Kematian

Semua makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan mungkin kematian itu jauh lebih dekat dari apa yang kita perkirakan selama ini. Di semester ini aku kehilangan 2 orang sahabatku, yang pertama adalah senior dan atasanku di himpunan program studi yang meninggal pada sekitar awal juli lalu, dan sahabat sekelompok saat kuliah kerja nyata tematik tahun lalu. Keduanya masih tergolong muda, baru berusia di 20-an awal, namanya juga mahasiswa.

Dalam kasus seniorku, meski kematiannya mengguncangkan, tapi tidak terlalu mengejutkan, karena beliau memang sudah sakit-sakitan lumayan lama. Tapi aku kagum dengan beliau, selama 2 tahun aku mengenalnya, beliau tidak pernah menunjukkan ekspresi sedih atau menderita, bahkan beliau suka bercanda dan selalu berusaha menimbulkan suasana yang positif saat kita rapat atau berkegiatan pengabdian masyarakat. Orang yang baik, sangat baik, dan aku menghormatinya.

Dalam kasus sahabatku ini, kasusnya lebih mengejutkan, belum ada yang tahu apa yang terjadi, aku pun hanya tahu dia meninggal secara tiba-tiba dalam tidurnya. Aku pun tidak terlalu dekat dengan dia, tapi kenal dan pernah kerja bareng saat dia jadi anggota kelompok di bidang energi terbarukan yang kuketuai pada kloter 2 kknt tahun lalu. Dia orang yang kritis, baik, dan kerjanya bagus.

Sebagai orang yang suka mengamati fenomena sosial, aku lumayan memperhatikan facebook sebagai media sosial utama yang digunakan masyarakat indonesia saat ini, termasuk facebook mereka berdua. Dan, seperti yang bisa diperkirakan, facebook mereka dipenuhi dengan kata-kata beberapa sahabat yang merasa kehilangan dan mendoakan kebaikan bagi mereka. Membicarakan dan mendoakan kebaikan itu baik, dan akan lebih baik lagi kalau disampaikan langsung ke Sang Pencipta–tidak sekedar formalitas atau perasaan harus menyampaikan sesuatu di media sosial–bukan? Selain itu, bukankah meratapi mayat itu terlalu berlebihan dan tidak disukai?

Daripada meratapi, mungkin jauh lebih baik untuk membicarakan kebaikan para almarhum/almarhumah, seperti yang disebutkan pada hadits berikut:

Dari Anas ra. berkata, “Pada suatu ketika ada jenazah lewat, kemudian para sahabat memuji atas kebaikan jenazah itu, kemudian Nabi saw. bersabda: “Wajib baginya.”Kemudian pada saat yang lain ada jenazah lewat, kemudian para sahabat menceritakan kejelekan jenazah itu, kemudian Nabi saw bersabda: “Wajib baginya.”Lantas Umar bin Khattab bertanya: “Apakah yang yang wajib baginya itu?” Beliau menjawab: “Terhadap orang yang kamu puji kebaikannya, maka wajib baginya syurga., dan terhadap orang yang kamu katakan jahat, maka wajib baginya neraka. Kamu sekalian adalah merupakan saksi Allah yang ada di muka bumi ini.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Abul Aswad ia berkata, “Saya datang ke Madinah dan duduk bersama Umar bin Khattab, kemudian ada jenazah lewat, kemudian saya memuji kebaikan jenazah itu, maka Umar berkata: “Wajib baginya.” Kemudian lewat lagi jenazah yang lain, dan saya mengatakan kejelekan jenazah itu, maka Umar berkata: “Wajib baginya.”Kemudian lewat lagi jenazah ketiga kalinya dan saya saya mengatakan kejelekan jenazah itu, maka Umar berkata: “Wajib baginya.” Abul Aswad bertanya: “Apakah yang dimaksud wajib baginya, wahai Amirul mukminin?” Umar menjawab: “Saya berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi saw. yaitu setiap muslim yang disaksikan baik oleh empat orang, maka Allah memasukannya ke syurga.” Kami bertanya: “(Apabila yang meyaksikan itu) tiga orang?” Ia menjawab: “Juga tiga orang.”Kami bertanya lagi : “(Apabila yang menyaksikan itu) dua orang?” Ia menjawab: “Juga dua orang.” Kemudian saya tidak menanyakan lagi tentang (bagaimana) seandainya seorang saja.” (HR. Bukhari)

Hadits berikut diambil dari http://elqolam.blogdetik.com/2010/12/11/kebaikan-yang-dipersaksikan/, aku ingat pernah membaca hadits serupa diatas, tapi lupa membacanya dimana (apakah artikel, kitab, buletin atau semacamnya) dan tidak ingat nomor hadits atau riwayatnya, sangat dipersilahkan jika ada yang ingin membantu atau ingat dan ingin memberitahu🙂

Dan mungkin memang mereka bermaksud untuk mengingatkan kita, bahwa yang namanya kematian mungkin tidak sejauh itu dari hadapan kita. Umur jelas bukan satu-satunya faktor yang menentukan orang mana yang akan meninggal terlebih dahulu, karena faktor kesehatan, kehati-hatian, dan faktor “x” yang tidak diketahui juga punya peranan yang mungkin tidak kalah besar. Bagaimanapun, ada baiknya kita mengambil pelajaran dari kematian mereka, membicarakan kebaikan mereka dan menyemangati diri kita agar mau berbuat baik lebih banyak lagi🙂

Terimakasih banyak bagi kak rudi dan zii, atas segala pelajarannya untuk waktu yang mungkin tidak terlalu lama. This words are a tribute for you, and a reminder for me, once again, thanks pal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s