Cerita Para Halte

Diawali dari sebuah janji bertemu dengan seorang sahabat lama, hari ini kembali jalan-jalan mengelilingi jakarta dengan busway. Hari ini jalanan lumayan kosong, entah pengaruh dari “hari kejepit” atau libur panjang, yang jelas ini menyenangkan bagi pengguna angkutan umum sepertiku. Tujuan hari ini adalah Kota Tua, dan tentu saja sebagai warga negara yang berdomisili di perbatasan Tangerang-Jakarta Selatan, Blok M adalah tempat terdekat untuk masuk ke jalur transportasi Busway. Sepanjang jalur busway koridor 1, aku melihat urutan halte yang dilalui bus ini. Ternyata lumayan banyak cerita yang telah kubuat, dan tidak sedikit yang menyenangkan untuk dikenang atau bahkan direka ulang.

 

Dimulai dari Blok M, yang sering menjadi tempat yang kugunakan untuk berkumpul dengan teman-teman dari jejaring sosial Plurk, jejaring sosial yang mengandalkan fitur emotikon dan tempat “sampah” yang dapat diandalkan serta tempat untuk melontarkan berbagai komentar dan diskusi dari hal yang sangat penting sampai hal yang tidak masuk akal dan tidak perlu dibicarakan, kebetulan teman-teman semasa SMA banyak yang menggunakan plurk dan sampai sekarang kelompok kecil ini masih lumayan akrab. Memang agak disayangkan kesibukan sebagai mahasiswa dan jadwal universitas yang berbeda membuat gathering lebih sulit dilakukan sekarang, tapi setidaknya plurk masih merupakan tempat sampah yang baik dan setia, terutama terkait hal-hal yang tidak bisa diungkapkan di facebook dan blog. Selain itu, ada juga masjid Al-Fajr di belakang Rumah Sakit Pusat Pertamina yang sering kukunjungi untuk kegiatan rapat fortris semasa SMA dulu. Dan tiap rapat punya kesan, keasalan dan keunikannya masing-masing, dari foto lembaran absen dengan ratusan komentar terkait rencana politik yang asal dan SMA mana yang lebih penting saat fortris baru dibuat, rapat yang menyindir susunan struktur organisasi (koordinator sekolah yang tidak tahu letak sekolah-sekolah yang harusnya dia pegang, kepala divisi danus yang tidak punya minat dan pengalaman untuk berjualan, kepala divisi humas yang kehilangan handphone-nya dua kali, kepala divisi pergerakan yang tidak mendapat restu untuk ikut aksi dari orangtuanya, dan sekretaris jendral yang tulisannya sulit dibaca) hingga keusilan terhadap ketua fortris yang sedang berulangtahun.

Dilanjutkan dengan halte Masjid Agung Al-Azhar, yang terletak di sebelah sekolah Al-Azhar yang menjadi tempat pelatihan peserta OSN Fisika pada tahun 2009. Sekolah Al-Azhar ini memiliki 8 lantai, dan pelatihannya terletak di lantai 7. Dan, berhubung lift untuk pelatihan sering penuh dan beberapa peserta sepertiku malas untuk menunggu liftnya kosong, jadilah kami berolahraga sebelum pelatihan dengan naik tangga. Lumayan seru sih, meskipun agak canggung saat tahu jadi peserta di posisi 101 dari 101 orang yang lolos berdasarkan daftar absen, tapi tetap saja banyak pelajaran yang dapat diambil. Diskusi-diskusi ringan hingga berat terkait soal osn dan hal fisis aplikatif yang ada di sekitar. Ini juga hal yang aneh sih mengingat sebelum ujian dimulai aku lebih memilih membereskan hal lain yang menurutku lebih menenangkan jiwa daripada belajar. Ah, sudah lah, nikmati saja🙂

