Kesetaraan Warna Kulit

Nelson Rolihlahla Mandela, atau lebih dikenal dengan Nelson Mandela, baru saja meninggal hari kamis kemarin. Beliau merupakan salah satu pejuang anti-apartheid (pejuang yang menolak apartheid-politik yang membedakan perlakuan dan hak warga berdasarkan perbedaan yang ada seperti suku, agama, ras dan warna kulit, dalam kasus yang terakhir disebutkan ini umumnya condong ke menguntungkan warga kulit putih dan merugikan warga kulit hitam). Ya, umumnya pada zaman dahulu, orang berkulit hitam jarang diperlakukan adil oleh para kulit putih, sekolah dan gereja khusus untuk salah satu warna kulit, dan keputusan hukum berat sebelah–kulit hitam selalu salah atau bahkan tidak dianggap layak untuk hidup–setidaknya begitulah penggambaran kondisi zaman dahulu dari “To Kill a Mockingbird” karya Harper Lee-novel terkait kisah hidup anak dari seorang pengacara yang memperjuangkan warga kulit hitam yang dituntut dalam sebuah kasus, meskipun pada kenyataannya dia tidak bersalah, recommended untuk dibaca-dan “Chamber Gas” karya John Grisham. Entah, kadang aku bingung apa penyebab politik apartheid ini. Pada perang dunia kedua para kulit putih menghancurkan Nazi karena mereka menganggap dirinya terlalu superior dibandingkan bangsa lain, sehingga bangsa selain kaum Nazi dianggap tidak layak menghuni dunia ini, yang kemudian akan membawa kejadian seperti Holocaust, pembunuhan massal atau genosida yang dilakukan terhadap sekitar 6juta warga yahudi yang disponsori oleh Nazi, hanya karena mereka berbeda. Dan, setelah Jerman kalah di perang dunia kedua, asumsi bahwa ada satu ras yang sangat dominan dibandingkan dengan ras lain pun belum pudar. Belanda masih sangat berminat untuk kembali menjajah Indonesia dengan melakukan agresi militer, Afrika Selatan dikuasai dan dimanipulasi agar menjadi utopia–negeri impian–yang menguntungkan para warga berkulit putih, dan mungkin masih banyak kejadian serupa di negara lain. Memang saat itu penjajahan belum dihapuskan, tapi kalau melihat alasan awal Nazi, yang menganggap kaumnya lebih hebat daripada kaum-kaum lainnya, agak ironis bukan melihat tidak banyak perubahan yang terjadi setelah Nazi kalah?

Nelson Mandela merupakan pejuang yang melawan kebijakan tersebut. Tidak mudah memang, namun beliau tetap berusaha, dengan berpegang pada prinsipnya, dengan mengutip kata-katanya, “It always seems impossible until its done” dan “I detest racialism, because I regard it as a barbaric thing, whether it comes from a black man or a white man”, perjuangan yang berujung pada adanya kesetaraan antara kaum kulit hitam dan kaum kulit putih. Film “Freedom Writers”–film yang juga sangat layak untuk ditonton, terkait guru pada sekolah yang kondisinya akan disebutkan, dan bagaimana guru tersebut mempersatukan dan mendidik murid-murid yang ada disana–menggambarkan situasi awal saat pertamakali mulai diadakan penyatuan sekolah sebagai penanda kesetaraan semua ras, saat ras latin, asia, amerika dan afrika digabungkan ke satu sekolah setelah sekian lama masuk ke sekolah yang terpisah-pisah, diawali dengan kondisi tiap ras yang masih terkelompokkan dengan masing-masing memegang senjata tersendiri–entah sebagai perlindungan karena khawatir akan terjadi keributan antar ras seperti biasa atau untuk alasan senang-senang saja karena mereka membenci orang-orang ras lain, yang jelas suasana saat itu memang tidak kondusif, sering terjadi perang antar ras dan korban jiwa tidak jarang jatuh. Tapi nilai itu lah yang dibawa oleh Nelson Mandela, jika mereka bisa belajar untuk membenci, mengapa mereka tidak bisa belajar untuk menyukai?

Image

Mungkin ini waktu yang tepat bagi kita untuk belajar, belajar menghormati hak-hak kaum lain, belajar menghargai perbedaan pendapat, dan belajar memperjuangkan apa yang kita anggap benar dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Seperti pelajaran yang didapat dari Atticus Finch pada “To Kill a Mockingbird”, akan tiba saat dimana kamu tidak bisa lari dari sebuah pilihan yang, meskipun kamu akan dibenci oleh banyak orang karena melakukan ini, kamu akan tetap melakukannya karena kamu tahu itu hal yang benar. Dan, bagaimana cara mengetahui mana yang benar dan mana yang salah? Belajar lah, karena selain dapat mengetahui mana yang benar, kita juga dapat mengubah dunia dengan keterampilan dan pengetahuan yang kita dapatkanšŸ™‚

Ā 1451473_717095034978177_1233420700_n

Dan mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk berhenti memperdebatkan tentang apa yang akan dilakukan oleh buruh, dokter, guru, insinyur, ataupun seniman yang baik, apa yang mungkin terjadi pada sekolah yang ideal, bagaimana pemimpin yang baik harus bersikap, dan mulailah menjadi orang yang baik, menjalankan profesi dengan baik dan mulai membentuk kondisi lingkungan yang baik.

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s