Rambu Bencana BDSG

Bencana merupakan kondisi yang terjadi saat hal-hal di sekitar kita tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, bahkan dalam tahapan lebih lanjut kondisi tersebut dapat membahayakan diri kita. Kita tentu tidak bisa memprediksi segala hal di sekitar kita, siapa yang dapat memprediksi besok akan ada 2 ekor lebah yang lewat tepat di samping telinga kita, ular berbisa yang melata lima meter dari kaki kita atau motor yang melaju kencang di sebelah kiri kita saat kita akan menyebrang jalan? Siapa juga yang dapat memperkirakan dengan jelas pengaruh dari perubahan iklim seperti pemanasan global, kapan bencana alam seperti tsunami dan angin topan terjadi, atau kapan manusia lalai sehingga timbul kebakaran dan banjir? Dan siapa yang yakin kalau hal-hal seperti itu benar-benar terjadi, kita akan dapat melaluinya dengan baik? Justru karena hal-hal seperti ini sangat sulit untuk diprediksi, kita harus mempersiapkan diri agar kita dapat melalui bahaya yang mungkin terjadi dengan sebaik mungkin. Yah, tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk, bukan?

Untuk menghadapi bencana, mungkin diperlukan rambu-rambu khusus seperti rambu parkir yang diletakkan di berbagai tempat, untuk mengingatkan mengenai apa yang perlu dilakukan saat terjadi bencana. Bagaimanapun, akan sulit untuk berpikir jernih saat kita berada dalam keadaan panik. Selain itu, Indonesia juga jarang melakukan simulasi terkait bagaimana kita perlu bersikap apabila suatu saat terjadi bencana, sehingga mungkin tidak banyak yang tahu apa yang dapat kita lakukan kalau bencana terjadi. Panik dan tidak tahu apa yang dapat dilakukan, hm, kelihatannya bukan kombinasi yang baik.

Ada artikel menarik terkait rambu bencana yang didesain oleh kak susan, salah satu anggota dari organisasiku saat ini, Bandung Disaster Study Group, atau lebih dikenal dengan sebutan BDSG, dikutip dari http://beritagar.com/p/rambu-sederhana-hadapi-bencana-ala-bdsg-10738, kelihatannya krisantidesain merupakan nama usaha pribadinya. Rambu bencana ini dibuat dengan mendesain ulang kartu permainan “Bosai Duck”, permainan terkait siap siaga menghadapi bencana yang diciptakan oleh Profesor Yamori dari Universitas Kyoto, yang kelihatannya sudah lumayan dikenal oleh organisasi ini. BDSG juga lumayan sering menggunakan gerakan-gerakan seperti ini untuk permainan atau sekedar ice breaking dalam kegiatannya memberikan edukasi di bidang kebencanaan pada usia muda, dan kegiatan-kegiatan dari BDSG dapat dilihat pada webnya, http://bandung-disaster-study-group.blogspot.com/. Dan berikut contoh dari beberapa rambu yang telah didesain ulang tersebut, beserta dengan penjelasannya:

Image

Saat gunung meletus, segera lah berlari menjauh dari sungai ataupun lembah. Kenapa? Karena benda yang keluar saat letusan gunung merapi seperti lava dan piroklastik akan mengalir turun dari gunung merapi menuju ke daerah yang lebih rendah. Jika aliran benda tersebut mencapai sungai, tentunya benda tersebut akan mengikuti aliran sungai dan menuju ke daerah yang lebih rendah, dan mungkin berujung ke laut. Hindari juga daerah lembah, apalagi bentuk cekungan seperti danau, karena besar kemungkinan daerah seperti itu akan dilalui aliran lava atau piroklastik juga. Selain itu, ada baiknya juga kalau kita berada di luar rumah untuk menutupi bagian tubuh kita dengan benda seperti tas atau berlindung dari arah letusan, ada kemungkinan batu yang terlontar dari letusan gunung merapi sedang mengarah ke kita. Menggunakan masker juga bukan ide yang buruk, ingat sms terkait partikel kaca yang tersebar di udara–yang dapat merusak paru-paru jika terhirup dalam jumlah banyak–saat gunung merapi baru saja meletus?

