Menulis dan Sopan Santun

Saat menulis, kita tidak pernah tahu siapa yang membaca tulisan kita, umurnya berapa, pekerjaannya apa, atau apa yang dia suka dan tidak suka. Berbeda dengan dialog. Saat berdialog, aku umumnya menyesuaikan kata-kataku dengan siapa yang kuajak bicara. Kata-kata yang kugunakan kepada kawan sma, kepada murid didik, kepada kakak tingkat, kepada pak rt atau petinggi daerah, semuanya berbeda. Kebiasaan menggunakan “aku”-“kamu” ini pun bermula dari saat masuk ke itb, dengan niatan awal menjaga agar bahasa daerah bandung tidal tercemar oleh logat jakarta. Iya, dulu juga bahasa yang kugunakan berkisar antara “gue”-“elo” atau “ana”-“antum”, hahaha, yah, tiap orang berhak mengalami masa-masa labil kan? Setidaknya, terlepas dari fakta bahwa bahasa “gue”-“elo” sudah membandung lumayan lama, aku tidak termasuk faktor yang memperparah kondisi ini.

Memang sopan santun terhadap yang lebih tua sudah lama membudaya di negara timur macam indonesia. Dalam bahasa sunda, kata-kata yang digunakan pada orang tua dan teman sebaya tidaklah sama, mungkin begitu juga pada bahasa daerah lainnya. Namun saat menulis, ada kebebasan dalam memilih kata, tanpa perlu peduli siapa yang akan membaca. Oke, mungkin pernyataan barusan kurang tepat jika dikaitkan dengan tugas menulis sekolah, dimana guru akan menilai semua kata dan tanda baca yang kita gunakan. Mungkin itu salah satu faktor yang menyebabkan minat menulis kurang, ah, kita sering mempedulikan dan mendebatkan hal-hal yang kurang penting ya.

Menurutku pribadi, tulisan adalah sarana untuk berkomunikasi, terutama dalam hal yang tidak dapat atau tidak berani diungkapkan oleh seseorang di dunia nyata. Karena itu lah bahasa yang digunakan harusnya bebas sesuai dengan keinginan sang penulis. Bukan bermaksud mendorong penggunaan kata yang tidak sesuai dengan eyd, percayalah, aku juga sakit mata saat membaca tulisan yang menggabungkan huruf kapital, biasa, angka dan simbol dalam satu kata. Tapi bukankah setiap orang perlu wadah untuk berpendapat dan berekspresi, terlepas dari kaidah yang ada?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s