enter)

Ada beberapa adegan yang kuanggap menarik dalam film ini. Adegan pertama adalah adegan saat dialog antara warga rimba dan orang kota, dimana orang kota menyerahkan surat perjanjian kepada orang desa untuk ditandatangani oleh orang desa tersebut, padahal orang desa yang ada disana tidak ada yang bisa membaca. Somehow, adegan ini seolah menggambarkan penyalahgunaan ilmu, menggunakan cara yang tidak dimengerti oleh orang lain untuk memenuhi hajat pribadinya sendiri. Entah lah, kesannya seperti fungsi perjanjian telah bergeser, dari mutualisme yang menguntungkan kedua belah pihak menjadi parasitisme yang menguntungkan sebelah pihak dan merugikan pihak lainnya. Ini juga yang menjadi topik diskusiku saat bermain ke jogja (hm, mungkin harusnya yogyakarta karena nama provinsinya D.I.Y, bukan D.I.J., tapi aku lebih suka menyebut kata “jogja” daripada “yogya”, entah mengapa) sekitar 1.5 bulan yang lalu, ketika bahasa inggris unik seorang artis  (atau tokoh mungkin? Ah, apapun lah, toh bukan profesi dia yang akan dibahas disini) yang katanya pernah kuliah di amerika menjadi populer karena tidak mengikuti kaidah yang berlaku secara umum. Menurutku bahasanya lucu, tapi agak miris juga ngeliatnya. Dan itu juga yang menyebabkan percakapan berlangsung, dimulai dari pertanyaan singkatku mengenai apakah tingkah laku orang-orang cerdas saat ini seperti itu–menggunakan bahasa sulit agar dihormati walau tidak dimengerti masyarakat? Bukankah seharusnya orang cerdas mampu berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat, atau malah membantu mencerdaskan masyarakat? Percakapannya menarik sih, tapi berhubung kami berdua bukan tipikal orang yang mau memanfaatkan orang lain (setidaknya sampai saat ini, dan semoga tetap terjaga sampai akhir hayat nanti🙂 ), kami masih belum dapat pandangan langsung dari orang-orang seperti itu.

Oiya, terkait sahabatku ini ada informasi menarik bagi para pembaca yang berdomisili di jogja atau sering main kesana. Sahabatku ini merintis sebuah program bernama “Sedekah Hijau”. Konsepnya sederhana, program ini mengukur emisi motor-motor yang berada di jogja, lalu pengguna yang terdaftar sebagai anggota akan membayarkan sedekah berupa harga dari beda emisi yang dikeluarkan motor pengguna tersebut dengan emisi standar motor sebagai “iuran”. Kemudian uang yang terkumpul akan digunakan untuk menanam bakau untuk penghijauan, lengkapnya bisa dilihat di http://www.sedekahhijau.org/, yang sayangnya udah agak lama gak di-update. Memang program ini gak sedikit yang menentang, tapi orang-orang yang berniat membantu juga nggak setengah-setengah saat diminta “iuran”nya.

Entah kenapa aku selalu takjub kalau ngeliat orang-orang yang terus berjuang meski lingkungannya itu apatis atau destruktif. Dan mungkin masalah yang paling perlu diselesaikan di Indonesia adalah bagaimana cara menyadarkan bahwa kita semua punya masalah. Yaa, dan memang masalah bagi seseorang belum tentu dianggap orang lain sebagai masalah juga. Seperti hasil tes pisa tahun 2012 ini, dimana Indonesia berada di peringkat diatas peringkat terakhir, seperti yang bisa dilihat di http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf atau di webnya langsung, http://www.oecd.org/ atau kalau mau mencoba tesnya (dan aku berencana mencobanya di akhir pekan ini, setelah kuliah berakhir dan mulai masuk pekan uas) http://www.oecd.org/pisa/test/. Tapi bagaimanapun, seperti yang telah disebutkan tadi, mungkin ini bukan masalah bagi sebagian orang, haha.

