Kepercayaan dan Aturan

Tema pemikiran malam ini adalah kepercayaan. Habis nonton film series “Broadchurch” yang diputar BBC, entah kenapa british drama lumayan menarik minat dan meyakinkan mereka pantas untuk dimainkan di laptop malam ini. Dan, mereka tidak salah, setidaknya begitulah menurut seleraku. Entah ini pengaruh dari british drama lain seperti doctor who dan sherlock atau apa, setidaknya aku menikmatinya. Lumayan untuk mengisi malam setelah uas selesai, dan melupakan tugas sejenak–deadline masih tiga hari lagi kok, lagipula sekarang aku tidak mood untuk nugas ataupun berpikir mengenai deadline, dan merasa perlu bertingkah sebagai diriku meski hanya sejenak.

Oke, singkat cerita, broadchurch adalah serial tentang usaha sepasang agen polisi dalam menyelidiki kematian seorang anak berusia 11 tahun bernama danny latimer di kota kecil yang bernama broadchurch, serta reaksi masyarakat di dalam kota tersebut saat terjadi pembunuhan di kota yang tingkat kriminalnya tergolong rendah tersebut. Serial yang membuatku sadar bahwa ternyata aksen british dan scottish itu gak terlalu mudah didengar, bencana bagi mereka yang menonton tanpa subtitel sepertiku. Yaa, latihan dan belajar ter-ekspos bahasa inggris sih, tapi agak menjatuhkan semangat juga karena masih banyak kata yang tidak dapat kumengerti atau tidak jelas terdengar ._.

Tapi overall, seriesnya keren. Mengingatkanku lagi alasan kenapa aku tidak pernah menyukai media atau publikasi mengenai diri sendiri dalam jenis apapun. Sekarang tontonanku sedang berada pada titik orangtua yang dekat dengan almarhum anak tersebut ditemukan meninggal setelah disudutkan oleh artikel dari beberapa media yang mencari sensasi tanpa mempedulikan fakta yang terjadi, yang kemudian menyulut amukan massa terhadap orangtua tersebut, baik dengan tindakan demonstrasi ataupun vandalisme. Entah orangtua tersebut bunuh diri atau dibunuh orang lain, toh aku belum menyelesaikan series ini untuk mengetahuinya, tapi ini lah yang tidak kusuka dari media. Mereka mengarahkan massa untuk percaya pada hal dan menarik kesimpulan seperti yang mereka inginkan, dengan alur tulisan yang lembut, penggunaan kata yang menarik dan perbedaan yang tidak terlalu jelas antara opini dan fakta (dan aku sering bingung dalam soal bahasa indonesia terkait kalimat mana yang merupakan opini dan kalimat mana yang merupakan fakta). Wajar jika lumayan banyak calon presiden atau petinggi partai yang tertarik untuk punya media sendiri, opini pada masyarakat sangat berpengaruh pada pemilihan kelak bukan?

Yah, semoga kita bisa lebih tercerdaskan saja lah ya dengan berbagai opini yang disetir oleh beberapa golongan, dengan belajar untuk menerima fakta, mengabaikan opini dan menarik kesimpulan sendiri. Oh, berhubung tulisan-tulisan yang ada di blog ini juga penuh dengan opini (mungkin aku akan menyediakan fakta kalau ada hal yang menarik untuk dibahas, kalau ada), menjadikan tulisan seperti ini sebagai pedoman juga bukan lah tindakan yang bijak. Ini hanyalah tulisan, sarana untuk berpendapat dan menyampaikan gagasan🙂

Oh iya, alasan lain aku menyukai broadchurch adalah karena aktor bbc umumnya tidak jauh berbeda, dan ada beberapa pemeran doctor who yang hadir disini, hahaha. Aktor yang memerankan tokoh kesukaanku di doctor who juga berperan sebagai pendeta disini, dan tokoh utama serial ini juga merupakan aktor yang pernah memerankan doctor. Harus diakui, mereka aktor yang hebat.

Aku suka dengan pidatonya sang pendeta saat kematian orangtua tersebut, “Orang ini adalah orang baik yang tidak berdosa, media lokal semuanya mengakui itu. Jadi mengapa kita disini? Kita membiarkan dia terintimidasi, kita tidak ada saat dia membutuhkan kita. Karena itu, sekarang, kita juga harus mengakui. Beberapa dari kita telah mengecewakan dia…, sebagaimana kita mengecewakan danny latimer. Kita harusnya mencintai tetangga kita sendiri, dan melihat apa yang terjadi saat ini, kita seharusnya bisa lebih baik. Jika kita bukan komunitas dari para tetangga, maka kita bukan apa-apa.”

