Playlist 1-Lagu Indonesia

Yak, another random night. Berawal dari sharing post dan semacamnya karena bosan nubes dan perlu ganti suasana, tiba-tiba ngeliat postingan gambar barusan itu postingan ke-182. Dan karena sekarang playlist iTunes sedang memutar lagu dari Blink 182, jadi kepikiran soal band-band di playlist. Mengingat selera musikku unik (yah, setidaknya dari pengalaman saat diajakin karaoke bareng teman-teman random alias skhole angkatan 2008 dan 2010, gak banyak yang tahu lagu pilihanku, bahkan banyak tempat karaoke yang tidak menyediakan lagu pilihanku, haha) kelihatannya isi playlist minta dibicarakan. Tapi kelihatannya cukup lagu indonesia yang menurutku enak didengar saja, hei, playlistku mencakup 871 lagu yang kalau diputar memakan waktu lebih dari dua hari, aku juga malas menulis semuanya. Yah, siapatau dari lagu yang kusuka ada yang worth it untuk mengisi waktu luang atau menenangkan pikiran dari tugas-tugas besar dan uas-uas yang tidak selalu menyenangkan. Lagipula lagu indonesia lebih mudah dibahas, berhubung jumlah lagunya jauh lebih sedikit daripada lagu luar, dan biar ada yang bisa dibanggakan sebagai anak bangsa, haha. Tenang, tidak semua lagu yang diciptakan anak bangsa tidak layak untuk disebarluaskan kok, banyak yang sebetulnya bisa bersaing dengan dunia luar kalau saja ada yang berniat untuk membuat versi internasionalnya, heheπŸ™‚

Dimulai dari musik buatan anak bangsa. Dalam kasus ini, file musik terbanyak disumbangkan oleh Pak Addie Muljadi Sumaatmadja, atau Addie M.S. dengan album The Sound of Indonesia, berisi lagu-lagu tradisional dan lagu-lagu nasional Indonesia yang dikemas dalam format orkestra. “Rasa Sayange”, “Bolelebo,Anak Kambing Saya” dan “Cublak-Cublak Suweng” direkomendasikan lah. Beruntung juga pernah bertemu langsung dengan Pak Addie saat mengisi kuliah umum di ITB, dan syukurlah saat itu beliau tidak melarang para peserta kuliahnya untuk mendownload lagu karyanya secara gratis. Yaa, kelanjutannya bisa ditebak lagu-lagu di iTunes ini berasal dari mana, haha.

Pak Addie diikuti oleh Pak Ari Lasso, pencipta lagu “Misteri Ilahi” yang merupakan lagu favoritku di masa sekolah dasar dulu. Lagu yang recommended ya itu, “Misteri Ilahi”. Oh iya, “Hampa” juga enak didengar kok. Band zaman dulu lainnya adalah Base Jam, dengan “Bukan Pujangga” dan “Rindu”.

Bondan Prakoso dan Fade2Black juga masuk, lagunya enak-enak dan menjadi satu-satunya band yang kudengarkan semasa sma dan kuliah tingkat awal saat musik Indonesia dipenuhi dengan virus lagu cinta, hahaha, entah kenapa kurang sesuai dengan lagu yang mengangkat tema itu, toh aku menganggap musik itu sarana untuk mengekspresikan diri, dan banyak hal lain yang layak untuk diekspresikan selain cinta. Haha, terlalu banyak lagu cinta yang beredar justru membuat lagu yang mengangkat tema lain lebih menarik, mungkin awal-awal orang antusias, tapi kalau begini terus umumnya orang juga akan bosan. Mungkin itu penyebab lagu-lagu tentang cinta yang kusuka umumnya lagu-lagu jaman dulu, bukan dari band jaman sekarang, haha. Dan kalau dipikir lagi, ini mirip dengan apa yang terjadi pada masjid, dulu saat masjid masih sedikit orang-orang selalu memenuhi masjid namun sekarang saat masjid sudah banyak justru jamaahnya kosong. Iya, ironis. Dan mungkin banyaknya lagu ini turut berperan dalam pembentukan remaja galau ya, lumayan banyak contoh subjek yang ditemukan meski tidak diketahui penyebab galaunya, hahaha. Oh iya, beberapa lagunya bahkan dibuat bentuk ceritanya oleh Fahd Djibran, kalau tidak salah judulnya “Hidup Berawal Dari Mimpi”, sesuai dengan judul lagunya. Dan lagu yang direkomendasikan adalah “Hidup Berawal Dari Mimpi”, “Kita Selamanya”, “R.I.P”, “Bumi ke Langit” dan “Ya Sudahlah”.