Lanjut ke halte Bundaran Senayan dan Gelora Bung Karno, tempat ambil nilai olahraga dengan lari keliling dua putaran lintasan luar Lapangan Sepak Bola GBK. Ternyata di ITB pun ambil nilainya tidak jauh berbeda, sama-sama lari, haha. Oiya, tempat ini juga merupakan tempat pertamakalinya aku diajak adikku menonton pertandingan sepakbola secara langsung, saat tim nasional Indonesia bertanding dengan Liverpool di pertengahan tahun lalu. Meski tim favoritku sudah main duluan dan menang telak dari timnas 7-0, dan sekarang sedang memimpin premier league dengan perolehan poin yang sangat ketat, tapi perjuangan timnas saat itu tetap pantas untuk ditonton dan diacungi jempol. Perlawanannya lebih sebanding, meski agak disayangkan seminggu kemudian timnas kalah telak lagi dengan tim premier league lainnya. Selain itu, sebuah mall di senayan juga menyimpan kenangan tersendiri bagiku, yang masa kecilnya diisi dengan bunyi dan atraksi dari dentang jam pada mall tersebut saat jarum panjang menyentuh angka 12. Selalu ada perasaan khusus saat melihat jam tersebut beratraksi, bahkan sampai sekarang pun perasaan itu masih ada.

Dan berikutnya, halte bendungan hilir, halte singgah dari imigrasi saat membuat atau mengurus paspor, dan halte singgah dari gor sumantri, tempat sebuah try out dilaksanakan saat masih kelas 12 sma. Lalu halte setiabudi, yang terletak di dekat sma 3 yang menjadi tempatku mengikuti ujian seleksi osn fisika di tahun 2009. Ada lagi halte Bank Indonesia yang menjadi tempatku berkumpul saat bulan ramadhan lalu dan temanku mengusulkan untuk membuat perkumpulan antar universitas untuk dapat memberikan kontribusi lebih pada masyarakat. Meskipun aku terdaftar, tapi untuk yang satu ini aku cenderung berhati-hati, maklum, ini tahun pemilu dan mahasiswa sahabatku itu memang kelihatannya punya tendensi ke satu partai–tidak usah disebutkan partai mana–dan aku tidak berminat untuk diperalat secara politis. Yah, sekedar waspada. Dan yang terakhir sebelum stasiun kota adalah halte glodok, tempat favorit keluarga untuk berbelanja beberapa hal.

Di halte ujung, stasiun kota tua, nyaris ada cerita yang dapat dibuat tadi siang, tapi kelihatannya Allah belum berkenan dengan merancang skenario yang unik. Yah, terpaksa kembali ke Blok M setelah shalat jumat. Dan perjalanan kembali pun kadang masih diisi dengan kilas balik dari hal-hal yang telah lalu.

Setelah sampai di blok m pun masih ada niatan untuk random, pergi ke mall di senayan itu untuk melihat jam tersebut beratraksi. Dan, ternyata perasaan khusus itu masih ada, saat jam tersebut seolah memberikan performa yang terbaik hanya untukku meski banyak yang juga menunggu atraksi jam tersebut, terutama anak-anak. Yah, kadang kebahagiaan itu memang sederhana dan sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata bukan? Yah, setidaknya ada hal yang membuat perjalanan siang ini berkesan, sebuah cerita baru bahwa sejak kecil hingga mulai beranjak dewasa seperti saat ini, ada hal yang tidak berubah, dan kelihatannya tidak akan kubiarkan berubah.

 

Kelihatannya setelah semua berlalu, kehidupan hanyalah menjadi kumpulan cerita ya, entah untuk dikenang, dijadikan pelajaran ataupun dibicarakan oleh generasi penerus di masa depan. Cerita ini dapat tercipta dimana saja, meskipun tempat itu mungkin terkesan sepele seperti di dalam busway, bahkan mungkin cerita yang akan tercipta itu memiliki alur cerita yang sangat dalam, panjang, kompleks dan penuh dengan hal-hal yang menarik. Yah, bagaimanapun ceritanya, setidaknya buatlah cerita yang bagus agar dapat dikenang, dijadikan pelajaran dan dibicarakan secara positif oleh generasi berikutnya, iya kan? Setidaknya, ada kepuasan tersendiri setelah melakukannya, percayalah🙂

 

Dan kelihatannya intensitas menulis akan sedikit berkurang di periode liburan ini karena beberapa hal, dari file-file film yang sudah berkali-kali merengek minta diputar, tempat-tempat yang ingin kukunjungi, sepeda yang perlu diurus, tempat-tempat yang ingin dikunjungi, dan kawan-kawan untuk bersilaturahmi. Yah, selamat datang kembali di ciledug laks, manfaatkanlah waktumu dengan baik ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s