Entah ini mengacu kepada apa sebagai referensi, teologi bukanlah bidangku, tapi sekarang aku mulai mengerti kenapa Rasul meminta kita untuk memperhatikan dan berbuat baik pada tetangga. Bahkan mengatakan bahwa dosa seorang muslim juga dapat mempengaruhi timbangan amalan tetangganya sesama muslim yang tidak mengingatkan sampai beberapa rumah. Entah bagaimana, aku melihat ini sebagai sindiran, bagi diriku pribadi, dan bagi masyarakat pada umumnya. Kita hidup di era teknologi, yang mendekatkan orang-orang yang jauh, tapi kadang juga malah menjauhkan orang-orang yang dekat. Oke, memang saat sifat introvertku kambuh aku juga demikian untuk mencari perasaan kesendirian, tapi selain pada saat itu aku pun berusaha meminimalisir penggunaan hp dan benda elektronik lainnya saat berinteraksi dengan orang lain. Yah, pernah mengalami hal seperti ini beberapa kali, perasaan diabaikan karena orang-orang yang jauh dan menghubungi via hp lebih dipentingkan daripada orang-orang yang dekat saat itu, dan menurutku itu kecanggungan yang tidak terlalu menyenangkan. Dan pertanyaannya, jika kita sudah mulai abai dengan kawan yang berada di dekat kita, bagaimana dengan tetangga yang tidak kita kenal? Jangankan saling mengingatkan, saling sapa pun diragukan. Memprihatinkan bukan?

Oke, kembali pada cerita. Jadi, setelah orangtua itu meninggal, sang pendeta lah yang diselidiki oleh detektif karena pendeta itu punya latar belakang seorang pemabuk, lalu sang detektif menerangkan alasan kecurigaannya terhadap sang pendeta, yang mengkhawatirkan karena latar belakangnya seorang pemabuk dan sikapnya seolah berusaha untuk eksis di tiap media yang meliput kematian danny karena tempat ibadahnya kurang disorot, dan sang pendeta pun merespon begini, “you don’t have a concept of faith, do you? I didn’t muscle in, people turned to me. People who wouldn’t normally think about religion. They asked me to speak, they asked me to listen, they needed me. Do you know why? Do you know why they came to me? Because there is a fear you couldn’t address, a gap that you couldn’t plug. Because all you have is suspicion and urge to blame whoever is in the closest proximity. Look, you can accuse me, you can take samples, belittle who I wasin the past. But you do not get to belittle my faith just because you have none. People need hope right now and they certainly not getting it from you.”

Dan kata-kata pendeta itu lumayan menjelaskan alasanku kabur dari dunia kemahasiswaan, disebabkan dari saat forum di lapangan basket saat pendidikan dan pelatihan panitia orientasi dahulu. Saat kita diuji oleh massa kampus yang terdiri dari unit dan himpunan terkait kesiapan kami untuk menjalankan acara orientasi, ada sebuah unit yang ketuanya menanyakan pertanyaan sederhana, “adik-adik sudah shalat isya belum?”. Setelah pertanyaan itu keluar, terdengar sorakan melecehkan dan makian untuk menghentikan unit yang bertanya saat itu. Itu satu malam yang menjatuhkan nilai dunia kemahasiswaan baik di bidang unit ataupun himpunan di mataku, karena itu sangat tidak dewasa, dan tidak tahu aturan. Tujuan dari forum waktu itu setahuku adalah untuk menguji kesiapan para panitia yang akan turun ke lapangan, dan tiap orang punya standar tersendiri kan untuk memeriksa kesiapan panitia? Lagipula tiap orang punya standar prioritas yang berbeda, kalau menganggap itu salah, kenapa tidak didiskusikan dimana salahnya? Entah, tapi melihat orang-orang berpendidikan menyanggah argumen dengan sorakan melecehkan dan makian untuk berhenti, dan entah suasana saat itu memang panas atau kenapa aku tidak melihat adanya sopan santun dan etika dari para mahasiswa saat itu. Ironis ya saat melihat kaum yang mendapatkan pendidikan tidak terlihat berperilaku sebagaimana orang terdidik.
Dan karena kekecewaan itu aku sudah tidak terlalu berminat untuk terjun ke dunia himpunan atau unit dan terlibat dengan mahasiswa lain, lebih tertarik untuk langsung terjun ke masyarakat dan kegiatan sosial lainnya. Oh iya, dalam waktu dekat ini ketua dari unit yang waktu itu bertanya akan menikah dengan salah seorang anak buahnya di unit yang sama. Haha, meskipun aku jarang menganggap diriku bagian dari unit itu tapi senang mendengarnya, selamat untuk kak bambang dan teh lintang, semoga bisa saling menguatkan seperti yang telah berlangsung di organisasi itu lah ya, senang bisa mengenal dan sempat belajar terkait tekad untuk terus maju tanpa peduli cacian dari kalian😀

Oke, satu hal yang perlu dimention, aku bukan orang yang menyukai pada apa yang disebut taqlid atau percaya buta pada suatu hal. Sampai saat ini, aku muslim karena, tidak peduli seberapa sering aku melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya, Allah selalu menepati janjiNya dengan sempurna. Ambil contoh terkait hijab pada perempuan, yang ditujukan untuk keselamatan sang wanita. Ada yang berargumen bahwa perempuan berjilbab juga ada yang tetap terkena bahaya seperti pelecehan seksual, bagaimana bisa dikatakan selamat? Dan menurutku ada dua respon yang pantas untuk dimention, yang pertama adalah bahwa Quran juga memerintahkan para laki-laki untuk menundukkan pandangan dari perempuan–penyebab kasus pelecehan seksual pada umumnya–yang kelihatannya sulit dilakukan di zaman ini, dan yang kedua adalah, “dari semua pengendara motor yang menggunakan helm dan pengemudi mobil yang menggunakan seat-belt, apakah semuanya selamat saat kecelakaan terjadi?”.