Kembali ke topik, adegan kedua yang kuanggap menarik adalah sosok Bungo, anak dari kaum di desa itu yang merasa bahwa perjanjian itu salah dan mereka dirugikan karenanya, namun karena tidak ada yang bisa membaca perjanjian tersebut, tidak ada yang bisa disanggah (mengingat sifat orang rimba, atau mungkin mayoritas orang indonesia, yang segan). Dan karena itu dia membawa surat perjanjian tersebut kemana-mana, seolah mencari orang yang bisa membacakan surat tersebut, atau ingin belajar membaca agar tidak dibodohi orang-orang luar lagi. Agak kontras dengan kondisi pelajar di kota besar yang, kelihatannya sangat identik dengan tawuran, geng motor dan hal-hal negatif lainnya. Bukan berprasangka buruk, memang pelajar indonesia yang berprestasi ada banyak, dengan karya yang unik (cobalah cari info tentang karya siswa atau mahasiswa di lomba-lomba, yang sayangnya tidak banyak yang perkembangannya berkelanjutan sampai sekarang), namun entah kenapa berita buruk itu jauh lebih populer dibandingkan dengan berita-berita baik yang ada. Sayang sih, tapi kayaknya menarik juga kalau orang-orang yang identik dengan berita negatif seperti itu mau meluangkan waktunya untuk menonton film ini, semoga hikmah kenapa belajar itu penting bisa mereka ambil🙂

Berikutnya adalah adegan saat butet bertengkar dengan atasannya terkait ideologi yang butet pegang dan cara kerja organisasinya. Ini adegan yang paling kusuka, karena aku juga sering berpikiran seperti itu. Saat berkegiatan sosial, dana merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk diperjuangkan, dan salah satu cara memperjuangkannya adalah dengan mencari pendonor yang bisa mendanai. Namun, mendokumentasikan kegiatan seolah bersandiwara dengan menjadi sosok pahlawan yang dibutuhkan semua orang, hm, mungkin hal ini tidak sesuai dengan ideologi para pekerja sosial yang memang ikhlas dan tulus ingin memberi manfaat. Cuma sayangnya, keinginan untuk memberi belum tentu saling melengkapi dengan kenyataan apa yang kita dapatkan. Dan mungkin kita memang perlu belajar untuk menyesuaikan diri agar tetap bisa memberi manfaat dalam situasi seperti apapun🙂

Dan adegan terakhir yang menurutku menyindir adalah kalimat terakhir mengenai pendidikan, bagaimana pendidikan itu seharusnya mempersiapkan para murid didiknya untuk menghadapi perubahan, bukan sekedar hafalan rumus dan latihan soal, ataupun bekerjasama dalam kecurangan agar lulus dari ujian. Karena faktanya memang seperti itu, anak rimba tidak memerlukan dunia dengan cahaya teknologi ataupun bangunan-bangunan tinggi, mereka dapat hidup dengan tenang di dalam hutan. Mereka juga tidak perlu dikasihani, toh bukan itu masalah mereka. Itu bagus jika kita mencari-cari alasan untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan, tapi mungkin bukan alasan yang baik jika kita ingin menganggap diri kita sebagai pahlawan revolusi perubahan dan berbagai julukan keren lannya. Lagipula, hal yang penting adalah bagaimana mereka menghadapi perubahan, seperti digusur akibat rencana pembangunan taman nasional. Mungkin ini juga sindiran bagi kurikulum yang terus berganti namun anak-anak didiknya pun belum terbukti siap dalam menghadapi perubahan dalam bentuk apapun. Yah, semoga kedepannya Indonesia akan jadi lebih baik lagi lah ya🙂

Selain adegan-adegan tersebut, tempat pengambilan filmya bagus loh, di tengah-tengah hutan gitu, berasa petualang lah, hahaha. Oke, dan secara keseluruhan, menurutku ini film karya anak bangsa yang sangat kurekomendasikan untuk ditonton, apalagi bagi para guru, calon guru, pengamat pendidikan di indonesia, atau bahkan sekedar anak-anak yang peduli atau penasaran mengenai nasib bangsanya. Worth it kok, coba saja buktikan sendiri🙂

Oiya, sekedar tambahan, maaf karena tidak mencantumkan gambar atau foto apapun dari film tersebut. Bukan kenapa-napa sih, hanya saja karena pemeran utamanya wanita–tanpa bermaksud mendiskriminasi gender, dan aku tidak terlalu berminat untuk mengunggah foto wanita apapun disini melihat ada beberapa situs yang suka main comot foto wanita (entah dari blog, facebook atau apa) dan dimanfaatkan untuk tujuannya yang mungkin belum tentu bener, hehe. Setidaknya karena tidak bisa menghentikan, usaha menjaga kehormatan kaum hawa bisa dilakukan dengan menahan diri dari mengunggah gambar-gambar seperti itu ke internet, bukan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s