Formalitas dan Racauan Malam

Oke, randoman malam, berhubung udah lama gak nulis bikin agak panjang lah ya🙂

Hari ini merupakan hari kunjungan orang tua, hari dimana kehidupan terasa lebih nyaman dan nikmat, serta lebih ekonomis, hehe. Orangtuaku pergi ke bandung untuk mengikuti akad dan resepsi pernikahan saudara jauh tadi pagi, kak faris, yang juga merupakan orang pertama yang kukenal di bandung dan banyak membantuku dalam menemukan kosan yang dekat dengan kampus dan nyaman untuk disinggahi. Kebetulan lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kosan, di masjid universitas padjajaran dipati ukur. Yah, mengingat ini nikahannya kak faris, dan juga ada makanan disana, setidaknya kali ini jaga perilaku lah, setidaknya jangan sampai storm out dari dalam ruangan akad gara-gara bosan seperti sebelum-sebelumnya.

Iya juga, ini kali pertamaku melihat akad nikah sampe tuntas. Yaa, udah pernah datang beberapa kali sih, tapi itu cuma saat masih bocah, dan sebagai bocah hiperaktif yang gak bisa diam dan gak terlalu suka sama keramaian, tindakan apa lagi yang bisa kulakukan selain lari keluar dan jalan-jalan, main hp, smsan, lari-larian, atau…, hm, setelah dipikir ulang kelihatannya aku bisa melakukan apapun selain duduk diam di ruangan. Seperti saat ini, saking banyaknya tugas yang ada, hal apapun selain tugas menjadi jauh lebih menarik. Sudah lah, jadikan pelajaran saja, mengingat kemungkinan besar aku lah yang akan duduk disaksikan oleh orang-orang sambil menjabat tangan penanggungjawab seseorang kelak, kalau Allah memberikan umur tentunya. Entah siapa, tapi untuk saat ini mari jadikan groginya kak faris sebagai pelajaran, hahaha.

Dan, terlepas dari prosesi akad nikah tersebut, ada satu hal yang kurang cocok denganku. Formalitas. Ya, entah kenapa aku sulit untuk setuju bahwa segala sesuatu harus diabadikan seperti kejadian tadi pagi, semua langkah dari akad nikah harus didokumentasikan, termasuk prosesi suap-suapan yang lumayan lama. Ayahku pun juga berbisik padaku bahwa ini adalah konsekuensi dari akad nikah yang diformalkan, setiap event perlu didokumentasikan. Dan ini benar-benar menyebalkan. Aku bukan tipikal orang yang menganggap gambar diperlukan untuk mengenang apa yang penting bagi kita.

Aku masih ingat saat aku kelas 5 SD, saat tsunami baru saja melanda aceh dan menelan banyak korban, saat banyak penceramah di masjid yang berteori bahwa tsunami tersebut merupakan azab dari Allah atas entah maksiat apa yang terjadi disana, guru ipaku saat itu mengatakan dengan lantang, “Tidak. Kejadian ini bukan azab dari Allah. Semua kejadian yang terjadi di dunia dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, dan semua orang tahu tsunami itu terjadi karena gempa, yang diakibatkan pergeseran lempeng bumi. Ini pasti bukan azab dari Allah, karena ibu yakin, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya.” Dan sampai sekarang aku masih ingat ini lah alasan kenapa aku menganggap ilmu pengetahuan seperti fisika itu keren, kenapa aku menyukai fakta-fakta unik dan kenapa aku tidak ragu sama sekali untuk masuk ke jurusan teknik fisika sejak kelas 3 sma silam, karena ipa itu keren, dan aku dapat melakukan banyak sekali hal dengan ilmu tersebut.

Aku masih ingat saat-saat berkumpul bareng geng di kelas aksel smpku, kelasnya anak-anak yang stres dan kesel sama pelajaran, haha. Aku ingat saat geng cowok pendiam kumpul, keseruan berbagai acara yang terjadi saat itu–dari salah arahan senior pas mos (masa orientasi siswa–jadi saat orang-orang disuruh bikin nametag berbentuk ember 2 dimensi, ember yang kubuat itu 3 dimensi, hahaha), jalan-jalan ke peternakan sapi, memancing di empang pedesaan, rekreasi ke kota tua dan dunia fantasi, repotnya nyari tempat foto buat buku tahunan, sampai mementaskan drama (tapi waktu itu masih menggunakan topeng dan kaus lengan panjang hitam, ditambah properti yang banyak, karena waktu itu peranku lumayan memalukan dan aku masih pemalu, belum malu-maluin seperti saat ini, hahaha). Aku tidak ingat apa saja yang kulakukan bersama teman-teman smpku, tapi aku selalu ingat perasaan nyaman dan seru saat bersama mereka.