Oh, ada satu hal lagi yang menarik terkait hijab. Ada temanku yang mengambil pelecehan seksual sebagai tema tugasnya. Dalam pencarian data dia menemukan sebuah situs dewasa tentang cerita terkait perempuan berjilbab dan menampilkan foto perempuan berjilbab (entah siapa, asal comot dari internet sepertinya, salah satu alasanku tidak terlalu berminat meng-upload gambar manusia nyata ke blog ini, khawatir disalahgunakan orang yang membaca, apalagi aku tidak tahu siapa saja yang mengakses blog ini), ada tulisan yang menyatakan bahwa situs itu hanya menampilkan gambar perempuan yang hijabnya kurang benar dan ada kalimat “Biarlah perempuan yang hijabnya benar menjaga dirinya di pengajian”. Entah apakah situs itu sudah diblok atau belum, tapi yang jelas perasaan dia pas menemukan itu adalah antara miris, mau ketawa, kaget, senang, banyak lah, nano-nano. Allah menjaga janjiNya!

Oh iya, ada juga temanku yang membuat kampanye terkait pelecehan seksual untuk tugas besar desainnya di bidang komunikasi visual. Dia pernah memberitahuku bahwa korban pelecehan seksual umumnya tidak berani atau tidak punya tempat untuk bercerita, karena itu dia mengampanyekan speak up bagi perempuan yang telah jadi korban, dan berencana untuk memperkenalkan sebuah game bagi perempuan yang punya potensi untuk terjerumus. Aku lupa nama asli gamenya, tapi intinya itu adalah game dating (kencan) dimana sang pemain menjadi perempuan yang diperebutkan para lelaki di dalam game, dan katanya lelaki di dalam game itu semuanya dibuat agar tampilannya cute dan punya berbagai sifat “cowok idaman” para wanita. Katanya bahkan ada fitur alarm yang akan membangungkan pemain dengam suara dan gambar laki-laki yang jadi teman ngedate dia. Pendapatku tentang game ini? Gak jauh dari seputar tamagotchi (sama-sama berinteraksi dengan satu makhluk) dan desperate (perlu dijelaskan?). Tapi dari mendengar apa yang diceritakan sahabatku ini, kelihatannya korban pelecehan seksual memang sedesperate itu. Semua orang, baik yang alim ataupun tidak, memberikan label yang kurang menyenangkan pada dirinya dan cenderung menjauhinya. Tidak ada yang memberikan dukungan, mungkin ada beberapa pada awalnya tapi seiring waktu pendukung ini pun menghilang, dan semua orang mengecewakan dia. Apa lagi yang bisa dia lakukan?
Aku lumayan simpati karena aku pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang terakhir yang meninggalkan orang dengan suatu label karena tekanan kelompok lain, bukan pengalaman yang menyenangkan, percayalah.

Tapi kalau dipikir lagi, itulah aturan, dibuat untuk menjaga keteraturan dalam hidup dan meminimalisir potensi bahaya yang dapat terjadi pada tiap individu. Dan sampai sekarang aku masih percaya islam mengatur semuanya dengan sangat baik sejak Rasulullah menerapkan aturan yang beliau bawa, zaman jahiliyyah pun musnah.
Tidak boleh mabuk? Di dunia yang penuh dengan orang-orang normal saja masalahnya sudah banyak, bagaimana kalau dipenuhi oleh orang-orang mabuk, yang kehilangan akal sehat dan tidak tahu apa yang mereka lakukan?
Shalat lima kali sehari dan puasa? Sudah banyak artikel yang membahas manfaat shalat dan puasa untuk kesehatan, dan kelihatannya setiap manusia perlu waktu untuk sekedar melepaskan penat dengan berdoa pada Tuhannya.
Zakat dan sedekah? Perlu kah artikel ini membahas kesenjangan sosial di indonesia?
Dan mungkin perlu dibahas juga rambu lalu lintas seperti berhenti saat lampu merah, menyeberang di zebra cross, tidak boleh mencontek saat ujian dan berbagai aturan yang sering kita lihat dan telah kita ketahui tapi tidak pernah kita jalankan.

Semua ada tujuannya, dan mungkin memang, sebelum mematuhi aturan akan jauh lebih baik apabila kita memiliki kepercayaan, bahwa aturan yang kita ikuti memang akan punya andil dalam menjaga kita, kini dan nanti. Karena saat kita telah percaya, selalu ada kemudahan dalam melakukannya, coba lah🙂

Randoman malam dari hp karena laptop sedang tidak terhubung dengan internet, ternyata susah ya menulis sepanjang ini di hp, hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s