Nada

Hari ini awalnya direncanakan untuk menjadi hari yang menyenangkan. Uas beres, jalan-jalan dan tamasya ke taman kupu-kupu bersama kawan sejawat, hanya bersenang-senang dan melupakan tugas untuk sejenak. Agak lucu saat menyadari bahwa sebuah pesan singkat di grup whatsapp dapat mengubah segalanya.

“Innailillahi wa inailaihi rajiun.. Kakak-kakak tersayang, telah berpulang ke rahmatullah, adik kita tersayang, tercinta, dan selalu dirindukan, si Kakak (adik yg kembar pake baju stroberi itu) td malam krn demam tinggi DB. Siang ini hbs dhuhur kita akan kesana untk brbelasungkawa. Yg mau ikut konfirm ke saya yah. Makasih.”

Oke, kehidupan itu benar-benar dinamis ya? Selalu ada kejutan, terlepas dari menyenangkan atau tidak. Siapa yang menyangka siswi didikku yang masih berada di tahapan awal sekolah dasar akan meninggal kemarin malam? Dan rencana pun berubah, dari awalnya kami berniat untuk berangkat jam 8, namun setelah mengetahui shalat jenazahnya dilaksanakan jam 9.30, keputusan akhirnya adalah berangkat setelah menshalatkan jenazah almarhumah dan berkunjung ke rumah almarhumah.

Dan kami pun bergegas ke masjid di dekat rumah almarhumah, tempat kegiatan belajar biasa dilakukan. Sudah banyak warga yang hadir disana, anak-anak juga. Tak peduli siapapun yang meninggal, tanggungjawab untuk menshalatkan sesama muslim selalu berlaku bukan? Sempat berbincang dengan anak-anak yang hadir walau hanya sebentar, termasuk dengan adik kembar almarhumah. Dan adik kembarnya tidak merespon, lebih memilih untuk berlari pergi. Karena bingung apa yang sebaiknya dibicarakan, akhirnya kami pun masuk masjid, mengambil wudhu dan bersiap untuk menshalatkan jenazah.

Setelah shalat jenazah selesai dilaksanakan dan jenazah dibawa untuk dikebumikan, kami pun diantar anak-anak berkunjung ke rumah almarhumah. Dan rumah tersebut sepi, hanya ada wak dari almarhumah dan adik almarhumah yang paling kecil. Disanalah kami mengetahui bahwa kakak meninggal karena demam berdarah, namun pendarahannya tidak keluar. Sempat dibawa ke sebuah klinik, namun petugas klinik itu salah mendiagnosis penyakit kakak saat itu sebagai panas biasa, dan memang kakak sempat sembuh dari demamnya (ingat kata iklan terkait dbd bukan? Siklus pelana kuda). Dan saat demamnya kambuh lagi, penanganan yang tepat terlambat dilakukan. Mengerikan ya apa yang dapat terjadi saat dokter melakukan kesalahan? Sebagai engineer, salah perhitungan dalam pembuatan jembatan dapat mengakibatkan ribuan korban jiwa. Pekerjaan yang berhubungan dengan nyawa tidak mudah ya.

Dan wak almarhumah juga bercerita bahwa meski adik kembarnya sudah berlari-lari dan mengobrol dengan teman-temannya, pandangannya terlihat kosong dan menatap pada foto kakaknya. Mendengar ini pun mengingatkanku pada masa laluku bersama nada. Pada waktu usiaku belum genap tiga tahun, aku punya kakak sepupu yang usianya terpaut sekitar 1.5 tahun, perempuan, biasa kupanggil nada. Aku tidak ingat nama lengkapnya, hanya tahu bahwa nada merupakan kependekan dari denada. Aku sudah biasa dengan nama pendek karena saat kecil pun kata laksma terlalu sulit untuk kuucapkan, dan aku memiliki nama panggilanku sendiri. Dan saat itu, nada merupakan satu-satunya teman seumuran yang kupunya dan sering kuajak bermain. Entah apa yang kami mainkan, aku juga penasaran sampai saat ini.