Aku masih ingat saat-saat smaku, saat jadi siswa termuda dalam satu angkatan, saat mempertahankan prinsip bahwa aku nggak akan pernah nyontek meskipun yang mengkritik dan menyindir tidak sedikit (hei, aku selalu menawarkan untuk belajar bersama sebelum ujian, dan siap untuk mengajarkan kalau ada yang tidak mengerti, syukur lah saat semester akhir teman-teman lebih mengerti terhadap sikapku), saat menjadikan surat 47 ayat 7 sebagai suatu kepercayaan (semacam doktrinasi sih awalnya, mengingat aku dari sma 47, tapi kelihatannya lumayan manjur, haha), saat merintis berdirinya fortris (forum silaturahmi rohis–forum lintas sekolah yang dimaksudkan sebagai tempat dimana rohis dari tiap sekolah dapat berkomunikasi dan memberi manfaat lebih, yah, memang ini dibentuk saat aku masih bener sih, haha), saat aku diminta jadi kepala divisi danus fortris lalu mengonsep dan mengeksekusi program pencarian dana dari jualan pulsa hingga kupon infaq (yang tidak terlalu jelas), saat pertama kali ikut demo tentang pendidikan (dan setelah itu langsung menyadari demo bukan lah gayaku), saat aku belajar apa itu komitmen dan militansi serta apa itu persahabatan dari kegiatan berorganisasi di rohis dan fortris, saat aku bolak-balik dari ciledug-pasar minggu yang perjalanannya sekitar 3-4 jam tiap hari untuk ngurus acara, saat aku ikut olimpiade sains nasional di bidang fisika dan bertemu dengan beberapa kawan yang cuma dikenal di dunia maya, saat pertamakalinya aku menyukai seorang perempuan bukan karena kecantikannya (yang juga menyadarkanku bahwa aku baru bisa menyukai orang kalau sudah dekat dan sering berinteraksi dengannya selama lebih dari setahun, lama juga ya. Hahaha), saat aku mulai menyukai menggunakan sepeda kemana-mana karena tidak mendapatkan izin untuk mengendarai motor (yang ternyata jauh lebih menyenangkan, ramadhan kemarin bahkan aku sudah bisa bolak-balik ciledug bogor yang waktu tempuhnya sekitar 5 jam!), dan berbagai saat lainnya. Aku memang tidak ingat detail dari apa saja yang kulakukan bersama mereka, apa yang menyebabkan aku menyukai dia, alasan aku tertarik pada dunia persepedaan, dan acara apa saja yang sudah dibuat fortris, tapi aku tetap menganggap tiap hal tersebut sebagai bagian penting yang membentuk kepribadianku sehingga sekarang aku menjadi seperti saat ini.

Aku juga ingat apa saja yang terjadi dalam tujuh semester ini, dari saat pertama kali aku masuk itb dan lepas dari orangtua sehingga harus membiasakan diri hidup sendiri, saat aku bertemu dengan orang-orang idealis yang visioner seperti kak faris dan kak naya (dan keduanya berasal dari palembang, yeah, hahaha), saat aku mengambil jalan yang berbeda untuk memperjuangkan apa yang kuanggap penting, saat aku belajar untuk menjaga komitmen meskipun hanya sendiri (ternyata kalau sudah terbiasa ngajar tiap kamis malam, meskipun jumat sorenya ujian, tidak sesulit itu kok, selama ada niat dan kemauan keduanya bisa jalan dengan baik, buktinya alhamdulillah ipku saat tpb tidak separah yang dibayangkan mengingat tiap kamis malam aku mengajar di tempat yang agak jauh, haha, atau mungkin doktrinasi jaman sma tentang surat 47 ayat 7 berhasil, hahaha), saat aku belajar untuk mengerti dan dimengerti orang lain, saat aku belajar mengenai solidaritas dari pengenalan jurusan, saat aku belajar untuk berkomunikasi menyampaikan maksudku, saat aku belajar bagaimana untuk lepas dari tekanan dan lebih menikmati hal-hal kecil yang ada di sekitarku, saat aku belajar untuk menikmati dan terbiasa terhadap segala situasi yang mungkin terjadi, saat aku belajar untuk memegang amanah, saat aku belajar untuk menentukan sikap, saat aku belajar bagaimana untuk memperlakukan orang dan semua orang perlu diperlakukan dengan berbeda, saat aku belajar untuk membimbing dan mengarahkan–atau setidaknya menemani, karena memang penerusku sebenarnya juga udah keren lah ya walaupun tanpa dibimbing–pemegang amanah setelah diriku, saat aku mulai kembali menyukai musik klasik (meski udah belajar piano saat masih sd tapi entah kenapa baru mulai suka musik klasik lagi sekarang), belajar untuk memegang kata-kata dan menepati janji, dan masih banyak lagi hal yang aku ingat pernah pelajari disini. Entah kenapa masa sma dan kuliah merupakan masa dengan pembelajaran paling banyak untukku. Dan, harus kuakui, aku bahkan tidak ingat apa yang membuatku belajar hal-hal tersebut.

