Stres

Kelihatannya tiap orang pernah mengalami stres, apapun penyebabnya, entah karena masalah organisasi, tugas yang tak kunjung beres, atau mungkin hanya karena hal-hal di sekitar kita tidak berlaku sesuai dengan yang kita inginkan. Dan hal yang membuat stres bagi tiap orang tidaklah sama. Mungkin striker akan stres jika tidak dapat mencetak gol ke gawang kiper selama puluhan pertandingan, hal ini malah menjadi motivasi bagi kiper yang gawangnya tidak pernah kemasukan bola. Mungkin dokter akan stres jika gagal menyelamatkan nyawa pasien, namun mungkin tukang gali kubur punya pendapat lain. Tiap orang punya alasannya tersendiri.

Dua hari belakangan ini aku merasa kecewa. Kekecewaan dua hari yang lalu disebabkan ada sahabatku yang mengajak membenci suatu golongan dan membasmi pemikirannya melalui sebuah sosial media, karena dia khawatir golongan tersebut akan berlaku semena-mena apabila mereka memegang kekuasaan. Memang, golongan ini telah dinyatakan sesat oleh perkumpulan ulama. Dan memang, khalifah abu bakar ra tidak tinggal diam saat nabi palsu bermunculan. Tapi kata ‘membasmi’ kedengarannya salah. Entah, tapi menggunakan kata-kata itu membuatku merasa kita kembali ke jaman dimana aturan sama sekali tidak ada, dan kita dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Lagipula, perdebatan dan perang pemikiran bukan solusi yang tepat untuk masalah ini kan? Toh umumnya hal ini berujung pada sikap saling membenci pemahaman dari kubu lain dan dapat terjadi perang yang nyata. Heran, apakah sudah tidak ada orang yang mau berdiskusi baik-baik dewasa ini? Terlepas dari Allah memberikan hidayah atau tidak, kita dapat mengetahui apa dasar pemikiran kubu lain yang salah dan apa yang mungkin dapat kita lakukan untuk mengingatkan mereka. Karena meskipun kita tahu dan toleran kalau ada orang yang salah, kita tetap perlu mengingatkan, bagaimana lagi cara kita lepas dari tanggungjawab kita untuk peduli dan mengingatkan kelak di akhirat?
Dan sebuah pertanyaan untuk orang yang terus mengumandangkan seruan basmi, bantai, bacok, bunuh dan berbagai kata lainnya yang kurang nyaman untuk didengar, tak bisa kah yang benar dan salah hidup berdampingan? Jelas toleransi juga akan sangat diperlukan, tapi apakah itu mustahil?

Kekecewaan kemarin berasal dari hal yang berbeda, diawali dengan ajakan untuk mengikuti gerakan ODOJ (One Day One Juz) yang sedang populer. Aku pun memutuskan untuk bergabung karena memang sedang butuh motivasi untuk membaca Quran mengingat bacaanku akhir-akhir ini tidak terlalu banyak, dan aku juga baru tahu ada sunnah mengkhatamkan Quran setiap bulan bagi yang mampu, sebagaimana hukum puasa tiga hari dalam sebulan. Tapi harus kuakui aku agak kecewa saat mengetahui bahwa satu grup hanya dapat diisi oleh 30 orang maksimal, karena tiap orang membaca juz yang berbeda dalam Quran. Awalnya kupikir ini adalah grup yang menjaga semangat agar tiap anggotanya konsisten untuk tilawah sejuz tiap hari, tidak sepenuhnya salah memang, tapi saat ada pembatasan entah kenapa semua terasa berbeda. Ada yang bilang alasannya agar mudah diperiksa mana yang sudah tilawah dan mana yang belum. Aku sepakat dan aku menerima alasan tersebut, tapi entah kenapa rasanya tetap saja salah saat ada batasan bagi grup yang mengingatkan pada kebaikan. Kelihatannya memang tiap orang perlu memiliki pengingat agar tetap bertahan dalam kebaikan. Karena memang tiap orang punya batasan dan akan memiliki saat-saat dia lalai, dan bukankah orang-orang yang mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran tidak termasuk orang yang merugi? Yah, lihat sisi positifnya, alhamdulillah di hari ketiga ini sudah beres tiga juz, semoga konsisten, bismillah🙂

Oh, versi editan, ada tambahan. Setelah artikel ini dipost, ada yang terhubung dengan artikel ini dari keyword “odoj, sesat, sunnah”. Hahaha, entah lah. Aku tidak menganggap sebuah gerakan sesat atau tidak, mungkin memang ada suatu unsur baru dalam gerakan ini, tapi kalau mengarah pada kebaikan, kenapa tidak?

 

Kelihatannya bahaya juga kalau aku terus-terusan dikecewakan oleh hal-hal umum seperti ini. Yaa, bagaimanapun, kita kecewa karena kita peduli kan? Kita punya prinsip yang perlu kita jaga, kita punya akal untuk berpikir mana yang logis dan mana yang tidak, dan kita punya harapan dan ekspektasi yang membuat kita tidak puas jika harapan kita tidak terpenuhi. Wajar jika kita kecewa.

Dan karena stres itu berbahaya, mengambil pengalaman dari sahabatku yang pernah depresi lumayan berat sehingga cuti satu semester penuh dari kampus, jelas diperlukan metode untuk melepaskan stres. Bagiku, metode itu adalah random. Sekedar bertindak asal dalam berbagai situasi, lokasi dan waktu, lumayan menenangkan. Berteriak di tengah berisiknya jalan raya, berjalan menembus gelapnya malam dan menikmati suasana kolong jembatan layang atau melihat-lihat tempat mewah dengan pakaian lusuh ala kadarnya yang menutup aurat. Dalam hal ini, tidak ada yang dapat diprediksi akan terjadi, tapi tidak ada juga yang peduli apa yang akan terjadi selama tidak ada pihak yang dirugikan dalam bentuk apapun. Aku juga telah berencana untuk membeli es krim kalau ada hal yang kurang menyenangkan lagi terjadi hari ini, mengingat dua hari sebelumnya selalu ada hal yang menyebalkan, dan sifat randomku memutuskan untuk mentraktir diri sendiri dan menikmati hidup saat ada hal yang menyebalkan dalam jangka waktu tiga hari berturut-turut.

Dan random adalah caraku, bagaimana caramu mengatasi stres?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s