 9_2-lebah_l

Bila ada lebah, diam lah dan jangan bergerak, apa lagi bergerak secara tiba-tiba. Lebah memiliki pergerakan yang lumayan cepat, dan jika kita bergerak secara tiba-tiba, ada kemungkinan lebah tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengubah arah terbangnya dan justru itu yang menjadi awal dari bencana. Ada beberapa kawan yang mengatakan kalau ada lebah berkatalah (atau mungkin berbisiklah) “pahit… pahit… pahit…” agar lebah tersebut menjauh, dan meskipun ini masih diragukan kebenarannya, ada kah yang pernah mencoba dan tersengat?

9_3-tsunami_l

Kalau ada tsunami, segeralah berlari ke tempat yang lebih tinggi. Bagaimanapun, setelah terjadi tsunami, ombak akan kembali ke lautan dengan daya tarik yang sangat besar, dan daripada bertahan dari terjangan dan tarikan ombak dengan berpegang di pohon atau bertahan di atap masjid, segera menjauh ke tempat tinggi yang tidak terjangkau tsunami kedengarannya lebih mudah dilakukan. Sejarah mencatat tsunami terbesar yang terjadi di Alaska pada tahun 1958 memiliki ketinggian 1720 kaki atau sekitar 524 meter, dapat dilihat di http://geology.com/records/biggest-tsunami.shtml. Jika data tersebut memang tepat, dengan memasukkan galat perhitungan untuk berjaga-jaga, maka ins syaa Allah kita akan aman jika berada di daerah dengan ketinggian di atas 600 meter, bukan? Tapi jika di data yang tidak tercatat (mungkin jauh sebelum manusia mulai menyadari pentingnya mendokumentasikan hal-hal yang pernah terjadi) ternyata ada tsunami dengan ketinggian diatas 2000 meter, yah, mari kita berdoa agar dilindungi Yang Maha Kuasa. Tapi jika itu memang terjadi, tetap saja berlari ke tempat yang tinggi, setidaknya kemungkinan untuk selamat di daerah tinggi lebih besar dibandingkan kemungkinan untuk selamat di daerah yang lebih rendah🙂

9_4-nyeberang_l

Masih perlukah rambu ini dijelaskan? Bukankah sudah jelas bahwa kita perlu melihat ke sekeliling kita apakah ada kendaraan yang sedang melaju dengan cepat atau tidak untuk memungkinkan kita dapat menyeberang jalan? Hm, mengingat kasus yang baru-baru ini terjadi antara truk dan kereta, mungkin ada baiknya jika pengemudi kendaraan yang ingin menyeberang rel kereta juga menengok ke kiri dan ke kanan terlebih dahulu untuk memastikan semua berlangsung aman. Bagaimanapun juga, meskipun dalam kondisi dimana hanya satu pihak yang patut disalahkan sebagai penyebab kecelakaan, korban yang timbul mungkin saja akan berasal dari kedua belah pihak kan? Apa salahnya berhati-hati sedikit?🙂

9_6-asap_l

Rambu terakhir yang dimasukkan ke dalam artikel tersebut dan yang akan kubahas di artikel ini, mungkin akan di-update lain kali saat aku mendapatkan gambar lengkap rambu-rambu yang ada. Jika banyak asap, gunakan penutup hidung dan mulut. Karena asap umumnya merupakan produk hasil dari pembakaran, yang umumnya mengandung kombinasi dari karbon monoksida (CO) yang dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh pembakaran sempurna. Karbon monoksida akan terikat oleh hemoglobin di darah kita sehingga kadar oksigen yang dikelola dalam tubuh berkurang dan metabolisme tubuh terhambat, dan karbon monoksida juga dapat menyebabkan keracunan akibat karbon monoksida yang masuk kedalam tubuh merusak sel-sel di dalam tubuh, dan dampak keracunan karbon monoksida bagi tiap orang mungkin saja berbeda. Sementara bertambahnya karbon dioksida akan mengurangi kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuh, dapat menyebabkan efek lemas dan sesak nafas akibat kekurangan oksigen. Itu pun baru membahas karbon dioksida saja, mungkin masih banyak partikel senyawa lain dalam asap itu yang dapat membahayakan tubuh manusia. Atau bahkan mungkin ada partikel kaca yang terselip seperti yang telah dijelaskan pada rambu gunung berapi diatas.

Yah, bagaimanapun tidak ada salahnya mempersiapkan untuk kemungkinan terburuk kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s