Sebuah Pertanyaan

Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama diberikan oleh seorang juniorku, dan dia memang memintaku membuat catatan mengenai pertanyaan ini, namun kelihatannya baru saat ini dapat terealisasi. Yah, perubahan kurikulum di program studiku memang lumayan unik, beban kerja dari tugas besar sangat bertambah setelah program studi ini terakreditasi internasional. Memang berat sih, tapi setidaknya setelah lulus dari ini aku akan dianggap sekompeten engineer-engineer di bidang studi yang sama dari universitas manapun. Selain itu, aku banyak belajar dari tugas-tugas yang selama ini telah diberikan. Yah, selalu ada sisi positif dari masalah kan?🙂

Oke, pertanyaan yang dimaksud terkait dengan cinta dan Tuhan, dan kelihatannya lumayan sering diajukan, entah dalam puisi, untaian kata ataupun cerita, “Kalau kau mencintai seseorang karena parasnya, bagaimana kau mencintai Tuhanmu yang tak berparas?”. Sejujurnya, sampai sekarang aku pun belum tau apa jawaban yang tepat bagi pertanyaan ini. Karena belum ada respon yang terlintas dalam pikiran, mari kita analisis pertanyaan tersebut dengan menganggap ini sebuah pernyataan implikasi dalam bentuk jika “p” maka “q”. Dengan begitu, ada 4 kemungkinan orang menurut logika dari juniorku ini, yaitu “orang yang mencintai seseorang karena parasnya dan mencintai Tuhannya”, “orang yang mencintai seseorang karena parasnya dan tidak mencintai Tuhannya”, “orang yang tidak mencintai seseorang karena parasnya dan mencintai Tuhannya” dan “orang yang tidak mencintai seseorang karena parasnya dan tidak mencintai Tuhannya”. Oke, setelah menulis satu paragraf penuh aku baru menyadari kelihatannya menggolongkan subjek dan menganalisisnya satu persatu memang bukan logika yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Hahaha, yah, setidaknya kita mendapatkan sudut pandang yang baru terkait golongan dalam manusia, sebuah metode untuk menganalisis masalah, dan sekedar informasi atau detail menarik dari masalah tersebut.

Mari coba metode lain, metode perumpamaan, dengan mengumpamakan paras sebagai keju yang dimasukkan dalam adonan untuk membuat kue. Mungkin jika pertanyaan tersebut diubah untuk menyesuaikan dengan tema ini, “Jika kau menyukai kue karena keju yang ada di dalamnya, bagaimana kau menyukai sang pembuat kue yang tidak terbuat dari keju?” Ah, setidaknya sekarang mulai ada gambaran tentang pertanyaan tersebut, meski memang ini adalah perumpamaan yang sangat asal, hahaha.

Oke, kesimpulan sementara yang dapat kutarik adalah bahwa kedua pernyataan tersebut tidak lah berhubungan, mengacu pada contoh keju dalam kue tersebut. Tiap orang punya cara yang berbeda dalam memperlakukan kue tersebut, ada yang memakan kejunya terlebih dahulu lalu menyisakan bagian kue yang tidak mengandung keju, atau mungkin memberikannya ke orang lain. Ada juga yang mungkin memakan semua bagian yang tidak mengandung kejunya terlebih dahulu untuk menyisakan kejunya agar dimakan terakhir. Tapi semua itu tidak ada pengaruhnya terhadap bagaimana orang tersebut menyukai sang pembuat kue.

Mungkin seperti yang telah kusebutkan diatas (ah, ternyata logika yang tidak terstruktur seperti ini masih ada gunanya, hahaha), ada bermacam jenis orang, baik itu yang mencintai karena paras dan mencintai Tuhan, mencintai karena paras dan tidak mencintai Tuhan, mencintai bukan karena paras dan tidak mencintai Tuhan, serta yang mencintai bukan karena paras dan tidak mencintai Tuhan. Dan mungkin semua orang memiliki alasannya tersendiri untuk masuk ke dalam salah satu golongan, alasan orang-orang yang segolongan belum tentu sama, bahkan mungkin sebuah alasan yang menyebabkan seseorang masuk ke sebuah golongan dapat menyebabkan orang yang berbeda masuk ke golongan yang berbeda juga.

Dan jika logikaku benar, maka sebenarnya semua ini tergantung pada para pencinta (ya, maaf atas kosakata yang aneh, ini adalah kosakata yang dibuat berdasarkan logika karena aku belum dapat menemukan kata yang pas untuk memanggil orang-orang yang mencintai, kosakataku masih kurang banyak memang). Apa yang menjadi pertimbangan mereka untuk mencintai memang sepenuhnya merupakan hak individu mereka, tapi bagaimanapun saat mencintai seseorang, maka perlu diingat bahwa orang tersebut tidak hanya memiliki hal-hal yang mereka cintai, ada banyak hal lain yang mungkin tidak mereka cintai atau bahkan mereka benci dan terdapat dalam diri orang yang mereka cintai. Dan semua akan kembali pada sang pencinta, apa yang akan mereka lakukan untuk dapat berkompromi dengan kenyataan tersebut. Mungkin ada yang memutuskan untuk berubah membenci atau meninggalkan orang yang mereka cinta, ada yang memutuskan untuk bersabar, ada yang menyakiti orang yang mereka cinta atau ada yang berusaha untuk mengubah orang yang mereka cinta, dan ada berbagai skenario lain yang mungkin dapat dilakukan karena semua orang berbeda, tapi sulit untuk mengetahui apakah mereka mencintai Tuhannya atau tidak. Bagaimana bisa menilainya?

Dan semua juga tergantung pada yang dicinta, mau dicintai oleh pecinta seperti apa? Bagaimanapun, saat berbicara mengenai hubungan antar manusia, hubungan yang terjadi selalu merupakan hubungan dua arah, hubungan yang terjadi bukan karena keputusan sebelah pihak saja, namun harus ada keterlibatan dua belah pihak. Dan yang dicinta juga berhak untuk memutuskan mau menerima pecinta yang mencintai karena paras, dan meragukan apakah dia mencintai Tuhannya, atau tidak. Karena semua orang punya pilihan, bukan?

Mungkin itu penyebab Rasulullah saw pernah berkata, “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkarakarena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanyaPilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin” melalui Abu Hurairah kepada para laki-laki. Setidaknya, jika yang dipilih adalah mencintai karena agamanya, kemungkinan orang tersebut mencintai Tuhannya lebih tinggi daripada mencintai karena parasnya, dan kemungkinan untuk selamat dalam hari pembalasan juga lebih besar. Aku lupa periwayat haditsnya tapi setahuku hadits ini sudah lumayan sering dibicarakan di forum-forum pra-nikah atau forum lelaki atau perempuan yang galau nikah (bukan bermaksud menyamakan kedua forum tersebut, tapi mungkin memang keduanya mirip dari segi bahasan, dan mungkin beberapa dari para peserta juga).

Dan sekarang kembali kepada diri masing-masing, waktunya untuk bertanya mau mencinta karena apa dan mau dicinta karena apa🙂

Satu pemikiran pada “Sebuah Pertanyaan

  1. ka laksma makasih😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s