Tapi, meskipun hanya beberapa hal yang kita ingat, yang sangat kita anggap penting, bukankah hal-hal yang tidak kita ingat (yang mungkin tidak kita anggap terlalu penting) juga tetap pernah terjadi dan membentuk diri kita? Apakah salah jika kita melupakan sesuatu karena tidak menganggap itu penting? Memang tiap orang punya standar yang berbeda mengenai mana yang penting dan mana yang tidak, tapi kita bisa saling mengingatkan, kan? Bagaimanapun, siapa sahabat kita, siapa yang kita kagumi, siapa yang kita sukai, apa yang kita pegang teguh, apa yang kita jadikan pedoman, apa langkah kita dalam menghadapi masalah, semua hal terkait diri kita itu lah yang kelak akan membentuk diri kita, dan perlukah semua itu–termasuk hal yang tidak kita anggap penting–didokumentasikan langkah demi langkah? Entah lah, tiap orang punya pandangannya sendiri, namun aku menganggap itu pemborosan database.

Oke, kalau bicara mengenai formalitas memang aku bisa bicara panjang lebar, mungkin ini juga karena aku tidak terlalu terbiasa (dan menyukai) segala sesuatu yang formal. Aku menganggap hidup itu seharusnya dibiarkan mengalir saja, toh masalah tetap akan terus datang, tapi pelajaran juga dapat terus diperoleh. Haruskah semua itu distandarkan untuk begini dan begitu dalam pelaksanaan detail dari kehidupan?

Hm, terlepas dari masalah formalitas, entah kenapa aku agak khawatir bagaimana kalau giliranku menikah tiba kelak. Entah ya, sampai sekarang aku menganggap pernikahan itu tidak jauh berbeda dengan kematian, mungkin karena rangkaian bunga bertuliskan “Selamat Menempuh Hidup Baru” di tiap pesta pernikahan yang pernah kuhadiri. Saat kita meninggal, kita juga menempuh hidup baru. Hei, kehidupan di alam kubur atau akhirat tidak jauh berbeda dengan belajar untuk hidup berdua dengan lawan jenis, itu merupakan sesuatu yang baru kan? Selain itu, setelah menikah umumnya kita pergi meninggalkan orangtua kita untuk hidup bersama pasangan baru kita, sementara setelah meninggal kita pergi meninggalkan semua hal yang ada di dunia untuk hidup di akhirat. Tapi, kenapa banyak orang yang mengidam-idamkan menikah dan menunda-nunda meninggal (kalau bisa tentunya)?

Mungkin ini pengaruh dari sifat introvertku yang membuatku tidak dapat merasa bergabung dengan sekelompok orang dalam waktu cepat sih, aku pernah mengikuti beberapa organisasi, tapi sampai sekarang hanya ada beberapa organisasi yang kuanggap benar-benar kuikuti, meski tugas dari organisasi lainnya (yang sebenarnya tidak terlalu kuanggap, tapi menurutku layak untuk kuperjuangkan juga) masih tetap kujalankan. Aku pun beberapa kali menolak untuk ikut foto bersama sebuah organisasi karena benar-benar tidak ada perasaan terhadap organisasi tersebut, bukan terhadap kawan-kawanku disana. Apa yang dapat dikenang dari sebuah gambar kalau dirimu tidak pernah merasa berada dan berjuang bersama orang-orang di gambar tersebut, meski kamu melakukan tugasmu sebaik apapun dan orang-orang lain di gambar tersebut menganggapmu bagian yang penting bagi mereka?

