Pembiasaan Dini

Oke, tadi mulai coba iseng-iseng lagi ngecek hafalan surat-surat pendek di Quran, dari At-Takatsur sampai An-Nas. Sekaligus bersyukur lah atas karunia dan pembelajaran yang didapat selama satu semester ini, setidaknya masih bisa bertahan walaupun memang agak sibuk di kurikulum baru yang menambah beban tugas ini. Hasilnya? Agak bermasalah, beneran parah sih kalau mengingat ini masih surat yang pendek. Mungkin karena kebiasaan dari jaman sd itu ngafalinnya sambil ngedenger orang lain dan ngikutin intonasi yang dibaca tapi karena kurang teliti masih sering ketuker antara alif dan ‘ain, ha ringan dan ha berat (h dengan garis diatas), sa, tsa dan sha saat baca kasrah atau dhamah, well, mengingat pentingnya pembedaan antar huruf dan panjang-pendek bacaan dalam arti kata di bahasa arab, perlu belajar dan ngehafal ulang lagi lah ini ._.

 

Jadi ingat kawan di sma yang bisa membaca Quran dengan baik, panjang-pendeknya tepat, intonasi jelas, hurufnya pas, dan umumnya mereka berasal dari keluarga yang mengajarkan Quran sejak dini. Aku juga masuk TKQ dan TPQ sih saat masih SD, tapi mengingat anak SD lebih suka bermain dan belum menyadari apa yang penting, maaf karena sering menyia-nyiakan waktu, bagaimanapun, aku tetap menikmati waktu-waktu yang pernah kusia-siakan kok, tetap ada pembelajaran, meski mungkin tersampaikan dalam cara yang berbeda.

 

Pembiasaan dini kelihatannya memang penting. Ada yang bilang kalau bagi anak-anak kecil yang masih belum dapat berpikir abstrak untuk mengetahui alasan kenapa apel jatuh ke bumi, kenapa harus membaca Quran, berkata jujur, bertingkahlaku sopan, berbagi dengan sesama, atau berbagai perbuatan baik dan pertanyaan fisis lainnya, cara belajar mereka adalah dengan pembiasaan. Biasakan mereka untuk melakukan suatu hal sejak kecil, seperti membaca Quran dengan baik, bertanya saat ada hal yang tidak dimengerti, terus berusaha dalam melakukan suatu hal hingga berhasil, dan perbuatan lain sebagainya, maka itu lah yang kelak akan menjadi sifat dan karakter mereka, meski mungkin mereka tidak tahu mengapa. Memang membiasakannya tidak mudah, tapi jika itu benar, semua usaha akan terbayar ketika anak-anak tersebut beranjak dewasa. Setidaknya itu lah yang kupikirkan sekarang, selaku orang yang masa kecilnya diisi dengan bermain bola dengan saudara di dalam rumah (dan selalu ada nilai tambah kalau sampai permainan berakhir tidak ada kaca yang pecah ataupun barang yang rusak, dan nilai ekstra kalau nilai tambah gagal diraih tapi berhasil terhindar dari amarah orangtua, hahaha) atau bermain game (umumnya petualangan atau role playing game dengan sistem level atau game-game yang perlu sedikit logika atau trik dalam penyelesaiannya). Yah, tidak sepenuhnya buruk memang, sampai sekarang aku tidak pernah menilai barang dari harganya (kadang memperlakukan seenaknya dan tidak pernah suka kalau orangtua marah gara-gara ada barang yang rusak, cuma barang kan yang rusak?), selalu punya persiapan dan lumayan banyak ide saat ada masalah. Mungkin tidak sepenuhnya buruk juga kan?

 

Image

 

Tapi tetap, tidak ada kata terlambat untuk melakukan pembiasaan, perlu mencari guru lagi untuk mengajarkan Quran. Dan dalam mencari guru aku lebih memilih guru privat sih daripada kajian umum, entah kenapa introvert itu lebih nyaman bertanya, berkomentar, memberi kritik atau melakukan apapun saat tidak banyak orang yang ada di sekitarnya. Dan sebagai orang awam kelihatannya aku akan sangat sering bertanya, dan karena aku tipikal orang yang pelupa dan sulit fokus mungkin pertanyaan itu akan langsung keluar sebelum sang guru berhenti bicara, yang jelas merupakan perbuatan yang kurang sopan (entah kenapa aku masih agak sulit mengingat peraturan kesopanan yang berlaku) dan akan mengganggu keberjalanan materi kalau dilakukan di kajian umum yang umumnya waktunya terbatas.

 

Meskipun pembiasaan dini itu penting dan punya peranan besar, berusaha membiasakan diri ketika sudah dewasa juga tidak kalah penting, bagaimana lagi kita yang tidak terbiasa mampu dan mau terbiasa dengan kondisi yang ada? Dan kelihatannya sekarang waktunya belajar laks, kamu tidak ingin menanggung perihnya kebodohan atau repot karena ada orang yang bermasalah karena kamu kan? Still have a time to be a great muslim engineer, use it well🙂

 

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s