Dan nada tidak pernah mencapai usia 5 tahun, seingatku karena paru-paru basah, dan entah kenapa semua berbeda setelah itu. Ibuku melarangku menyebutkan nama nada saat bermain ke rumah tanteku, dan aku pun kehilangan teman bermainku. Entah apakah orang-orang juga menanyakan hal yang sama terkait diriku saat itu dengan si adik kembar saat ini. Anehnya, sampai sekarang aku tidak bisa ingat nada itu seperti apa, padahal aku masih ingat beberapa hal yang terjadi setelah kematian nada, meski hanya hal sederhana seperti perasaanku setelah itu, atau kegiatan seperti membaca komik donal bebek, jatuh dari kursi dan semacamnya, tapi bagaimanapun aku ingin mengingat, tidak pernah ada yang berhasil kuingat. Aku pun juga tidak pernah merasa punya keterikatan khusus pada siapapun, dan sulit untuk dekat dengan kawan sebaya lainnya setelah itu terjadi, entah karena takut kehilangan lagi atau hanya malas karena hampir tidak ada kawan seumuran yang mengerti, yang kutahu aku hanya sulit untuk dekat. Yah, mungkin ini juga yang menyebabkan diriku tidak segalau beberapa sahabatku terkait urusan pendamping hidup, seperti perbincanganku dan kawan-kawanku di curug cimahi (oiya, sekilas info, taman kupu-kupu tutup sejak 18 desember lalu, kami hanya terlambat 3 hari padahal, namun tetap saja terlambat) tadi terkait target waktu nikah dan ingin jadi apa di masa depan. Hei, aku pernah kehilangan seseorang yang kuanggap penting, dan aku belum ingin menambah jumlah orang yang kuanggap penting dalam hidupku. Akan ada waktunya, pasti kalau diizinkan Allah, tapi bukan sekarang. Menjaga yang masih ada lebih baik daripada mengejar yang lain kan?

Entah lah, aku khawatir dengan adik, bagaimana dia akan mengatasi ini. Apakah dengan kesedihan dan kerinduan seperti yang umumnya orang-orang rasakan? Apakah dengan berusaha melupakan kakak dan berusaha untuk kembali ceria? Ataukah seperti yang waktu itu kulakukan, tanpa kesedihan, tapi juga tanpa keceriaan, hanya perasaan hampa dan mengamati semua hal yang terjadi tanpa kehadiran dirinya? Entah pikiran memikirkan apa dan mata memandang kemana. Apa yang bisa seorang anak lakukan saat satu-satunya sahabatnya pergi meninggalkan dia?

Tapi terlepas dari cara apa yang dia pilih untuk melalui ini, dunia terus berputar. Semua ada masanya, dan semua akan pergi, baik meninggalkan ataupun ditinggalkan. Yah, lebih baik belajar di awal seperti ini kan daripada belajar di masa depan, saat ikatan dengan seseorang itu terlalu kuat dan orang itu pergi? Dan kelihatannya ada tanggungan bagi orang yang punya pengalaman sama untuk memastikan dia dapat melaluinya dengan baik, setidaknya dengan lebih baik daripada orang itu🙂

Entah, awalnya aku ingin menulis sesuatu yang ceria hari ini. Hari ini genap lima tahun fortris, organisasi lintas sekolah yang kubuat semasa sma berdiri. Dan hari ini juga memang kurencanakan untuk bersenang-senang tanpa tekanan apapun. Tapi setelah kejadian ini, agak aneh. Tadi aku punya banyak hal untuk dilakukan, jadi supir motor (pertamakalinya membonceng orang dalam perjalanan yang lumayan jauh, alhamdulillah selamat, haha), jalan-jalan, seksi dokumentasi jalan-jalan, diskusi, mengobrol, meracau. Banyak hal yang mengalihkanku dari mengingat nada. Dan saat aku sendirian seperti saat ini, setelah kejadian itu, hanya ini yang bisa kuingat. Entah apakah aku masih bisa berjumpa dengan nada, baik dalam mimpi ataupun di akhirat nanti, tapi aku tahu apa yang ingin kukatakan jika suatu saat nanti aku bertemu dia lagi. “Nada, main yuk!”

Ya, kalau ada kesempatan lagi, itu lah yang ingin kukatakan. Setiap orang perlu teman untuk bermain dan berekspresi bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s