Oh, ada lagi, Pee Wee Gaskins dan Superman Is Dead. Alasannya tidak jauh berbeda dengan alasanku menyukai Bondan, bosan dengan lagu cinta. Selain itu, lagu “Dari Mata Sang Garuda” karya Pee Wee Gaskins yang diputar saat timnas indonesia berlaga di piala aff 2010 yang lalu juga membangkitkan rasa optimisme timnas akan meraih piala aff di tahun itu. Yaa, terlepas dari berhasil tidaknya, tapi punya lagu seperti ini tidak buruk kok. Selain itu “Sebuah Rahasia” dan “Aku Bukan Musuhmu” juga enak didengar kok. Untuk Superman Is Dead, coba lah dengarkan “Jika Kami Bersama” dan “Kuat Kita Bersinar”, it’s nice, really.

Almarhum Chrisye menyusul. A maestro, indeed. Lagunya bagus, terutama “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” dan “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada” yang membuat merenung, “Lirih” dan “Hip Hip Hura” juga enak didengarkan meski memang agak bergantung pada suasana hati, dan bahkan lagu “Kangen” yang aslinya karya Dewa 19 menurutku lebih pas saat dinyanyikan oleh Chrisye (kebetulan juga memang cuma versi itu yang kupunya, dan mungkin karena kurang sesuai dengan band itu).

Berikutnya, lagu yang jadi soundtrack pada film Laskar Pelangi, lagu “Sahabat Kecil” karya Ipang, diikuti dengan lagu “Malam Indah” dan “Bebas” karya Iwa Kusuma. “Pak Tua” karya Iwan Fals juga lumayan enak, sedikit gambaran di hari tua mungkin, haha. Sayang hanya itu lagu dari mereka yang ada di playlistku, hasil dari nemu secara random sih, nyaman untuk didengar dan teman yang baik dalam menghabiskan waktu, tapi belum ada niat menambah koleksi lagu mereka di playlist, hehe.

Lalu ada Jamrud, dengan lagu “Jauh”, “Kabari Aku”, “Terima Kasih”, “Selamat Ulang Tahun” dan “Pelangi di Matamu” dan Padi dengan lagu “Mahadewi”, “Sahabat Selamanya” dan “Sang Penghibur”. Dua band lain yang sering menemani malam nugas. Selain itu Sheila On 7 juga masih setia menemani dengan lagunya yang entah kenapa masih sesuai dengan telinga meski sudah berkali-kali diputar, dan untuk band yang terakhir ini justru aku tidak punya preferensi, lagunya enak-enak, hahaha.

Ok, jadi tadi ada niatan untuk menghubungkan playlist ini dengan hak cipta menurut pandanganku, secara aku lebih menyukai orang-orang yang tidak terlalu peduli dengan hak cipta dan berkarya karena ingin menyampaikan sesuatu, sehingga tidak masalah jika karyanya disebarluaskan begitu saja. Sayangnya lagi kurang mood, niat tadi hilang setelah debat via media sosial terkait kebencian dan pembasmian suatu golongan dengan satu sahabat lain. Haha, mungkin lain kali, kalau aku ingat dan mulai ada niat lagi untuk membahasnya, semoga. Sulit untuk membahas sesuatu saat sedang tidak mood, procrastinating pun terjadi karena tidak mood nugas atau belajar, niat awalnya yang membahas semua artis satu persatu pun sudah menguap setelah debat itu, di bagian akhir sudah tidak niat melanjutkan, tapi sayang kalau tidak diteruskan, hahaha.

Yah sudah lah, semua ada waktunya kan?πŸ™‚

 

Haha, dan ternyata sampai sekarang pun kehilangan minat untuk melanjutkan tulisan ini. Ah, semua punya masanya tersendiri ya, ada masa semangat dan ada masa malas. Yah, mohon maaf untuk band yang memiliki nama dengan huruf-huruf yang terletak di bagian belakang urutan alfabet atas kekurangan dalam penjelasannya. Tapi bagaimanapun, karya-karya kalian semua kuhormati kok, two thumbs up for you guys!πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s