Terkait organisasi, sampai sekarang aku selalu bergabung dengan organisasi karena ada sesuatu yang ingin kulakukan disana, atau ada yang ingin kudapatkan disana. Aku selalu menganggap kalimat “Jangan tanyakan apa yang organisasi dapat berikan pada kalian, tanyakan apa yang dapat kalian berikan untuk organisasi” dan kalimat serupa lainnya sebagai omong kosong. Organisasi hanyalah sekumpulan manusia, sekumpulan manusia itu lah yang akan menentukan untuk apa sebuah organisasi ada. Jika organisasi itu tidak punya tujuan, apa yang dapat kalian berikan? Tujuan, hanya itu. Dan tujuan itu akan terwujud atau tidak tergantung pada orang-orang dalam organisasi tersebut, mau mewujudkannya atau tidak. Sudah, itu saja. Tapi, untuk apa kita memberikan sesuatu pada organisasi? Apa untungnya bagi kita? Kalau memeriksa keuntungan sendiri dianggap sebagai tindakan yang oportunis, tanyalah apa manfaatnya bagi lingkungan sekitar dan masyarakat, ada kah? Sampai sekarang, aku belum punya keinginan yang tinggi untuk mengenal orang secara direncanakan, karena itu aku jarang mengikuti kegiatan seperti kekeluargaan atau semacamnya dalam organisasi. Kalau kegiatanku melibatkan perlunya mengenal orang baru, aku tidak masalah, tapi kalau tidak ada keharusan mengenal orang baru, perlu kah? Yah, sedikit perspektif, lihatlah organisasi dari manfaat yang diberikan, dan perjuangkanlah organisasi untuk manfaat tersebut. Karena organisasi merupakan kumpulan dari orang-orang, dan itu adalah hal yang penting jika ada suatu tujuan yang mau diwujudkan, lebih mudah mewujudkan suatu hal bersama bukan? Tapi, kalau hal yang ingin diwujudkan bukan lah hal yang penting, dan ada perasaan tidak ingin membuang waktu disana, maka tinggalkan lah organisasi itu. Percaya lah, organisasi yang butuh orang itu sangat banyak, dan pasti ada organisasi yang penting, sesuai dengan minat dan benar-benar membutuhkan orang🙂

Haha, lepas dari organisasi, mungkin perasaan introvertku itu juga yang menyebabkan aku tidak terlalu terlihat “galau” seperti apa kata orang mengenai manusia seumurku, apakah tinggal bersama orang asing yang belum terlalu dikenal dapat menenangkan pikiran? Tenaga tambahan untuk menyelesaikan tugas atau masalah memang akan sangat membantu, tapi entah lah bagaimana dengan tanggungjawab yang bertambah. Ini juga penyebab saat sedang ‘random’ bersama para penerusku dan ditanya mengenai mau nikah dengan siapa aku hanya bisa membisu menatap langit. Aku bisa saja menyebutkan beberapa nama yang memenuhi kriteria ‘perempuan idaman’ku, toh kriteria itu hanya berhijab dengan baik (berhubung perempuan itu akan dipertanggungjawabkan oleh laki-laki di akhirat, setidaknya kemungkinanku selamat dalam mempertanggungjawabkan hijabnya kelak lebih besar), dan kemauan untuk mengurus anak kalau diberi kesempatan (pengaruh dari terlalu lama berada dalam organisasi yang mendidik anak, jadi sadar pengaruhnya dan, hei, bukankah tidak ada orangtua yang mau anaknya menjadi orang jahat? Apakah dia kerja atau tidak bukan masalah selama jobdesc mengurus anak berjalan dengan baik, toh jobdesc mencari nafkah merupakan bagian dari jobdesc suami, dan dari pengalaman pribadi aku lebih memilih orangtua sendiri yang membesarkan dan mendidik anaknya sendiri). Hanya itu, karena sisanya jauh lebih sulit dinilai secara langsung. Dan, sebenarnya agak canggung juga sih karena diantara yang bertanya ada juga masuk kriteria tersebut, pengaruh dari kriteria yang terlalu umum. Yah, lihat dari sudutpandang lain, banyak pilihan :p

Hahaha, makin malam makin ngelantur, ya sudah lah. Kesimpulan racauan malam ini, kelihatannya hal yang perlu kupelajari sekarang adalah bagaimana cara menikmati kehidupanku saat ada orang di sekitarku, tidak sekedar menikmati hal-hal yang ada dalam pikiranku seperti yang biasa kulakukan saat ini. Bagaimana dirimu bisa menikmati hidup baru bersama orang lain kalau kamu terbiasa menikmati hidup dalam kesendirian? Yah, setidaknya sebelum kembali hidup sendiri sembari menunggu sangkakala ditiup. Tidak ada salahnya kan mempersiapkan kedua kehidupan baru tersebut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s